Titimangsa Nilai Etika dan Ilmu; Meniti Goro-Goro Klan Habaib Versus Masyarakat Pribumi Indonesia dalam Perspektif Pengetahuan Kasepuhan
Budaya Tutur di
Nusantara, melahirkan banyak peradaban generasi; pendidikan moral, sejarah,
pengetahuan, hukum adat dan seterusnya. Dari budaya tutur menjadikan generasi
bangsa ini berjiwa besar akan pengetahuan terhadap bangsanya Nusantara. //Khoss
Oleh: MukhosisAbdul
Suatu malam,
aktivitas rutin menemani Simbah Fathonah binti KH.Dimyati. Beliau mengajak
ngobrol lumrahnya obrolan kepada anak-anak beliau dengan sembari guyonan.
Padahal usia ku masih usia SMP pada tahun 2003, yang beliau tidak biasa
pembicaraan seserius itu kepada saya yang dominan diam dan taat semua tutur
beliau.
Beliau bercerita
terkait perjalanan Gus-Dur menjadi presiden serta peristiwa pelengseran
Kepresidenan beliau tahun 2001. Pada saat itulah simbah berkata; "mbesok
ki yo enek kedadean koyok kedadeane mongso PKI, ning PKI putih sing asale ko
wong Islam dewe". Mendengar itu saya beralih banyak bertanya kepada
beliau dengan penasaran. Pesan beliau; "njajal lek namu nggone sesepuh,
takokno. Kui opo tenan arep enek PKI putih sing nggawe goro-goro neng Negoro
Iki". Seketika itu saya balik tanya: “nopo wonten karo podo Islam bacokan
mbah?”. “Yo emboh to”, timpal simbah.
Akhirnya dari
saling lempar pertanyaan menjadikan simbah menjabarkan cerita. Bahwa menurut
beliau adalah akan ada sebuah bencana yang menimpa Indonesia tentang berebut keturunan
darah biru yang pada akhirnya menjadikan perselisihan. Akan tetapi,
perselisihan tersebut, menjadikan negara Indonesia berbalik dari suasana ayem
menjadi mencekam.
Kopi Pagi di
Bale Pesantren Sepuh
Senafas pagi
itu menikmati kopi, teringat suatu ketika sowan di pesantren sepuh, tidak
sengaja perbincangan itu mengarah kepada persinggungan berbagai polemik negara
dan berlanjut bacaan masadepan negara. Mungkin perbincangan itu jauh sebelum
wabah Corona, mungkin apa daya saya tidak tahu apa pentingnya pembicaraan
tersebut.
"Sok ki
Indonesia arep enek goro-goro koyo PKI ning PKI putih, wonge Yo Islam Yo
jubahan,". Kata beliau
"Di mongso
kui, Gusti Allah maringi Coba marang kawulane. Nyopot wali min auliyailah dadi
asor derajate, kyai sing khoss dadi ilang kharismane, Krono rumongso dadi
pewaris dzurriyahe kanjeng Nabi. Ning, lali hingga ndadekne sombonge, lali yen
deweke ki iseh menungso biasa sing butuh ngibadah lan isek ngising koyo
menungso umume”.
Poro wonge dewe
do kepincut karo wong jubahan kui, Ning sejatine nek kulite sing apik, tapi
isine bosok.
Ning wonge dewe
ki koyo banyu neng nduwure godhong tales, ura nduwe gondelan krono bingung kudu
polah piye.
Suatu ketika
Bertamu kepada Mbah Sodiq
Suatu ketika
sowan kepada mbah Sodiq, muncul cerita kembali. Dengan nada penasaranku timbul
kembali. Beliau bertutur; "sok lek enek kumpulan sing ngopeni
dzurriyahe kanjeng Nabi Muhammad SAW songko kalangan wonge dewe (pribumi),
meluo dadi barisane. Krono sejatine kui sing sak benere pewaris ajarane kanjeng
Nabi Muhammad SAW”.
Dalam berbagai perkopian
saya tersimpul satu tema tapi berbeda tempat, akan tetapi menjadikanku
bertambah bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi di negeri Indonesia ini.
Ngopi dengan
Mbah Abdul Malik
Suatu ketika, saya
ngopi bersama dengan orang-orang relawan pesantren Raden Abdul Halim, serta pembicaraan
itu gayeng dengan berbagai topik kemaslahatan. Karena menunjukkan pukul 00.30
WIB, pada akhirnya mereka undur diri bergeser pulang. Namun mbah Malik, yang
ketika itu hanya 2 orang, yakni saya dan beliau akhirnya beliau bertutur
tentang pesan moral untuk tahun ini (antara tahun 2023-2026).
Pepeling 2023-2026;
"Simbah Kakung Nggowo Gharu-Luku (Bajak), Simbah Putri Nggowo
Cikrak Karo Sapu. Tondo Yen Simbah Arep Noto Ladhon Tanduran Lan
Resik-Resik".
(Tutur mbah Malik)
Perihal di atas,
juga menjadikan pikiranku berkeliling Indonesia, karena jika mengamati
perkembangan negara dan politik negara, realitanya sedang tidak aman-aman saja.
Pada tahun-tahun ini banyak pejabat yang melakukan penyelewengan sehingga mencoba
kebal hukum dengan menyuap hakim, KPK, Aparatur negara dan seterusnya. Namun di
sisi lainnya, banyak juga yang memilih tiarap demi keamanan jabatan,
kepentingan, serta keselamatan parpol.
Bil Hikmah,
Budaya Tutur Nusantara
Cerita-cerita
di atas, merupakan bagian dari tutur seorang budayawan. Maksudnya, orang-orang
yang terbiasa menjadi pengamat perkembangan psikologi masyarakat sekaligus
tokoh masyarakat.
Adapun benar
tidaknya, bukan persoalan kebenaran mutlak, atau panuatan masyarakat, akan
tetapi sebagai pengingat tutur masyarakat, jika masyarakat kita di Indonesia dibesarkan
dan berkembang dengan budaya tutur. Misalnya tentang Sejarah bangsa besar
Nusantara, nilai etika masyarakat, hukum adat, dan lain sebagainya.
Sehingga dari
budaya tutur di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat serta lingkungan
belajar, ternyata masyarakat Indonesia memiliki sejarah peradaban yang
dihasilkan dari budaya tutur tersebut.

Komentar
Posting Komentar