Kedatangan Santri Indigo

 


“Katakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. Al-Jin: 26)

 

By.MukhosisAbdul

Pagi itu sekitar pukul 10an WIB bulan kemarin, sekitar tanggal 6 Januari 2024 ada teman pengurus yang menyampaikan kepada saya tentang kedatangan tamu. Kemudian kami berpesan balik untuk mempersilahkan tamu tersebut masuk di kantor pesantren. Bukan karena hal lain, tetapi memang pesantren belum memiliki ruang untuk menerima tamu lumrahnya pesantren lain yang mempersilahkan tamu untuk duduk dan istirahat di bale khusus atau ndalem. Sehingga kantor atau ruang BLK yang biasa kami pakai untuk mempersilahkan para tamu untuk mampir dan kadang juga menggunakan gazebo di taman sebagai ruang cangkruk yang asyik ketika malam hari.

Selang sekitar 5 menitan, saya masuk ruang kantor pesantren menghampiri tamu. Saya disambut seorang Ibu dan kedua anaknya yang masih mengggunakan seragam SMP. Kemudian beliau bercerita maksud kedatangannya kepada kami perihal anaknya yang sedang mondok di pesantren sedang menempuh program tahfidhul qur’an dan kedua anak tersebut kembar serta masih kelas 7 Tsanawiyah.

Beliau bercerita bahwa akhir-akhir ini kedua anak tersebut sedang mengalami kejanggalan ketika proses menjalani program tahfidzul qur’an, mereka sering terganggu oleh penampakan-penampakan santri dari bangsa jin kata beliau. Sehingga sering histeris dan sulit untuk istirahat pada malam hari. Beliau menginginkan saya untuk solusi kedua anak tersebut agar tidak lagi terganggu seperti hal yang dialami anaknya.

Singkat cerita, kedua anak sering kesurupan terutama pada sore hari dan menyita aktifitas belajar hafalan anak karena hal tersebut, dan beliau menginginkan saya untuk membantu menyelesaikan kesurupan tersebut. Al-hasil, saya menanyakan kepada kedua anak dengan santai sambil guyon perihal yang dialaminya. Sehingga anak sering pusing sebelumnya dan pada ahirnya hilang control karena terkuasai oleh makhluk dimensi lain.

Sementara waktu, saya memberikan solusi mengingat dari permasalahan yang ada, yakni lebih memisahkan setiap pemikiran anak dari aktifitas anak yang menjadikan rasa ketakutan terlebih dahulu dan mencoba berbincang kepada yang bersangkutan untuk antisipasi ketika anak sudah mengalami rasa pusing.

 

Proses Lompat Dimensi dan Mengalami Indigo

Banyak orang yang beranggapan bahwa kejadian indigo adalah proses kelainan bahkan suatu penyakit. Ada juga yang beranggapan bahwa indigo adalah sebuah kelebihan yang diberikan kepada Allah kepada seseorang. Indigo lebih diidentikkan dengan kemampuan indera keenam.

Pada dasarnya indigo dapat terjadi pada manusia karena banyak hal. Indigo juga memungkinkan muncul sejak lahir, namun dapat juga muncul ketika seseorang sudah beranjak dewasa. Indigo merupakan salah satu kondisi yang cukup aneh dan hanya terjadi pada sebagian kecil orang. Indigo adalah sebuah kondisi dimana seseorang terasa memiliki kemampuan yang lebih daripada orang lain.

Dalam beberapa pengalaman yang saya (penulis) temui, Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang terjadi indigo, diantaranya;

1.    Faktor keturunan

2.    Gangguan dari alam ghaib, diantaranya nepton kelahiran (jawa) yang dicintai para makhlus halus dan pernah kerasukan.

3.    Bawaan dari lahir, diantaranya hasil riyadhoh (tirakat) seorang Ibu ketika sedang hamil.

4.    Terapi non medis, missal tabib yang cara penanganan menggunakan metode kuno atau adat yang berakibat terbukanya indra keenam.

5.    Faktor psikologis, karena sering susah karena masalah atau hal yang lainnya.

6.    Faktor usia, diantaranya usia anak-anak.

7.    Sengaja membuka batin

 

Bagaimana Al Qur’an Berbicara Mengenai Dimensi Alam di Luar Manusia

Ketika seseorang mengalami kejadian indigo, hal yang sering terjadi adalah seseorang tersebut seringkali menceritakan perihal kejadian di luar dimensi manusia, yakni alam ghaib. Akan tetapi, perlu diketahui bahwasannya seorang indigo hanya saja melihat apa yang ada di depanya.

Seorang indigo tidak dapat mengetahui masa lalu serta masa depan yang akan terjadi, kecuali terdapat ada bisikan dari luar manusia. Misalnya, jin, syaitan, atau makhluk lain yang membantu memberikan khabar kepada dirinya, dan itupun juga tidak secara mendetail. Hanya saja gambaran beberapa detik tentang alam ghaib.

Mengutip dari al-Qur’an, bahwasanya Allah telah berfirman dalam surat Al-Jin:

 “Katakanlah: “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.

“Katakanlah: “…Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira”.

“Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26 – 27)

 

Allah SWT juga menyampaikan dalam Al-Quran ketika membahas tentang iblis:

“Sesungguhnya dia (iblis) dan kabilahnya (semua jin) bisa melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27)

 Kelompok Jin merupakan makhluk kasat mata yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Akan tetapi jin bisa menjelma menjadi makhluk yang lain, sehingga dapat terindera oleh manusia. Baik dengan dilihat, didengar, atau diraba.

Sebagaimana kisah Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu pada hadis berikut,Suatu ketika Ubay pernah menangkap jin yang mencuri makanannya. Ubay bin Ka’ab berkata kepada Jin:

“Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari (gangguan) kalian?”. Si jin menjawab: “Ayat kursi… Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore”. Lalu paginya Ubay menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- untuk menuturkan hal itu, dan beliau menjawab: “Si buruk itu berkata benar”. (HR. Hakim, Ibnu Hibban, Thabarani dan lainnya).

 

Albani mengatakan: Sanadnya Thabarani Jayyid, Kejadian yang sama juga pernah dialami Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menangkap jin yang mencuri makanan zakat fitrah.al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Jin terkadang menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan bagi manusia untuk melihatnya. Firman Allah Ta’ala, ‘Sesungguhnya iblis dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka,’ khusus pada kondisi aslinya sebagaimana dia diciptakan.” (Fathul Bari:489).

 

Fitrah Manusia Penyandang Makhluk Termulia dan Solusi Indigo

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga; ia menanggalkan pakaiannya dari keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya, ia (iblis/setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf: 27).

Cara terbaik menyikapi anak Indigo adalah mengarahkan anak tersebut untuk senantiasa taqarrub kepada Allah. Kuatkan keimannya kepada Allah SWT. Termasuk perkara mengenai yang ghaib. Sebenarnya hanya Allah saja tahu, sebagaimana firman-nya; Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan” (QS. An-Naml: 65).

Adapun beberapa solusi ketika mendapati santri yang indigo dalam pesantren dan terganggu dengan proses indigonya, saya (penulis) menyarankan beberapa hal untuk penanggulangan terhadap santri indigo. Setidaknya ada empat fase penataan, diantaranya;

Fase pertama, mengajak anak tersebut membiasakan berdzikir kepada Allah SWT di dalam hati. Karena Jin pada mayoritas tidak bisa menebak isi hati seseorang melainkan dengan melihat warna aura seseorang untuk menentukan target korban yang akan diganggu oleh Jin. Selama seseorang berdzikir maka sinar tubuh (aura) akan dominan berwarna kuning sampai dengan berwarna ungu.

Fase Kedua, latihan pernafasan “Nafi Itsbat” atau mengucapkan kalimah "Laa Ilaaha Illallah” dimana dzikir ini terdapat pada rangkaian latihan thoriqoh mu’tabaroh.

Fase Ketiga, Latihan meditasi dan pernafasan dengan pengamalan kalimah "Laa Ilaaha Illallah”. Karena ketika Jin dibacakan ayat Al-Qur’an melalui suara mulut, seringkali yang membacakan hanya dipermalukan oleh Jin, mungkin dengan alasan kurang fasih, tajwid kurang pas dst. Sehingga perlu ditata dalam hati yang berefek kepada sinar lafadz kalimah "Laa Ilaaha Illallah” akan melapisi tubuh pembaca sehingga menjadikan para Jin ketakutan.

Fase Keempat, senantiasa latihan penenangan diri dan berani berhadapan atau Tatag, ketika berhadapan dengan berbagai rupa penampakan Jin tanpa ada rasa takut sedikitpun. Karena jika terdapat sedikit takut, maka para Jin akan mengetahui warna aura manusia dan berujung terkuasainya lagi.

Demikian beberapa hal yang kami lakukan ketika terdapat beberapa santri atau tamu yang mengalami gangguan indigo. Solusinya adalah mengembalikan kembali kepada Allah SWT. Karena Allah lah yang memberikan kerahasiaan, maka kepada Allah lah kita memohon petunjuk kerahasiaan itu.

 

Referensi

·         Kitab “Fathul Bari bi Syarh Shohih Bukhori” karya Ibn Hajar Al-Asqolaniy

·         Al-Fairuzzabadi, Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub. “Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas”. Jakarta: Dar al-Kutub al-‘Arabiyah.

·         Al-Ghaniman, Ahmad bin ‘Abdillah. “Ilm al-Ghoib fi asy-Syari’ah al-Islamiyah”. Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam.

Komentar

  1. Membacanya ngeri juga mas. Tapi, jadi tahu tentang dunia jin dan manusia indigo itu sendiri

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan