Berkolaborasi dengan Generasi Gadget
Catatan Hari Ke-2 pada tanggal 16 Juli 2025 mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI, bimbingan teknis kapasitas pengelola perpustakaan, yakni menjelaskan tentang pentingnya menghidupkan suasana minat baca dan belajar dalam lingkungan perpustakaan.
Oleh: Mukhosis_Abdul
Setiap pembaca pada
Taman Bacaan atau perpustakaan, memiliki ragam karakter serta latar belakang
yang berbeda-beda. Sehingga setiap pengelola perpustakaan seharusnya juga
tanggap dalam pelayanan serta memahami karakter-karakter pembaca.
Setiap
pengunjung juga memiliki ragam alasan atau tujuan masing-masing. Mereka datang tanpa
paksaan mengunjungi tempat perpustakaan berada. Diantaranya; menghilangkan
kejenuhan di rumah, menunggu seseorang, bertemu teman serta alasan-alasan yang
lainnya. Ada juga yang memiliki alasan karena ikut-ikutan dengan teman.
Nah, dengan
mengacu berbagai macam karakter pengunjung tersebut, diperlukan pengembangan
pelayanan agar berbagai segmen pembaca perpustakaan dapat nyaman menggali
informasi dengan membaca, diskusi serta berkreasi.
Pada pertemuan
yang kedua, Bimbingan teknis kapasitas pengelolaan perpustakaan.dimulai pada
pukul 08.00 WIB oleh Ibu Grace Wilhemina (Perpustakaan Nasional). Bimbingan
teknis tersebut dibuka dengan saling sapa antar pegiat literasi baik dari taman
bacaan masyarakat (TBM), perpustakaan desa (Perpusdes), dan perpustakaan rumah
ibadah.
Dengan suasana
pagi, Ibu Grace Wilhemina menyapa peserta dengan ramah serta memberikan
semangat kepada peserta atas luangnya waktu untuk mengikuti kegiatan bimbingan
teknis kapasitas pengelolaan perpustakaan.
A. Narasumber #1, Ragam Strategi Perpustakaan
Dalam bahasan narasumber
pertama oleh Bapak Harken (F-TBM Tanjungpinang, Pengajar BBB Perpustakaan
Nasional), memberikan pemaparan tentang pentingnya pelayanan perpustakaan serta
ramah terhadap anak-anak.
Diantara
hal-hal yang perlu diperhatikan bagi pengelola perpustakaan adalah
memperhatikan fasilitas ruang baca yang nyaman, baik dari cara penyajian buku
dan cara pelayanan anak-anak agar gemar membaca. Selain itu, setiap
perpustakaan memiliki semangat atau latar belakang berdirinya perpustakaan,
dimana sebagai pijakan karakter pelayanan perpustakaan.
Untuk
mewujudkan pelayanan yang maksimal, perpustakaan selain aktifitas menyajikan
buku juga memperhatikan beberapa karakter pembaca, diantaranya;
1) Usia Anak: membutuhkan kegiatan literasi yang menyenangkan.
Beberapa karakter sajian untuk kebutuhan anak-anak diantaranya:
a. Upaya meningkatakan kecakapan membaca:
·
Buku ramah cerna
dan berjenjang
·
Scafoding
membaca; yakni mengelola perpustakaan untuk mengambil peran sebagai pendamping
anak ketika membaca.
b. Buku yang disukai anak-anak;
·
Berita
bergambar
·
Cerita yang
ringan dan imajinatif
·
Ilustrasi dan
visualisasi menarik
· Buku interaktif; buku pop-up interaktif memudahkan pendamping untuk menerapkan pembelajaran bercerita.
1). Usia Remaja: ruang ekspresi dan aktualisasi
2). Usia Dewasa: orientasi keterampilan ekonomi dan parenting,
3). Usia Lansia: ruang sosial dan nostalgia,
Dalam pemilihan
buku, juga memperhatikan beberapa kriteria bermutu. Misalnya kriteria buku untuk
usian anak-anak;
- ü Sesuai dengan tahap perkembangan anak
- ü Mengandung nilai edukatif moral
- ü Ilustrasi menarik dan mendukung
- ü Struktur cerita yang jelas dan menarik
- ü Buku yang disukai anak dan sesuai dengan mereka
A.1. Klasifikasi pembaca berjenjang
1. Pembaca dini, yakni pembaca yang pemula yang melihat serta memilih
visualyang menarik. Hal ini bagi pengelola perpustakaan untuk mengajak
melakukan prediksi cerita selanjutnya.
- Pembaca awal; mampu membaca teks, kata/frasa,
- Pembaca semenjana; membaca teks dengan lancar
- Pembaca madya; mampu memahami beragam teks
- Pembaca mahir; mampu membaca secara analitis
- Untuk ragam strategi meningkatkan minat baca, perlu memperhatikan beberapa strategi, diantaranya: visual, nyaring, terbimbing, berpasangan, dan mandiri.
A.3. Membaca visual;
- Memilih buku yang bergambar
- Ajak mereka melakukan prediksi apa cerita selanjutnya
- Meceritakan ulang tentang yang dipahami dengan gambar.
- Pastikan anak-anak melihat buku yang dibaca
A.3. Dokumentasi
Dokumentasi memiliki peran penting dalam
aktifitas perpustakaan. Dokumentasi juga mengukur dalam penentuan
langkah-langkah pengembangan pengelolaan perpustakaan. Sehingga dokumentasi
juga akan memperkuat dampak dan keberlanjutan program.
B. Narasumber Ke- #2, Kreatif Mengelola Perpustakaan
Dalam bahasan
Narasumber kedua, disampaikan oleh Ibu Prita Hendriana Wijayanti (F-TBM Jember).
Beliau lebih menekankan pola pengelolaan perpustakaan mengikuti karakter
pembaca di lingkungan masing-masing perpustakaan. Akan tetapi juga
memperhatikan sesuatu yang bernilai edukasi, informasi hangat, sehingga
perpustakaan atau taman baca tampil tetap menarik dan memberikan wawasan yang
baru.
B.1. Ragam aktivitas
literasi. berbagai
Setiap perpustakaan
pasti terdapat berbagai kreasi untuk menarik pembacanya. Seperti halnya di TBM
Leshutama Tulungagung. TBM ini menampilkan berbagai aktifitas kreasi lingkungan
serta mengkaji berbagai isu-isu lingkungan, mulai pemanfaatan barang bekas,
ujicoba membuat TTG (tektonologi tepat guna) yang sederhana, serta gerakan
untuk kelestarian lingkungan dimulai bersih sumber mata air yang terdapat plastic
bekas, reboisasi dan lain sebagainya.
Strategi
Membangun ekosistem literasi diantaranya membentuk komunitas lingkungan perpustakaan
atau taman bacaan sesuai karakter masyarakat. Sehingga pembaca atau pengunjung
teredukasi suatu wawasan baru, aktualisasi serta membentuk inovasi tanpa harus
menjelaskan berkepanjangan. Hal ini dapat memberikan tampilan-tampilan sekitar
lingkungan taman bacaan dengan berbagai gambar. Misalnya: gambar informasi
dengan Metode fishbone atau digram tulang ikan.
B.2. Aktifitas Literasi
Berbasis Proyek
Membuat sesuatu
yang besifat mencipta kreatifitas projek. Misalnya kreatifitas TBM Leshutama
mendata nama-nama rumput sekitar perpustakaan, menganalisa pola perlakuan hidup
tumbuhan dari nama-nama rerumputan dan mengkaji manfaat dari tumbuhan baik
sebagai tanaman obat atau makanan ternak.
B.3. Alih
wahana
Alih wahana ini
diperlukan untuk mengurangi kejenuhan pengunjung. Sehingga perlu sebuah
aktifitas sederhana dengan konteks aktivitas literasi. Misalnya wahana-wahana
yang berbasis buku, diantaranya:
- -
Mendongeng (model
storytelling atau model ridealord)
- -
Lagu atau puisi
dengan tema tertentu
- -
Drama boneka
- -
Komik strip
- -
Pertunjukan
tari atau gerak
- -
Instalasi seni
- -
Film pendek
B.4. Challenge (Tantangan)
Yaitu memberikan kegiatan bersama dengan membuat rancangan kegiatan membaca dan aktifitas berbasis buku di lembaga serta ditambahai kreatifitas lapangan:
- Anak-anak diajak untuk ke sawah atau pekarangan taman baca.
- Menggambar rumput yang diambil
- Menganalisa manfaat dan
- menilai tingkat kedetailan dalam pemaparan tentang rumput yang
diambil.
- Ragam strategi, yakni membuat rangkaian permainan atau kegiatan dengan
mengambil moral yang tersimpan di dalamnya.
Contoh:
- Membaca buku yang berjudul “Perjalanan Ke Sawah”. Anak-anak di ajak
ke sawa untuk mengidentifikasi tanaman pisang serta jenis-jenis atau nama-nama
pisang.
- Setiap anak dituntun membaca buku tentang “Perjalanan Ke Sawah”,
kemudian memperagakan dengan temannya dengan membentuk kelompok.
- Mengambil tugas secara acak yang diambil dari seputar buku
tersebut,
- Masing-masing kelompok menganalisa moral yang terkandung dalam permainan
|
Aktifitas literasi |
Sasaran peserta |
Buku yang digunakan |
Alat peraga/bahan |
Tujuan kegiatan |
|
Membaca
nyaring dan kegiatan Projek: |
Paud TK SD |
Judul : “Perjalanan
Ke Sawah” Penulis: Illustrator: |
|
1. Melatih teka-teki 2. Kebendaharaan kosa kata dan jenis pisang 3. Identifikasi tanaman, dll |


Komentar
Posting Komentar