Cinta Kasih di Tengah Perbedaan

 



“Keseruan itu adalah kebahagiaanku sebagai pengurus pesantren dapat melihat anak-anak santri bermain bersama dengan tanpa membedakan suatu hal yang bukan pada tempatnya. Kali ini para santri bermain bareng dengan teman kristiani, yakni jemaat Sekolah Minggu, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kab. Tulungagung”.

By.MukhosisAbdul

 

Jam dinding pesantren menunjukkan pukul 8.50 WIB, rombongan pendeta Satriawan Susanto tiba di pesantren Raden Abdul Halim Kalidawir Tulungagung. Kami bersepakat bertemu pada hari ini, untuk bermain bersama di pesantren dan saling kenal antar anak-anak dari lintas agama. Kali ini kami bermain dengan teman-teman Sekolah Minggu, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kabupaten Tulungagung.

Senang sekali melihat kehadiran teman-teman kristiani berdatangan tiba di pesantren. Mungkin sebagian anak-anak santri juga masih melakukan kali ini selama mereka di pondok pesantren, dan kali ini santri harus membuka diri bermain bareng dengan tanpa melihat perbedaan ataupun sesuatu yang tak perlu diperdebatkan. Yakni ada yang lebih penting dari semuanya dalam bersosial, yaitu kemanusiaan dan saling memanusiakan.

Setiba di halaman pesantren, kami sudah siap menyambut, saling bersalaman antar anak-anak juga pengurus dan mempersilahkan duduk di ruang auditorium pesantren.  Sekitar pukul 9.13 WIB, kami memulai ngobrol bersama dan bermain saling kenal


Bersama Mas Pendeta; Satriawan Susanto


Pada pukul 09.30 WIB, kami break sejenak saling bertukar pikiran tentang pentingnya bersosial tanpa membedakan agama serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Sehingga dari pengurus baik Kristen maupun Islam memberikan pentingnya bersosial sesuai agama masing-masing sesuai pedoman dalam kitab suci. Hal ini bertujuan menumbuh kembangkan semangat toleransi beragama bagi generasi sejak usia dasar.

 Sekitar satu jam berlangsung, kira-kira pukul 10.30an WIB, kami melanjutkan permainan kembali dengan keluar di halaman guna bermain bola ranjau. Yaitu permainan melewati start-finish dengan mata tertutup dan mendengarkan arahan dari teman agar tidak menginjak bola yang betebaran di sepanjang jalan. Dengan suasana riang gembira, permainan berlangsung hingga sekitar 30 menit dan dilanjut permainan kembali di dalam ruangan.

Pada pukul 11.15 WIB, kegiatan berlanjut sesi kesan-pesan dari masing-masing peserta dalam kegiatan main bareng pada hari ini dan berlangsung berbagi kenang-kenangan dari teman-teman kristiani. Selanjutnya ada sesi makan dan foto bersama, tidak melewatkan kami sebelum perpisahan mengakiri perjumpaan. Sehingga pada pukul 12.00 WIB kami sudah beraktifitas kembali aktifitas pesantren kembali.

 



Ide Membuat Pohon Natal dari Pohon Pisang

Malam sebelum kehadiran teman-teman Kristiani, kami mendapat kabar sekitar pukul 19.00 WIB. Kabar itu mengingatkanku jikalau besok sudah saatnya main bareng. Sehingga pada malam itu juga kami bermusyawarah kepada para santri untuk membuat sesuatu penyambutan pada kegiatan main bareng antar lintas agama.

Dari beberapa santri, ada yang memiliki ide membuat pohon natal untuk memberikan kejutan kepada mereka. Sehingga kami pun menyepakati untuk membuat pohon dengan ala tradisi muslim ketika maulid Nabi SAW. Yakni membuat gunungan dari pohon pisang kemudian digantungi berbagai jajanan.

Musyawarah berlangsung pukul 21.00 WIB hingga 21.30 WIB dan kami prepare untuk acara esok hari sekaligus membuat gunungan pohon pisang pada pukul 21.45 WIB hingga pukul 00.30 WIB dan alhasil semuanya santri bersemangat serta berjalan lancar.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan