Kemah Literasi dan Gathering Pararuwet
“Dapat dibilang refreshing setelah ujian semester. Namun bagi santri, tidak ada kata libur meskipun matahari terbit dari barat. Yang ada hanyalah menambah pengalaman serta pengetahuan sampai kepada nama kita tertulis dalam batu nisan” Mukhosis.20/12/23
By.MukhosisAbdul
Kemah literasi merupakan sebuah kegiatan
yang diadakan oleh Pesantren Raden Abdul Halim Kalidawir dalam rangka liburan semesteran
sekolah, untuk tujuan utama memberikan pengalaman serta pengetahuan secara
menyenangkan kepada santri dalam menggali potensi literasi, melalui berbagai
kegiatan yang menarik dan mendidik.
Kegiatan kemah biasanya dilaksanakan
setiap dua bulan sekali dengan tema yang berbeda-beda sesuai kesepakatan
musyawarah pengurus dari berbagai unsur internal lembaga di bawah kelembagaan
pondok pesantren, termasuk dalam penentuan lokasi kemah disesuaikan dengan tema
yang akan diusungnya.
Adapun materi dalam kegiatan kemah kali
ini, lebih terfokus kepada meningkatkan minat baca dan literasi di kalangan
anak-anak dan remaja. Yakni santri diwajibkan mengikuti kegiatan kemah yang
dirancang untuk mediaproses santri dalam hal pengalaman dan membekali santri
tentang pentingnya berorganisasi.
Kegiatan kemah literasi berlangsung pada
tanggal 19 s/d 21 Desember 2023. Yang bertempat di “Cemoro Sewu” Pantai Sine,
Kalidawir Tulungagung yang diikuti sekitar 30an santri PP. Raden Abdul Halim
Tulungagung dengan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari usia SD, MTs, MA dan
Mahasiswa.
Tentang Mengapa Harus Kemah!
Salah satu aspek penting dari kegiatan kemah
adalah menciptakan lingkungan literasi dengan kegiatan membaca dan penulisan.
Dalam suasana perkemahan yang penuh semangat dan kegembiraan, peserta diajak
untuk terlibat dalam berbagai aktivitas seperti kelas menulis, diskusi buku, apresiasi
karya sastra, dan berbagai permainan kreatif yang mendorong imajinasi dan
keterampilan berpikir kritis yang nantinya dibutuhkan untuk pengembangan
pesantren serta dibutuhkan ketika kembali ke masyarakat.
Dalam
kegiatan ini, santri dituntut interaktif kepada peserta lainnya. Mereka berbagi
pengetahuan dan pengalaman mereka dalam dunia literasi, membuka wawasan baru
dan menginspirasi peserta lainnya dalam mengeksplorasi keindahan sastra dan kemampuan
kreatifitas yang dimilki santri. Setelah itu, hasil karya-karya mereka akan
ditulis serta ditampilkan dalam pentas karya yang biasanya disisipkan dalam
serangkaian penutupan kegiatan.
Ketika santri melakukan interaktif, hal
ini juga akan menambah pengalaman tentang jiwa keorganisasian dimana setiap
pelaku organisasi harus menerima saran kritik sebuah keputusan bersama demi hasil
yang terbaik. Selain itu, secara auto santri akan berlatih inovasi diri juga menambah
jiwa kepemimpinan.
Kegiatan santri ketika dilapangan, juga
belajar manajemen acara mulai petugas yang menjadi pembawa acara, sambutan
ketua pelaksana serta belajar mengisi acara selama kegiatan, baik berupa
tampilan nyanyi, stand up komedi atau tampilan icebreaking lainnya. Ketika tampilan
pertama, memang secara penampilan sedikit grogi dan wagu. Akan tetapi ketika jam
tayang tampilannya terus ditambah, kelamaan juga sudah mulai tampak minat bakat
dari masing-masing santri. Hal ini diharapkan santri mampu tampil percaya diri dihadapan
orang banyak, dimana santri mampu melakukan ekplorasi diri secara maksimal.
Gathering adalah Jalan Solusi
Gathering adalah sebuah istilah temu
santai dengan kebersamaan sekaligus refreshing, baik Bersama rekan kerja atau
keluarga. Hal ini bertujuan mengamati perkembangan para santri ketika melakukan
kegiatan di luar lingkungan pondok pesantren. Selanjutnya, santri akan dinilai satu-persatu
oleh para pendamping sekaligus gathering.
Adapun pengamatan ini pertujuan menuntas kekurangan
santri ketika proses belajar selama di pondok pesantren dan kegiatan
pembelajaran pengembangan lainnya. Adapun tujuan selainnya, yakni bagi santri
yang sudah senior yang usianya sebagai pengurus serta sudah berkeluarga, akan
tetap komunikatif dengan santai dan mencoba suasana baru dalam pemecahan solusi
pengelolaan pesantren.
Dalam obrolan gathering tersebut juga
terfokus kepada suatu hal yang sifatnya dapat dibahas dengan kepala segar dan
penuh kekeluargaan. Misalnya managemen kelembagaan pesantren meliputi;
koppontren, pertanian, madrasah diniyah, pembangunan pesantren dan lain
sebagaimana yang sekiranya menjadi berat ketika tema-tema itu dimusyawarahkan
pada pertemuan yang bersifat formal atau ketika di tengah-tengah kesibukan
kegiatan belajar mengajar.
Nah, dalam gathering ini tema obrolan
terfokus kepada pengelolaan pesantren terhadap perkembangan literasi dibawah
naungan pesantren. Adapun hasil gathering adalah;
1.
Merumuskan satu tahun kedepan dalam hal literasi
2.
Pola pengelolaan managemen penulisan hasil karya
anak-anak
3.
Rencana jangka panjang tentang dunia literasi dan Lembaga
penelitian pesantren.
Hasil tersebut akan dimatangkan Kembali Ketika
forum besar yang melibatkan semua elemen keluarga besar struktur pondok
pesantren, mulai para penulis karya, pengurus kelembagaan penelitian dan
pengurus secara keseluruhan pondok pesantren serta masyarakat sekitar.
Adapun yang dimaksud dengan “para
ruwet” adalah orang-orang pengurus pesantren atau jaringan pesantren yang
terbiasa melakukan pendampingan serta menyelesaikan permasalah-permasalahan
pelik atau ruwet dibuah lembaga tertentu atau masyarakat. Karena tanpa bantuan
para pemikir ruwet semua program akan berjalan dengan mengambang dan hannya
sebatas rutinitas tanpa memiliki cita-cita dalam pengembangkan pesantren.
Setidaknya, meskipun tidak ada hasil
keputusan dari kegiatan gathering, minimal dapat menambah emosional kebersamaan
tujuan dalam satu misi yakni pengembangan serta menyusun langkah panjang perjalanan
pondok pesantren.
Luar biasa, kegiatan yang penuh manfaat
BalasHapusIjin doa'restunya pak. Kedepan setiap 2 bulan sekali sepertinya perlu mengajak anak-anak dari MI, sekitar 4 anak agar amunisi lebih tersampaikan.
BalasHapus