Kelas Sertifikasi Petani; Upaya Regenerasi dan Pembekalan Ketersinambungan Petani Mandiri.
Rutinitas petani
pesantren Raden Abdul Halim, setiap hari kamis mulai pukul 10.00 - 12.00 WIB,
mereka melakukan pertemuan tentang pengembangan pertanian dengan berbagai
elemen bidang pertanian; pelaku tani, penyuluh pertanian, pendamping pertanian,
dinas pertanian dan berbagai kalangan pemerhati pertanian yang bersifat umum.
Kelas petani ini,
bertujuan lebih kepada pola pengembangan SDM para petani, juga membuka wawasan
bersama para regenerasi petani yang penuh semangat menjawab tantangan pertanian
modern.
Dalam pertemuan
ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam, petani mendapatkan pendalaman materi
tentang dunia tanaman pertanian, mulai padi, holtikultura dan sebagainya. Selanjutnya,
petani mendapat materi tambahan di sela-sela akhir pertemuan tentang legalitas
produk pertanian jika petani tersebut mampu mengembangkan serta menemukan
varietas baru.
Regenerasi
petani juga merupakan hal penting bahwa tidak hanya memandang pertanian sebagai
pekerjaan biasa, tetapi sebagai panggilan untuk menjawab tantangan global.
Dengan memadukan teknologi canggih dan pengetahuan tradisional, sehingga
membuka jalan untuk pertanian yang lebih efisien dan ramah terhadap lingkungan.
Jalan Terobosan
Tentang Sertifikasi Petani
Semakin perkembangan
dalam dunia pertanian mengalami kemajuan, maka semakin ketat persaingan terhadap
wawasan petani modern. Sehingga perihal ini menuntut petani lebih berkompetisi
dalam Teknik pengelolaan lahan dan perlakuan tanaman.
Dalam praktiknya,
banyak perusahaan-perusahaan dalam negeri maupun luar negeri yang mengembangkan
pertanian melalui pola modern. Efek dari program ini banyak perusahaan membutuhkan
tenaga dalam perawatan tanaman yang professional. Seperti negara: Dubai, Saudi
arabia, Korea, Jepang dan lain sebagainya, yang mana negara tersebut mengembangkan
pertanian modern. Akan tetapi sangat minim sekali tenaga yang professional dalam
hal pertanian.
Dengan munculnya
sertifikasi pertanian, diharapkan mampu memberikan terobosan bagi negara-negara
yang sedang mengembangkan dunia pertanian serta memerlukan pengelola pertanian professional.
Sehingga sertifikasi tentang standarisasi petani perlu keselarasan dalam negara
masing-masing.
Diantara program
sertifikasi pertanian dalam negara-negara adalah adanya program Internal
Control System (ICS) untuk kelompok/lembaga yang bekerja serta berfungsi
untuk memastikan terselenggaranya organisasi yang sehat dan memiliki
akuntabilitas, baik itu keuangan, operasional dan mengikuti ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan dalam pengembangannya dinamakan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) yang berfungsi
sebagai peningkatan kompetensi, standardisasi dan sertifikasi petani.
Kedua hal
tersebut, yakni ICS &P4S sangat berkesinambungan dan diperlukan bagi petani
agar mampu bersaing antar negara serta mampu memberikan produk unggulan
pertanian yang maksimal.
Petani adalah Kebanggaan
Ketika petani terukur
serta sesuai dengan standar opersional, maka petani masa depan akan menemukan masa
dimana pekerjaan petani adalah pekerjaan bergengsi dan hasil pertanian bernilai
jual tinggi. Hal ini diambil kesimpulan dari semakin sempitnya lahan pertanian
dan kebutuhan bahan pokok semakin banyak.
Selain itu perkembangan
zaman semakin modern, sehingga negara-negara sudah memulai melakukan rekayasa
pertanian untuk menghasilkan kebutuhan pokok yang melimpah. Petani tidak lagi berpanas-panasan,
tetapi cukup di dalam ruangan yang bersuhu stabil antara 240C hingga
280C.
Petani hanya
mengawasi pertumbuhan tanaman dalam berbagai media. Mulai dari hidroponik, aquaponic,
hidrovertikal, polybag dan lain sebagainya yang mana semua tanaman tersusun
rapi dalam rak tanam. Selebihnya, semua obat-obatan pertanian memakai organik
sehingga aman bagi petani dan petani selalu menghirup udara segar dalam ruang
kerja.
Keheningan,
pemandangan serba hijau, pekerjaan ringan serta alunan music menambah sahdu
dalam menjalankan aktifitas dalam perawatan tanaman. Selebihnya, hasil panen
sudah terjadi kontrak hasil pertanian secara kelompok atau mitra, tentu akan
minim terjadi permainan dagang oleh para tengkulak.
Di negara
Indonesia pada tahun 2024 ini, seperti yang dikembangkan oleh pesantren Raden
Abdul Halim Tulungagung sekarang ini, terjadi banyak permintaan hasil pertanian
yang sifatnya kontrak hasil pertanian kepada supermarket, eksport, toko-toko
sayur dan seterusnya. Dari kontrak tersebut harga tetap dinilai mahal, teratur
dalam ritme tanam, dan minim mengalami kerugian. Pesantren Raden Abdul Halim
Tulungagung juga telah stabil dalam menanam; padi organik, terong ungu (nasubi),
labu kuning (kabocha), kol, seledri, bawang prey, dan melon



Komentar
Posting Komentar