Dahsyatnya Kalimah Thoyyibah “Laa ilaaha illallah”
Catatan mengikuti acara rutinan "Bulan Selo (bulan
Safar dalam Hijriyah)" majlis ta'lim at-Taubah sekaligus prosesi sedekahan
baiat Thoriqoh Qodiriyah di Pon.Pes. at-Taubah Garum Blitar.
Oleh: MukhosisAbdul
Kami berangkat berlima pada Sabtu sore tanggal 11 Mei
2024, bersama H. Supri Karangtalun, pak Qosim Jabon sekalian istrinya, dan mas Sidiq
Tanjung. Kami bersepakat kumpul di rumah Abah Qosim dan berangkat pada pukul 16.59
WIB dari kediaman Abah Qosim Jabon.
Dalam perjalanan, waktu sudah menunjukkan pukul 17.15
WIB bertanda harus persiapan mencari tempat untuk sholat maghrib. Akhirnya pada
pukul 17.24 WIB kami mampir untuk sholat Maghrib di Mushola Al Barqi di Desa Rejotangan
Kecamatan Rejotangan. Sehingga pada pukul 17.57 WIB kami meneruskan perjalanan Kembali
berangkat menuju Kecamatan Garum dan sesampai di pesantren aT-Taubah pada pukul
19.15 WIB.
Sewaktu di parkiran mobil, para santri sudah
mengarahkan tempat parker kami dan memberikan sambutan hangat atas kedatangan
kami sampai mengantarkan kami kepada sowan dalem dengan KH. Nur Yadin sekaligus
menunggu acara sampai 19.59 WIB. Sambil menunggu acara dimulai, kami
berkeliling asrama dan foto-foto para tamu yang berdatangan dan sesekali memfoto
tumpeng yang ditata rapi di depan mushola pesantren. Kami hanya heran, tumpeng
sebanyak itu, jamaahnya belum berkumpul banyak. Ternyata selang beberapa waktu,
para jamaah hadir memenuhi mushola pesantren.
Acara dimulai pada pukul 20.19 WIB dihadiri beberapa
Kyai pondok pesantren. Akan tetapi yang saya ingat hanyalah KH. Agus Muadzin
Blitar sebagai tamu biasa pada umumnya. Saya ingat dan kenal beliau karena
sering mengisi kajian di daerah kami di Tulungagung. Beberapa menit kemudian bersambung
pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Nur Yadin sekaligus mursyid Thoriqoh
Qoddiriyah Garum. Kemudian pada pukul 20.41 sampai 20.50 WIB pembacaan mahalul
qiyam dari jamaah sholawat "Nurul Islam", warga setempat.
Selanjutnya acara Mauidhoh Hasanah pada pukul
20.51-21.09 WIB oleh KH. Nur Yadin Garum Blitar. Beliau hanya memaparkan
kira-kira hanya sekitar 15 menit. Akan tetapi kami menilai materinya sangat
padat dan penuh isi dan jamaahpun dengan khusu’ menyimak pemaparan beliau.
Fadhilah Kalimah Thoyyibah “Laa ilaha illallah”
KH. Nur Yadin menyampaikan kepada para jamaahnya
tentang Fadhilah atau keutamaan membaca kalimat Thoyyibah laa ilaha illallah. Beliau
menukil berbagai referensi diantaranya menjelaskan bahwasanya; Syeikh Ahmad
adasuki Mesir tentang Fadhilah bacaan dzikir “laa Ilaha illallah”. Diantara
isi tausiyahnya adalah:
1. Siapa yang berdzikir kepada Allah “laa ilaha
illallah” dengan khusu', maka 4000 dosanya diampuni oleh Allah. Ketika
dosanya habis diampuni oleh Allah tetapi ia tetap berdzikir kepada Allah maka
dosa istri-istrinya, kemudian dosa anak-anak turunnya, para santrinya, teman atau
sahabatnya, semua akan diampuni. Jika habis dosa semuanya, maka dosa tetangga
ikut diampuni dan dosa Masyarakat juga ikut dilebur habis.
2. Seperti yang ditalkinkan Rosulullah, ketika seorang
yang dzikir “laa ilaha illallah” seperti yang dibaiatkan thoriqoh Qodiriyah. Yakni,
suatu ketika Sayyida Ali ra. bertanya kepada Nabi tentang seberapa berat pahala
kalimah thoyyibah. Maka kalimah “laa ilaha illallah” lebih berat
beratnya jika ditimbang dan dibandingkan dengan beratnya bumi seisinya.
3.
Ada
cerita menurut Syeikh Ahmad adasuki Mesir tentang fadhilah bacaan dzikir “laa
Ilaha illallah”, suatu ketika ada orang ahli dzikir melewati neraka
Jahannam, seketika api neraka langsung surut dan padam, mengetahui ada orang
yang ahli membaca kalimah Thoyyibah “laa ilaha illallah” melewati neraka. Sehingga
proteslah para malaikat penjaga neraka kepada seseorang tersebut karena
berpotensi memadamkan api neraka. Ternyata orang tersebut adalah ahli dzikir
kalimah thoyyibah “laa ilaha illallah”.
4. Para Syaithan saja takut kepada orang yang ahli dzikir “laa ilaha illallah” dan enggan mendekatinya, apalagi syaithan mau menggoda orang mukmin yang beriman kepada Allah dan perpasrah diri kepada Allah, pasti syaithan semua lari menghindar.
5. Beberapa hadits Nabi SAW:
"Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah dan doa yang paling utama
adalah Alhamdulillah." (HR. Tirmidzi)
"Sebaik-baik zikir adalah kalimat Laa ilaaha
illallah." (HR. Tirmidzi)
"Barangsiapa mengucapkan Laa illaaha
illallah wahdahu la syarikalah, lahul mulki, wa lahul hamdu, wa huwa 'ala kulli
syai'ing qadir (tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali
Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah
yang Maha Kuasa atas segala sesuatu) dalam sehari sebanyak 100 kali, maka
baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan), dicatat baginya 100
kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada
siang hari hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya
kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ubadah bin Shamit ra meriwayatkan bahwa
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa
mengucapkan 'Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah
dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah
hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah dan anak
dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh
dari-Nya dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun
benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan
pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki." (HR. Muslim).
![]() |
| prosesi shodaqohan akhir acara baiatan thariqoh |
Menjalin Rohmah dalam Majlis
Rangkaian rutinan masih berjalan khidmat. Selanjutnya pada
pukul 21.04, acara prosesi baiat thariqah Qodiriyah dan sekaligus berbagi
kebahagiaan dengan riyayan shodaqohan. Sebelum riyayan dilaksanakan, terlebih
dahulu pembacaan manaqib Syeikh Abdul Qadir al-Jilani pada pukul 21.09 WIB s/d
21.58 WIB yang dibaca oleh ust Ahmad Fauzi dari Pare (jamaah Qodiriyah Pare) dan
Ust. Ghofur (jamaah Qodiriyah dari Jombang).
Pada pukul 22.10 WIB kegiatan diututup dengan do’a
acara; oleh para Kyai masing jama’ah Qodiriah perwakilan kota diantaraya
KH. Agus Muadzin, K. Qosim Jabon Tulungagung, serta dua kyai lainnya saya
sendiri lupa namanya.
Kemudian pada pukul 22.15WIB shodaqohan dengan
pembagian tumpeng oleh jama’ah yang pada malam itu memiliki hajat baiat masuk
thariqah Qodiriyah hingga pukul 22.50 WIB. Sambil menunggu pembagian shodaqohan,
kami cangkruk gayeng dengan para jamaah yang lainnya mengenai berbagai hal
spiritual dalam thariqah Qodiriyah hingga pukul 23.56 WIB. Kemudian pada pukul
23.58 WIB kami bergeser dari pesantren pada pukul dan sampai Kalidawir pada
pukul 00.45 WIB. Akhirnya kami kembali menemani santri lagi di pondok pesantren
Raden Abdul Halim Kalidawir Tulungagung.


Catatan yg kaya akan khasanah ilmu agama.
BalasHapus