Bulan Asyuro; Mengingatkan Sebuah Misi Perjuangan Kerajaan Mataram Untuk Dakwah Islam di Indonesia
“Memori otak sejak masuk diperkuliahan, ketika seringkali silaturrahim dengan para penganut penghayat kepercayaan. Dimana seringkali ngangsu kaweruh tentang spiritual jawa perihal logis yang dimitoskan dan perihal supranatural yang disesatkan. Bagiku, kurang-luweh pemikiran manusia adalah menjadikan kesempurnaan berpengetahuan”.
Oleh: MukhosisAbdul
Meskipun
kerajaan Mataram merupakan anugerah dari kerajaan Pajang era Raden Abdul Halim
atau Pangeran Benowo atau Pangeran Prabuwijaya, akan tetapi semangat kesamaan
tujuan kedua kerajaan adalah untuk dakwah Islam tetap bersemi Lestari.
Pangeran Benowo
adalah generasi ketiga raja Kerajaan pajang setelah Joko Tingkir atau Sultan
Hadiwijaya yang sempat memimpin kerajaan Pajang pada tahun 1586-1587 Masehi.
Beliau memilih menjadi ulama, daripada terjun dalam dunia perpolitikan.
Sehingga tahta kerajaan Pajang diberikan kepada Danang Sutawijaya putra Ki
Ageng Pamanahan yang bergelar panembahan Senopati Mataram.
Muasal Istilah
Suro
Bulan suro,
merupakan nama bulan pertama dalam kalender saka. Sebelumnya nama-nama bulan
dinamakan kapisan, kapindo, katelu dan seterusnya. Pada era pemerintahan
kerajaan Mataram (Sultan Agung), nama-nama bulan berubah menjadi suro, sapar,
mulut, bakdo mulut, dan seterusnya.
Penyatuan
kalender tersebut dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil akhir tahun 1555 Saka
atau 8 Juli 1633 Masehi oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Akan tetapi dalam
hitungan tahun Hijriyah atau Islam, bulan pertama dinamakan Muharram. Sehingga
berurutan dari Muharam, Sofar, Rabiul awal dan seterusnya.
Ringkas cerita,
pada era Mataram mencoba mengkolaborasikan mangsa 1 Muharam dengan menitik
beratkan pada tanggal 10 muharam atau tanggal asyuro (asyuro) sebagai tanggal
yang paling sakral. Hal ini melihat banyak kejadian dalam peristiwa Sejarah Nabi-Nabi
yang mendapat musibah pada 1 Muharam dan keluar mendapat solusi pada tanggal
asyuro. Misalnya dalam cerita Kitab Betaljemur Adammakna, menjelaskan tentang
cerita para Nabi;
1. Nabi Yusuf dijeburkan ke dalam sumur oleh saudaranya pada 1 muharam
dan ditolong dapat keluar sumur pada 10 muharam,
2. Nabi Yunus ditelan ikan Paus pada 1 Muharam dan dikeluarkan dari
perut ikan pada 10 Muharam,
3. Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrut dan kaumnya pada 1 Muharam
dan keluar dari api pada 10 Muharam,
4. Nabi Nuh yang dikirim air bah sehingga perahu dapat berlayar dan perahu
tersebut dapat bersandar pada 10 Muharam.
5. Nabi Musa yang menyeberangi laut sehingga selamat dari ancaman Raja
Fir’aun pada 10 Muharam, dan Seterusnya
Dilain sisi, tentang
kisah Cucu baginda Rosulullah dalam peristiwa Karbala. Yakni peristiwa ini
merupakan pertempuran bersejarah yang terjadi pada tanggal 10 Muharam 61 H
(10 Oktober 680 M) di Karbala, Irak. Pertempuran ini melibatkan cucu Nabi
Muhammad, Husein bin Ali, dan pasukannya yang sedikit jumlahnya, melawan
pasukan besar dari Kekhalifahan Umayyah yang dipimpin oleh Yazid bin
Muawiyah. Pertempuran ini berakhir dengan kesyahidan Husein bin Ali.
Sehingga dari
berbagai peristiwa ini, pada era Mataram, asyuro Muharam sangat diskralkan
dalam pemerintahannya. Terlebih dalam pandangan masyarakat Kerajaan Mataram, pada
1 Muharam merupakan peristiwa Sultan Agung melangsungkan pernikahan dengan Nyai
Ratu Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul.
Meski perihal
ini sebagai peristiwa rancu oleh Sultan Agung sehingga mendapat klaim Si’ah
sesat oleh beberapa masyarakatnya karena peristiwa “Karbala” dan “Ratu Kidul”, akan
tetapi Sultan Agung berhasil memersatukan kebudayaan yang memiliki latar belakang
berbagai Agama-Kepercayaan dengan istilah “Sasi Suro” lengkap dengan
kesakralannya.
Peran Sultan
Agung dalam Mensakralkan Bulan Suro
Masyarakat
Mataram memiliki berbagai keyakinan keagamaan, baik Islam, penghayat
kepercayaan, Hindu, Buddha, dan sebagainya. Sehingga Sultan Agung
Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan atau nasionalisme.
Untuk itu, pada era sultan agung setiap hari Jumat Legi, dilakukan laporan
pemerintahan setempat serta melakukan pengajian yang dilakukan oleh para
penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel
dan Giri.
Pada tanggal 1
Muharram atau 1 Suro (kalender Jawa) yang dimulai pada hari Jumat Legi juga
turut dikeramatkan. Bahkan dianggap sial jikalau ada orang yang memanfaatkan
hari tersebut di luar kepentingan spiritual.
Suro dan
Spiritualitas Jawa Islam Era Modern
Pada masa
kerajaan Mataram ketika era kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, mengatur
titimangsa dalam aktivitas masyarakat secara menyeluruh. Diantaranya bulan
(waktu) hajatan, bulan kelahiran bayi, bulan jamasan pusaka, bulan grebeg
Agung, dan seterusnya. Begitu juga mengatur titimangsa kegiatan masyarakat dari
bangun tidur hingga tidur kembali, yang terdokumentasi dalam buku Betaljemur
Adammakna.
Masyarakat Jawa
khususnya, pada bulan suro dipakai sebagai aktifitas murni spiritual. Misalnya
jamasan pusaka, puasa lelaku atau riyadhoh, do'a pagar rumah, dan sebagainya
yang berkepentingan sebagai menambah pengolahan dalam meningkatkan spiritual
diri.
Pada era masyarakat
modern, memahami bulan suro sebagai bulan bersih lingkungan. Yakni mengkolaborasikan
kegiatan spiritual Jawa Kuno, Kerajaan, dan Ajaran Islam. Banyak pada bulan ini
masyarakat pada umumnya menggelar do’a bersama serta dibarengi dengan menyantuni
anak Yatim/Piatu sesuai yang tercatat dalam kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi
Sayyidil Anbiya wal Mursalin karya Abullaits Assamarqandi (Wafat 373 H):
مَنْ
صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ
عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ
أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ،
وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ
تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً
Artinya: “Barang
siapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharram, niscaya Allah akan
memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan barang
siapa mengusap kepala yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat
derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya”.
Sehingga pada
modern ini, banyak kegiatan kemasyarakatan yang menggelar acara Suro-an dengan
berbagai kreatifitas masyarakat dan keunikan masing-masing.

Komentar
Posting Komentar