Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

 


Catatan hari pertama mengacu pada materi zoom bimbingan teknis kapasitas pengelolaan perpustakaan oleh Perpustakaan Nasional tahun 2026. Menapak dari perjalanan literasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) LESHUTAMA sejak tahun 2013, banyak catatan-catatan pengalaman, keluh kesah, serta semangat kebangkitan untuk pengembangan layanan perpustakaan TBM Leshutama. // Dapur santri

 Oleh: MukhosisAbdul 


A. Perjalanan TBM Leshutama Tulungagung

TBM Leshutama Tulungagung awal mula berdiri di Dusun Jigang Desa Pakisaji Kecamatan Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur pada tahun 2013 oleh semangat gerakan teman-teman pemuda yang ingin menyalurkan kreasi literasi namun belum memiliki wadah kreasi.

TBM Leshutama Tulungagung juga memiliki latar belakang permasalahan lingkungan sekitar. Seperti halnya banyaknya sampah yang berceceran di sepanjang tepi jalan, pembuangan sampah sembarangan yang menumpuk di tepi jalanan serta banyaknya sampah di saluran resapan air perkampungan dan seterusnya. Sehingga menemukan nama “Leshutama” artinya dari kata Pelestarian Lingkungan, Hutan dan penyelamatan sumber mata air.

Dengan fasilitas lapangan seadanya, TBM Leshutama Tulungagung lebih memaksimalkan kegiatan lapangan seperti halnya;

1.    Bersih lokasi sumber mata air dari sampah plastik,

2.    Membuat kreasi mainan dari botol bekas yang terkumpulkan selama bersih selokan,

3.    Membangun jejaring pegiat Reboisasi kalangan anak-anak

4.    Membuat media tanam serta formula pupuk dan lain sebagainya

Pada bulan Agustus tahun 2022, TBM Leshutama Tulungagung berpindah keluarahan tepatnya di Desa Salakkembang Kecamatan Kalidawir Tulungagung sebagai pendukung berdirinya pesantren “Raden Abdul Halim” Kalidawir yang berdiri tahun 2021, karena fokus pesantren adalah pengembangan kelestarian lingkungan dan pengembangan pertanian berbasis organik dan mineral.

 


Pada tahun 2025, TBM Leshutama Tulungagung pertama kalinya mendapat bantuan dari pemerintah berupa 1.000 buku bacaan bermutu dari program Perpustakaan Nasional. Buku bacaan ini tentu sangat bermanfaat khusunya anak-anak pembaca di TBM Leshutama. Karena buku bacaan kelas anak ada sekitar 1.000 buku lebih habis terbagikan ketika moment Covid-19, dimana pada saat itu pengunjung kelas anak-anak semakin membeludak dan sering mendapat teguran dari pemerintah desa. Disi lain, anak-anak pada saat itu liburan sekolah yang panjang dan belajar melalui daring.

B. BimTek Kapasitas Pengelolaan Perpustakaan


 

Pada tanggal 15 Juli 2025, kami mengikuti seminar Bimbingan Teknis (Bmtek) Kapasitas Pengelolaan Perpustakaan melui link Zoom, yakni pertemuan secara virtual dari Perpustakaan Nasional.

Seminar dibuka pada pukul 08.00 WIB oleh Ibu Grace Wihelmina (pegawai Perpusnas), dengan harapan para penerima mendapat bimbingan mengenai pengeloaan perpustakaan baik secara manajemen ataupun cara inventarisir buku bacaan perpustakaan masing-masing.

 

Narasumber Pertama; Dasar Manajemen Perpustakaan



Materi Dasar Manajemen Perpustakaan disampaikan oleh Ibu Fauzah (pegawai perpustakaan kota Aceh), membagikan bagaimana pola-pola dalam pengembangan perpustakaan. Dalam penyampaian, beliau (Ibu Fauzah) membuka percakapan ringan dengan saling berkenalan antar pegiat perpustakaan.

Manajemen pengelolaan perpustakaan, diantaranya pelaku pemustaka sekaligus pengelola, perancang program perpustakaan yang meliputi; bagian teknis, pelayanan, pemberdayaan, dan pendanaan. Agar dapat dalam mengelola perpustakaan berjalan dengan baik, maka perlu pengelolaan perpustakaan dengan baik pula.

 

Pengolahan perpustakaan

Dasar manajemen perpustakaan dalam pengolahan perpustakaan diantaranya;

1.    Perencanaan SDM, menentukan kebutuhan jumlah dan kompetensi tenaga pengelola perpustakaan,

2.    Pelatihan dan pengembangan; pelatihan secara berkala,

3.    Penilaian kerja perpustakaan: yakni Proses pengadaan buku, pengolahan buku, dan pemeliharaan koleksi buku perpusstakaan;

 

Manajemen komunikasi

Manajemen komunikasi dalam pengelolaan perpustakaan, perlu beberapa langkah kerja untuk mengetahui kebutuhan segmen pembacanya serta menentukan arah kelola perpustakaan, diantaranya;

1.    Identifikasi kebutuhan informasi masyarakat

2.    Penyediaan dan seleksi sumber informasi perpustakaan

3.    Promosi dan aksebilitas perpustakaan.

4.    Evaluasi dan Umpan balik

 

Narasumber Kedua; Pengelolaan Perpustakaan


Tentang Pengelolaan Perpustakaan disambaikan oleh Bapak Hesthiyono (pegawai Perpustakaan Daerah Kabupaten Probolinggo).

Mengutip dari Prof. Sulistyo Basuki, Guru Besar Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya dan Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan Program Pascasarjana Universitas Indonesia, menurut beliau dalam membangun perpustakaan terdapat dua pendekatan yang dilakukan;

1.    1. Pendekatan Historis:

Yakni mempelajari perkembangan perpustakaan dari waktu ke waktu, termasuk perubahan koleksi, layanan, dan perannya dalam masyarakat.

 2.    Pendekatan Informetrika:

Merupakan penggunaan metode kuantitatif untuk menganalisis berbagai aspek perpustakaan. Misalya; jumlah koleksi, efektifitas layanan serta perencanaan dan pembangunan perpustakaan.

 

Pengelolaan Perpustakaan Menurut Bapak Hesthiyono;

Pengelolaan perpustakaan merupakan rangkaian sistematis teratur serta terencana untuk memastikan perpustakaan berfungsi dengan baik dan memberikan pelayanan optimal kepada pengguna.

Dalam memaksimalkan perpustakaan agar sesuai perencanaan, sehingga pengeloaan perpustakaan berjalan secara optimal. Maka, dibutuh dua unsur pengeloaan;

a.    Pengadaan buku

Yakni proses pengadaan buku serta pengumpulan bahan bacaan perpustakaan.

 

b.    Pelayanan pengguna buku

Yaitu bagaimana dalam menyajikan buku bacaan serta tata Kelola perpustakaan

 

Pengelolaan bahan perpustakaan;

Pengelolaan bahan perpustakaan menurut Histhiyono, bertujuan agar buku yang dikelola mudah ditemukan oleh pemustaka. Pada proses ini perlu klasifikasi, nomor panggil, kemudian tampilan atau finishing seperti halnya sampul dan seterusnya.

Selain itu, juga diperlukan inventarisasi buku bacaan agar mengetahui jumlah serta kategori buku-buku perpustakaan. Diantara yang dicatat dalam inventarisir buku seperti contoh berikut:

 

Judul buku

pengarang

edisi

Jumlah hal.

Tinggi buku

Kota terbit

penerbit

Thn terbit

ISBN

subjek

Nomor klas.

Nomor Rak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Catatan:

·         Kolom subjek didisi dengan “Fiksi” atau “non-fiksi”

 

Pelabelan

Pelabelan buku sangat dibutuhkan bagi pengelola perpustakaan, agar buku-buku perpustakaan dapat dicari dengan mudah. Dalam pelabelan, ada beberapa aturan sesuai tata Kelola perpustakaan, yakni menentukan Nomor panggil.

Beberapa ketentuan dalam menentukan nomor panggil diantaranya;

 

a)    Nama Perpustakaan

b)    800 (nomor klasifikasi)

Nomor klasifikasi dapat ditentukan sesuai kategori inventarisir perpustakaan Nasional.

c)    EMA (tiga huruf pertama nama pengarang buku, dibuat dengan huruf kapital),

d)    a (huruf pertama judul buku).

 

Contoh Pelabelan:

Nomor Klas.

809

Nama Pengarang Buku

TAN MALAKA

Judul Buku

DARI PENJARA KE PENJARA

 

maka, penulisan nomor panggilnya adalah:

TBM LESHUTAMA

 

809

TAN

d

 

 

Menetukan Klasifikasi

Yaitu dilihat dari diketahui subjek buku, yaitu antara Fiksi dan Non-Fiksi. Kemudian dua kategori tersebut diklasifikasikan sesuai bahasan didalamnya (isi buku).

Penyajian Buku Bacaan

Dalam penyajian pengelola dapat menampilkan dengan berbagai cara. Misalnya di dalam rak dengan model rak pajang buku. Kemudian disarankan dalam satu kolong rak tidak dipenuhi buku, sehingga pengguna tidak kesulitan pencarian buku serta mengetahui cover buku dengan mudah.

C. Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Bantuan buku bacaan bermutu dari Perpustakaan Nasional tahun 2025 ini, bagi kami bagian dari ruh semangat dalam memberikan warna untuk generasi muda dalam inspirasi berkarya. Dengan semangat “Hijaukan Indonesia dengan Membaca”, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Leshutama, berupaya memberikan ruang gerak dan kreatifitas muda dalam kelestarian hutan dan penyelamatan sumber mata air.

 

Sumber air kawasan lereng Candi Dadi Tulungagung

Pada tahun 2025, TBM Leshutama mengubah minset guna mewujudkan pembelajaran praktis, yakni aplikasi yang bersifat lapangan dan riset. Diantaranya;

1.    Pembuatan pupuk organik dan kadar pemakaian

2.    Meracik pupuk yang berbahan baku mineral bebatuan

3.    Aplikasi tanaman dalam green house dari berbagai media tanam, baik hidroponik maupun polybag

4.    Merakit struktur media tanam, dan seterusnya

Perihal ini bertujuan untuk mengurangi generasi muda dalam ketergantungan gadget sehingga mereka berfikir dari dunia halusinasi gadget menjadi berfikir rasional. Sehingga generasi muda menjadikan gadget sebagai bahan perbandingan referensi dalam ujicoba kreatifitasnya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan