Santri dan Digitalisasi; Dalam Cangkruk Pelatihan Desain Dan Fotografi Santri

 



Sebuah Catatan cangkruk tentang dunia media pesantren dengan para santri pada hari Jum'at 3 November 2023, di pondok pesantren "Nur Muhammad" Dsn. Wonoayu Ds. Dukuhmojo Kec. Mojoagung Kab. Jombang, Jawa Timur. Dari kegiatan ini diikuti oleh 9 santri pada tingkat Tsanawiyah dan tingkat Aliyah yang memiliki minat dalam dunia Desain dan Fotografi.

 By.MukhosisAbdul

Era millenial telah membuat semua orang harus mengikuti perkembangan digital, begitu juga dengan para santri juga dituntut menyesuaikan perkembangan zaman. Santri sudah saatnya memainkan peran dan mengambil bagian dari pengembangan teknologi digital. Para santri yang tinggal di pondok pesantren untuk memperdalam pengetahuan agama Islam dan mendapatkan pendidikan karakter luhur ala pesantren.

Pada era sebelumnya, santri sering kali santri lebih diidentikkan sebagai orang yang kurang pengalaman dalam hal digitalisasi karena kondisi di pesantren yang padat kegiatan mengaji, banyak kegiatan pesantren, banyak peraturan yang harus mereka patuhi selama proses di pesantren, misalnya karena dianggap tidak pernah keluar pondok kecuali ada keperluan tertentu dan dilarang menggunakan peralatan teknologi komunikasi seperti televisi, handphone, computer dan sejenisnya yang membuat para santri terlambat dalam mengenal fasilitas modern.

Namun, di era serba digital saat ini, banyak pesantren yang telah membuka wawasan diri tentang pengembangan dalam hal informasi dan teknologi (IT), sehingga peralatan teknologi menjadi sangat penting untuk mendapatkan informasi dan membangun karakter santri menjadi lebih uptodate, berkarakter kuat dan berperan penting bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga saat ini, segala bentuk informasi sudah dapat diakses luas melalui media informasi dan teknologi yang disediakan oleh pondok pesantren masing-masing.

Melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, TikTok dan seterusnya, yakni merupakan deretan platform yang memiliki banyak konten yang dapat membangun inovasi serta mendokumentasikan kreatifitas santri. Sehingga selain santri dapat memainkan peran dalam komunikasi digital, santri juga dapat mengambil manfaat, yakni membantu santri menjadi seorang mubaligh yang dapat memfasilitasi santri menyebarluaskan dakwah. Dengan adanya konten kreatif yang ditayangkan atau diupload oleh santri, akan bermanfaat bagi orang banyak. Misalnya seseorang dapat menyimak kajian dan mengikuti perkembangan pesantren dimanapun mereka berada.

Dengan media sosial, semua kalangan masyarakat akan mendapatkan informasi tentang sesuatu yang diminati, pengembangan bakat, serta pengetahuan-pengetahuan yang lainnya. Tentunya, semua informasi yang didapat, juga harus bernilai positif.

 

Dalam Rangka Ngopi Bareng

Pagi itu kami melakukan isro’ pada pukul 1.40 WIB dari Tulungagung menuju lokasi ngopi yang berada di kabupaten Jombang dengan jarak tempuh sekitar 2 jam 54 menit, sekitar 115an KM. perjalanan jeda dengan sholat shubuh di depan Balaidesa Selorejo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang pada pukul 3.44 menit tepat adzan shubuh.

Kami sengaja menuju desa Selorejo dengan alasan mampir di kediaman kakak kandung dari keluarga Tulungagung. Kehadiran kami membuat agenda ngopi pertama pada perjalanan menuju lokasi acara yang hanya menyisakan perjalanan 8 KM saja, sekitar 15 menit perjalanan. Sehingga dapat cangkruk santai, bersih diri, dan tentunya sarapan tak terlewatkan pada kesempatan ini.

Pada pukul 6.30 kami melanjutkan perjalanan menuju pesantren PPTQ “Nur Muhammad” dan sampai di lokasi pada pukul 7.05 WIB. Perjalanan sempat tersendat karena ada perbaikan jalan yang menyebabkan perjalanan kami putar arah sehingga agak terlambat. Kami menuju perbatasan Trowulan-Mojokerto untuk putar arah menghindari macet akibat perbaikan jalan.

Kedatangan kami di lokasi pesantren, merasakan udara ketenangan, nyaman, layaknya masuk di pesantren-pesantren kuno yang syarat dengan nuansa “adem ati”. Kami berbincang dengan pengurus yang mengundang kami untuk ngopi di pesantren tersebut. Perbincangan pembuka ini berisi tentang pola-pola kultur pondok, serta sedikit membuka pembahasan arahan materi yang akan kami eksekusi dengan tim media pesantren ini.

 

Berbincang Mengenal Desain Visual

Waktu telah menunjukkan kesiapan untuk membuka materi pada kesempatan ngopi dengan berbincang tentang desain. Para santri PPTQ “Nur Muhammad” sudah berkumpul dengan perlengkapan kamera dan laptop yang mereka siapkan sendiri. Kami menilai mereka merupakan tim sukarela pesantren yang siap mengabdi untuk mensukseskan pesantren melalui gerakan media.

Materi yang kami perbincangkan pertama adalah materi Corel Draw. Karena mayoritas dari mereka ingin sekali dalam latihan (pertemuan ini) dapat mendesain Banner, Flyer, atau informasi-informasi tentang pesantren. Dalam materi Corel ini membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam materi sekaligus praktik dengan materi dasar serta mengenal fungsi menu desain pada aplikasi Corel Draw.

Antusias peserta ngopi nampaknya menunjukkan jiwa militansinya tentang dunia multimedia, mereka saling bertanya serta penasaran dalam setiap langkah efek baru. Sehingga dari rasa ingin tahu membuat waktu semakin terasa singkat. Pada pukul 10.30 WIB, kami beristirahat sejenak sambil otak-atik mencoba desain ala kreatifitas santri dengan mencoba desain acara-acara yang biasa terpakai di acara pesantren tersebut. Diantaranya belajar mendesain acara Haul pendiri pesantren, acara Sholawatan, dan seterusnya.

Disela-sela waktu istirahat dan desain, ada waktu sekitar 1 jam untuk berbincang mengenai dunia informasi. Setidaknya memberikan harapan para santri untuk memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan hasil karya mereka melalui media sosial.



Bebincang tentang Fotografi

Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 WIB, kami berjeda dengan melaksanakan sholat jum’at terlebih dahulu dan istirahat serta menyelesaikan tugas desain yang diberikan. Selesai itu, kami akan melanjutkan materi kembali. Karya mereka akan dipresentasikan pada pukul 14.00 sekaligus evaluasi hasil karya desain mereka.

Pada pukul 15.30 WIB, kami praktek untuk fotografi dengan objek sekitar pondok. Dengan waktu 15 menit para santri ditugaskan untuk mencari objek yang dirasa bagus untuk didokumentasikan. Kemudian, pada pukul 16.30 hasil karya fotografi mereka dikumpulkan sebagai bahan evaluasi.

Meskipun mereka masih awam dalam hal dunia fotografi, hasil pengambilan objek sudah lumayan bagus. Yakni komposisi pencahaan juga mulai tertata dengan baik. Karena dalam hal “fotografi”, hal mendasar yang wajib dimiliki seorang fotografer adalah mengatur pencahayaan objek. Selanjutnya, kami juga memberikan bekal sedikit teori dalam aplikasi “Adobe PhotoShop” guna sebagai pengenalan dalam editing gambar.

Nampaknya waktu sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB, dimana kegiatan ngopi harus segera ditutup, serta melanjutkan kembali pada lain kesempatan berikutnya. Dan pada pukul 18.30 WIB kami menyempatkan terlebih dahulu sowan kepada pengasuh pesantren, sebelum berpamitan kembali ke Tulungagung.

Santri dan Harapan Kemandirian Media Pesantren

Santri dan Pesantren merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan keberadaanya. Adapun pengurus serta pengasuh sebagai pengarah jangka panjang tentang kultur pesantren sendiri. Sehingga tiga pilar ini yang menjadikan eksistensi pesantren semakin kuat dalam membangun regenerasi berikutnya.

Santri di era millennial, tidak hanya relatif pandai mengaji. Santri harus mengikuti dan menguasai perkembangan zaman, terutama teknologi. Hal ini dikarenakan, tantangan yang dihadapi para santri adalah perkembangan teknologi zaman dan memiliki nilai positif bagi pesantren.

Diantara perkembangan Informasi dan Teknologi (IT) yang perlu dikembangkan oleh pesantren adalah pada ranah multimedia. Hal ini dikarenakan multimedia dibutuhkan oleh pesantren sebagi alat dakwah untuk masyarakat secara luas. Selain itu, multimedia juga dapat sebagai wahana pengembangan pesantren yang dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar pesantren yang membutuhkan. Seperti halnya; agenda hajatan lingkungan, pesta pernikahan, workshop desa dan sebagainya yang membutuhkan tenaga dokumentasi.

Sehingga dalam jangka panjang, hubungan pesantren dan masyarakat sekitarnya juga memiliki sumber daya kerjasama ekonomi multimedia yang apabila dikelola dengan baik, dapat menjadi potensi ekonomi berkelanjutan yang berdampak positif dalam menopang kemandirian pesantren.

 





 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan