Membuat Sumur Berkah dalam Tradisi Masyarakat Jawa

 


Menukil dari sahabat Sa’ad Ibn Ubadah, bahwasannya pernah bertanya kepada Rosulullah; “sedekah apa yang paling engkau sukai, jawab beliau SAW; “sedekah Air”. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibn Majah.

 

Suatu ketika ingin sekali membuat sumur untuk kebutuhan umat di sekitar pesantren Raden Abdul Halim Kalidawir. Yakni sumur yang airnya masih murni belum terkontaminasi dengan resapan ataupun tercemar dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga perlu menggali sumur yang setidaknya kedalaman 100 meter dari permukaan. Alhasil juga memprediksi lokasi yang ingin dibuat sumur agar tepat pada sasaran, dengan tujuan air sumurnya dapat dinikmati oleh masyarakat umum untuk kebutuhan konsumsi air mineral sehari-hari tanpa membeli dengan isi ulang, sehingga cukup membawa gallon kosong.

Dalam segala hal, masyarakat Jawa selalu lekat dengan perhitungan serta meyakini beberapa yang berkaitan dengan titah alam. Sehingga masyarakat Jawa memiliki tradisi "titen", yakni menandai untuk diangat-ingat agar kelak anak cucunya tidak mengalami kesalahan yang dialami sebelumnya oleh nenek moyang.

Begitu juga masyarakat Jawa dalam pembuatan sumur, agar terdapat keberkahan bagi yang membuat serta keberkahan bagi pengguna. Yakni keluarga dan masyarakat banyak, ketika hendak membuat sumur juga perlu berdo’a memohon petunjuk agar pengerjaan pembuatan sumur dapat berhasil dan menuai keberkahan.

 

sumur tua merupakan bukti peninggalan kecerdasan nenek moyang

Tata Cara Ritual Pembuatan Sumur dalam Tradisi Jawa

Membuat sumur dalam tradisi Jawa, terlebih dahulu untuk melakukan tirakat, yakni “Tirakat hajat” memohon petunjuk agar dimudahkan dalam pembuatan sumur yang berkah dan tepat pada pusat air dalam setiap pekarangan seseorang.

Dalam tirakat hajat dalam tradisi masyarakat jawa tidak hanya membuat sumur, tetapi segala hal yang dianggap penting dan perlu. Sehingga perihal tirakat selalu lekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. mereka meyakini ketika seseorang memiliki hajat, sebaiknya patigeni (berpuasa sehari semalam dengan tidak makan, tidak minum dan kondisi terjaga) agar hajatnya berjalan lancar.

Di Tengah melakukan tirakat membuat sumur, ketika malam hari biasanya masyarakat jawa melakukan tirakat terjaga (begadang) di sebuah pekarangan yang akan dibuat sumur tersebut.agar menemukan petunjuk lokasi sumur keberkahan. Sehingga hal ini yang melatarbelakangi sumur tetap banyak airnya meskipun terdapat kemarau panjang pada zaman dahulu.

Dalam mengukur keberhasilan atau tidaknya, dalam spiritual ini biasanya yang memiliki hajat bermimpi atau didatangi oleh seseorang yang menunjukkan lokasi banyak terdapat airnya. Akan tetapi cara seperti ini, sekarang sudah mulai langka karena mungkin dianggap sebagai perihal membuang waktu atau memang masyarakat sekarang kurang telaten dan lebih cenderung instan.

 

Hari Dan Tata Letak Pembuatan Sumur Untuk Kebutuhan Umat

Masyarakat jawa dalam menentukan hari pembuatan sumur, memiliki yang berbeda-beda sesuai penemuan nenek moyang yang diajarkan secara bilisan turun temurun. Diantara hari dalam menggali sumur berkah menurut masyarakat jawa adalah, sebagai berikut;

1.    Tidak mengenal bulan penaggalan Jawa, tetapi dapat diusahakan ketika neptu pasaran Kamis Wage atau Setu Legi.

2.    Untuk tata letak diusahan bagian depan pekarangan sebelah kanan, agar memberikan ketentraman bagi siapapun yang memanfaatkan airnya.

3.    Sebaiknya mengambil bulan maulud jika tidak mendesak dan menghormati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

 

Alat untuk Mendeteksi Lokasi Sumur agar Melimpah Airnya

Ada beberapa alat tradisional yang dilakukan oleh masyarakat jawa pada tempo dulu dalam mendeteksi tanah pekarangan untuk keperluan pembuatan sumur. Diantaranya adalah;

1.    Peletakan beberapa tampah atau nampan pada sore hari dalam tengkurap, selanjutnya dilihat pada keesokan harinya. Jika dalam nampan terdapat embun paling banyak berarti disitulah letak pembuatan sumur yang tepat. Hal ini dapat digantikan dengan daun pisang, talas atau beberapa hal yang dapat menghimpun banyak embun.

2.    Mencari dengan lidi kelapa yang dibengkok bagian pangkal kemudian diletakkan dalam pelompong papaya atau pipa agar lidi dapat bergerak kanan atau kiri. Jika lidi bergerak menyatu pertanda terdapat air banyak dalam tanah.



3.    Memakai stik tembaga dan pipa, dengan cara sama seperti halnya pada nomor dua. Hanya lidinya diganti dengan stik yang terbuat dari tembaga.

stik detektor sumber air

4.    Memakai kelapa yang disumbat dan disisakan sepet (sabut) kelapa bagian tempat tumbuh. selanjutnya ditaruh di telapak tangan dan ketika terdapat arus air yang deras (dalam) bawah tanah maka kelapa tersebut akan bergerak dengan sendirinya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan