MBURU UCENG KELANGAN DELEG; Refleksi Perjalanan Bersama Generasi Muda Hingga Orangtua
By.MukhosisAbdul
Catatan memori perjalanan mengikuti organisasi
sejak usia SMP hingga kini. Saya mencatat dalam perjalanan kehidupanku pernah
berproses sekitar 31 organisasi sosial sejak usia SMP mulai tahun 2001 hingga
tahun 2023, di luar organisasi intra sekolah. Tercatat 3 yayasan dan 2 lembaga sebagai
pendiri dan pembina, 10 lembaga sebagai anggota perintis sekaligus pengurus
harian dan sisanya tercatat 31 lembaga pemuda hingga orangtua sebagai anggota
biasa dan pengurus harian. Kini saya hanya sebagai teman “guderan/gurau” bersama
para santri di Pesantren Raden Abdul Halim Tulungagung.
Awal mula dari perjalanan mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan,
bermula hanya sebagai elok-elok bawang, atau ala kadar sebatas mengikuti kintil
orangtua (semenjak di bangku sekolah dasar pada tahun 1995) dalam menjalankan
kegiatan organisasi. Pada tahun ini orangtua selalu mengajakku untuk ikut serta
kemanapun orangtua bepergian dalam rangka kegiatan sosial kemasyarakatan; mulai
ro’an bedah rumah, tandur pari, yasin-tahlil, penggalangan dana musibah, ro’an
bersih-bersih masjid dan seterusnya. Meski di sana hanya bermain serta membantu
cuci-cuci peratan ala kadar kemampuan anak usia SD dalam membantu pekerjaan,
akan tetapi menurut kebanyakan dari mereka (warga) merupakan sesuatu yang
bernilai plus tentang keberadaanku.
Pendidikan orangtua kepada menurutku juga tidak muluk-muluk hasil
yang diharapkan, misal dengan kualitas perfec dan tepat. Menurutku orangtua
hanya sebatas menginginkan pekerjaan itu sampai tuntas dan selama waktu yang
diharapkan. Jadi kuncinya hanyalah waktu, misal disuruh jaga jualan dengan
waktu yang ditentukan, jaga padi, jaga panenan sampai bermalam di sawah, memindah
barang, menghantar makanan dan seterusnya.
Menurutku, orangtua terlalu sadis dalam mendidik anak-anaknya
hingga belepotan tidak kenal bermain bareng bersama teman-teman seumuran.
Orangtua memperbolehkan bermain hanya dengan orang-orang yang usianya lebih
banyak dari usiaku itupun terbatas. Mungkin yang ada hanyalah manut dan taat
terhadap orangtua, tetapi tidak mengetahui apa maksud dan tujuan dari orangtua.
Beberapakali bertanya “kepada orangtua kenapa perihal itu terjadi”, orangtua
selalu menjawab “kamu nanti akan tahu sendiri”. Tetapi anehnya, ketika malam
hari saya harus tidur sendirian di Masjid yang jarak dari rumah 200 meteran
yang lampu tidak begitu terang dan kanan kiri perkebunan warga yang komplit
dengan cerita-cerita mistisnya.
Bagiku tidak masalah, yang penting saya bisa bebas merasakan
kesepian malam hari dan tidur dengan ditemani suara jangkrik, suara jenis
burung hantu di sekitar masjid dan terkadang suara gonggongan anjing sampai
tidak dapat tidur nyenyak. Meski sendirian, konyolnya saya tak pernah memiliki
pemikiran yang aneh-aneh layaknya di film-film horror yang pernah saya tonton
di TV ketika itu.
Diusir Tidur dari Rumah
Semenjak kelas 2 SD, seringkali keluar malam untuk keperluan tidur
di masjid tanpa ijin. Seringkali orangtua memberikan peringatan agar sekedar
ijin bepergianya dari rumah, akan tetapi bagiku suatu keadaan yang tidak
memungkinkan untuk ijin orangtua. Yakni dengan alasan lokasi masjid yang agak
jauh, larut malam yang masih rentan dengan ular dan makhluk astral, dan alat
komunikasi karena belum musim hanphone dan sebagainya.
Suatu ketika jatuh sakit, masuk angin dikarenakan tidur di Masjid
ketika hujan deras dan lantai masjid tergenang air akibat atap masjid banyak
yang bocor dan di Masjid tidak alas tidur meskipun seukuran keset. Sehingga
alternatifnya saya tidur di atas dampar ngaji yang sengaja dibalik agar bangku
ngaji tidak bergeser ketika gerak saat tidur. Karena saking derasnya hujan
mengguyur, sehingga tidak bisa tidur semalaman dan terjadi demam dan mual-mual
ketika di sekolah.
Alhasil, pulang sekolah demam badan naik dan sampai halusinasi
saking panasnya demam. Hal ini berakibat harus tidur rumah 2 hari di usia kelas
2 SD. Ketika sakit beransur sembuh, orangtua berkata, “kenapa tidur rumah
lagi, sudah sembuh masih juga tidur di rumah. Kamu kan laki-laki, masak di
kendang saja. Ya laki-laki tidurnya di Masjid dong! Sakit dikit saja sudah mlempem”.
Semenjak itu, orangtua tak pernah mencari harus tidur di mana, yang
penting pagi setelah subuh sudah di rumah dan berangkat sekolah dan ngaji.
Awal mula menjadi pengurus dalam kegiatan kemasyarakatan
Pada tahun 2001, ikut membantu orang tua mewakili kegiatan
perkumpulan muawanah
Berbohong Agar Mendapat Ijin Orangtua Keluar Rumah demi Bisa
Belajar di Bangku Kuliah
Antara Uceng dan Deleg
Ikan uceng merupakan jenis ikan air tawar yang termasuk dalam Ordo Cypriniformes dan famili Balitoridae. Tubuhnya gilig kecil dan memanjang bewarna coklat keemasan dengan pola hitam tipis di sepanjang tubuhnya. biasanya terdapat di bebatuan yang airnya mengali serta jernih. adapun besar rata-rata ikan uceng ini sekitar 5 cm dan maksimalnya 10 cm.
Ikan uceng tergolong ikan karnivora, karena seringkali ikan uceng memakan jentik-jentik nyamuk serta hewan kecil di balik bebatuan. mereka hidup secara bergerombol dan senang bermain di pancuran air sungai yang airnya deras.
Adapun ikan Deleg adalah sebuah nama ikan di daerah daratan sumatra yang mencapai berat puluhan kilogram. Ikan ini dalam bahasa Indonesia sering dinamakan ikan Gabus, Channa, Bogo dan lain sebagainya. ikan gabus memiliki nama latin yakni Channa
Striata.
Ikan gabus merupakan ikan predator air tawar
yang menjadi primadona pemancing dengan teknik kesting di Indonesia. Ikan ini memiliki
julukan si Kepala Ular, Snakehead (bhs. Inggris) karena bentuk kepala
yang mirip dengan kepala ular. Selain itu ikan gabus lebih dapat menyesuaikan di daerah air jernih dan air tawar. akan tetapi ikan gabus lebih banyak didapati di daerah rawa karena pemakan hewan-hewan kecil.
Hikmah Dibalik Uceng dan Deleg
Sebuah kalimat legenda yang sempat dipekikkan oleh Bung Karno “Beri
aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” juga merupakan penegasan bahwa
pemuda ialah faktor penentu arah kehidupan bangsa. Apabila kita kembali
refleksikan pidato bung karno tersebut, maka mengandung arti bahwa besarnya
kuantitas bangsa belum tentu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
kehidupan bernegara. Keberhasilan suatu bangsa justru bergantung pada kualitas
dan visi yang besar dari para pemudanya untuk menatap dunia, Hal inilah yang
kemudian menjadi pondasi yang mengakar kuat bagi pemuda untuk terus bergerak
dan mengejawantahkan setiap spirit dari founding father yang telah
memperjuangakan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Disini, kami tetap setia; semangat pemberdayaan
generasi muda serta melestarikan nilai luhur bangsa.
Mengejar sesuatu kecil dengan harapan bertambah
poin, tetapi pada akhirnya mendapatkan kerugian serta kehilangan banyak.
Apabila kita mencari ikan butuh alat untuk
menangkapnya dan semua d dunia ini ternyata butuh alat untuk menggapainya. Maka
persiapkanlah dengan fokus alatmu, sebelum anda terjun kedunia yang kamu
inginkan.
Ketika aku berharap banyak dari wawasan ilmu
yang kami berikan kepada santri, akan tetapi aku baru nyadar, bahwasanya santri
& orangtuanya memiliki maksud dan tujuan yang berbeda-beda.
Waktu adalah deretan perubahan, ketika kita
lengah membagi waktu, akan hilang kesempatan kita dalam menggapai
ketertinggalan itu.
Manusia lemah akan selalu menyalahkan waktu,
akan tetapi manusia progres akan selalu menampakkan diri sebagai tantangan
dalam hidupnya, dan akan sukses d kemudian hari (18/8/2023.
16.38)
#ponpes.rah #kalidawirberbudaya #rah #ponpes #santri

Komentar
Posting Komentar