Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan

 



Kegiatan yang kadang menyesakkan kantong dan kadang juga bikin konyol lakon urip, dalam aktivitas sehari-hari mendampingi anak asuh di panti asuhan. Kegiatan yang memang bersifat sukarela, dan siapapun bisa menjadi bagian relawan. Kami tidak mengambil sedikitpun atau memotong operasional juga sepeser beasiswa anak asuh, misalnya demi operasional pengambilan di suatu instansi. Sehingga jumlah bantuan murni dengan jumlah sesuai yang tertera. Begitulah kekonyolanku kira-kira. // Dapur Ruwet

By.MukhosisAbdul

 

Padatnya Aktifitas Pagiku

Padatnya aktifitas pagiku, layaknya petugas perempatan menata arus di pagi hari. Penuh ramai, riuh, tergesa-gesa, tepat guna, solutif dan lain segalanya.  Mulai membangunkan santri, ngaji tafsir, memasak di dapur, ngomando sarapan yang berangkat sekolah, sampai kepada kebijakan pengaduan laporan santri. dan begitu juga kesibukan istri, aktifitas yang tidak luput adalah menyiapkan baju anak dan memandikan serta mengantar sampai sekolah.

Aktifitas yang kami lalui sejak mengurusi dunia pendidikan pesantren sejak 2021. Dimana saya harus resign mengajar di sekolah Madrasah Ibtida’iyah dan memfokuskan untuk mengurusi pondok pesantren.

Sisa dari kegiatan pagi, kadang mengurusi usaha keluarga kecilku yakni sebagai pengrajin marmer dan piala. Selebihnya untuk mengurusi anak-anak SMK merangkap sebagai guru bantu jika guru-guru yang seharusnya mengajar ijin tidak bisa hadir. Selain itu, juga mengurus anak-anak panti asuhan yang membutuhkan bantuan atau uluran tangan terutama perihal administrasi anak asuh.

Pada hari ini, kami terutusan kembali setelah sekian lama tidak terutusan kepada lembaga-lembaga pemerintahan Kabupaten Tulungagung untuk mengurusi bantuan beasiswa anak asuh yang berada di panti asuhan. Sehingga membuat langkah kaki dan semangat untuk berangkat sebagai relawan.

 

Riuh Perjalanan

Kami berangkat dari pesantren pada pukul 8.18 WIB setelah aktifitas dapur, mampir dulu ke MI Darul Ulum Salakkembang untuk mengizinkan anak yang bersangkutan untuk mengurus beasiswa YAPI ke sekian kalinya di kantor Pos Kecamatan Ngantru Tulungagung.

Sebut saja namanya Alma dan Ilham, Sambil nyangkruk dengan kepala madrasah, juga memberikan informasi jika yang bersangkutan berpindah domisili dari desa Pojok Ngantru ke bendolowo Tawangrejo Kecamatan Wonodadi Blitar. Alhasil, Kepala Madrasah juga terkaget karena mengetahui saya belum lama selesai mengurus akta kelahiran dan KK anak asuh, sekarang orangtuanya sudah berpindah Alamat.

Pada pukul 8.43 WIB kami berangkat dari Salakkembang dan sampai tujuan pertama, yakni kantor pos Ngantru pada pukul 9.34 WIB. Kami menyampaikan kepada petugas kantor, ternyata bantuan tersebut belum juga keluar. Akhirnya kami menghubungi pendamping desa Pojok Ngantru tentang perihal bantuan anak tersebut. Pada hasilnya kami harus menghubungi dinas sosial ULT Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung.

Hasil koordinasi mengharuskan kami menuju ke ULT perlindungan anak pada pukul 10.16 WIB. Di ULT kami masih memulai mengisi form membuka rekening terlebih dahulu sampai pukul 10.42 WIB. pada pukul 10.45 kami meluncur Bank Mandiri Cabang Tulungagung untuk melakukan verifikasi pembukaan rekening baru pada 11.04 WIB. Padahal tiga bulan lalu, kami juga membuka rekening di Bank yang sama untuk proses pencairan beasiswa yang sama juga.

 

Satu Setengah Jam Lamanya

Di Bank Mandiri kami diarahkan kepada satpam pintu untuk keperluan bantuan Yapi. Alhasil kami mendapat nomor antrian 0022, di service 4 dan melakukan verifikasi sampai dengan pukul 11.16 WIB. Selanjutnya, proses demi proses di Bank Mandiri sampai pada pukul 12.02 WIB masih menunggu antrian panggilan costumer service ke-2.

Pada 12.02 WIB, kami antri bagian tarik tunai dari hingga pukul 12.16 WIB hingga pukul 12.24 WIB akhirnya kami terpanggil untuk gilirannya menindaklanjuti pembuatan rekening bank mandiri, yakni pencairan beasiswa anak asuh (panti asuhan).

Pada pukul 12.53 WIB kami sampai desa wali santri dusun bendolowo Wonodadi. Di bendolowo kami sempat bercerita perjalanan hari ini, yak cerita yang kadangkala menjenuhkan dan konyol. karena banyak hal tambahan yang terduga dan segera diselesaikan pada jam dan hari yang sama juga. Alhasil, dengan mode perjalanan tergesa-gesa, menyingkat waktu agar sholat maghrib harus bisa berjama’ah di pondok pesantren dengan para santri serta mengaji madrasah.

Pada pukul 14.46 kami melanjutkan perjalanan mengantar wali santri ke majikan kerja. Akan tetapi kali ini bukan kembali kerja, melainkan bertujuan untuk berpamitan bepergian menjadi tenaga kerja Wanita (TKW) ke negara Brunei Darussalam.

Pada jam 14.54 sholat Dzuhur di masjid desa, dengan suasana tenang hingga pukul 15.06 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju desa Jabon kecamatan Kalidawir. Pada pukul pukul 16.22 WIB. Kami menyampaikan jika ibu yang bersangkutan harus melanjutkan untuk berangkat bekerja sebagai TKW di negara Brunei Darussalam. dengan jadwal keberangkatan besok pagi dan seterusnya. Selanjutnya kami mengantar walisantri ke arah Stasiun Ngunut untuk prepare keberangkatan esok hari, dengan mengantar di hotel dekatnya stasiun agar memudahkan perjalanan.

Pada pukul 16.56 kami berangkat menuju pondok pesantren, hingga sampai di pesantren pukul 17.13 WIB, lanjut bersegera untuk sholat Ashar dan menunggu maghrib. Selesai maghrib masih berangkat mandi dan pada pukul 18.30 WIB sudah harus mengisi ngaji madrasah anak-anak santri Raden Abdul Halim Kalidawir.

 

Suasana cangkruk malam hari PP. Raden ABdul Halim Kalidawir

Lain Tempat Lain Mumetnya

Di pesantren tentu sudah beralih yang dikerjakan, dipikirkan dan juga yang diperhatikan. Sehingga urusan pagi hari harus terpisah dengan kegiatan rutin kegiatan pesantren hingga pukul 21.00 WIB.

Pada pukul 21.00 WIB, semua aktifitas alhamdulillah terlaksana baik dan menggairahkan. Hingga pada pukul 21.00 hingga 00.30 kami masih nyangkruk bercengkrama dengan para sesepuh masyarakat sekitar pesantren, terkadang juga hingga 01.30an. Kami mengobrol berbagai hal mulai urusan kerja, keluarga bahkan program pesantren 10 tahun kedepan tidak luput untuk diperbincangkan.

Disinilah mungkin kehidupan ini bermakna bagi perjalananku, tapi tidak normal bagi kehidupan yang lainnya.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan