Modernitas Traidisi Masyarakat Jawa dalam Tanam Padi; Kajian Tradisi Masyarakat Jawa dalam Menanam Padi dan Keyakinan tentang Manusia Pertama yang Menanam Padi
By.MukhosisAbdul
“Catatan belajar bersama Petani Jawa (masyarakat jawa) dan catatan pengajaran
orangtua (bapak-Ibu) ketika memberikan ilmu pertanian kepada anak-anaknya
dengan metode jawa, baik mulai persiapan tabur benih hingga panen sampai dengan
pengetahuan kepercayaan masyarakat jawa tentang filosofi menanam padi dalam
kepercayaan jawa dalam kepercayaan jawa. Dalam menanam padi masyarakat Jawa
juga tidak luput dari tradisi suguh (doa-sedekah) yang ditujukan kepada Joko
Sedono (Adam) dan Dewi Sri (Siti Hawa) yang dipercayai sebagai manusia pertama menanam
padi dan melestarikannya”.
Mburitan.PP.RAH_03/02/2024
Jauh sebelum mengetahui ilmu struktur tanah di bangku sekolah dalam
Pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA), saya (penulis) seringkali mendapat
pengetahuan, pengalaman dari orangtua pada masa-masa di bangku sekolah dasar
(SD) ketika ikut ke sawah dengan orangtua. Di sinilah Orangtua selalu telaten
menjelaskan pertanyaan yang disampaikan dari anak-anaknya tentang pengetahuan bertani.
Ketika malam tiba, ayah selalu bercerita kepada anak-anaknya menjelang tidur malam. Cerita itu dimulai dari setelah anak-anaknya selesai dalam belajar sekitar pukul 20.00 WIB hingga 21.30 WIB. Sehingga begitu indah bagi kami sebagai anak, dimana sosok ayah adalah narasumber bagi anak-anaknya tentang pengalaman dalam kehidupannya. Mulai pengalaman kerja, pengalaman sosial-organisasi masyarakat hingga cerita-cerita horror hasil pengalaman orangtua. Bagi kami, meskipun cerita itu terkesan horror bagi anak-anak, akan tetapi tidak terlewatkan nilai edukasinya, yakni solusi masalah ketika menemui hal yang ganjil dan horror.
A. Jawa dan Budaya Religius
Masyarakat Jawa memiliki budaya
religius yang telah tertanam dalam aktifitas kesehariannya. Mereka memiliki keyakinan
oleh para penemu (filsuf) yang tersampaikan secara turun-temurun. Keyakinan secara
jawa atau disebut dengan “kewajen” sendiri merupakan ajaran-ajaran utama
membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang lebih baik.
Meskipun “kejawen” bukanlah merupakan
Agama yang sah dalam negara, selain itu juga tidak masuk dalam peraturan
pemaknaan secara eremp maupun istilah tentang Agama. Pada dasarnya “kejawen” merupakan
keyakinan masyarakat Jawa kuno dalam pedoman hidup tentang berke-Tuhanan yang
hakiki (Ketauhidan Tuhan).
Masyarakat Jawa meyakini sepenuhnya
tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa dan memiliki pedoman kehidupan yang
menjunjung tinggi sikap religius, yakni bertapa (puasa), berdharma (bersosial),
welas asih semua makhluk (rohmah lil alamin) dan seterusnya. Akan tetapi dalam
perjalanan waktu keyakinan jawa lebih dapat melebur dengan agama-agama atau
keyakinan yang masuk di jawa yang notabene libih besar penganutnya. Sehingga keyakinan
masyarakat jawa kemudian menjadikan warna bagi agama yang lainnya. Seperti Islam
Kejawen, Hindhu Kejawen, Buddha Kejawen, dan lain sebagainya.
Selain itu, keyakinan Kejawen lebih kepada
berupa seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi masyarakat Jawa yang
tidak terlepas dari spiritualitas masyarakat Jawa pada umumnya. Sehingga agama
apapun yang masuk, akan berbaur dengan tidak meninggalkan budaya kejawaannya.
