Tunggak Jarak Merajak Tunggak Jati Mati; Refleksi Generasi Muda dan Lika-Liku Kehidupan



Oleh: Mukhosis.Abdul

“Tunggak jati mati, tunggak jarak merajak”. Jati iku wit kang migunani kanggene seniman, kayu kangge bahan unggulane siniman jowo lan migunani endah kanggo kusen omah sing ajine ora kiro regane. Nanging, wit utawa kayu jarak sing ura keno disuguhne nilai senine, banjur sekedik banget manfa’ate, maneh kangge wong sing ora biso migunakne manfaate malahan ndadekne racun kangge makhluk urip liyane. Banjur, akeh putro wayah sing kepaten obor, ora ngerti babar pisan opo sing dikarepno wong tuwane didik putra wayah, jalaran anak milih lakon urip grubyuk sing iso ndadekno sampahe masyarakat.

Pepatah jawa mengatakan; “tunggak jati mati, tunggak jarak merajak”. Istilahnya bahwa sebaik apapun kualitas lingkungan kehidupan seseorang termasuk keluarga, jikalau tidak dipertahankan dengan baik, maka akan hehilangan kesempatan masa keemasan tersebut. Sedangkan kehidupan atau keturunan yang tanpa memprioritaskan kualitas pengetahuan serta kematangan hidup, akan lebih cenderung mudah dan berkembang pesat memenuhi populasi pada umumnya generasi.

Mempertahankan kualitas keluarga dalam pengetahuan, jauh lebih sulit daripada hanya sekedar mempertahankan kekayaan. Dimana pengetahuan tidak dapat diwarisi bagi generasi penerusnya, tanpa ikhtiyar serta proses panjang. Pada akhirnya keilmuan yang sudah ditorehkan orangtua seringkali hanyalah sebuah ajang kesombongan tanpa diimbangi kemampuan pengetahuan bagi anak-anaknya.

Anak Kyai Pinter Ngaji, Anak Dalang Pinter Ngendang

Pada era tahun 90an masih berlaku pepatah jawa, “Anak Kyai Pinter Ngaji, Anak Dalang Pinter Ngendang”. Meskipun generasi atau anak-anak setiap keluarga memiliki lebih banyak pengetahuan serta pengalaman hasil belajar dari luar rumah, setidaknya para orangtua masih berinteraksi serta mengajarkan pengetahuan mereka kepada anak-anaknya.

Namun seiring berkembangnya waktu, keluarga tidak lagi mengajarkan serta memiliki waktu untuk berkumpul keluarga tercinta. Sehingga anak-anak tidak tahu-menahu tentang aktifitas keluarga atau orangtuanya.

Kehidupan anak-anak generasi sekarang, memilih berkembang dengan prinsip digital serta berbaur dengan dunia maya. Sehingga tidak heran jika generasi-generasi sekarang lupa dengan orangtuanya, asik sendiri, serta memilih jalan hedon yang penting mereka suka dan menyenangkan.

Tantangan Orangtua dan Generasi Penerus

Tantangan keduanya adalah seiring perkembangan teknologi serta lingkungan digital tanpa diimbangi dengan real interaksi sosial. Sehingga berefek kepada komputerisasi atau pola hidup bergaya mesin, dimana seorang akan seperti mesin yaitu tidak jalan jika tidak ada perintah, hanya berhenti atau berkumpul keluarga saat tidur saja tanpa ada komunikasi dengan baik.

Setiap generasi memiliki kejayaan berkreasi sesuai minat-bakatnya. Namun dilain sisi, banyak generasi kehilangan arah untuk bertindak sebagai generasi positif. Sehingga bukanlah perihal yang tabu ataupun saru jika generasi muda berperilaku semaunya tanpa ada etika kepada siapapun. Termasuk menjual dirinya, berpesta miras dan pelengkapnya bersama teman seusia dengan masih dibawah umur, koloni premanisme, dan seterusnya.

Perihal tersebut marak karena tingkat kesibukan para orangtua juga banyak yang tertekan dengan aktifitas perekonomiannya. Sehingga sangat sedikit sekali para generasi yang memiliki kasih sayang dan interaksi dengan orangtua yang pada akhirnya anak akan memilih jalan hidup sesuai kesimpulan diri mereka.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan