Santri dan Titah Lakon Hidup Pedalangan
Oleh: MukhosisAbdul
“Sekelumit cerita santri semalaman dari Banyuwangi dengan
berbagai ceria proses dia nyantri di salah satu pesantren di Banyuwangi dan akhirnya
ikut mondok di pesantren Raden Abdul Halim Kalidawir hanya genap seminggu dan
menyisakan banyak latar belakang santri. Kedatangan itu pada hari kamis pada
siang hari, dan hari ini perpisahan kami tepat hari Kamis pada 05 Mei 2024”
Teringat cerita Rosulullah yang disampaikan oleh Abu Hurairah
RA ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Musa AS pernah
mendebat Adam AS. Musa berkata kepada Adam; 'Engkau telah mengeluarkan manusia
dari surga hingga membuat mereka sengsara karena kesalahanmu.' Adam menjawab,
'Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Apakah
engkau mencela diriku atas suatu hal yang telah ditulis Allah sebelum Dia (Allah)
menciptakan aku atau yang telah ditakdirkan Allah terhadap diriku sebelum Dia
menciptakan aku?'" Rasulullah SAW bersabda, "Maka Rasulullah
SAW bersabda, "Maka Adam dapat membantah argumentasi Musa." (HR
Bukhari).
Malam itu sekitar malam rabu, ada kabar dari beberapa pengurus pesantren ada
tambahan santri yang usianya 30an tahun. Namun, kali ini kedatangan santri agak
lain dan berbeda nampak, karena santri pada umumya adalah bagaimana santri
dapat menimba ilmu selama di pesantren. Akhirnya dengan penuh penasaran, kami
bertanya tentang maksud mondok santri tersebut.
Selang beberapa menit santri tersebut akhirnya mengutarakan
maksud dia mondok, yakni tujuan utama adalah mencari lowongan pekerjaan dan
yang kedua adalah mencari jodoh. Mendengar percakapan itu, seakan mau menepuk
jidad. Akan tetapi, teringat bahwa niat dan tujuan pesantren diantaranya adalah menata
segala lini yang kurang tepat. Sehingga dalam hati berkata, ini mungkin ujianku
untuk menjadi jiwa besar.
Pada pagi itu, hari Kamis pagi, santri tersebut datanglah ke
pondok dengan perkenalan ala santri untuk mengaji dan mengembangkan pengalaman
dalam kerja. Saya pribadi tidak ada keberatan dan atau berfikir lain-lainnya, saya
menyampaikan yang penting krasan dan ada niatan berubah. Pesan pertama yang
kami berikan kepada santri tersebut.
Latar Belakang Santri Asal Banyuwangi
Santri tersebut bercerita, suatu ketika santri ini sedang
perjalanan motor di daerah Kalibaru Banyuwangi. Kejadian ini pada tahun 2001, yakni
ketika musim wabah Corona periode kedua. Dalam perjalanan santri tersebut tertabrak oleh
pengendara mobil yang melaju dari arah berlawanan. Akhirnya karena pengendara
sepeda motor berboncengan, akhirnya yang belakangan meninggal di tempat
kejadian dan pengendara depan mengalami gagar otak ringan dan kaki mengalami
patah tulang serius. Sekitar patah 6 bagian dari paha sampai dengan mata kaki.
Sang sopir mobil akhirnya turun dan secepatnya dibawa ke
rumah sakit. Di rumah sakit mengalami koma sekitar satu bulan. Dalam
perawatannya, pengendara motor ini ternyata hanya seorang yang keluarganya “kabur
kanginan” (tidak karuan keluarganya) karena tragedi perang Sampit. Sehingga
sejak kecil dia diasuh oleh kakeknya di daerah Kalibaru Banyuwangi.
Setelah perawatan di rumah sakit, beliau ditemani oleh salah
satu santri utusan pesantren Kalibaru. Ternyata yang menabrak adalah pengasuh
pesantrennya. Sehingga segala kebutuhan pelayanan terhadap pasien, akan diurus
oleh santri utusan asal Tulungagung, tepatnya berasal dari Desa Kalibatur
Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung.
Setelah pasien pulih normal, tinggal perawatan jalan, pasien
tersebut dibawa ke pesantren untuk perawatan pemulihan tulang dan pembekalan
ilmu tasawwuf oleh pengasuh pesantren dengan mengaji kitab Ihya’ Ulumiddin. Disinilah
pengasuh bertanya kepada pasien nama pasien (korban kecelakaan) tersebut. Sehingga
santri menyebutkan Namanya, yakni Namanya “Muhammad Sayyidina Ali”. Mendengar itu
pak kyai terkejut, sehingga menggantinya menjadi nama “Sayyidi”.
Setelah dua tahun berjalan, santri yang menemani selama di
rumah sakit hingga di pesantren tersebut boyong, maka Sayyidi pun juga ikut
boyong dengan pulang kampung halaman. Setelah beberapa bulan di Banyuwangi,
akhirnya Sayyidi menuju Bali untuk bekerja di sebuah projek bangunan. Ternyata di
Bali adalah tempat suaka Sayyidi sebelum kecelakaan dan sudah menikah tiga kali
serta memiliki tiga anak dengan istri yang berbeda semua.
Di Bali Sayyidi dikenal dengan nama panggilan “Ferdi”. Dia bekerja
sebagai peracik miras dan sekaligus pengguna di Kawasan Bali. Hal ini
terketahui atas cerita dia sendiri saat mondok terakhir di Tulungagung. Diantara
kesibukan Ferdi dalam pekerjaannya dan kehidupannya di daerah Bali sehingga dia
dapat memiliki tiga istri.
Proses Perjalanan Menuju Pesantren di Tulungagung
Setelah Ferdi kembali lagi menuju Bali, dia bekerja sebagai
sopir dan proyek bangunan. Akan tetapi karena watak yang kaku ala dia. Akhirnya
Ferdi kembali lagi bekerja seputaran miras dan kehidupan ala orang bebas. Karena
beberapa hal ancaman selama di Bali, Ferdi berfikir kemungkinan adalah sesuatu
yang tidak berkah.
Suatu malam lebaran, akhirnya Ferdi bermaksud untuk ikut berkunjung
ke rumah teman santri yang dulunya merawat selama di rumah sakit tersebut,
sekalian mencari pekerjaan dan jodoh lagi. Akhirnya Ferdi memutuskan untuk berkunjung
ke Kalidawir Tulungagung. Selain itu, Ferdi berfikir bahwa jikalau dirinya
terus di Bali, selain membahayakan diri Ferdi juga akan tetap berkubang dalam
kehidupan yang tidak jelas.
Pada lebaran pertama, Ferdi telah sampai di kecamatan
Kalidawir Kabupaten Tulungagung dan tinggal di rumah temannya di Desa
Kalibatur. Sang teman mengarahkan kepada Ferdi agar ikut di pondok pesantren
dengan alasan kenakalannya akan sedikit terkondisikan. Sehingga dari kisah
inilah memiliki cerita tentang Ferdi di pesantren Raden Abdul Halim Kalidawir
Tulungagung.
Antara karakter Psikologi Binaan dan Karakter Turunan Bawaan
Lahir
Perbedaan karakter psikologi binaan dengan karakter turunan
bawaan lahir menurutku tidak begitu sulit dalam mengamati sesorang. Mungkin dilihat
dari karakter cara jalan, bersapa, dan aktifitas lainnya. Selama di pondok ada
beberapa karakter yang mencolok yakni tabiat ketika makan dan minum, yakni
selalu tersisa dan membiarkan tergeletak dimana-mana. Tidak ada niatan untuk
merapikan atau setidaknya mengembalikan agar terlihat rapi. Hali ini menandakan
bahwa memiliki sifat mudah putus asa dan bandel.
Suatu ketika dia ada tugas kerja dari pesantren untuk
mengambil kayu bakar di daerah pegunungan. Di sana Ferdi tidak bisa kerja tim
dan hampir saja baku hantam dengan teman santri Kalidawir. Menurut laporan
santri, dia tidak bisa diarahkan ketika menata kayu dan lebih menata kayu dengan
berantakan, sehingga memicu protes dari teman santri lainnya.
Selang beberapa hari, yakni pada hari kamis sekitar pukul 6 pagi,
Ferdi melakukan aksinya yakni bekerja sesuai yang dia mau. Akan tetapi kali ini
dia salah dalam memilih pekerjaan. Yakni menata keramik dengan gaya Ferdi,
yakni tidak simetris kanan kirinya dan tidak merata permukaannya. Sehingga ketika
pengurus sesepuh pesantren datang meninjau semua pekerjaan para tukang,
disitulah terketahui ada penataan keramik yang berantakan. Ketika ditegur,
muncullah alasan pembelaan dan akhirnya adu teriak dengan sesepuh.
Kejadian beberapa hal itu membuatku sedikit emosi akan tetapi
saya sendiri belum pernah bersinggungan langsung dengan aktifitas pekerjaan
Ferdi. Ketika siang hari, tiba-tiba Ferdi mengucap salam di depan pintu rumah. Saya
mengira ada tamu yang datang seperti biasanya. Akan tetapi ini berbeda, dia
memohon maaf serta menyampaikan berpamitan akan kembali lagi ke Banyuwangi. Sehingga
saya menyampaikan hal-hal yang perlu dipegang oleh Ferdi ketika segala medan,
yakni sifat “Tuntas dan Konkrit”.
Tuntas disini adalah dalam artian tanggungjawab setiap tugas akan
terselesaikan dengan sempurna dan merapikan tugas dengan sempurna atau
maksimal. Selanjutnya “konkrit” yakni pribadi yang memiliki dedikasi
tinggi dan dapat dipercaya. Selama menjadi santri yang “Tuntas dan Konkrit”,
maka insyaallah akan menjadi orang sempurna dihadapan Allah dan hambanya. Akhirnya,
Ferdi berjabat tangan dan berpamitan.
Dari sini, kami memiliki beberapa kesimpulan bahwa karakter
turunan bawaan lahir, bagaimanapun tersembunyinya, suatu saat ketika terpepet
dia akan muncul ketika ada kesempatan dan karakter karakter psikologi binaan
dari hasil mondok, sekolah atau yang lainnya hanya sebatas kontrol emosi ketika
terjadi keadaan terjepit. Sehingga sangat perlu setiap orang untuk mengetahui
kelebihan serta kekurangan pribadi untuk mengukur diri dalam berproses dalam
kehidupan bermasyarakat.
Komentar
Posting Komentar