Dalam keseharian Masyarakat Jawa
memiliki perhitungan yang menyatu dalam kepribadian. Seperti halnya mengatur
hari petungan atau perhitungan tentang pasaran, hari, dan bulan. Masyarakat
Jawa meyakini sepenuhnya tentang rahasia kepastian dari Tuhan. Meskipun
kelahiran, kematian, jodoh dan rejeki adalah takdir Tuhan, namun manusia tetap
diberi kewenangan untuk merubah atau berikhtiar. Berdasarkan hal tersebut
petungan Jawa termasuk didalamnya adalah hari pasaran dan perhitungan keyakinan
yang menyertainya menjadi penting sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari
termasuk dalam hal pertanian.
Dalam bidang pertanian, keyakinan Jawa memiliki perhitungan hari pelaksanaan menanam yang berguna untuk menentukan kapan pelaksanaan hari menanam agar padi berkurang dari ancaman serangan hama yang mengakibatkan gagal panen serta menjadi berkah bagi penanamnya.
B. Ilmu
perhitungan yang Dipakai dalam Menanam Oleh Masyarakat Jawa
Perhitungan
Jawa dalam hal dunia bercocok tanam memiliki perhitungan atau lebih dikenal
dengan Neptu atau neton, dimana hari akan dihitung oleh hari pasaran
diantaranya;
ü Minggu: 5
ü Senin: 4
ü Selasa: 3
ü Rabu: 7
ü Kamis: 8
ü Jum’at: 6
ü Sabtu: 9
Sedangkan
Neptu pasaran yang jumlahnya ada lima hari pasaran adalah sebagai berikut:
ü Pon: 7
ü Wage: 4
ü Kliwon: 8
ü Legi: 5
ü Pahing: 9
Setelah mengetahui
Neptu hari dan pasaran, maka selanjutnya dijumlahkan kedua neptu tersebut, misalnya
mengambil contoh Hari Jum’at Legi, yakni neptunya 6 + 5 = 11, kemudian hasilnya
11 dari penjumlahan tersebut dihitung dengan mengulang hitungan berikut sampai
habis angka 11.
Selanjutnya, neptu
Jum’at Legi = 11, dihitung secara urut dengan rumus 4 hal: Oyot – Uwit –
Godong – Uwoh. Sehingga menemukan hitungan terperinci dari 11 adalah: Oyot –
Uwit – Godong – Uwoh. Oyot – Uwit – Godong – Uwoh. Oyot – Uwit – Godong.
Ketika terakhir hitungan jatuh pada hitungan “Godong” maka petani menentukan untuk menanam tanaman yang diambil hasil dari godong atau daun. Seperti halnya: sawi, dilem, tembakau dan seterusnya. Maka, untuk menghitung dalam padi dan nantinya yang diambil adalah buha atau “Uwoh” maka petani akan menghitung yang tiba neptunya dari Uwoh, yakni: hari Senin Wage, Selasa Legi dan seterusnya.
C. Tanam Dan
Ritual Tradisi Masyarakat Jawa Dalam Tanam Padi
Masyarakat Jawa
meyakini bahwa Tuhan memberikan segalanya bagi semua kehidupan, termasuk
kehidupan padi dan organisme yang menyusun pertumbuhan dan kesuburan tanah. Maka
masyarakat Jawa meyakini adanya suguh (sedekah) untuk hajatnya tercapai. Misalnya
memberikan sesaji untuk alam dan makhluk ghaib (tidak kasat mata) agar tidak
menggangu selama proses bertanam.
Dalam dunia pertanian, masyarakat jawa meyakini padi merupakan tanaman yang mulia dan sakral dalam bertanamnya. Masyarakat Jawa meyakini bahwa padi adalah tanaman pertama yang memiliki erempu panjang tentang asal-usul manusia pertama, yakni Joko Sedono dan Dewi Sri. Dalam hal lain, sosok Sedono ini oleh masyarakat jawa diyakini sebagai “Adam”, yakni orang pertama kali yang menanam padi dan “Dewi Sri” atau “Siti Hawa” adalah erempuan pertama yang menanam padi. Sehingga masyarakat Jawa memuliakan dengan berdo’a untuk Joko Sedono dan Dewi Sri Sedono karena akan melertarikan padi dengan menanam kembali seperti dalam cerita Joko sedono dan dewi Sri Sedono.
D. Persiapan Lahan
untuk Penyemaian
Proses pertama yang dilakukan petani (masyarakat Jawa) adalah
menyiapkan lahan semai padi, yakni dengan membajak terlebih dahulu dan membiarkan air
tergenang pada lahan yang akan dipakai untuk menanam padi. Hal ini bertujuan
agar rumput dan lapukan dedaunan membusuk dan menambah kompos serta melengkapi
unsur hara. Selanjutnya sambil menunggu pembusukan dedaunan, petani menyiapkan
benih yang akan ditabur diantaranya:
1. Ngekom (merendam), bertujuan mempermudah kecambah biji padi dan
pemilahan biji yang kopong untuk dibuang selama 2 hari/malam. Waktu yang tepat memulainya
pada Sore hari setelah asar, dengan alasan malam hari adalah waktunya semua
tanaman bergerak tumbuh.
Adapun larutan yang dipakai merendam biji padi
adalah pupuk leri (air cucian beras), yakni air jamur Jakaba 2 gelas 250 ml,
urin sak jebor (1 liter), yang dimasukkan dalam air rendaman sekitar 16 atau 17
liter. Selanjutnya ditutup rapat selama 2 hari/malam.
2. Ngurit (menyiapkan tempat semaian padi), yakni membajak kembali
tempat calon semaian dan membersihkan rumput yang tersisa dan memberikan abu kendang
yang telah disterilkan (fermentasi) atau dengan abu gilingan tebu. Selanjutnya benih
padi ditabur pada sore hari untuk mempermudahkan pertumbuhan serta mengurangi
benih padi agar tidak stress.
Membiarkan pertumbuhan selama 12 hari atau 2
minggu dengan kebutuhan air secukupnya, yakni genangan air menipis. Jikalau lokasi
tanam banyak genangan air, maka usia benih diambil pada usia 20 hari hingga 30
hari dengan tinggi benih padi sekitar 30 cm. hal ini untuk menghindari hama
keong dan padi tenggelam.
3. Ndaut (mencabut benih padi) yang dilakukan pagi atau sore hari
untuk persiapan tanam padi pada hari yang ditentukan untuk bercocok tanam.
Adapun dalam penyediaan media tanam, pembajakan dilakukan 2
minggu sebelum tanam padi. Yakni memberi kompos sebelum di bajak secukupnya,
sehingga ketika dibajak pupuk dapat merata, dengan kebutuhan pupuk missal untuk
lahan 100 ru atau untuk kebutuhan bibit
7-8 kg, yakni: kohe (serintil kambing) 2 karung ukuran 50 kg.
Apabila metode tanam dengan Hazton, maka bibit yang dibutuhkan sekita 17 kg/ 100 ru lahan. Selanjutnya padi ditanam dengan jarak 30 cm dengan masing-masing lubang tanam diisi dengan 20-25 batang dengan jarak antar lubang tanam 30 cm.
E. Pemberian
Pupuk Tanaman Padi
Dalam pemberian pupuk, masyarakat dalam Bertani lebih cenderung
menggunakan pupuk yang berbahan dari tumbuhan atau kotoran hewan. Adapun dalam
era modern dengan pola organik dengan formula pupuk sebagai berikut:
1. Tanaman padi pada usia 2 minggu setelah tanam, dibutuhkan formula untuk pertumbuhan yang biasanya petani menggunakan Urin,
tetes, air fermentasi dedaunan, air Jakaba, fertilizer.
2. Tanaman padi pada usia 3 minggu setelah tanam, dibutuhkan formula untuk kebutuhan pecah bunga. Diantaranya: Air kelapa 3 liter, Leri 5 liter, Urin 10 liter, Air ares gedang kepok yg bawah (40 cm dari tanah) diparut sekitar 1,5 kg, Tetes 1 botol (1,5 liter). Semua adonan bahan pupuk direndam jadi satu dan dijadikan pupuk cair yang diberikan secara
Selanjutnya, pupuk diberikan untuk penyemprotan dengan ukuran 2 liter dengan dicampur air 10 liter dan dipakai pemupukan. Adapaun waktu pelaksaan pemberian pupuk pada sore hari sekitar pukul 15.30 hingga maksimal 08.30 pagi hari. Hal ini bertujuan pada waktu yang ditentukan padi membutuhkan nutrisi makanan untuk kebutuhan pertumbuhan.
F. Pemberian Obat
Organik pada Tanaman Padi
Hama tanaman
padi sangan beragam dan jumlahnya banyak. misalnya, wereng, potong leher,
keong, walang sangit, cabuk, tikus, dan lain sebagainya. Adapun pemberian
obat-obatan sebagai berikut;
a. Formula obat dari rendaman tanaman yang memiliki rasa pahit dan
berefek racun. Misalnya Mauni, mojo, butrowali, gadung, jenu, tembakau dsb. Formula
ini untuk mengusir hama micro misalnya wereng, potong leher, walang sangit, cabuk.
b. Formula untuk hama tikus; petani masyarakat tempo dulu dengan
membakar belerang, dupa gaharu, manggar (bungkus kulit Bunga kelapa) yang
dikeringkan kemudian diikat untuk dibakar asap.
G. Trasisi masyarakat Jawa dalam menanam padi
Masyarakat Jawa meyakini
ada kekuatan supranatural yang sulit dilogika akal sehat yakni dengan kemampuan
do’a-do’a atau membacakan mantra setiap sore dan pagi hari. Adapun ritual yang
dilakukan masyarakat Jawa dalam menanam padi diantaranya sebagai berikut:
1. Tradisi wiwit
Tradisi wiwit ini dilakukan sebelum menanam padi. Biasanya dilaksakan
pada pagi hari dengan selamatan berdo’a bareng dan dilanjut dengan makan
sarapan dengan para yang bekerja sebagai tandur (tenagan tanam padi). Selanjutnya
pembakaran dupa dan pemasangan cokbakal oleh yang memiliki sawah.
Selain berdo’a kepada Sang pencipta juga bertujuan berpamitan
kepada orangtua padi yaitu Joko Sedono dan Dewi Sri Sedono atau Adam dan Hawa
(manusia yang diberi amanah dalam tanam padi oleh Tuhan. Dalam hal lain, pembakaran
pembakaran buhur juga bermanfaat bagi petani untuk mengurangi mrutu (sejenis
nyamuk dengan ukuran lebih kecil) yang biasanya menggigit.
2. Ider-Ider metengan
Tradisi ini ditandai dengan pemberian cok bakal yang digantung
menggunakan pelepah kelapa atau bongkok. Hal ini bertujuan agar pertumbuhan
tanaman padi tumbuh dengan sempurna. Adapun jumlah bongkok yang dipakai juga
beragam, ada yang ditanam berjarak 5 meteran seluas tanah yang ditanam.
Manfaat secara logis, ternyata aroma sesaji (cok bakal) yang
cenderung wangi, dapat mengusir hama wereng, cabuk, dan sebagainya. Adapun tancapan
bongkok secara ilmu tani ternyata pelepah kelapa memiliki kandungan kalium yang
bermanfaat sebagai pengganti NPK untuk kebutuhan zat hijau daun dan
memperbanyak biji dalam malai padi.
Adapun do’a ketika menancapkan pelepah kelapa sebagai berikut;
“Kanti asma lan idzine Allah, tak wenehi bongkok ngge rambatan
supoyo duwurmu (padi), sak duwure bongkok iki”. Selanjutnya pelepah
ditancapkan kira-kira satu meteran di atas tanah.
Selesai menancapkan pelepah, kemudian berjalan mengelilingi sawah
sambil membaca mantra Syukur atau membaca sholawat dan ditutup dengan bacaan
adzan.
3. Ider-ider byak
Maksud dari byak adalah padi dalam kondisi sudah berbunga semua
secara merata., sehingga dalam istilah jawa adalah “byak”. Dalam ritual ini
petani mengawali dari pojok yang ditentukan dalam hitungan jawa (memakai neptu
petung hitungan jawa) dan membawa sesaji yang dilakukan pada sore hari dan
membakar upet (berbahan kulit bunga kelapa yang dikeringkan) yang di gantung
setiap sudut sawah.
Dalam usia ini, dimana padi harus sering disemprot dengan formula setiap
3 hari sekali guna mengurangi hama tanaman yang mengakibatkan gagal panen.
4. Ider-ider bangcuk (abang-pucuk)
Yakni pada tradisi ini ketika padi sudah dalam usia menguning. Dalam
istilah jawa bangcuk (abang-pucuk) yakni ujung tanaman padi berwarna kuning.
Dalam tradisinya sama seperti tradisi ider-ider byak yang ditandai
membakar upet dan menabuh boreh (bunga kenanga). Manfaat yang lainnya adalah
untuk mengurangi hama tikus karena aroma sekitar padi menjadi wangi.
5. Tradisi muleh pari (panen)
Tradisi muleh pari adalah sebagai bentuk Syukur karena tanaman padi
dapat dipanen dan dibawa pulang. Adapun tradisi selamatan ini dilakukan dengan
do’a bersama dengan sesaji selamatan (Syukur bumi): jenang sengkolo (bubur
merah) dan sesaji selamatan metri. Selanjutnya panen padi dilaksanakan
beramai-ramai.
6. Metri panen
Metri panen dilakukan ketika padi sudah berada di rumah sang pemilik padi. Dalam hal tradisi oleh masyarakat modern tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur karena diberikan panenan yang melimpah. Akan tetapi tradisi ini hanya dilakukan beberapa dari masyarakat Jawa yang meiliki panenan padi melimpah dan masyarakat yang mampu.
I. Padi sebagai symbol kesejahteraan
Masyarakat Jawa pada umumnya
dapat dikatakan sejahtera jikalau dapat menanam padi dan memanennya. Sehingga bukanlah
sesuatu yang asing jika symbol padi dipakai oleh negara dengan memiliki arti kesejahteraan.
Karena bagi masyarakat Jawa padi adalah bahan pokok makanan sehari-hari oleh
masyarakat.
Dalam lambang kesejahteraan, negara Indonesia telah mengabadikan
sebagai symbol padi dan dipertemukan dengan kapas. Hal ini sebagai bentuk apresiasi
bahwa padi merupakan bahan dasar makanan dan kapas sebagai bahan dasar pakaian.
Adapun beberapa artikel yang terbaca memiliki kesimpulan bahwa arti lambang
padi dan kapas pada sila ke-5 Pancasila diantaranya;
- Suka bekerja keras
- Memiliki kemauan untuk
selalu menolong orang lain dan berjiwa sosial
- Selalu menghormati dan
menghargai hak orang lain dengan cara menyeimbangkan pemenuhan hak dan
kewajiban diri
- Selalu menghargai
karya orang lain
- Menjaga keseimbangan antara kewajiban dan hak
- Berani memperjuangkan
keadilan untuk diri sendiri maupun keadilan untuk orang lain
- Berkontribusi dan
turut serta melakukan kegiatan, dalam rangka mewujudkan keadilan sosial
serta kemajuan yang rata
- Tidak menggunakan hak
milik untuk bertentangan maupun merugikan kepentingan umum
- Mengembangkan perbuatan yang luhur, mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan maupun kegiatan gotong-royong ketika dalam kehidupan bermasyarakat
- Bersikap baik dan menjauhi sikap diskriminatif. Memperlakukan orang lain tanpa melihat latar belakangnya, suku, ras, agama, golongan, dan lain sebagainya

Komentar
Posting Komentar