Silaturrahim Pendeta GKI Darmo Satelit Surabaya dan GKI Tulungagung di Pesantren Raden Abdul Halim Kalidawir
Hati kita
memang beda. Tidak merasa sedikitpun ada sekat maupun pembatas lainnya atas
persahabatan kita. Meskipun berbeda dalam hal keyakinan, akan tetapi kita tetap
sama, yakni memiliki misi kemanusiaan dan berlomba menjadi insan terbaik kepada
Tuhan YME. Mungkin Allah telah mengukir dalam (Al-Kitab-Maryam 96): “Sungguh,
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak (Allah) Yang Maha
Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang (dalam hati mereka)” dan Tuhan telah
menulis dalam Al-Kitab yang satunya lagi (Yohannes 7-8): “Saudara-saudaraku
yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari
Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan Mengenal Allah.
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”.
18Ramadhan1445
By.MukhosisAbdul
Pagi ini saya membuka
pesan sekitar pukul 10.16 WIB, terdapat pesan pada menit 09.41 WIB. Hal ini
menunjukkan kebiasaan burukku yang jarang mengintip pesan di handphone selama
aktifitas di pesantren dengan anak-anak santri. Pesan itu ternyata dari mas
pendeta Satria GKI Tulungagung. Spontan saya langsung bergegas bersih diri,
karena hampir kelupaan jika hari ini ada janjian dengan mas pendeta untuk
singgah di pesantren kami Kalidawir.
Selesai bersih
diri merapikan ruangan, saya nyangkruk dengan para santri sedang sibuk menghias
panggung pementasan untuk kreatifitas mereka nanti malam. Alhasil, saya pun
ikut nimbrung sambil melucu dihadapan mereka agar tidak jenuh dalam merias
panggung. Sekitar 30an menit berjalan, rombongan mas pendeta Santria tiba di
Pesantren dengan dua armada mobil.
Para santri
ikut bergegas menyiapkan tempat duduk dan suguhan minum untuk tamu, karena
bulan Ramadhan, saya pun hanya mempersilahkan untuk meminum dan menemani obrolan
santai terkait aktifitas di pesantren. Saya pun berbalik menanyakan kabar perjalanan
dari Surabaya dan beberapa aktifitas gereja.
Beberapa menit
setelah obrolan pembuka, sekitar 15 menitan perwakilan pendeta dari pengurus GKI
Darmosatelit Surabaya, memohon ijin menyampaikan atas kedatangan beliau yang
diwakili Pak Jacky. Yakni menyampaikan atas kerjasama dalam kegiatan bakti
sosial (baksos) layanan Kesehatan pengobatan gratis pada bulan Nopember 2024 mendatang.
Kami menyampaikan kepada beliau, berterimakasih atas program yang diberikan
kepada warga masyarakat sekitar pesantren.
Beliau juga bercerita jikalau kunjungannya merupakan atas saran dari para sesepuh dalam forum lintas umat beragama Tulungagung, sehingga mereka tiba di Pesantren Salakkembang Kalidawir.
Sekitar pukul
12.00 kami mengajak para tamu untuk keliling pesantren melihat sekitar
pesantren sekaligus pemetaan acara pada pengobatan gratis pada bula Nopember
2024. Selesai itu pada pukul 12.30 WIB disambung foto bersama dan sekaligus
mengakiri perjumpaan kami pada kunjungan berikutnya.
Berlomba Menjadi
Manusia Terbaik
Teringat hadits
Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi bahwa: “Sebaik-baik
kalian adalah orang paling bisa diharapkan kebaikannya dan (paling sedikit)
keburukannya hingga orang lain lain merasa aman”.
Hadits di atas
memberikan inspirasi kepadaku atas nikmat sebagai manusia untuk selalu
mengindahkan kebaikan dan berperilaku nyaman untuk sekitarnya. Meskipun sekitarnya
memusuhi serta berbeda keyakinan sekalipun. Selama tidak menyalahi aturan baik
agama maupun negara, maka tidak perlu risau dalam semua hal. Sehingga kita
yakin semuanya akan ditata indah oleh Allah SWT.
Ada sebuah
teladan yang pernah dialami Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, ketika beliau
dengan sabar menyuapi seorang pengemis buta yahudi di sebuah sudut pasar kota
madinah. Ketika Nabi Muhammad sedang menyuapi seorangt pengemis tersebut,
seorang yahudi tersebut selalu menghasut mencerikan kejelekan Nabi Muhammad seakan
Rosul adalah makhluk yang paling menjijikkan di muka bumi menurut pengemis buta
tersebut.
Ketika beliau
wafat, digantikan oleh Abu Bakar As-siddiq atas informasi dari anaknya aisyah,
bahwa ketika pagi yang dilakukan oleh Rosulullah adalah memberikan makanan
kepada pengemis buta dan menyuapinya. Mendengar penjelasan dari anaknya, Abu
bakar berangkat mengantar dan menyuapi yahudi tersebut.
Sesampainya
di sana, Abu Bakar ditegur oleh si pengemis tersebut, "Siapakah
Engkau?". Abu Bakar menjawab, "Aku orang yang biasa". Pengemis itu berkata lagi, "Bukan. Pasti
engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia
datang, tak usah tangan ini memegang dan tak usah mulut ini mengunyah. Orang
yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku. Dan, ia terlebih dahulu menghaluskan
makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku".
Mendengar
ucapan si pengemis, Abu Bakar menangis dan berkata, "Aku memang bukan
orang yang biasa datang kepadamu. Aku merupakan salah satu sahabatnya. Orang
yang mulia itu telah tiada. Ia merupakan Nabi Muhammad, Rasulullah SAW". Seketika, si pengemis pun menangis mendengar
penjelasan dari Abu Bakar. Dan ia berkata, "Benarkah demikian? Selama
ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikit
pun, ia mendatangiku dengan membawa makanan tiap pagi, ia begitu mulia".
Kemudian Orang Yahudi yang membenci Nabi SAW itu
lantas bersyahadat di hadapan Abu Bakar As-siddiq.
Alhasil
dari cerita tersebut, mengisyarahkan kepada kita bahwa berbuat baik tidak harus
menunggu pujian ataupun bayaran dari orang lain, akan tetapi berbuat baik itu dalam
segala keadaan. Baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan kepahitan.

Super cool, Mas Khosis 👌🏻
BalasHapus