Dibalik Kejadian Isra’ Mi’raj, Tersimpan Hikmah Kepahitan Perjuangan



 

“Catatan renungan malam Isra’ Mi’raj pada 1445 H, dimana peristiwa ujian Rosulullah Muhammad SAW dari Allah dalam memperjuangkan misi Agama Ketauhidan. Tetesan air mata menemaniku dalam mencatat, terbayang betapa sulitnya perjuangan yang seakan sirna dan putus harapan, hinaan semakin melanda karena pendukung keamanan (paman) telah berpisah, ditambah sosok penyemangat sebagai penglipur lara (istri) yang memberikan sepenuh jiwa, raga,harta dan nyawanya juga telah berpisah”.

Pojok.Mburitan.PP.RAH.07.02.2024

 

By.MukhosisAbdul

Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab (tahun ke-10 dari kenabian dan 16 bulan sebelum hijrah). Nabi Muhammad SAW mendapat kemuliaan dari Allah yakni diberikanlah peristiwa Isra Miraj, dimana Rosulullah menerima wahyu secara langsung tanpa melalui perantara malaikat Jibril seperti turunnya wahyu yang lainnya.

Isra’ Mi’raj bukanlah hanya sekedar cerita perjalanan Nabi Muhammad SAW dari kota mekkah kemudian ke Masjidil Aqsa di Palestina dan perjalanan Nabi Muhammad SAW menuju “sidratul Muntaha” (langit ketujuh), tetapi Nabi Muhammad SAW juga dipertemukan kepada para Anbiya’ sebelum beliau di setiap tingkatan langit dan menemani perjalanan Nabi sampai ke “sidratul Muntaha”.

Nabi Muhammad SAW diberikan kemuliaan oleh Alla SWT yang paling Istimewa dalam perjalanan kenabian beliau, dipertemukan dengan rahasia-rahasia alam semesta seisinya, bertemu dengan Allah secara langsung, menyaksikan alam keabadian, surga, neraka yang tidak dapat dialami oleh para utusan lainnya dan sebagai penutup Nabi serta Rasul.

Dalam peristiwa ini, Allah SWT mengabadikan dalam ayat Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 1 yang mengkisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yakni:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Artinya:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”


Akan tetapi, perjalanan serta kemuliaan Isra’ Mi’raj kepada beliau, tidak serta merta muncul begitu saja dengan tanpa sebab. Beliau merasakan ujian dari Allah terlebih dahulu berupa kesedihan yang mendalam. Sebelum peristiwa Isra’ Miraj, Nabi Muhammad SAW menerima cobaan dari Allah SWT atas wafatnya paman nabi Abu Thalib yang telah membela nabi diawal dakwahnya, kemudian disusul sang istri tercinta beliau, khadijah. Sehingga Sejarah islam mencatat sebagai “‘Amul Huzni” atau lebih dikenal dengan istilah tahun kesedihan.

Kedua sosok ini, di sisi Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai orang yang paling berpengaruh dalam perjalanan da’wah dan kehidupan beliau, yakni membela selama dakwah Rasulullah di kota Mekkah.

Sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah, perjalanan dakwah Rasulullah semakin terasa sulit. Karena tidak ada lagi sosok tokoh orang yang membela beliau dan menjadi pelipur laranya.

 

Kepahlawanan Abu Tholib

Abu Thalib memiliki nama asli Abdul Manaf. Beliau merawat Nabi Muhammad SAW saat berusia 8 tahun. Sebelumnya, Muhammad kecil dirawat oleh sang kakek, Abdul Muthalib ayah Abu Thalib setelah dari peristiwa wafatnya ibundanya pada usia 6 tahun.

Meski bukan anak kandung sendiri, Abu Thalib dan istrinya, Fatimah binti Asad sangat menyayangi Muhammad. Bahkan sejak kecil, Muhammad selalu tidur di samping Abu Thalib, kemanapun Abu Thalib pergi, Muhammad kecil selalu ikut dan diajaknya. Mulai mengembala hingga perjalanan dagang yang dilakukan oleh Abu Thalib.

Selain itu, dalam perjalanan dagang yang dilakukan Abu Thalib, pernah dibatalkan demi menjaga keselamatan Nabi Muhammad SAW ketika itu bertemu dengan pendeta Nasrani yang memberikan sebuah informasi kepada Abu Thalib tentang Kenabian Muhammad.

Pada suatu malam, saat bulan purnama bersinar indah di langit Makkah, Abu Thalib dan Fatimah binti Asad, terlibat sebuah perbincangan. Mereka membahas soal akhlak terpuji Muhammad. Sehingga Abu Tholib berkata kepada istrinya: "Sewaktu Muhammad masih kecil, setiap malam dia tidur di sebelahku. Ke mana saja aku pergi, dia pasti ikut denganku. Meski sekarang ia sudah remaja, kasih sayangku kepadanya tetap seperti dulu, tidak berubah”. Dari percakapan itu, istrinya (Fatimah binti Asad) mengiyakan perkataan sang suami. Mereka mengakui Nabi Muhammad merupakan lelaki berakhlak mulia. Muhammad tidak pernah berbohong, tidak berjudi, tidak minum arak dan tidak pernah menyembah berhala.

Dalam beberapa catatan buku, pernah suatu ketika Abu Tholib mengalami kecingkrangan kehidupan. Saat itulah istri Abu Tholib bermunajad kepada Tuhan: "Wahai Tuhan, karuniakanlah kepada kami seorang anak lelaki yang tampan wajahnya serta baik sikapnya seperti Muhammad”. Do’a mereka akhirnya terwujud, yakni diberikan karunia anak laki-laki Bernama Haidarah atau lebih dikenal dengan Ali bin Abu Tholib.

Pada suatu hari, para petinggi kaum Quraisy berkumpul untuk membicarakan suatu cara agar Nabi Muhammad berhenti menyebarkan Islam. Teror pun dilakukan kepada Muhammad, mulai dari makian, serangan hingga membujuk orang-orang terdekatnya untuk meninggalkan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Pada akhirnya, segala cara pun dilakukannya. Bahkan mengelabuhi serta memengaruhi Abu Thalib yang selama ini melindungi Nabi Muhammad SAW. Para petinggi Quraisy seperti Abu Lahab dan Abu Jahal (juga termasuk paman beliau) mendatangi Abu Thalib agar membujuk Muhammad berhenti menyebarkan ajaranya. Jika tidak, maka kaum Quraisy akan membunuh Muhammad SAW dengan cara apapun.

Mendengar percakapan itu, dari Abu Jahal dan Abu Lahab serta para petinggi Quraisy, Abu Thalib menegaskan bahwa beliau akan terus membela serta melindungi Muhammad dari kejahatan orang lain. Beliau Berkata:

"Tentang pengakuan Muhammad yang menjadi Nabi itu tidak perlu dipermasalahkan, karena dia tidak pernah memaksa kita untuk mempercayainya. Ia (Muhammad) juga tidak marah kalau kita tidak menjadi pengikutnya. Contohnya aku sendiri masih tetap memeluk agama nenek moyang kita. Muhammad tidak pernah memaksaku untuk memeluk ajaranya. Muhammad, juga tidak pernah menghina Tuhan orang-orang Quraisy: Latta, Uzza, dan berhala lain yang ada di sekitar Ka’bah. Muhammad hanya menyembah Tuhannya. Apakah itu suatu kesalahan”.

 

Mendengar pembelaan yang dilakukan oleh Abu Tholib kepada para petinggi kaum Quraisy, akhirnya Abu Jahal dan Abu Lahab serta para petinggi Quraisy, mereka meninggalkan pertemuan dengan Abu Tholib.

Abu Thalib merupakan sosok yang disegani oleh para petinggi kaum Qurays juga masih saudara dengan Abu Jahal dan Abu Lahab. Akan tetapi sikap Abu Thalib dalam melindungi terhadap ancama kepada Nabi Muhammad SAW, terus dilakukan sampai akhir hayatnya.

Namun, Abu Thalib kemudian ditimpa oleh penyakit keras yang menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga ia tidak dapat meninggalkan tempat tidur. Tidak lama kemudian setelah sakit, Abu Thalib mengalami sakaratul maut. Pada saat itu, Rasulullah SAW berada di sisi kepalanya mengharap agar ia mau mengucap kalimat “laa ilaha illallah” sebelum kematiannya. Akan tetapi, teman-temannya turut berada di sisi Abu Thalib ketika sakaratul maut. Di antara mereka adalah Abu Jahal terus membujuk dan mencegahnya dengan berkata, "Jangan tinggalkan agama leluhurmu”, Akhirnya, Abu Thalib  bin Abdul Mutholib meninggal dalam keadaan belum memeluk ajaran Nabi Muhammad SAW.

Ketika Abu Thalib meninggal dunia, telah tampak kedihan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan da’wah beliau dan tekanan perilaku para petinggi kaum Qurays pun juga semakin menjadi. Sehingga dari sinilah Nabi Muhammad SAW merasa kehilangan yang mendalam atas perlindungan dan perjuangan yang dilakukan oleh paman beliau Abu Thalib.

 

Sikap kesetiaan Khadijah

Khadijah merupakan istri pertama Nabi Muhammad SAW. Beliau juga orang yang pertama kali beriman atas kenabian Nabi Muhammad SAW yang bergelar “assabiqunal awwalun” dari golongan Perempuan. Selain itu, dalam beberapa catatan dan bacaan saya (penulis) mulai riwayat, sejarah (khalashah) dan lain sebagainya,Khadijah merupakan sosok perempuan yang tegar dan kuat. Tidak pernah ditemukan tentang sejarah atau cerita keluh kesah Khadijah ketika menghadapi kesusahan dan kesulitan hidupnya semasa hidup bersama Nabi Muhammad SAW. Sehingga tentang ketegaran Khadijah mengalahkan para istri pada umumnya termasuk para istri-istri Nabi Muhammad SAW yang lain.

Dalam sebuah cerita, ketika itu Sayyidah Khodijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tidak punya, sehingga ketika sedang menyusui Fatimah, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Sehingga ketika menyusui yang masuk dalam mulut Fatimah adalah darah.

Kisah lain menceritakan bahwa suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah dan beliau masuk rumah didapatinya Khadijah sedang menggendong putrinya Fatimah binti Rasulullah. Khadijah menyambut dan hendak berdiri di depan pintu, namun Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah di tempatmu”, Kemudian Nabi Muhammad SAW mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Nabi Muhammad SAW yang lelah dan sedih sepulang berdakwah, karena menghadapi segala macam bentuk caci-makian serta fitnah kaum Qurays, kemudian beliau berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Nabi Muhammad SAW dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Nabi Muhammad SAW hingga membuat beliau terjaga dan berkata:

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan penuh kelembutan.

“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku?”

Mendengar perkataan Nabi Muhammad SAW, maka Khadijah berkata:

“Dahulu aku memiliki kemuliaan, Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan, Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya”. “Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan Agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu masih belum selesai”.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa ketegaran dan ketabahan Khadijah RA yang luar biasa. Sehingga ketika Khodijah meninggal, Nabi Muhammad SAW sulit melupakan perjuangan beliau dalam mendukung sepenuhnya tentang perjalanan dakwah beliau.

Dari sinilah Nabi Muhammad SAW diberikan kemuliaan oleh Allah berupa peristiwa isra’ dan mi’raj pada malam 27 Rajab yani 10 tahun dari Kenabian. Sebagai bentuk penglipur lara atas kesedihan yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.

 

Hikmah Kemuliaan dalam Ujian Kehidupan

Dalam kehidupan manusia, maka tidak terlepas dari ujian atau cobaan dari Allah SWT. Seseorang akan ditambah derajat kemuliaanya baik di dunia dan akhirat ketika seseorang yang menerima ujian dengan sabar dan bersyukur.

Allah berfirman dalam Al-Quran mengenai keutamaan sikap sabar untuk memotivasi hamba-hambaNya mengamalkan sikap tersebut;

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al Baqarah: 155).

Beberapa ayat-ayat Al-Quran yang dapat memotivasi kehidupan manusia, manakala jika seseorang itu bersabar dalam ujian:

1.    Orang sabar akan diberi balasan tempat tinggi dalam surga (Q.S Al-Furqan: 75).

أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا

Artinya:” Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,” (Q.S Al-Furqan: 75).

 

2.    Allah memberi derajat pahala terbaik bagi hamba-hambaNya yang sabar (QS. Az-Zumar :10)

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ

وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S Az-Zumar: 10)

.

3.    Memperoleh ampunan dan pahala yang besar (Q.S Hud: 11)

إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Artinya: “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S Hud: 11).

 

4.    Allah bersama orang-orang yang sabar (Q.S Al Baqarah: 153)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S Al Baqarah: 153).

 

Keteladanan Nabi Muhammad SAW akan selalu mengispirasi bagi umatnya, bahwa kesabaran dalam perjuangan kebaikan akan mendapat hasilnya (terbaik), baik selama hidup di dunia maupun di akhirat. Selain itu pada masa sulit akan terlampaui jikalai manusia terus berusaha. Berbuat baik dan saling mengingatkan dalam kesabaran merupakan keutamaan disisi Allah, seperti halnya teladan Nabi Muhammad SAW sebelum mendapat kemuliaan berupa peristiwa Isra’ Mi’raj.

Dalam pada akhir cerita. Bagaimana dengan umat Nabi Muhammad sekarang ini seperti kita? yang rapuh dalam hal ujian dan cobaan.

 

___PP.Raden Abdul Halim; Salakembang-Kalidawir-Tulungagung.

 

 

Referensi:

1.    Syekh Muhammad Khudari Beik. Kitab “Kholasoh Nur Yakin” Juz 1, 2 dan 3.

2.    Ibnu Ishaq. Syarah dan Tahqiq; Sirah Nabawiyah; Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah. Muh. Nashiruddin al-Albani. AK Media; Jakarta

3.    Fadli Bahri. Terjemahan Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam/ Abu Muhammad Abdul Malik al-Muafiri. 2004. Cetakan ke-4. Darul Falah; Jakarta

4.    Ibnu al-Qayyim Al-Jauziyyah, Ahli Bahasa oleh A.M. Halim, “Uddatu Ash-Shabirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin”, 2006. Maghfirah Pustaka; Jakarta.

5.    M. Q. Shihab. “Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an”. 2002.  Lentera Hati; Jakarta

6.    Al Quran dan Terjemah

7.    M. Yunus. (1973).  Kamus Arab- Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/penafsiran Al-Qur’an.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan