Menakar Semangat Kebangsaan; Diklatama IPNU & IPPNU PAC Campurdarat
Catatan sekedar menemani obrolan wawasan kebangsaan dalam kegiatan Pendidikan dan Latihan Tingkat Pertama (DIKLATAMA) oleh DKAC CBP IPNU KPP IPPNU Campurdarat yang diselenggarakan pada tanggal 12 s/d 14 Juli 2024 di SDN 3 Tanggung Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Jadwal materi pada hari jum’at 12 Juli 2024 dimulai pada pukul 22.45 WIB – 23.30 WIB.
Oleh: MukhosisAbdul
Sejarah bangsa Indonesia merupakan
sejarah bangsa yang memiliki peradaban besar. Baik dalam hal kemaritiman, agrarian,
maupun sumber daya alam seperti halnya logam mulia, minyak bumi, batu bara dan
lain sebagainya yang luar biasa melimpah. Selain itu, bangsa Indonesia memiliki
berbagai ribuan bahasa kesukuan, adat, alat musik tradisional, senjata
traisional dan sebagainya.
Indonesia telah dikenal oleh
bangsa-bangsa dunia sejak zaman Kerajaan pada ribuan tahun silam, dan lebih
terkenal lagi pada masa kejayaan pemerintahan kerajaan Majapahit. Masa inilah
yang memperkenalkan Indonesia dengan istilah “Kejayaan Nusantara”. Dimana bangsa-bangsa
dunia merujuk kepada Nusantara untuk memperoleh kebutuhan bangsa mereka, dimulai
dari belajar ilmu pengetahuan (struktur bahan senjata, astronomi, arsitek dll),
hasil alam, hasil pertanian dan perkebunan, seni-budaya dan lain sebagainya.
Dilain sisi, bangsa Indonesia
dibenturkan dengan perilaku-perilaku bangsa lain yang ingin memonopoli kekayaan
bangsa Indonesia. Diantaranya muncul berbagai penjajahan yang berakibat
rusaknya keamanan dan kesejahteraan masyarakat pribumi, ditandai munculnya
serikat dagang Hindia Belanda atau VOC, dan yang lebih parah lagi dengan
menyingkirkan orang-orang pribumi untuk menjadi budak agar kepentingan monopoli
mereka tercapai dengan sempurna.
Tentang Sejarah Nama
Indonesia
Sejarah munculnya nama “Indonesia”,
diawali dari Pemerintahan Kerajaan Belanda dengan memakai nama
Nederlandsch-Indie atau Hinda-Belanda untuk Indonesia semasa penjajahan
(dimulai 1602 dan diselingi penjajahan Prancis, Inggris, dan Jepang).
Nama “Indonesia” pertamakali
muncul pada tahun 1850, di sebuah majalah ilmiah tahunan, yakni: Journal of
the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang terbit di Negara Singapura.
Diantara penemunya adalah dua orang ilmuwan Inggris: James Richardson Logan dan
George Samuel Windsor Earl.
Pada
saat itu, nama Hindia merupakan nama wilayah Indonesia saat itu, dan para
pemonopoli (penjajah), sering menyembunyikan sehingga sering tertukar dengan
nama daerah lain. Hal ini bertujuan agar sumber pasokan dagang mereka tidak
terketahui oleh bangsa-bangsa lainnya. Sehingga perihal inilah keduanya
berpikir, daerah jajahan Belanda diberi nama tersendiri. Earl mengusulkan dua
nama “Indunesia” atau “Malayunesia”. Earl sendiri memilih Malayunesia.
Sedangkan Logan yang memilih nama Indunesia. Selanjutnya, dalam
penulisan penelitian mereka, Logan mengganti huruf “u” dari nama (Indonesia)
tersebut menjadi “o”, sehingga beralih menjadi Indonesia.
Menukil
dari catatan Gus Liem, dari Buku “Telikungan Kapitalisme Global”, bahwa nama
Indonesia dipopulerkan oleh etnolog Jerman bernama Adolf Bastian melalui
bukunya, Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipels dan Die Volkev
des Ostl Asien (1884). Pada tahun 1924, pemakaian nama Indonesia dimulai
dengan terbitnya koran “Indonesia Merdeka” milik Perhimpunan Indonesia.
Kemudian penggunaan secara nasional bersama-sama terucap dalam ikrar Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928 hingga akhirnya Negara Indonesia resmi bernama Indonesia
melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Jejak Perjuangan Nahdlatul
Ulama dalam Kemerdekaan
Kelahiran organisasi
Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, menjadi titik terang perjuangan bangsa
Indonesia dalam menindak ketidakadilan dan segala jenis penindasan kepada
masyarakat Indonesia.
Bermula dari berdirinya perkumpulan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para
pedagang) pada tahun 1918, merupakan embrio berdirinya organisasi
Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari tiga
organisasi. Masing-masing bergerak dalam bidang yang berbeda;
1) Nahdlatut Tujjar yang bergerak dalam bidang ekonomi pada
tahun 1918,
2) Taswirul Afkar yang bergerak dalam bidang keilmuan dan
budaya pada tahun 1922, dan
3) Nahdlatul Wathon yang bergerak dalam bidang politik
melalui bidang pendidikan pada tahun 1924.
Tiga
pilar inilah yang memberikan semangat berdirinya organisasi
Nahdlatul Ulama (NU) yang meliputi wawasan ekonomi
kerakyatan; wawasan keilmuan, sosial budaya; dan wawasan kebangsaan.
Sejak lahirnya Nahdlatul Ulama
(NU), organisasi
ini menjadi wadah perjuangan untuk menentang segala bentuk penjajahan dan
melakukan dakwah agar kesatuan NKRI senantiasa terjaga. NU menjadi penolong
atas perilaku penjajahan kepada bangsa Indonesia oleh sisa-sisa VOC (1602-1799)
dan perilaku monopoli (penjajahan) yang dilakukan oleh Jepang.
KH. Hasyim Asy'ari, yang menjadi
pendiri sekaligus Rais Akbar (pemimpin tertinggi) pertama Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU), berusaha membangun organisasi Islam yang nasionalis.
Dakwah untuk menghimpun kekuatan melawan penjajahan Belanda merupakan bagian
dari perjuangan NU dan sebagai bukti cinta tanah air.
Menjelang kemerdekaan Indonesia,
putra KH Hasyim Asy'ari sekaligus tokoh NU, KH Abdul Wahid Hasyim menjadi
anggota BPUPKI dan PPKI, yang bertugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Di
samping KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahid Hasyim, sejumlah figur NU pun
dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia.
Peranan NU setelah proklamasi
kemerdekaan Indonesia oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1945 bukan akhir
dari perjuangan bangsa. Diantaranya NU ikut mempertahankan kemerdekaan NKRI
ketika Belanda bekerjasama dengan NICA sehingga terjadi pertempuran pada 10
Nopember 1945 di Surabaya yang dikenal dengan Hari Pahlawan. Selanjutnya, NU mengeluarkan
“Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama” dengan ditandatangani oleh KH. Hasyim
Asy'ari pada 22 Oktober 1945 yang sekarang diresmikan sebagai hari Santri
Nasional.
Menakar NU dan Generasinya
Perjuangan Nahdlatul Ulama
(NU), sudah tidak perlu diragukan kembali. Kehadiran NU mengusung Negara untuk
memiliki piagam perdamaian berupa “Pancasila”, mejadi pilar utama bagi
rakyat Indonesia. Dimana negara-negara lain tidak memiliki perihal tersebut, sehingga
seringkali terjadi peperangan serta menjadikan rakyatnya sengsara.
Tidak jauh dari Sejarah Nahdlatul Ulama
(NU) tentang Tiga pilar inilah yang memberikan semangat berdirinya organisasi
Nahdlatul Ulama (NU) yang meliputi 1) wawasan ekonomi kerakyatan; 2) wawasan
keilmuan, sosial budaya; dan 3) wawasan kebangsaan. Generasi muda bangsa
Indonesia terutama generasi muda NU harus dapat meneruskan perjuangan para
pahlawan dalam mewujudkan Negara Indonesia yang lebih baik. Sehingga perlu
menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang lebih mumpuni.
Dalam menemani
obrolan tentang wawasan kebangsaan dalam kegiatan Pendidikan dan Latihan Tingkat
Pertama (Diklatama) oleh DKAC CBP IPNU KPP IPPNU Campurdarat tahun 2024, dengan
tema: “Tangi, Adhepi lan Rampungna” setidaknya ada beberapa catatan bagi
saya (penulis) sekaligus pemantik obrolan. Diantaranya;
1. Mencoba berfikir dari sudut pandang berbeda dari semangat
perjuangan bangsa Indonesia.
2. Bersikap solutif dalam menumbuhkan semangat keindonesiaan kepada
generasi muda (pelajar) sehingga terwujud semangat “hubbul wathon minal iman”
3. Mencoba merumuskan serta memahami ala pemikiran KH. Hasyim Asy’ari
dalam perjalanan panjang dari tujuan mendirikan Nahdlatul Ulama.
4. Mencoba merubah mindset tentang NU, dari hafalan menjadi manhaj
fikr kepada generasi muda
5. Berfikir Besar dari interpretasi bangsa yang memiliki peradaban
besar
Dari beberapa kesimpulan
pelatihan ketika dalam obrolan kebangsaan, memiliki hasil pola pijakan gerakan,
yakni generasi muda harus menata rencana masa depan dimulai dari sekarang dengan
pola pemikiran analisa sederhana keseharian. Mungkin dari pemikiran-pemikiran
inilah generasi muda dapat mempersiapkan diri menjadi penerus bangsa Indonesia yang
bijak dan bermartabat.
___________________
Referensi:
- Hasyim Wahid dkk. Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah
Kebangsaan Indonesia. LKis Yogyakarta
- Farih, Amin. (2016). Nahdlatul Ulama (NU) dan Kontribusinya
dalam Memperjuangkan Kemerdekaan dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 24 (2): 251-284.
- Term of Reference (TOR) materi kebangsaan Pendidikan dan Latihan Tingkat Pertama (Diklatama) oleh DKAC CBP
IPNU KPP IPPNU Campurdarat tahun 2024, dengan tema: “Tangi, Adhepi lan
Rampungna”
Komentar
Posting Komentar