Laboratoriumnya Ala Ndeso, Mencoba Merintis Detektor Unsur Hara
“Hidup membuat masalah adalah perlu bagi seorang diriku, karena keresahan otak hanya menjadi sampah yang menjubel dalam otak ketika tidak diaplikasikan. Nah, kegelisahan ini yang akhirnya dapat tercurahkan melalui hobi kecil penglipur suwung ketika penatnya aktifitas keseharian dan mencoba dari hobi kecil suka menanam yang akhirnya beralih untuk kemaslahatan umat”
Oleh: MukhosisAbdul
Hobi tumbuhan
adalah kegemaranku sejak sebelum mengenal sekolah, ketika seringkali ikut
orangtua ke sawah maupun kebun. Dari sinilah kegemaran demi kegemaran dari
aktifitas menguntit orangtua yang sedang pergi ke sawah maupun kebun. Karena di
sawah dan kebun bagiku tempat nyaman mengaplikasikan kegemaran dan lengkap
dengan berbagai fasilitas. Yakni sawah dengan fasilitas ikan-ikan di paritan,
sayur, singkong dan lainnya, sedangkan di kebun dilengkapi dengan fasilitas kelapa
muda, pisang, sukun, jambu, kopi dan singkong. Selain itu, sang ayah selalu
memberikan menu-menu aneh ketika ikut dengan beliau. Misalnya makan kelapa muda
dengan gula merah, singkong bakat dengan sambal plelek dan gula merah, semangka
dengan garam dan lain sebagainya. Sehingga saya pun menikmati dan kerasan ikut
serta dengan beliau kemanapun pergi urusan ke sawah dan kebun.
Sejak kecil
seringkali diajak sang ayah untuk berangkat pagi ke sawah, kemudian sesampainya
di sawah langsung menuju gubug yang komplit alat masak. Sehingga saya terbiasa
menginap di sawah dan memasak untuk sarapan dengan tungku kayu. Bagiku makan di
sawah merupakan ternikmat sepanjang perjalanan hidupku. Sehingga hidup terasa
syahdu dan bahagia jika di dekat sawah
dan kebun.
Namun ketika
saya beranjak sekolah, terasa ada dunia yang hilang dan bahkan beralih semakin
padat waktuku untuk belajar saja. Sebelum masuk kelas 1 SD, pernah dipaksa
orangtua dan saya memutuskan tidak mau sekolah karena berfikir jika waktu
mbolangku akan hilang karena belajar di sekolah. Selain itu, sebelum masuk
sekolah saya sudah dapat membaca dan berhitung berkat ikut belajar kakak ketika
malam hari. Sehingga memiliki pesepsi pikiran jika nanti sekolah, akan membuang
waktu untuk bersenang-senang ikut orangtua ke sawah.
Hal ini
ternyata benar, ketika masuk sekolah semua aktifitas berubah drastis. Mulai bangun
tidur menyiapkan perlengkapan sekolah dan selesai sekolah langsung cari rumput
untuk kambing. Setelah itu pada pukul 16.00 WIB s/d 17.00 WIB sekolah diniyah. Setelah
maghrib mengaji sorogan al-Qur’an dan hafalan surat-surat pendek. Pada pukul
20.00 WIB sampai pukul 21.00 menyiapkan Pelajaran untuk besok pagi. Dari sinilah
sang ayah sering bercerita sebelum tidurku sambil menyiapkan jualan ke pasar
ibuku, menggantikan waktu mbolangku yang hilang.
Ketika usia SMP
dan SMA ternyata jam belajar semakin padat merayap sulit menemukan jam
santainya, bahkan seminggu sekali saja itupun diisi dengan kegiatan membantu
orangtua kocor jagung, derep, matun, dan hal lain yang sifatnya kerja fisik.
Bermula Dari
Pupuk Seadanya
Pernah suatu
ketika pada usia SMA, kami menanam jagung dengan sisa-sisa uang saku hasil
kerja keringatku sendiri dari kerja membantu gergaji marmer ikut tetangga di
pabrik. Ketika saya memutuskan untuk menanam jagung karena saya menilai yang minim
biaya. Akan tetapi ketika pertengahan menanam jagung dan tanam membutuhkan
pupuk, tetapi uang saku habis untuk kebutuhan sekolah dan pesantren. Akhirnya
memutar otak untuk mempelajari pupuk kandang sebagai pengganti pupuk urea dan
NPK.
Hampir setiap hari
hingga malam hari sering ke sawah sendirian pada sela sela jam belajar sekolah
dan ngaji. Misalnya pukul 17.00-17.30 WIB, 18.30-19.30 WIB dan waktu lain ketika
liburan ngaji (malam jum’at) untuk sekedar melihat keberadaan tanaman hanya
berfasilitas senter baterai rakitan sendiri yang dimasukkan dalam bumbung bambu,
kabel dan bohlam. Tetapi bagiku sudah membantuku untuk penerangan di jalanan.
Dari sinilah akhirnya
banyak membaca dan bertanya tentang belajar persiapan tanam menggunakan pupuk
kompos agar tanaman dapat tumbuh subur seperti yang dilakukan orang-orang zaman
kuno dalam mengolah lahan pertaniannya.
Dari Manual
Hingga Digital
Ketika sempat
mampir dibangku kuliah, waktuku saya habiskan untuk nakal dan mbolang di hutan serta
berkunjung berbagai provinsi dan lembaga untuk berbincang mengenai kelestarian
lingkungan dan berakhir apresiasi Tingkat nasional pada tahun 2017 bidang
lingkungan hidup.
Pada tahun
2018, banyak aktivitas tentang dunia organik hasil pertemuan dengan teman-teman
jaringan dan pada akhirnya berjumpa dengan teman mahasiswa Magelang yang
memiliki konsentrasi bidang Teknik lapisan pesawat tempur dan satunya lagi memiliki
aktivitas perakitan alat digital. Hal ini memberikanku semangat uji coba
kembali terkait aktifitas lingkungan dan sosial hingga kami mendirikan Yayasan pengabdian
untuk kaum muda se-Indonesia.
Suatu ketika main
ke rumah di Tulungagung dan berbincang mengenai pola kebutuhan tanaman. Dari perbincangan
itu ternyata teman-teman merespon baik kebutuhan tanaman sehingga perlu alat
pendeteksi unsur hara. Akhirnya muncul alat pendeteksi unsur hara hasil rakitan
sendiri yang teraplikasikan untuk mempermudah melihat kandungan unsur hara kebutuhan tumbuh tanaman.
Leshutama dan
Mini Laboratorium
Diantara dari dasil
iseng-isengku adalah merintis gerakan muda dengan tema “Leshutama” yakni dari
singkatan pelestarian hutan dan penyelamatan sumber mata air. Kegiatan ini
memiliki konsentrasi mengembalikan fungsi hutan serta melakukan penjagaan
sumber mata air dari kematiannya akibat pepohonan sekitar sumber air ditebang.
Dari aktifitas
leshutama, membuat ploting tanaman serta membuat bank bibit tanaman untuk
kebutuhan penghijauan atau reboisasi. Sehingga strategi kami adalah setiap
teman yang sehobi, kami pasti menitip untuk membuat penangkaran tanaman untuk
kebutuhan kegiatan penghijauan dalam setahun sekali di lahan kritis secara
bergantian di sekitar kabupaten Tulungagung.
Hasil turunan
dari gerakan ini juga menerbitkan gerakan literasi berupa taman bacaan
masyarakat dengan nama TBM Leshutama Tulungagung. Kegiatan ini menghimpun
anak-anak sekolah untuk gemar membaca dan mengenal lingkungan alam sekitar
dengan berbagai kegiatan. Misalnya kemah pelajar, kegiatan membaca di hutan,
bersih-bersih sumber mata air dan lain sebagainya.
Kini, sisa-sisa
dari semangat itu masih kami lakukan di sela-sela aktifitas pesantren. Yakni membuat
mini laboratorium unsur hara yang dimanfaatkan oleh para petani dalam
mengetahui perlakuan kebutuhan tanamannya. Diantara aktifitasnya adalah;
1. membuat pupuk organik cair,
2. membuat pestisida organik cair,
3. uji coba perlakuan tanaman dengan berbagai media tanam,
4. budidaya tanaman dan lain sebagainya
Meskipun
kadangkala kegiatan ini merasa melelahkan (dengan aktifitas hiburan yang tidak bermutu),
yakni kegiatan iseng-iseng mengalahkan pekerjaan mata pencaharianku. Setidaknya
kami bangga karena masih bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Alhasil,
hobi tetap berlanjut meskipun terkadang malah justru merepotkan ketenangan
hidup.

Komentar
Posting Komentar