Sekedar Cerita Perjalanan Kecil Menelusuri Keluarga Si-Anak Angkring Tepi Jalan

 


Sebuah catatan perjalanan mengurus keluarga baru di panti asuhan assuyuti Kalidawir Tulungagung yang tak kunjung selesai karena pihak instansi meminta prasyarat dokumen agar dapat diproses. Sementara data yang dimaksud instansi sama sekali tidak kami miliki sehingga berakibat terkesan berlarut-larut hingga 3 tahun. Salakkembang, 6 Januari 2024

By.MukhosisAbdul

 

Hari itu perjalanku sejak pertama tercatat pada hari Rabu, 28 Juli 2021 kami melakukan perjalanan untuk meminta data dari anak yang ditinggalkan orangtuanya begitu saja di depan gerbang panti asuhan pada bulan Nopember 2020. Perjalanan kami sekedar memperjelas keberadaan keluarga serta meminta data berupa KK (kartu keluarga) untuk kebutuhan sekolah dan data santri di

Empat tahun berjalan mereka masuk diasrama panti asuhan Assuyuti kalidawir. Namanya Ilham Prastyo, saat itu masih 5 tahun, kelahiran 16 September 2015 yang baru saja terketahui identitasnya dan Alma Purbaningrum yang saat itu masih berusia 8 tahun (kelas 1 SD). Mereka berdua terlahir dari keluarga yang sulit diceritakan.

Pukul 7.10 WIB kami berangkat dari rumah menuju asrama menghampiri kedua anak untuk petunjuk jalan ketika bertanya kepada warga di kampungnya. Jam 7.30 kami berangkat melanjutkan perjalanan menuju Desa sumberingin untuk melengkapi tim, yakni Ibu Tiis Sudaryati dan Suaminya, bernama Adi Tjahjono. Selanjutnya pada pukul 8.30an kami berangkat menuju lokasi ke alamat yang dituju, hasil beberapa petunjuk dari rekan relawan, yakni kami menuju Dusun Cangkruk Desa Kepuhrejo Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung.

Ditengah perjalanan, tepatnya sampai desa Sambirobyong Kecamatan Sumbergempol, kami harus menghentikan perjalanan, karena mobil yang dikendarai mengalami kerusakan di bagian as roda telah bergeser ke belakang sampai terselip menggesek body mobil. Selanjutnya, kami meminta bantuan teman untuk mengirim peratan pembenahan mobil. kebetulan mobil kami rusak di dekat masjid Sambirobyong barat tikungan utara Desa Pulotondo. Tidak jauh dari lokasi kami berhenti, bertepatan dekat dengan rumah ketua LPNU cabang Tulungagung (kang Imam Sayuti). Sehingga dapat numpang beristirahat sejenak dan silaturrohim ke rumah beliau.

Semua penumpang turun dan Anak-anak pun juga turun dari mobil. Karena berdekatan dengan rumah teman, anak-anak kami ajak mampir sekedar duduk di kediaman beliau sambil menunggu mobil selesai diperbaiki. Sekitar jam 10.30an kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, tidak lupa beliau juga memberikan uang saku kepada kedua anak yang kami antar. Selanjutnya, kami dapat melanjutkan perjalanan, karena berkat bantuan mekanik yang diantar oleh pengurus lainnya dari asrama sehingga dapat melanjutkan perjalanan kami.

Sampai di desa pinggirsari bertemu teman Ansor ngantru, namanya H.Yuski dan didampingi temannya pengurus Ansor PAC Ngantru, termasuk ketua pengurus NU ranting Kepuhrejo yang membantu dalam pencarian orangtua santri.

Sampai di lokasi sekitar pukul 11 WIB dan bertamu kepada seseorang yang pernah anak-anak mengenalinya semasa tinggal di Kepuhrejo. Selama bertamu, kami merasa janggal karena ada raut muka bingung dari keluarga yang kami kunjungi. Alhasil, ternyata bukan siapa-siapa. Yakni keluarga jauh yang bertemu dari jalur mbah buyutnya santri. Silaturrahim kami diterima baik oleh adik dari simbah-nya santri, dan ternyata simbah kandungnya santri sudah meninggal lama dan sekarang menyisakan kenangan bangunan rumah roboh milik tetangga yang pernah dihuninya

Kami bercerita tentang keberadaan kedua anak sampai terdampar di panti asuhan Kalidawir, termasuk kebutuhan data anak untuk keperluan sekolah. Dari cerita warga sekitar; sebelum santri tersebut di panti asuhan Kalidawir, mereka diasuh oleh ketua RT sekitar. Setiap hari kedua anak tersebut hanya berharap kedatangan orangtuanya yang belum tentu pulangnya. Ayah sebagai pekerja serabutan dan ibunya menjadi TKW yang lepas kontak dan tidak terketahui keberadaannya. kedua anak tersebut menunggu di pos-kampling dekat rumah huniannya sambil ditemani pak RT setempat. Mereka setiap hari menunggu uluran tangan warga sekitar untuk membantu sesuap nasi keperluan keseharian. Maklum, karena mereka berusia TK dan SD kelas 1 yang belum dapat memasak sendiri.

Kami pun kembali menjelaskan bagaimana proses pertama kali masuk di panti asuhan Kalidawir. Yakni; anak diantar oleh seorang ayah, kemudian kedua anak disuruh masuk mencari kakaknya di asrama, yakni mencari kakaknya (yang beda ibu) yang berdomisili di Desa Krisik Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Kakaknya yang sdh lebih dulu masuk di panti asuhan Kalidawir. Sedangkan sang Ayah memiliki asal daerah Wlingi Kabupaten Blitar.

Ketika sang kakak keluar asrama, kemudian sang Ayah ijin pulang sebentar dengan alasan mengambil pakaian anaknya untuk keperluan bermain dan menginap di panti. Mereka langsung mengiyakan perkataan sang ayah dan menunggu lama di depan gerbang asrama.

Ketika kejadian itu, tidak terketahui oleh pengurus panti asuhan, dikarenakan ada keperluan pembangunan pesantren disebelah utara asrama panti asuhan yang jarangnya sekitar 300 meter. Ketika waktu dzuhur tiba, kedua anak baru terketahui oleh pengurus. Anak-anak menyampaikan perihal keberadaanya, yakni menunggu ayah kembali ke asrama membawakan baju bermain. Ternyata sampai hampir setahun tidak kembali lagi ke asrama panti asuhan Kalidawir untuk mengantar pakaian.

 

Jalan Ninja sang Ayah

Kami berharap ada solusi untuk anak-anak tersebut, supaya dapat masuk ke dalam daftar KK seperti saudaranya kandung, Alma. Kemudian kami diberikan solusi dipertemukan dengan tantennya yakni anak (adik simbah) dari ibu yang rumahnya berjarak 3 KM. Karena ibunya kebetulan juga anak tunggal, kami dicarikan keluarga santri yang lebih dekat kerabatnya, yakni kerabat bertemu buyut (cicit) yang berdomisili di Dusun Dlangkup Desa Pojok Kecamatan Ngantru Kab. Tulungagung.

Kedatangan kami menyampaikan perihal kebutuhan data anak dan orangtua kepada beliau, keluarga di dusun Dlangkup yakni keluarga Bu Siin. Mereka menjelaskan, bahwa tidak ada satu pun data dari keluarga Alma dan Ilham, semuanya terbawa olehnya. Mulai foto pribadi, KTP, KK, Akta kelahiran dan lainnya. Karena ibunya menjadi TKW Malaysia yang tak pernah pulang, sehingga Alma diikutkan daftar keluarga dari Ibu Siin. Akan tetapi data itu belum memasukkan Ilham sebagai anggota keluarga. Sehingga menjadi kendala anak untuk dapat masuk menjadi siswa sekolah.

Dengan musyawarah bersama, alhamdulillah mereka menerima keberadaan Ilham dan kakaknya (Alma), membantu terkait persuratan di kelurahan untuk memasukkan Ilham dalam daftar anggota keluarga, dijadikan satu KK dengan Ibu Siin. Akan tetapi kami tetap belum menemukan kapan anak ke-2 dari Anak seorang Ibu (Iis Sugianti) ini dilahirkan. Akhirnya kami mengambil kesimpulan tanggal lahir dari Ilham adalah 17 Agustus 2015, dipermudah (untuk dapat masuk sekolah).

Usut punya usut, ternyata ayah kedua anak ini, sempat memiliki 4 (empat) istri dan terakhir menikah dengan Ibu Iis Sugianti asal Desa Pojok kecamatan Ngantru yang memiliki dua anak, yakni Alma dan Ilham. Ketiga istri berada di kabupaten Blitar dan satu berada di Kabupaten Tulungagung. Sementara anak-anak mereka juga hidup secara terlantar dan dari keluarga istri yang memiliki kehidupan kurang mampu.

Ibu Siin adalah orang tua yang berusia 70 tahun, dalam satu KK dengan adiknya bernama pak Loso. Keberadaan pak Loso juga menduda dengan memilki anak bernama Iis Sugiarti. Karena perceraian serta sakit-sakitan inilah akhirnya pak Loso ditolong kakanya (Bu Siin) dan masuk dalam anggota keluarga KK dengan keterangan keluarga lain.

Silaturrohim kami kepada keluarga Bu Siin, tercatat sekitar 1,5 jam dalam musyawarah menemukan titik terang permasalahan. Perjalanan silaturahim kami menunjukkan pukul 13.15 WIB, sehingga serombongan harus undur diri, dan memberikan solusi sampai mengurus dispendukcapil, dan terpenting dari keluarga adalah ada yang bersedia ikut membantu mengurus surat pengantar dari kelurahan.

Perjalanan pulang kami sudah sampai di Desa Pinggirsari Ngantru, mobil mulai rewel kembali. Krn roda terus menggores bodi mobil sampai cekung seperti batik ban, menggaris melengkung lurus sekitar kedalaman 3mm.

Sesampai di lokasi pondok, sekitar pukul 14.30 WIB. selanjutnya mobil dibenahi di kediaman Mbah H. Muhtar (pengasuh panti asuhan Assuyuti Kalidawir) dan anak-anak dioper kendaraan untuk bisa kembali ke asrama panti lagi.

 

Nasib Si Anak Angkring

Alhamdulillah, terimakasih kepada semua pihak demi kelancaran membantu kemanusiaan bersama dan kami hanya dapat berikhtiyar dengan harapan semoga menjadi hikmah tersendiri atas jerih payah kami dalam pengurusan data anak asuh.

Selang satu minggu mendapat kabar dari keluarahan bahwa KK lama telah tercetak di dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tulungagung. Akan tetapi kebutuhan kami masih belum terselesaikan. Karena keterangan Ilham belum juga masuk dalam daftar anggota keluarga. Sementara Ilham sudah terlambat sekolah karena belum memiliki sama sekali.

Persyaratan demi persyaratan kami kumpulkan dan akan kami serahkan kepada Dispendukcapil Kabupaten Tulungagung. Namun pada tanggal 8 Agustus 2021, nasib bertambah lagi. Yakni kepala keluarga yang akan menerima Ilham sebagai keluarga baru Ilham dalam daftar kartu keluarga, telah meninggal dunia. Sehingga kami kembali lagi mengurus ke kantor kelurahan untuk dibuatkan surat keterangan kematian dari Ibu Siin.

Sambil menunggu surat keterangan kematian dikeluarkan dari pihak kelurahan, kami mendaftarkan Ilham ke sekolah dengan tanpa identitas. Sementara pengurus yang mengusahakan koordinasi kepada Dispendukcapil, telah pindah tugas mengajar sehingga menyulitkan kami dalam koordinasi tentang perjalanan data anak tersebut. Karena jarangnya berkomunikasi, akhirnya perjalanan terjeda selama tiga tahun.

 

Fase Kedua Hari Pertama Hingga Keempat

Saat itu saya membuka pesan WA salah satu guru MI, bahwa menanyakan keberlangsungan data Ilham di madrasah dan intinya adalah menjadi beban bagi sekolah ketika ada siswa yang tidak memiliki identitas. Jawaban untuk itu, saya jawab akan kami uruskan sesegera mungkin terkait kebutuhan data siswa.

Pada 23 Desember 2023, saya (penulis) memberanikan diri untuk menelusuri kembali keluarga Ilham yang sempat terputus komunikasi sejak tahun 2021. Kami melakukan perjalanan kembali dari awal mula proses, juga bertanya kepada seseorang tentang keluarga Ilham kepada warga Dusun demi dusun sebuah desa Kepuhrejo. Alhamdulillah, akhirnya menemukan kembali keluarga Ilham yang sempat lupa alamat rumahnya.

Kami mengawali lagi komunikasi dengan keluarga, yakni kepada Ibu Nina dan Pak Feri yang sekarang tinggal di rumah Ibu Siin. Silaturrohim kami menceritakan tentang data Ilham yang sempat terputus dan kedatangan kami untuk mengawali komunikasi kembali perjalanan ke Dispendukcapil untuk kejelasan data Ilham di KK. Setidaknya, dalam fase kedua ini kami dapat menemukan serta kembali berkomunikasi kepada kerabatnya yang sempat terputus. Selebihnya akan kami lakukan koordinasi dengan kelurahan terkait data kebutuhan sekolah Ilham.

Hari kedua, kami datang kembali untuk untuk keperluan mengambil paket bantuan dari kantor Pos kecamatan Ngantru dan mengawali koordinasi dengan kelurahan Pojok Ngantru. Karena paket harus diambil yang bersangkutan, maka kami juga membawa kedua anak. Ternyata bantuan itu masih dapat diambil karena keterlambatan tanggal mengambil akibat tidak ada keluarga yang dihubungi. Akhirnya kami memutuskan untuk menuju kantor kelurahan untuk maksud kami.

Hasil dari kelurahan memberikan arahan bahwa untuk menjalin koordinasi dengan Dispendukcapil Tulungagung guna mempermudah kebutuhan prasyarat yang disiapkan untuk mengurus KK. Setelah itu, kami balik lagi menuju kalidawir dikarenakan surat yang kami maksud dapat diselesaikan di kantor kelurahan besok hari dengan Kepala Desa langsung dan kehadiran perwakilan keluarga Ilham.

Hari ketiga, kami menuju kecamatan Ngantru kembali yang memiliki jarak tempuh sekitar 29 KM atau membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Akan tetapi kami batal menemui kepala desa dikarenakan beliau ada urusan rapat di Kabupaten. Sehingga waktu kami habiskan untuk silaturrohim kepada keluarga ilham dan servis accu mobil di Desa Kaliwungu Kecamatan Ngunut. Perjalanan kami hari ketiga sampai pukul 14.00 WIB sudah sampai di asrama panti asuhan kembali. Adapun hasil dari hari ketiga, yakni membuat kesepakatan menentukan jam bertemu kepada pihak kelurahan dan pihak perwakilan keluarga.

Hari keempat, kami berangkat dari Kalidawir pada pukul 07.00 WIB karena menyesuaikan kesepakatan dengan kelurahan. Hasil dari kelurahan sesuai yang kami maksud, yakni membuatkan keterangan kelahiran dari alma dan Ilham sesuai permintaan dari arahan Dispendukcapil Kabupaten pada hari kedua pada tanggal 2 Januari 2024.

Sebelum menuju Dispendukcapil Kabupaten, mampir terlebih dahulu ke kantor Pos untuk keperluan mengambil paket bantuan atas nama Alma Purbaningrum, sesuai informasi dari pegawai kantor Pos. Pengambilan bantuan hanya membutuhan waktu 10 menit sudah selesai dan dilengkapi dengan sesi foto-foto untuk keperluan dokumentasi administrasi kantor.

Sesampai di kantor Dispendukcapil pada pukul 10.25 WIB karena mencari fotocopy terlebih dahulu untuk menggandakan dokumen. Pukul 10.30 WIB kami mengambil antri loket mendapatkan nomor urutan 094. Sedangkan antrean masih berjalan pelayanan pada nomor urutan 69.

Kami memasuki kantor untuk memohon arahan di loket bagian pelayanan dan pengaduan. Tapi kali ini yang mengarahkan berbeda orang dengan hari sebelumnya, dan kali ini diterima oleh Ibu petugas. Alhasil, petugas mengalami kendala atas berkas yang kami bawa. Sehingga petugas mengarahkan kami untuk mengambil loket pelayanan. Hasil pada loket pengaduan adalah untuk memfotokopi terlebih dahulu.

Kali ini mungkin kami untung satu langkah, dikarenakan sudah memfotokopi usai mengambil surat dari kelurahan langsung menuju fotocopyan meskipun mendapatkannya fotocopy di toko baratnya perempatan bundaran TT.

 

Dari Instansi Menuju Instansi

Kami duduk di teras kantor Dispendukcapil menghabiskan waktu dan menghitung panggilan sekitar 20 antrian. Sekitar hampir 2 jam, kami duduk menunggu panggilan nomor urut. Ketika duduk, sambil mengamati kondisi sekitar Dispendukcapil, ternyata depan pintu tepat terdapat loket fotocopy. Sambil menepuk jidat dan tersenyum sendiri, karena barusan muter-muter cari fotocopy. Sementara sudah ada fasilitas fotocopy di depan kantor Dispendukcapil.

Kira-kira menunggu waktu sampai 30 menitan, tepatnya pukul 11.11 WIB. Masih antrian nomor 83. Dalam hati berkata; “Alhamdulillah, bakalan bermalam di sini”, dan masih kurang sebelas angka lagi. Pada menit 11.20, suara pemanggilan masih di nomor 84 di loket 4.

Kami mulai merasa bosan, ingin ngopi, sholat dzuhur dll kebetulan terdengar suara adzan dari Masjid Al-Munawwar. Ingin rasanya tidur berbaring, tapi tempat yang kami duduki adalah untuk fasilitas umum. Tidak lama jam menunjukkan pukul 11.38 WIB, suara lantunan pujian dari masjid Jami’ Al-Munawwar terdengar jelas. Sambil mendengarkan pujian, terdengar suara antrian pada nomor urut 090 di loket 2.

Suara berbunyi 094 terpanggil pada menit 11.50-11.57 (7 menit) di loket 1, oleh seorang ibu petugas. Sesampai di dalam loketan, petugas menanyai tentang berkas yang sodorkan. Nah, disitu saya ditanyai berkas yang lain yang memang tidak ada arahan dari petugas pengaduan terkait kebutuhannya. Selain itu, semi terkena semprot sedikit dari petugas terkait menyampaikan banyak hal karena tidak tahu permasalahan. Di lain sisi, tidak mau mendengarkan penjelasanku seperti ketika di bagian pelayanan pengaduan. Maksud hati ingin sekali menampar meja, tapi sepertinya menambah masalahku yang sering membuat onar hampir di masing-masing instansi kabupaten. Sehingga, saya mengiyakan semuanya dan berproses sesuai arahan dari Dispendukcapil Kabupaten Tulungagung.

Semua arahan petugas Dispendukcapil Kabupaten, otak saya berlebihan sehingga saya tidak dapat berkonsentrasi dan menambah ribet karena tidak paham sama sekali arahannya. Kemudian terakhir kali dalam penyampaian dari petugas, saya disodori catatan kecil prasyarat mengurus akta kelahiran. Hal ini justru membuat pusing kepala dikarenakan tidak punya data terkait data yang diminta petugas.

Keluar dari kantor Dispendukcapil Kabupaten, kami langsung mencari kantin dan skrol nomor kontak di HP untuk menghubungi teman yang dapat memberikan arahan tentang perihal urusan, termasuk nomor kontak petugas bagian pelayanan dan pengaduan dari Dispendukcapil Kabupaten  tidak luput dari pindaianku.

Sambil merefresh otak, kemudian satu-persatu kami hubungi dan juga menceritakan kasus anak (Alma dan Ilham). Alhasil, ada yang mengarahkan untuk menuju Dinas Sosial terlebih dahulu. Sehingga kami menguhubungi teman lintas Dinas, termasuk Pak Eko dari Dinas Ketengakerjaan yang menguhubungkanku dengan Pak Agus Tri dan arahannya tetap menuju dinas Sosial Juga. Alhamdulillah, masil dipertemukan dengan orang-orang baik.

Pada pukul 14.00 WIB, setelah sholat dzuhur, ngopi, makan siang dll, kami memutuskan menuju Polsek Ngantru terlebih dahulu untuk arahan langkah solusi penanganan kasus anak. Hasilnya, untuk koordinasi lagi ke kelurahan setempat. Karena waktu sudah tutup kantor, dan menelfon perangkat tidak ada jawaban, akhirnya kami menuju dinas Sosial dengan harapan mendapat arahan solusi.

Sesampai di dinas Sosial hujan lebat mengguyur Tulungagung. Kami menuju kantor sesuai dari arahan, yang berlokasi di sebelah utara Stadion Rejoagung. Namun kami masuk salah kantor, yakni masuk di dinas KB. Ternyata kantor dinas sosial berada di sebelah timurnya.

Kami disilahkan duduk oleh petugas resepsionis dan memanggil petugas yang lainnya yang biasa menangani. Ternyata yang menangani adalah pernah adik tingkat semasa di kampus, dan mengenal saya. Akhirnya, kami lebih mudah mendapat arahan tentang tujuan kami. Yakni menuju dinas Kesehatan (timur perempatan rumah sakit lama) dan masuk di bagian ULT PSAI Tulungagung (penanganan perlindungan anak).

Sesampai di kantor perlindungan anak, kami dipertemukan dengan pak Akrin yang biasa menangani kasus data anak. Hasil dari koordinasi ini menghasilkan beberapa arahan termasuk termasuk memberikan arahan persuratan sebagai pengganti surat-surat yang tidak dimiliki dalam mengurusi data KK dan akta kelahiran Ilham. Selanjutnya, jam telah menunjukkan pukul 16.00 WIB, saatnya kami kembali pulang untuk melengkapi surat prasyarat dan mengampu aktifitas santri yang lainnya.

 

Arahan kebutuhan prasyarat

Beberapa hasil mondar-mandir kami dari intansi mulai; kelurahan, Kantor Pos, Dispendukcapil, Polsek, sampai kepada Dinas Sosial Perlindungan Anak, pada 4 Januari 2014 menemukan beberapa arahan diantaranya; Untuk Alma, membutuhkan surat pengantar dari kelurahan, selanjutnya ditindaklanjuti ke kantor Polsek setempat. Karena permasalahan Alma dulunya pernah mengurus data KK dan Akta kelahiran ke Dispendukcapil kemudian berkas tersebut hilang dengan nomor surat: 9914/ist/2012 dan berkas tersebut diserahkan ke Dispendukcapil sebagai prasyarat mengurus akta kelahiran.

Adapun ilham, harus memiliki data prasyarat lebih banyak. karena data orangtua; mulai surat nikah, KTP, dll telah hilang. Sehingga menemukan jalan keluar yakni beberapa surat prasyarat diantaranya;

1.    Surat keterangan dari Desa/ keluahan yang menyertakan keterangan putra ke-2 dr bu Iis Sugianti.

2.    Surat keterangan pengganti KTP si-Ibu dr desa;

Keterangan ini sebagai pengganti KTP Ibu, dengan keterangan:  .... dan saat ini TIDAK diketahui keberadaannya.

...... Surat keterangan ini digunakan untuk mengurus KK dan akte anak atas nama Ilham Prasetyo.

3.    Surat pernyataan +materai dari calon kepala keluarga pada KK;

memberikan keterangan .....Menyatakan, bahwa Ilham Prasetyo sudah saya rawat sejak kecil. Saya bersedia dan sanggup untuk mengasuh merawat dan mendidik demi kepentingan terbaik untuk anak.

4.    Formulir dr (DP4) / atau formulir tambah anggota dari desa.

5.    KTP pak Loso,

6.    Dua orang saksi, dengan melampirkan Fotocopy KTP saksi

7.    Surat SPTJM dari Dispendukcapil.

8.    Melampiri surat kematian (asli) untuk mencetak akta Kematian dr dukcapil & menghapus daftar di KK.

 

Hikmah Keruwetan di Perjalanan

Hikmah dari perjalanan mengurusi data santri, kami yakin pasti menemukan solusi dan dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau membantu memberikan solusi. Setidaknya, sebuah arahan langkah kami tidak begitu gersang dan buta dalam melangkah.

Dalam angan-angan kami jika perihal ini saya berhenti memperdulikan, maka siapa lagi yang akan mengurusi data anak (alma dan ilham) dan sampai kapan waktunya, sementara mereka membutuhkan kejelasan data asal-usul mereka dan menerima hak warga negara tentang pentingnya Pendidikan.

Kami yakin, bahwa kami diberikan amanah hati untuk dapat membantu meringankan anak-anak terutama data. Maka bagi penilaian Alam, kami mampu melakukan dan siap secara mental, waktu, biaya dan longgar (kemerdekaan hati) yang mungkin ini jarang dimiliki bagi setiap orang. Sehingga bagi kami, meyakinkan hati untuk terus berjalan sesuai arahan dan yakin akan selesai pada waktunya.

Selain itu, bagi orangtua pada umumnya, utamakan hak pendidikan anak terutama data prasyarat anak sebelum menghilangkan jejak. Karena hasil perbuatan demikian, menghasilkan banyak masalah, kendala dan beban kepada orang lain.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan