Guru Mendidik System atau Dididik System
Catatan menjadi pendengar baik, ketika musyawarah kurikulum dewan guru di SMK-NU Tulungagung pada 15 Juli 2024 mulai pukul 09.00-11.42 WIB di Gedung auditorium PCNU Kabupaten Tulungagung.
By.MukhosisAbdul
Pagi ini kami kami mendapat pesan untuk ikut bergabung mengikuti
musyawarah guru di di SMK-NU Tulungagung di Gedung auditorium PCNU Kabupaten
Tulungagung. Sementara waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB dan teman guru-guru
lain juga belum datang yang ditunjuk untuk musyawarah di forum SMK-NU pusat di
Tulungagung.
Kehadiranku hanyalah sebagai pelengkap (sementara) dari guru-guru
yang di SMKNU cabang di Pon.pes. Raden Abdul Halim Kalidawir. Selain itu, keberadaan
pesantren dibawah kendali saya sebagai kepala sekaligus satpam santri, sehingga
dianjurkan untuk ikut merapat di SMKNU Tulungagung.
Pada pukul 09.00 WIB, temen guru masih juga belum komplit masih
menunggu satu guru yang masih OTW. Padahal acara pada undangan menunjukkan
pukul 09.00 WIB dimulai, sedangkan kami belum berangkat dari pesantren
dikarenakan menunggu personil. Pada pukul 09.24 WIB kami berangkat menuju
tempat musyawarah dengan sedikit tergesa menaiki mobil operasional pesantren dengan
harapan ketergesaan kami mengurangi angka keterlambatan.
Sampai di Lokasi PCNU Tulungagung pada pukul 10.04 WIB. sambil
perasaan malu, kami memasuki ruang rapat yang kehadiran kami terlambat satu
jam. Kami berfikir apakah ini yang namanya guru yang seharusnya mengajarkan
disiplin, ternyata terlambat dan tidak disiplin.
Akhir cerita, kami mengikuti musyawarah hingga akhir acara pada
pukul 11.42 WIB dan menyempatkan mampir di Argo Pathok Candi Dadi (desa Junjung
Sumbergempol) untuk persiapan kemah siswa SMKNU Raden Abdul Halim pada agustus
mendatang dan kembali ke pesantren pada pukul 13.30 WIB.
Kurikulum di-Bangsa-kan
Kurikulum pendidikan di Indonesia bagi saya sudah lebih baik, semakin
baik dan berkembang. Mulai kurikulum 94, kurikulum KBK, kurikulum KTSP,
kurikulum K-13, sampai dengan kurikulum Merdeka. Kami mengira bahwa jika
pendidikan terus membaik, maka out-put generasi juga melahirkan SDM yang lebih
baik.
Ada beberapa catatan bahwa sekolah wajib memberikan contoh tentang
bagaimana proses belajar terus berjalan. Baik dalam kondisi di dalam ruang
kelas, lingkungan sekolah bahkan sampai kepada lingkungan tempat tinggal,
dimana semua ikut keterkaitan dalam proses pengetahuan siswa. Sehingga kuncinya
adalah keterfokusan pendalaman materi belajar, kolaborasi materi 20% dan
praktik 80%.
Perihal ini juga melihat dari pembiasaan siswa, misalnya sekolah
madrasah di daerah Tulungagung dengan pembiasaan; Rotibul Haddad, istighosah
&, pembiasaan salam sapa berjabat tangan. Sehingga memberikan dampak etos
kerja yang tinggi serta menjunjung tinggi kebersamaan kerja keras.
Belum lagi ditambah materi pendidikan dengan sekup pembelajaran
materi yang tegolong istimewa. Yakni banyaknya teori pembelajaran, referensi
pengetahuan dan seterusnya tentu akan menambah martabat generasi out-putnya.
Reality Generasi Bergelut dengan System
Melihat kinerja di lapangan masih banyak ditemukan suatu kebijakan ataupun
dalam instansi adanya; mbuletisasi prosedur, kebijakan yang bertele-tele,
saling menjatuhkan dalam kinerja instansi, keterpihakan yang merugikan
pelayanan, dan seterusnya hingga masyarakat atau rakyat biasa akan tetap berdampak
sengsara.
Masyarakat biasa pada akhir-akhir ini seringkali menjerit soal
system pemerintahan; sudah beban pembiayaan hidup, pembiayaan sekolah anak,
masih juga harus dikenakan pajak negara yang cenderung mahal bagi masyarakat
yang ingin mandiri usaha. Sedangkan yang berada pada level kebijakan lebih cenderung
mencari keuntungan sendiri-sendiri dan berlomba mencari saweran rakyat.
Pada sisi lain, para siswa dan guru yang memiliki semangat tinggi
yang tidak kenal waktu, agar generasi menjadi gerasi yang memiliki etos kerja
yang baik untuk negara. Namun di lain sisi, ketika mereka terjun dalam dunia
kerja masih juga mabuk terhadap system lingkungan yang membingungkan. Akhirnya hanya
terdapat dua pilihan, yakni ikut arus atau resign bekerja. Sehingga seprofesional
apapun generasi akan mengalami buntu ketika masuk dalam system.
Tertib Mengaca Kurikulum Sekolah, Masih Juga Terkena Peringatan!
Ketika kami selama mengikuti musyawarah pada forum guru, semua
berupaya memaksimalkan bekerja diantaranya;
1. Untuk siswa, pembiasaan datang lebih awal, pembiasaan rutin do’a
dan manaqib bahkan tata tertib siswa tidak pernah luput.
2. Untuk guru, mereka dituntut menjadi contoh bagi siswa, pemberlakuan
kode etik guru & SP3, tugas guru dst.
Selain itu masih juga para guru diberikan beban untuk menjadi
panitia PPDB dan sekolah pun juga bekerja keras untuk mencarikan informasi “Job
Fair” untuk para siswanya. Dimana ketika sekolah atau madrasah tidak
langsung tanggap, akan berujung kepada melemahnya system sekolah.
Mendengar kesemangatan mereka (guru dan siswa), dalam hati kecil
saya tertawa-tawa, kasihan dan menganggap lucu. Karena satu sisi semangat
perubahan demi masa depan bangsa, dan satu sisi melihat kondisi banyaknya
kerusakan system pada negara yang tidak berbanding hingga berbalik 180 derajat.

Semangat Pak
BalasHapusSemoga SMK-nya semakin maju
BalasHapus