Bukan Sekedar Main di Pantai dan Merayakan Buang Sampah pada Tahun Baru 2024

 



Catatan untuk merayakan Tahun Baru 2024, Mbolang bareng di Pantai Sine pada 20 Desember 2023, sebagai microprojek Analisa sampah di tempat wisata dari mejelang tahun baru 2024. Selain itu sebagai ujicoba obeservasi pertumbuhan sampah di area wisata Pantai dan akan ditinjau kembali perkembangan sampah pada 20 Januari 2024.

By.MukhosisAbdul

 

Matahari telah menunjukkan semburat putih dari arah timur, seakan memberikan komando waktu pagi. Kami terbangun seakan komando itu segera terlaksanakan dengan terdengarnya suara adzan subuh sebagai pertanda aktivitas pagi akan segera dimulai. Masing-masing memainkan peran sesuai pembagian job description mulai team masak, bersih barak, team kopi pagi dan beberapa dari kami yang bertugas menyiapkan perlengkapan alat bersih pantai yang sudah direncanakan dan beberapa persiapan lainnya termasuk menyiapakan tempat pengumpulan sampah.

Selesai tugas ringan, kami sedikit saling berbincang melingkar menikmati kopi pagi dan sarapan pebuka, tidak terlewatkan perbincangan sebagai sarana asupan materi tentang lingkungan. Sehingga perbincangan sedikit menambah arahan bagaimana agenda berlibur dan bakti lingkungan dengan melakukan kegembiraan bersih pantai oleh kelompok kami yang terkoordinasi dari santri PP. Raden Abdul Halim.

Perbincangan kami jeda dengan pelaksanaan bersih pantai pada pukul 6.00 WIB hingga pukul 8 pagi dan berlanjut main bareng di Pantai layaknya anak-anak bermain pasir dan berenang menikmati kesegaran pantai di waktu pagi.

Liburan kami sederhana, yakni dengan bermain di pantai layaknya masyarakat sekitar pantai menikmati daerahnya. Namun, sedikit memberikan manfaat di area diamana kami melakukan liburan, yakni membantu kebersihan pantai agar terlihat lebih menyenangkan karena pantai terlihat bersih dari sampah plastik.

Agenda bersih Pantai kami anggap hal positif. Selain itu bersih pantai akan menambah kenyamanan para pengunjung pantai dan menambahkan kepekaan terhadap pengunjung lainnya untuk ikut melakukan hal yang sama yakni melakukan bersih pantai. Kami megandaikan, Pantai di seluruh Indonesia akan tampil asri dan menarik, jika para pengunjungnya memilki sedikit program bersih Pantai. Sehingga mereka pun nyaman dalam berlibur di Pantai dikarenakan pantainya bersih dari sampah terutama sampah plastik.

Pada pukul 9 WIB, kami selesai bermain di pantai dan bersih diri sampai pukul 9.30 WIB. Sambil menunggu teman yang lainnya, kami melanjutkan perbincangan santai yang sempat terjeda sebelumnya. Percakapan masing-masing dari kami dalam memberikan beragam solusi untuk penanggulangan sampah di pantai. Meskipun hal ini banyak pendapat diluar kemampuan, setidaknya kami sudah berusaha melakukan perihal terbaik kami dalam pengendalian sampah di pantai.

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, semua masakan hidangan sudah siap untuk dimainkan peranannya, sehingga kamipun segera mengambil posisi untuk bersiap santap hidangan dengan menu Es Degan dan Ikan Asap khas masakan pesisir laut. Dengan kondisi lapar selepas bermain dan bersih pantai, ternyata hidanganpun tersisa. Alhasil, kami membungkusnya untuk dibawa pulang kembali.

Selepas santap menu, kami menunggu waktu dzuhur dengan berbincangria bebas memilih lokasi perbincangan masing-masing. Diantara mereka ada yang berbelanja ikan untuk keluarga, melanjutkan ngerumpinya, menikmati kopi pantai dan lain sebagainya dengan kesederhanaan dan kehangatan perbincangan.

Sekitar pukul 12.00 WIB, perbincangan kami tutup dengan sholat dzuhur di Mushola warung-warung yang menyediakannya dengan waktu sekitar 30 menit dalam antrian. Selanjutnya prepare pulang ke rumah masing-masing dengan kegembiraan.

 


Warisan Sampah di Tahun Baru

Tahun Baru 2024 akan dimulai beberapa detik lagi. Hampir setiap keluarga akan pergi berlibur mengunjungi area-area wisata. Hasilnya, adalah tabungan sampah akan menggunung seusai wisatawan kembali lagi ke kampungnya. Berbagai sampah akan keluar dari pintu dan jendela kendaraan masing-masing, para pengelola akan kualahan mengatur parkirnya kendaraan dan mempersilahkan para pengunjung menikmati liburan. Dari sinilah cerita warisan sampah akan dimulai dan terus bertambah sesuai angka umur bumi.

Sampah seharusnya bukanlah urusan pelik yang sulit dikendalikan, bahkan menjadi masalah dimana-mana tentang kerusakan lingkungan yang menjangkiti daerah secara keseluruhan di Indonesia. Baik di pantai, perkampungan, gunung, dan sebagainya dimana ada manusianya, berarti sampah plastik akan tumbuh secara liar di Indonesia.

Namun setidaknya menjadi motivasi bagi para masyarakat Indonesia untuk berlomba menjadi hal terbaik sebagai imbal balik terhadap rasa syukur atas alam yang diberikan untuk menikmati indahnya alam.

Tapi realitanya mereka hanya penikmat yang mengedepankan ego, dengan berbagai alasan bahwa mereka masuk lokasi wisata dengan alasan tiket sebagai biaya kebersihan. Sehingga dengan biaya ini mereka menjadi enggan membuang sampah pada tempatnya dan menaruh sampah seenaknya dengan beranggapan sudah melakukan pembersihan sampah melalui pembayaran tiket.

Akan tetapi masalah kebanyakan tempat wisata di Indonesia mendapat permasalahan yang sama, yakni kesulitan pengendalian tentang pengelolaan sampah yang dihasilkan dari pengembangan penikmat wisata atau wisatawan. Alih-alih alasan membayar uang parkir dan tenaga kebersihan, wisatawan menjadi beringas dengan membuang sampah seenak hidupnya.

Pernah suatu ketika terjadi tepatnya di tempat wisata daerah pantai Bali. Dimana seorang wisatawan mancanegara berfoto telentang di atas pasir pantai dengan dikelilingi sampah botol plastik yang berceceran tak dikelola. Hal ini secara sekilas menunjukkan bahwa pengeloaan sampah di Indonesia masih tergolong buruk. Selain itu, pendidikan tentang cara membuang sampah hanya sebatas mitos belaka karena mayoritas psikologi masyarakatnya tidak ramah lingkungan.

Pada awal tahun 2023 lalu, kami berkunjung di daerah wisata sekitar sirkuit Mandalika yang tergolong banyak pembukaan tempat wisata baru di daerah Lombok. Namun mood kami hilang ketika pergi mengunjungi wisata sekitar sirkuit yang ada tumpukan-tumpukan sampah di setiap sudut lokasi wisata yang tidak terkendalikan. Belum lagi, sepanjang got resapan terisi banyak oleh botol-botol minuman dan bungkus jajanan.

Kami berfikir lokasi sedini ini, sudah memilki urusan sampah yang tidak terkendalikan dan menjadi bahan merefleksi tentang bagaimana pola serta nasib tempat-tempat wisata kedepannya jikalau hal ini tidak segera terselesaikan sejak dini, sebelum wisatawan berduyun-duyun menikmatinya.

Sampah akan menjadi tolak ukur seberapa kualitas pengelola wisata dalam mengatur wisata yang nyaman untuk dikunjungi. Perihal sampah sepertinya sudah menjadi kendala di setiap tempat wisata, termasuk tempat wisata terdekat kami yang berada di pantai Sine Tulungagung, dimana program pembersihan sampah terus menunggu dari para relawan untuk melakukan giat bersih pantai.

 

Perbincangan dari Santri Relawan

Tampaknya setiap keluarga, tidak selalu diajarkan bagaimana membuang sampah pada tempatnya. Sehingga secara turun temurun akan hilang dari kesadaran diri bahwa membuang sampah sembarangan akan berakibat fatal terhadap kelangsungan kelestarian lingkungan.

Tentu dari hasil uji iseng-iseng ini, memiliki kesimpulan tersidiri. Yakni mengembalikan kepada pola kehidupan pendidikan keluarga dimana seseorang pertama kali mengenal cara menaruh sampah yang benar.

Adapun perbincangan santri tentang pengelolaan tempat wisata, memiliki beberapa kesimpulan tentang solusi diantaranya;

1.    Seharusnya pemerintah memfasilitasi (SK Penunjukan) petugas dari pengelola wisata dari tempat wisata yang sudah layak berkembang, dengan konsentrasi pelaporan perkembangan wisata dan memfasilitasi kamera CCTV berbagai sudut untuk mengontrol pembuangan sampah dan keamanan setiap pengunjung. Sehingga sampah dan keamanan wisata akan terkendalikan secara terpusat melalui kamera pantauan.

2.    Pengelola wisata akan selalu bertanggungjawab atas tugasnya dan memberikan evaluasi secara berkala dari dinas yang bersangkutan.

3.    Memaksimalkan pusat informasi pengelola wisata, untuk terus mengingatkan kepada wisatawan betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya.

4.    Menyiapkan bank sampah atau tim daur ulang sampah plastik yang difasilitasi pemerintah daerah atau kerjasama industri daur ulang plastik bekas.

 

Beberapa temuan solusi ini, berdasar pada kegiatan kami ketika berjalan melakuan pembersihan pantai dan ngobrol dengan berkunjung seusai bermain. Selain itu ada beberapa wisatawan yang sempat berbincang dengan penulis; bahwa alasan tidak membuang sampah pada tempatnya adalah memiliki alasan tersendiri diantaranya;

a)    Tempat sampah jauh dari jangkauan,

b)    Sudah ada petugas kebersihan,

c)    Sudah membayar karena mereka bekerja dibayar untuk kebersihan

d)    Tidak tahu harus membuang sampah dimana karena pengunjung baru.

 

Alam dan Panorama Kharismatiknya

Setiap keindahan alam memiliki kenyamanan tersendiri bagi pengunjungnya. Kenyamanan ini kemudian menambah daya tarik bagi wisatawan yang lainnya menikmati panorama yang disajikan oleh alam. Akan tetapi keindahan itu akan sirna dengan perlakuan-perlakuan pengunjung yang tidak bertanggungjawab, yakni menjadi rusak, kumuh, dan sebagainya.

Keindahan alam akan sirna karena hal-hal tersebut, sehingga menambah ketidaknyamanan orang-orang setelahnya yang berkunjung menikmati panorama alam seperti pengunjung sebelumnya. Akan tetapi kebanyakan wisatawan tidak peduli dengan perihal itu. Mereka tetap berbuat seenaknya dengan pola-pola buruk dari latar belakang kehidupan mereka, kemudian dibawa ke tempat wisata yang berakibat buruk serta mengancam kelestarian yang disajikan alam.

Bagi penikmat wisata alam, tidak semuanya menginginkan kerusakan serta kegaduhan-kegaduhan yang timbul. Tetapi masih banyak orang pergi berlibur di tempat wisata alam agar dapat memiliki efek fresh pada dirinya. Sehingga kembali ke rumah masing-masing kepenatan-kepenatan itu terobati dari sajian alam dan kharismatiknya.

Wisata Alam Indonesia sudah rusak secara keseluruhan. Seseorang yang ingin menikmati air mineral dari sumber air pegunungan, akan tetapi sungai-sungai pengungan sudah rusak karena banyak kotoran ternak yang terbuang di sepanjang sungai pegunungan. Seseorang ingin menikmati pantai yang asri, ternyata pantai sudah penuh dengan sampah botol, plastik bungkus, pampers dan sebagainya.

Kini, sulit sekali mencari tempat yang nyaman untuk sekedar fresh menikmati udara segar dengan tempat yang asri dan sejenak berlibur dari kepenatan aktifitas kerja. Sepertinya berlibur ke tempat alam yang asri hanya mimpi belaka. Kemungkinan dapat dilakukan jikalau harus berkunjung di hutan Amazon yang jelas terjaga keasriannya.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan