Fungsi Jamur Jakaba Dan Resep Keberhasilan Pupuk Organik

 


 "catatan ini mengingatkanku pengalaman trutusan masa kecil yang hobinya ujinyali belajar sekitaran pekarangan, sawah dan kebun. selain itu juga meresahkan orangtua yang tanamannya habis untuk ujicobaku. membuat papan lotres sepeda ontel di perkebunan pisang, latihan tentara gadungan dan lain sebagainya. intinya bahagia!"

Oleh: MukhosisAbdul


Suatu ketika menaruh air cucian beras pada panci yang tidak terpakai di belakang rumah. Kemudian air cucian beras dalam panci tersebut terbiarkan sampai sekitar satu bulanan. Tanpa sengaja, pertama melihat jamur jakaba terasa ketakutan karena terlihat banyak akar dan lekat pada panci dan semakin hari-semakin membesar. Ketika itu masih belum terdapat sinyal internet, kira-kira sekitar tahun 1999an, ketika itu masih kelas V SD. Mungkin karena terlalu sering melihat film horror yang tampil di televisi hitam putih milik tetangga.

Pada tahun itu, yang menjadikanku semangat membaca buku tentang jenis spora atau jamur di Perpustakaan sekolah. Tetapi tidak juga menemukan jamur yang terlihat pada pengalamanku ketika SD itu. Sekitar tahun 2017, ada yang membumingkan tentang jamur dengan nama “Jakaba” dari Blitar. Dinamakan jakaba karena singkatan dari Jamur keberuntungan abadi (Jakaba) dan struktur jamurnya memiliki daya tidak pernah mati selamanya jika terus diberi tambahan air dengan kandungan karbohidrat. Kandungan ini pada umumnya terdapat pada air leri (air beras), air masakan kedelai, kacang dan lain sebagainya yang mengandung karbohidrat.

Pada tahun 2021, ada teman yang budidaya jamur jakaba. Saya mencoba budidaya, tetapi karena tidak diberi air leri, akhirnya bibit jamur itu mati. Kemudian pada tahun 2022 kami mencoba kembali, karena melihat semakin banyak peminat dan viral di media sosial tentang manfaat jamur jakaba yang banyak bermanfaat bagi perkembangan tanaman. Sekarang, kami dapat membagikan kepada siapa saja yang berminat untuk pengembangan pupuk organik secara gratis.



Cara Membuat Biang Jamur Jakaba

Ketika tidak mendapatkan bibit jakaba, dapat membuat benih jakaba sendiri menurut pengalaman saya dengan berbagai komposisi sebagai berikut;

1.    Bekatul 2 kg

2.    MSG atau micin 1 ons (dapat merk apa saja)

3.    Terasi sekitas 1/5 ons

4.    Kapur sirih 1/5 ons

5.    Gula merah ¼ kg

6.    Air rendaman rebung 7 liter

7.    Air rendaman akar bambu 7 liter

Semua bahan pada nomor 1 hingga nomor 5 direbus dengan air biasa 6 liter sampai mendidih dan biarkan hingga dingin benar. Setelah itu, direndam dengan rebung dan air akar bambu dan diaduk hingga rata. Kemudian taruh pada ember dan ditutup dengan kain kasa (dapat ditutup kain baju bekas) serta ditaruh pada tempat yang teduh (terhindar dari sinar matahari secara langsug. Selebihnya, biarkan rendaman tersebut sekitar satu bulanan, maka akan tumbuh jamur bitnik-bintik kecil berwarna merah-jingga kemudian bawahnya terdapat akar seperti akar tanaman.

 

Berbagai Manfaat Jamur Jakaba

Secara pengalaman, saya terbiasa menanam bunga dan sayuran dengan memanfaatkan air dari rendaman jamur jakaba. Hal ini tempak memiliki berbagai keunggulan dari berbagai bakteri pengurai yang terkandung dalam air rendaman jamur tersebut. Diantara manfaatnya adalah;

a.    Memcepat pertumbuhan, karena bakteri pengurai membantu merangsang akar tanaman dalam memperoleh sumber makanan dalam kebutuhan tumbuh.

b.    Mengembalikan unsur hara tanah, sehingga tanah menjadi subur

c.     Mengurangi Tingkat stress tanaman

d.    Peremajaan akar tanaman holtikultura yang sudah menua

e.    Memperpanjang umur tanaman. Hal ini dapat dibuktikan ketika tanaman cabai sudah berumur tua dan rontok daun, maka ranting yang mengering dibersihkan (potong) sehingga akan tumbuh daun muda yang sehat

f.      Memperlebat buah tanaman. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengalaman pohon kelapa dan durian ketika bunganya disemprot dengan air rendaman jakaba ,dapat memiliki buah yang lebat. Pengalaman kami lainnya adalah pohon papaya, alpokat dan lain sebagainya

g.    Mengurangi hama tanaman. Akan tetapi pada prakteknya harus ditambah unsur organik lain yang dapat meracuni hama. Seperti rendaman tembakau, gadung, tuba, dan tanaman lain yang memiliki kandungan rasa pahit dan beracun.

 Dalam pengalaman yang telah berjalan dalam kurun 2 tahun ini, ketika kami menanam holtikultura juga termasuk sayuran, kami sudah tidak lagi memakai pupuk urea atau sebangsanya. Sehingga rasa sayur lebih khas gurih dan tentu lebih sehat dari bahaya obat-obatan tanaman dengan proses kimia yang secara pemakain tanaman juga berefek bahaya Kesehatan tubuh manusia.

Komentar

  1. alhamdulillah, keberkahan pupuk sudah seluas 5 hektar sekaligus memiliki benih padi unggul. sehingga para petani padi sdh dapat mengakses secara gratis hanya dengan tebusan mengembalikan dengan bentuk gabah sejumlah yang dipakai untuk benih dan sedekah untuk pondok berupa gabah (hasil panenan) seikhlasnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan