Hikmah Akhir Tahun 2024, Ziarah Gus-Dur
oleh: NukhosisAbdul
“Hidup itu berfikir menggerakkan roda kehidupan, memainkan peran pion-pion dan meraih kemenangan meskipun sesaat. dan Bersiap kehilangan pion-pion kesayangan, adalah konsistensi mutlak atas Keputusan seorang penggerak pion”.//khos//
Pada akhir
tahun 2024 kami menyengaja berkunjung ziarah ke makam gus-Dur sebagai perjalanan
nyaur utang, jikalau ketika acara haul beliau kemarin saya tidak dapat
berkunjung menghadiri acara. Meskipun perjalanan kami bukanlah satu-satunya
untuk bertamu kepada Gus-Dur, tetapi ada niatan kangen layaknya teman yang lama
tidak bertemu.
Gus-Dur bagiku
sosok teman yang seringkali muncul memberikan isyarah tentang perjalanannku
menata serta membangun pondok pesantren di Kalidawir. Sehingga keberadaan
Gus-Dur seringkali muncul setiap lantunan do’a setiap selesai sholat
berjama’ah.
Tiga Mimpi
Bertemu Gus-Dur
Mimpi Pertama.
Sekitar tahun 2018, ketika itu kami memulai menata pesantren dan pola-pola
dalam membangu pesantren. Dalam mimpi itu, Gus-Dur mengajakku di Pantai untuk
menyaksikan sebuah kapal besar. Beliau memberi isyarat bahwa perjalananku harus
menata starting terlebih dahulu seperti seseorang yang mau berlayar. Mulai
mengecek kondisi kapal, bahan bakar, bekal makanan dan sebagainya.
Mimpi kedua,
sekitar tahun 2021 (korona fase ke-2), ketika itu kami mulai sedikit
pengembangan pesantren. Gus-Dur memberikan inspirasi melalui mimpi, yakni
mengajakku keliling pesantren Tebuireng yang penampilannya pada era-era tempo
dulu, yakni banyak gubug-gubuh dan perkebunan tebu yang luas. Dalam mimpi itu
memberikan isyarat gambaran bahwa perjuangan membutuhkan wahtu yang cukup lama
bahkan perjuangan babat pesantren, belum tentu kita sendiri yang menikmati.
Bisa jadi para penerus-penerus kita yang melanjutkan serta menikmati.
Mimpi ke-3,
pada tanggal 30 Desember 2024. Ketika kami nyaur utang berkunjung kepada gus
Dur dengan sedikit capek perjalanan. Kami duduk bersama keluarga di area peziarah
pada umumnya, saking capeknya saya tertidur dan tiba-tiba bertemu gus-Dus
seraya beliau duduk di kursi, dengan kaos dan sarung pernak-pernik beliau.
Beliau mengajakku main sekak/catur, dan dalam mimpi itu beliau berkata “Urip
iku kadang butuh ketepatan, koyok dolanan sekak”. Saking berfikirnya beliau
berkata seperti itu, saya terbangun.
Gus-Dur
Inspirasiku
Dalam
perjalanan hidup, saya tidak pernah bertemu gus-Dur secara langsung. Namun
bagiku Gus-Dur bukanlah sosok yang asing, bahkan sedekat teman yang saling
menyapa setiap bertemu.
Kami meyakini
bahwa perihal Gus-Dur, beliau adalah bagian dari orang-orang sholih yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ
أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ ﴿١٦٩﴾ فَرِحِينَ
بِمَا آتَاهُمُ اللَّـهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ
يَلْحَقُوا بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ ﴿١٧٠﴾
“Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di
jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di
sisi Tuhannya. Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan
kepadanya dan bergirang hati atas (keadaan) orang-orang yang berada di belakang
yang belum menyusul mereka, yaitu bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan
mereka tidak bersedih hati. (Alquran Surat Ali Imran, 169-170).
Sehingga saya
meyakini, keberadaan beliau masih memberikan inspirasi meskipun beliau sudah
bergeser dalam alam barzah. Sehingga tidak mustahil jikalau Gus-Dur telah
tiada, tetapi keberkahan jasa beliau masih memberikan rezeki bagi manusia-manusia
yang masih hidup di dunia.
Hidup adalah
hikmah
Urip iku wis
ginaris, kata orang jawa. Bahwa kehidupan sudah ada yang mengatur, tinggal
seseorang melakukan usaha yang nantinya akan menjadi cerita. Senang itu pasti,
jika apa yang di depan mata adalah sesuatu yang sesuai keinginan. Tetapi tidak
terlepas pula keadaan yang lain juga mengiringi perjalanan manusia; bahagia, susah,
takut, waspada, terjepit, kalut, dan seterusnya.
Segala yang ada
dalam kehidupan adalah wajar. Karena dibalik perencanaan manusia ingin bahagia,
juga ada rencana-rencana yang lain agar tidak jadi bahagia, dan itu adalah
wajar dalam kehidupan manusia.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
(مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ
وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَة)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Rasulullah SAW:
“Cobaan itu akan senantiasa bersama orang yang beriman baik laki laki
ataupun perempuan baik berkaitan dengan dirinya, anaknya ataupun hartanya
sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.” (HR. At-Turmudzi).
Tidak menutup
kemungkinan semua resiko kehidupan ternyata wajib ada pada setiap makhluk baik
manusia, hewan atau makhluk yang lainnya. Cobaan terhadap manusia juha perihal
wajid ada (haq), dimana setiap orang telah memiliki peluang dan kendala
masing-masing.
Urip iku sawang
sinawang, kata orang jawa. Sehingga apapun derajatnya, manusia tidak terlepas
dari cobaan serta resiko terhadap apa dalam kehidupannya. Misalnya seorang
pedagang akan beresiko terhadap kerusakan jualannya, petani akan beresiko
terhadap perubahan iklim dan cuaca, menjadi pengangguran akan beresiko sebagai sampah
masyarakat dan kelaparan, menjadi dokter akan beresiko kepada penyakit bahaya yang
tak terduga, dan seterusnya.
Hal ini adalah agar
manusia berupaya tetap ingat, bahwa manusia ternyata makhluk sementara; yakni
sementara di kandungan, sementara di dunia, sementara di alam kubur. Sehingga menyadarkan
kepada diri manusia agar menjadi manusia seutuhnya, yakni makhluk sosial yang
membutuhkan kebahagiaan bersama yang lainnya.

Komentar
Posting Komentar