Bersahabat Dengan Tanaman; Wujud Fibrasi dan Frekuensi Alam Telah Terkoneksi dengan Manusia

 


 Pagi yang riuh oleh kendaraan beraktifitas, di pinggiran area persawahan melihat berbagai tanaman juga tumbuhan yang bergerumbul indah. Terpancar pesan-pesan saling melengkapi kebutuhan alam. Namun kali ini membuat diri tampak lebih bingung, bagaimana mungkin mereka tumbuh berkembang hanya diperuntukkan manusia. Namun, apa daya manusia masih percaya selain-Nya. //ujung galengan sawah

Oleh:MukhosisAbdul


Sejak zaman kuno tentang bangsa Indonesia, seringkali mendengar cerita masyarakat bahwa Nenek-Moyang bangsa Indonesia menjadikan tumbuhan adalah sahabatnya. Dimana ketika lapar, sakit, berhajat keluarga, beraktifitas dan sebagainya, pasti menggunakan manfaat dari tanaman, baik sebagai kebutuhan fisik maupun non-fisik (ghaib).

Mereka bersahabat saling mengerti serta saling support dalam keberlangsungan kehidupannya. Misalnya, membawa sarana “cokbakal” atau aburampe, kemudian berdo’a. Sehingga aburampe yang dibawa kemudian menjadi sumber bakteri probiotik serta sebagai stater mikroba untuk kebutuhan tumbuh tanaman. Sedangkan do’a-do’a mereka akan berkumpul dan mewujudkan mineral bumi akan mendekat dan sebagai kebutuhan hidup bagi tanaman.

 

Penerapan Fibrasi dalam Kehidupan

Memahami pola fibrasi atau getaran, dapat membantu manusia dalam menciptakan keberuntungan, meningkatkan kualitas kesehatan, dan mencapai keseimbangan hidup dengan cara menjaga fibrasi positif dalam diri dan berinteraksi dengan alam sekitar secara harmonis.

Dalam kitab Al-Qur’an menyebutkan dalam Surah Al-Isra’ ayat 44:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا


Artinya: "Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."

 

Dalam perihal ini, sebenarnya alam semesta terdapat bahasa sesuai dengan frekuensi masing-masing. Selebihnya getaran-getaran ini akan terpancar kepada manusia jika manusia tersebut memahami fibrasi-fibrasi yang dikeluarkan oleh semesta.

Dalam kehidupan manusia beberapa aktifitas manusia menggunakan fibrasi tanaman adalah:

1.    Penggunaan bawang dan daun delingu untuk orang-orang yang terkena radiasi negatif lingkungan (tulak sawan)

2.    Menanami bunga andong disamping rumah, untuk menolak memutar balik pohon besar agar pohon tersebut tidak condong di atas rumah yang menghawatirkan roboh.

3.    Menanam bunga wijaya kusuma agar pemilik rumah mendapat fibrasi ketenangan.

4.    Membawa bunga telon (tiga warna: kantil-kenanga-mawar) untuk keheningan tersambung dengan frekuensi semesta, dst.

Selain itu, masih banyak tanaman atau tumbuhan yang kaya manfaat kemudian diolah sebagai kebutuhan obat-obatan sehari-hari.

 

Membaca Fibrasi Alam

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Heart-Math Institute, yang berdiri sejak tahun 1991 oleh Doc Childre, sedikit banyak menemukan sebuah fakta bahwa hubungan antara otak dan Jantung manusia memancarkan gelombang elektromagnetik. Otak memancarkan gelombang elektromagnetik berupa “pikiran”, sedangkan jantung memancarkan “perasaan”. Pikiran dan perasaan seseorang akan terkoneksi, terkadang saling mengiyakan, juga terkadang saling bertolak belakang.

Daya fibrasi gelombang elektromagnetik pada otak dan jantung seseorang ditentukan seberapa keselarasan keduanya, sampai pada level tertentu dengan derajat energi yang diakibatkannya. Ketika vibrasi Otak dan Jantung baik, dari hubungan selaras keduanya dapat memancarkan gelombang elektromagnetik yang sangat luar biasa. Sehingga, jika Otak dan Jantung manusia positif sudah barang tentu akan memancarkan gelombang elektromagnetik positif.

Fibrasi pada tumbuhan atau tanaman mengacu pada fenomena alami dimana tanaman merespons tekanan dengan menghasilkan getaran atau suara, terutama pada frekuensi ultrasonik. Sehingga menunjukkan bahwa tanaman mengeluarkan suara ketika mengalami stres, seperti kekurangan air atau cedera. Suara ini berada di luar jangkauan pendengaran manusia, namun dapat didengar oleh hewan tertentu yang memiliki kemampuan pendengaran ultrasonik.

Tanaman tidak hanya merespons stres secara visual (perubahan warna, bentuk, atau aroma) tetapi juga secara akustik. Ketika tanaman mengalami tekanan, mereka dapat mengeluarkan suara yang mirip dengan letupan atau titik nol pada frekuensi ultrasonik (di atas 20.000 Hz). Sedangkan pada Manusia hanya bisa mendengar suara dalam rentang frekuensi audiosonik (20 Hz - 20.000 Hz). Suara yang dihasilkan tanaman berada di luar rentang ini, sehingga tidak terdengar oleh telinga manusia.

Selain itu, beberapa hewan, seperti kucing, kelelawar, tikus, dan ngengat, kemungkinan dapat mendengar suara yang dihasilkan tanaman atau mangsanya. Ini membuka kemungkinan adanya interaksi akustik alam antara tanaman dan organisme lain di lingkungan sekitar. Meskipun manusia tidak semua dapat menangkap fibrasi serta mendengar suara tanaman secara langsung, perihal ini menyadarkan manusia bahwa ada dunia fibrasi dan frekuensi yang belum banyak diketahui oleh manusia di lingkungan sekitarnya.

 

Bersahabat dengan Alam

Dengan berhening, meditasi, bertapa dan seterusnya pada aktifitas seseorang, merupakan pola-pola berproses penyamaan frekuensi alam dan mengenal fibrasi alam sekitar.

Perihal yang sering kita dengar dalam kitab al-Qur’an, surah Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Ku-tambah (nikmat) kepadamu,”

 

Saya (penulis), memahami bahwa ayat ini menyampaikan bahwa ketika seseorang terkena cobaan dalam kehidupan, sedikit banyak seseorang akan bersedih. Kemudian ketika posisi bersedih, seseorang pasti menemukan titik nol alam yang dapat menenangkan dirinya. Sehingga dari sinilah frekuensi semesta ditemukan oleh seseorang, jika dipahami dengan penuh syukur.

Jika frekuensi ini akan diasah oleh manusia, sejatinya seseorang mampu menyamakan frekuensi alam serta membaca fibrasi yang dikeluarkan oleh semesta. Seperti halnya frekuensi yang ditangkap oleh orang pertapa, Nabi atau Rasul, pendeta, kyai dan seterusnya, merupakan wujud kekuatan yang timbul dari embacaan frekuensi semesta.

Begitu juga dengan frekuensi tumbuhan atau tanaman, fibrasi tanaman akan terkoneksi dengan manusia jika manusia tersebut sering di alam terbuka dan merawat tanaman. Aktifitas rutin yang dilakukan oleh manusia merawat tanaman akan masuk sebagai kesatuan jiwa.

fenomena menarik yang menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki cara unik tersendiri untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya melalui fibrasi. Hal ini membuka berbagai kemungkinan pengetahuan bahkan penelitian lebih lanjut mengenai peran fibrasi tanaman dalam sebuah ekosistem, interaksi-interaksi dengan organisme lain disekelilingnya. //Wallahua’lam//.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan