Secangkir Semangat Persembahan Petani Muda


 

“Sebuah catatan diskusi yang bertajuk “Gerakan Petani Muda” di daerah Tulungagung Selatan. Mereka berusaha keluar dari kebuntuan pola pertanian yang menurut mereka tidak masuk akal secara pembiayaan tanam serta untuk mencari terobosan akar masalah pertanian. Masing-masing permasalahan mereka, menitik kepada gerakan bersama menuju kemandirian petani dalam mewujudkan panen yang maksimal dan kesederhanaan lahan dengan cara mengkaji masing-masing kebutuhan tumbuh tanaman pertanian”.

-Salakkembang.5Desember2023-

By.MukhosisAbdul

 

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luas dan melimpah. Kawasan Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki keunggulan pertanian dengan menghasilkan berbagai bahan pokok makanan penduduk yang tidak pernah habis dan strukturisasi tanah yang cocok untuk segala macam tanaman.

Sejak zaman dahulu, Indonesia terkenal dengan kesuburan tanahnya bagaikan bongkahan tanah dari surga. Selain itu Indonesia dikenal negara penghasil rempah-rempah yang terkenal dalam kancah internasional. Hingga saat ini, rempah khas Indonesia masih terus terkenal dan menarik perhatian dunia yang banyak diekspor ke berbagai negara, seperti halnya lada, cengkeh, pala, kayu manis, vanili, kapulaga, andaliman, cabe puyang, jahe dan lain sebagainya.

Dalam hal pertanian, Indonesia unggul dalam kapasitas negara yang dapat bertanam padi, sorgum, jagung dan tanaman-tanaman holtikultura lainnya, tumbuh dengan baik di berbagai daerah di Indonesia.

Namun perkembangan pertanian Indonesia sempat terganggu semenjak munculnya pertisida kimia yang membunuh serta merusak keanekaragaman hayati di Indonesia. Akibatnya, banyak keanekaragaman hayati yang mengalami kepunahan dan kondisi struktur tanah menjadi rusak.

Mengutip dari berbagai ahli pertanian, bahwa pestisida kimia memiliki dampak negative terhadap keanekaragaman hayati yang menyebabkan efek mematikan pada tanaman hingga melibas non-target bahkan merusak pada struktur media tanam itu sendiri. Serapan hewan pengurai yang seharusnya membantu menyempurnakan unsur hara pada tanah juga ikut mengalami kematian karena racun pestisida.

Bermula dari Keresahan Petani muda

Seiring berjalannya waktu bagi para petani pemula, mengalami permasalahan-permasalahan pertanian; mulai terkendala permodalan, kelangkaan pupuk sampai kepada penanggulangan hama serta mengembalikan tingkat kesuburan tanah. Hali ini menjadi kendala serius bagi petani pemula yang ingin mengembangkan dalam sektor pertanian.

Kelangkaan pupuk ternyata menjadi permasalahan serius bagi para petani untuk menaikkan strata hasil panen yang memuaskan. Kelangkaan pupuk telah terjadi di daerah-daerah yang cenderung daerah yang notabene sebagai Masyarakat petani. Berbeda dengan daerah yang memiliki perkebunan terutama daerah yang berkebunan yang disokong oleh korporasi atau Perusahaan besar seperti daerah lahan sawit, karet, tebu dan lain sebagainya. Belum lagi ditambah dengan permasahan pengendalian hama yang semakin mengalami kebal terhadap obat-obatan pertanian.

Semakin bertambahnya jenis pestisida-herbisida pada tanaman menjadikan tema obrolan bagi kaum muda yang memiliki aktifitas sebagai petani. Selain semakin tinggi penggunaan dosis obat-obatan, juga ditambah dengan harganya yang semakin melangit yang membuat keresahan para petani pemula atau petani amatiran. Untuk itu, perlu sebuah langkah bersama secara kelompok yang mandiri dalam hal pertanian. Baik mulai membuat bibit unggul sendiri, membuat pola media tanam dengan anti kimia yang berakibat kerusakan unsur hara, membuat obat-obatan pertanian (pupuk, pestisida, herbisida, fungisida dll) secara mandiri, bahkan mempola langkah penjualan secara mandiri.

Seringkali, petani dilumpuhkan dengan harga penjualan hasil panen yang tidak sesuai dengan pembiayaan perawatan tanaman. Mulai biaya pembajakan, pupuk, biaya tenaga penggarapan dan seterusnya. Kemudian ketika dijual hasilnya murah dan bahkan hampir tidak dapat dijual karena alasan menumpuknya stok barang.

Untuk itu, kami mengawali nyangkruk bareng untuk mewujudkan terobosan bersama atas kendala pertanian yang ada. Bermula dari cangkruk “Is-Ngopi” yakni Istighosah dan Ngopi setiap malam rebo legi di pesantren Raden Abdul Halim Kalidawir Kabupaten Tulungagung.

Adapun tujuan tentang forum perkumpulan ngopi diantaranya;

1)    Mewujudkan wadah bagi petani untuk share informasi

2)    Belajar bersama tentang media tanam; sistem polibag, hidroponik, aquaponik, natural,

3)    Bertukar pikiran tentang perlakuan tanam sesuai pengalaman masing-masing petani

4)    Berupaya menemukan solusi kebersamaan tentang pertanian.

 

Melihat semangat dari peserta yang hadir, mereka menyambutnya dengan positif. Selain itu, bagi yang aktifitasnya sebagai tani forum semacam ini perlu dilanjutkan dan terus dilakukan karena menurutnya forum semacam ini merupakan wahana belajar tani. Selain itu waktu di malam hari merupakan waktu yang tepat. Karena bagi tani, siang hari adalah waktu yang istimewa bagi warga yang bekerja sebagai petani.

Adapun hasil musyawarah perdana memiliki hasil kajian diantaranya;

1.    Penyediaan bibit unggul secara mandiri

2.    Tata kelola persiapan media tanam

3.    Pupuk yang murah dan organik

4.    Obat hama dan jamur perusak dengan memanfaatkan tanaman obat sekitar yang cenderung murah dan mudah dicari

5.    Penjualan hasil panen.

6.    Penyediaan tenaga semprot, karena system organik membutuhkan lebih sering penyemprotan.



Petani dan Harapan ke Depan

Dalam jangka panjang, petani akan menemukan titik kejayaan dimana jika mayoritas petani mengelola lahan tanam secara mandiri. Karena petani akan terus menjadi beban jikalau semua kebutuhan dan perlengkapan petani harus membeli. Misalnya, jika petani dapat membuat bibit unggul sendiri, setidaknya sudah terkurangi beban untuk belanja bibit tanam yang harganya juga cenderung mahal. Selain itu, jikalau petani dapat membuat pupuk dan larutan pestisida sendiri, maka minimal petani sudah terbebaskan dengan ketergantungan pupuk subsidi yang harganya tidak memihak para pelaku petani kecil.

Beberapa harga pupuk masing-masing ukuran 50kg misalnya harga pupuk di daerah Jawa Timur; pupuk Kaltim urea prill mencapai Rp 470.00,- pupuk Nitrea Rp 400.000 dan pupuk Urea Petro Rp 448.000,- dan masing kebutuhan sekitar 4 sag atau 200kg setiap keluasan lahan 100 ru. Selain itu masih menjadi beban lagi, dengan harga pestisida dan herbisida yang cenderung melambung daripada menurunnya. Sehingga hal ini perlu pengetahuan berbagi bersama dengan menanam perlakuan organik yang dihasilkan dari tumbuhan serta sisa-sisa makanan yang ada disekitarnya untuk diiolah sebagai bahan pupuk dan pestisida untuk tanaman agar panen secara maksimal.

Dalam praktiknya, beberapa petani sudah memulai untuk perlakuan organik yang hasilnya juga maksimal. Namun yang perlu dijaga dalam perlakuan organik ini petani harus lebih rajin melakukan penyemprotan tanaman dan waktu-waktu tertentu yang dibutuhkan dalam perlakuan tanaman.

Selanjutnya ketika permasalahan perlakuan tanam sudah tertuntaskan, maka langkah selanjutnya adalah bekerja secara kelompok untuk melakukan penjualan dari Masyarakat petani sendiri. Yakni membentuk koperasi yang bertujuan untuk mengatur stabilitas harga serta melakukan terobosan pasar secara mandiri.

Banyak petani yang mengeluh tentang hasil penjualan. Karena mereka harus mengikuti harga pasar pemborong yang penuh dengan ketidakstabilan harga bahan pokok. Ketidak stabilan ini akan berdampak kepada jangka panjang nasib menjadi petani, permodalan tanam serta terancam gulung tikar ke depannya. Sehingga perlu penambahan kerjasama dalam penjualan hasil pertanian untuk menjaga bahan pokok tetap bersahabat.

Dalam forum ini, meskipun dalam eksekusi penjualan tidak banyak, minimal sudah berupaya membuat terobosan baru soal pasar. Misalnya mendapat conter penjualan melon, cabai, tomat dan hasil tanaman holtikultura lainnya.

Adapun untuk eksekusi lainnya seperti padi organik, kelompok petani dari pesantren masih mengembangkan sekitar 4 ton setiap kali musim tanam yang dikelola secara mandiri. Hal ini masih banyak harapan panjang dan pengelolaan agar ke depan hasilnya lebih maksimal.

 


Komentar

  1. Mantap mas catatannya. Bapak saya adalah petani. Permsalahan memang sama apa yg njenengan uraikan. Butuh forum seperti apa yg njenengan tuliskan ini. Agar problem itu satu persatu dapat terurai

    BalasHapus
  2. Mantap banget, pemikiran dan terobosan revolusioner semacam ini yang sangat dibutuhkan. Semangat dan maju terus pak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan