Ekoteologi Jawa dalam Kitab Primbon; Upaya Masyarakat Jawa dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan
By.MukhosisAbdul
Masyarakat Jawa sejak kuno telah mempercayai adanya dimensi
kehidupan di luar kehidupan dimensi manusia, seperti dimensi alam arwah, arwah
jin, dimensi alam dedemit dan sebagainya. Mereka meyakini kehidupan itu seperti
kehidupan manusia pada umumnya, yakni bekerja, bersosial, beribadah serta
kegiatan-kegiatan yang lainnya lumrahnya manusia dalam mencukupi kebutuhan
sehari-hari. Dalam ajaran jawa, mencontohkan ajaran luhur yang berupaya hidup
dalam dinamis serta saling berbagi antar dimensi-dimensi kehidupan yang
lainnya.
Dalam kehidupan alam, ajaran jawa telah memberikan nilai pendidikan
keseimbangan alam, sehingga lingkungan dapat lestari dan tetap memberikan
kekayaannya untuk keberlangsungan kebutuhan kehidupan manusia. Sehingga sebagai
manusia wajib memberikan timbal-balik kepada alam semesta atas fasilitas yang
diberikan oleh alam dalam mencukupi kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Selain
itu, masyarakat jawa meyakini semua antar dimensi alam, baik tumbuhan, hewan, bebatuan,
air dan maupun yang lainnya dapat diajak berkomunikasi dengan pola bahasa
tersendiri-sendiri.
Menurut beberapa ahli peneliti (para ahli antropolog jawa)
mengatakan, mereka mencatat setidaknya ada sebelas macam pembagian
ajaran Primbon. Setiap masing-masing bahasan memiliki ajaran tersendiri, yang
erat kaitannya dengan keseimbangan alam semesta. Sebelas ajaran tersebut
meliputi; pranata mangsa, wirid, aji-aji, kidung, ramalan, tata cata
slametan, donga, ngalamat atau sasmita gaib petungan, pawukon, dan pengobatan.
Adapun masing-masing ajaran memiliki arti sebagai berikut;
1. Pranata mangsa
Pranata mangsa merupakan rumusan dalam membaca perubahan mangsa
atau pergantian iklim alam. Dalam perhitungan ini terbiasa dipakai oleh
masyarakat pedesaan yang bekerja atau berprofesi sebagai nelayan dan petani untuk
melakukan perhitungan waktu melaut dan menanam.
2. Wirid
Wirid biasanya berupa sastra wedha yang merupakan pesan-pesan,
sugesti, atau larangan yang dianggap perlu untuk diikuti demi terciptanya
keharmonisan antara manusia, alam, semesta, dan tuhan selaku sang pencipta.
3. Aji-aji
Yaitu kepercayaan yang menyebut bahwa ada kekuatan supranatural
yang luar biasa terkandung dalam suatu mantra apabila itu benar-benar diyakini.
Aji-aji mencerminkan sisi supranatural dalam kehidupan orang Jawa.
4. Kidung
Kidung merupakan sastra jawa yang diwujudkan dalam syair-syair. Isi
kidung biasanya berisi tentang wejangan-wejangan atau sejenisnya.
5. Ramalan
Ramalan atau jangka sebenarnya tidak berbeda jauh dengan petungan. Perbedaannya
adalah ramalan memiliki lingkup yang lebih luas. Ramalan tidak hanya mengurusi
masalah individu seperti jodoh namun juga masyarakat, contohnya adalah Jangka
Jayabaya.
6. Tata cara slametan
Tata cara slametan berisi panduan mengenai pelaksanaan ritual orang
Jawa dengan berbagai tujuan di dalamnya. Contohnya pengungkapan rasa syukur dan
penolakan bala.
7. Donga
Donga atau mantra masih serupa dengan wirid dan aji-aji. Namun
dalam donga terdapat penggunaan ayat-ayat Al-quran yang ejaannya dijawakan.
8. Sasmita Gaib atau Ngalamat
Sasmita Gaib atau Ngalamat biasanya adalah fenomena aneh di alam
semesta yang dianggap sebagai keganjilan. Fenomena itu kemudian diartikan
sebagai pertanda atas sesuatu.
9. Petungan
Petungan adalah hitung-hitungan neptu bersifat numerik yang biasa
untuk mengkolaborasikan sesuatu dalam menghitung menentukan
jodoh yang tepat bagi seseorang berdasarkan angka kelahiran serta hari
kelahiran dengan dibagi tujuh yakni sifat rumah tangga.
10. Pawukon
Pawukon adalah perhitungan waktu baik itu hari pasaran, bulan,
maupun tahun, di mana hari kelahiran seseorang dibagi berdasarkan tanggal dan
tahun kelahiran.
11. Pengobatan
Pengobatan merujuk pada pengobatan tradisional yang digunakan untuk
menangani suatu penyakit tertentu. Salah satu contoh primbon pengobatan
tercantum dalam Primbon Mangkuprajan berupa mantra untuk mengobati sakit gigi.
Dalam menggunakannya, mantra itu ditulis pada kertas untuk kemudian dibakar dan
abunya diusapkan ke gigi yang sakit.
Pranata Mangsa sebagai kearifan psikologi alam
Pranata Mangsa dalam pemahaman jawa biasa dipahami dengan istilah ketentuan
musim. Yakni kata “Pranata” berarti penataan dan “Mangsa”
berarti Musim. Sehingga Pranata Mangsa merupakan penataan musim di Jawa dengan
perhitungan sistem kalender Jawa atau penanggalan yang dikaitkan dengan
aktivitas masyarakat jawa dan sekitarnya, khususnya untuk kepentingan
penangkapan ikan bagi nelayanan dan bercocok tanam bagi yang beraktifitas
sebagai petani.
Kalender penataan ini memiliki perjalanan siklus musim dalam setahun
dengan periode 365 hari atau 366 hari. Pranata Mangsa juga disusun berdasarkan
pada peredaran matahari seperti kalender Masehi. Kalender ini memuat perubahan
musim, berbagai aspek fenologi, serta gejala alam lainnya yang dimanfaatkan
sebagai pedoman dalam kegiatan pertanian maupun persiapan untuk menghadapi
bencana yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu, misalnya bencana banjir,
wabah penyakit, bencana kekeringan, atau segala hal pergantian musim yang
berakibat gagal panen dan seterunya.
Pranata mangsa dalam tradisi jawa seringkali disampaikan secara
turun-temurun. Tidak ada lembaga khusus yang mempelajari pranata mangsa dan
cara perhitungan kalender Jawa. Adapun pengalaman serta pengetahuan yang
dipegang petani atau nelayan, masyarakat Jawa juga menyampaikannya secara cerita
nenek-moyang dari mulut ke mulut.
Pada Umumnya, pranata mangsa ini bersifat lokal dan temporal, yakni dibatasi
oleh letak geografis dan waktu. Para aktifitas sebagai petani, menggunakan pedoman
pranata mangsa untuk menentukan jenis tanaman yang akan ditanam dan pelaksaan awal
masa tanam. Adapun bagi beraktifitas sebagai Nelayan menggunakannya sebagai pedoman
memprediksi jenis tangkapannya, misalnya, musimnya ikan kakap, musim ikan
layur, musim ubur-ubur dan seterusnya.
Adapun pembagian Pranata Mangsa yang lebih rinci, dalam setahun dibagi
menjadi 12 mangsa (musim) yang rentang waktunya lebih singkat juga dengan
jangka waktu berbeda-beda. Uraian berikut menunjukkan pembagian Tatal atau
kalender turun-temurun, diantaranya;
1)
Mangsa Kasa (Kartika)
Ketiga/kemarau - Terang 22 Juni – 1 Ags (41
hari) Sesotya murca ing embanan ("Intan jatuh dari wadahnya"; daun-daun
berjatuhan) Daun-daun berguguran, kayu mengering; belalang masuk ke dalam tanah
Saatnya membakar jerami; mulai menanam palawija.
2)
Mangsa Karo (Pusa)
Ketiga/kemarau - Paceklik 2 Ags – 24 Ags (23
hari) Bantala rengka ("bumi merekah") Tanah mengering dan
retak-retak, pohon randu dan mangga mulai berbunga.
3)
Mangsa Katelu (Manggasri)
Ketiga/kemarau - Semplah 25 Ags – 18 Sept (24
hari) Suta manut ing bapa ("anak menurut bapaknya") Tanaman merambat
menaiki lanjaran, rebung bambu bermunculan, palawija mulai dipanen.
4)
Mangsa Kapat (Sitra)
Labuh - Semplah 19 Sept – 13 Okt (25 hari) Waspa
kumembeng jroning kalbu ("Air mata menggenang dalam kalbu"; mata air
mulai menggenang) Mata air mulai terisi; kapuk randu mulai berbuah,
burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur; panen palawija; saat
menggarap lahan untuk padi gogo.
5)
Mangsa Kalima (Manggakala)
Labuh - Semplah 14 Okt – 9 Nov (27 hari)
Pancuran mas sumawur ing jagad ("Pancuran emas menyirami dunia")
Mulai ada hujan besar, pohon asam jawa mulai menumbuhkan daun muda, ulat mulai
bermunculan, laron keluar dari liang, lempuyang dan temu kunci mulai bertunas;
Selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah,
mulai menyebar padi gogo.
6)
Mangsa Kanem (Naya)
Labuh - Udan 10 Nov – 22 Des (43 hari) Rasa
mulya kasuciyan; Buah-buahan (durian, rambutan, manggis, dan lain-lainnya)
mulai bermunculan, belibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair; Para petani
menyebar benih padi di pembenihan.
7)
Mangsa Kapitu (Palguna)
Rendheng - Udan 23 Des – 3 Feb (43 hari) Wisa
kentir ing maruta ("Racun hanyut bersama angin"; banyak penyakit)
Banyak hujan, banyak sungai yang banjir; Saat memindahkan bibit padi ke sawah.
8)
Mangsa Kawolu (Wisaka)
Rendheng - Pangarep-arep 4 Feb – 28/29 Feb
(26/27 hari) Anjrah jroning kayun "Keluarnya isi hati"; Musim kucing
kawin; padi menghijau; uret mulai bermunculan di permukaan.
9)
Mangsa Kasanga (Jita)
Rendheng - Pangarep-arep 1 Mar – 25 Mar (25
hari) Wedharing wacana mulya "Munculnya suara-suara mulia"; Beberapa
hewan mulai bersuara untuk memikat lawan jenis) Padi berbunga; jangkrik mulai
muncul; tonggeret dan gangsir mulai bersuara, banjir sisa masih mungkin muncul,
bunga glagah berguguran.
10)
Mangsa Kasepuluh (Srawana)
Mareng - Pangarep-arep 26 Mar – 18 Apr (24 hari)
Gedhong mineb jroning kalbu ("Gedung terperangkap dalam kalbu";
Masanya banyak hewan bunting) Padi mulai menguning, banyak hewan bunting,
burung-burung kecil mulai menetas telurnya.
11)
Mangsa Desta (Padrawana)
Mareng - Panen 19 Apr – 11 Mei (23 hari) Sesotya
sinarawedi ("Intan yang bersinar mulia") Burung-burung memberi makan
anaknya, buah kapuk randu merekah; Saat panen raya genjah (panen untuk tanaman
berumur pendek).
12)
Mangsa Sada (Asuji)
Mareng - Terang 12 Mei – 21 Juni (41 hari) Tirta
sah saking sasana ("Air meninggalkan rumahnya"; jarang berkeringat
karena udara dingin dan kering) Suhu menurun dan terasa dingin (bediding);
Saatnya menanam palawija: kedelai, nila, kapas, dan saatnya menggarap tegalan
untuk menanam jagung.
Ekoteologi Jawa terhadap kelestarian
lingkungan
Dalam ajaran Jawa memiliki budaya Syukur
bumi, yaitu melakukan selamatan dalam rangka berterimaksih kepada alam yang
telah memberikan hasil alam yang melimpah. Budaya terimakasih kepada alam
merupakan ajaran masyarakat Jawa pada umumnya yang dilestarikan secara
turun-temurun dari nenek-moyang. Adapun masing-masing daerah memiliki adat dan
tradisi yang berbeda-beda sesuai kebiasaan sesepuh masyarakat sekitar.
Dalam tradisi Syukur alam hasil pertanian,
juga berbeda dengan Syukur alam yang berbeda pada ekosistem perairan. Misalnya
Syukur bumi pertanian; upacara metik, ider-ider, dan seterusnya dengan berbagi hasil
panenan kepada masyarakat sekitar, pelepasan burung dan lain sebagainya. Adapun
Syukur alam perairan, seperti halnya larung sesaji, ulur-ulur dan sebagainya,
dengan ditandai pelepasan makanan di lautan, penanaman rumpon, pelepasan
berbagai jenis ikan di Sungai dan seterusnya.
Menurut masyarakat jawa, ritual Syukur bumi
ini bertujuan agar hasil ke depanya dapat bertambah melimpah serta menjaga
terhadap kelangkaan ekosistem. Sehingga dalam prosesi ritual ditandai dengan
Syukur 3 unsur yakni; udara, darat dan air. Adapaun pelaksaannya berupa
pelepasan bibit ikan di Sungai bagi ekosistem air dan pemberian rumpon di laut,
penyimpanan bibit tanaman bagi aktifitas pertanian, dan pelepasan berbagai jenis
burung untuk menjaga ekosistem udara.
Relevansi Primbon Pranata Mangsa dengan Wacana
Global Warming
Seiring berjalannya waktu, penanggalan
sudah memudar karena kerusakan alam yang melanda Indonesia, mulai dari
kebakaran hutan dan berganti perkebunan sawit, punahnya sumber mata air,
pembakaran emisi gas dari dari mesin transportasi, pembakaran mesin industry tanpa
diimbangi rebisasi dan pembakaran, limbah pabrik tanpa memperhatikan amdal,
jarangnya pepohonan di pemukiman dan lain sebagainya, sehingga berakibat tidak
menentunya pergantian musim. Kendala tentang musim ini juga dirasakan oleh
negara-negara selain Indonesia, yakni di belahan dunia pada umumnya. Dalam
keadaan ini, penanggalan pranata mangsa pun ikut mulai ditinggalkan. Mereka
(masyarakat petani) mencoba untuk membuat mini-ekosistem dengan berbagai
alternatif, misalnya membuat media tanam dengan pembuatan greenhouse dan
hidroponik, memelihara ikan dengan aquarium dan aquaponik sekaligus memelihara
tanaman di atasnya dan seterusnya.
Sedangkan dampak dari Global Warming atau
pemanasan global, setiap tahun akan semakin bertambah meningkat seiring semakin
rusaknya keseimbangan alam yang berakibat; Iklim tidak setabil, meningkatnya
permukaan air laut, gangguan ekosistem, gangguan sosial okonomi masyarakat,
gangguan kesehatan serta gangguan yang lainnya akibat kerusakan alam.
Masyarakat Jawa telah berusaha
mengkolaborasikan segala tindakan demi terwujudnya keseimbangan terhadap
perkembangan ekologis dan menawarkan pola-pola yang dinamis yang dapat melestarikan
terhadap lingkungan agar tidak terjadi bencana alam karena kehilangan
keseimbangan. Selain itu, memberikan pola jadwal (kalenderisasi) untuk menakar
segala rutinitas kegiatan manusia sehari-hari.
Ajaran jawa akan tetap konsisten
mengajarkan leluhuran dan keseimbangan alam melalui ajaran laku dalam kehidupan
manusia. Pada dasarnya jawa telah mengatur semua aspek kehidupan manusia bahkan
mengatur pola bangunan rumah sampai kepada penelitian struktur bangunan juga
arah mata angin bangunan. Hal ini merupakan sebagai pola luhurnya ajaran demi
kemaslahatan manusia.
Meskipun sekarang dalam penggunaan hitungan
atau pranata mangsa tidak begitu kental dalam hitungan masyarakat jawa, akan
tetapi hitungan dalam penebangan pohon juga memiliki jadwal tersendiri. Yakni
pada mangsa Sada atau pada bulan Mei dan Juni, “Tirta sah saking sasana” (Air meninggalkan
rumahnya). Sehingga pada bulan ini baik untuk melakukan penebangan pohon karena
kadar air pada pepohonan mengalami penurunan. Karena dengan banyaknya kadar air
dalam pohon ketika ditebang, menurut perhitungan Jawa berakibat batang tersebut
akan mudah teramakan oleh nonol, mbubuk, atau sejenisnya.
-----------------------------
Referensi:
I. Gede
Marayana. “Kalender Caka Bali tahun 2023”
Catatan Hasil
Wawancara Narasumber 1; Kasah Subroto, Pengurus Parisade Hindu Dharma Indonesia
(PHDI) wilayah Tulungagung pada tahun 2019
Catatan
Wawancara Narasumber 2; KH. Abdul Malik. Pakisaji Kalidawir Tulungagung. Pada
bulan Oktober 2023
R.Gunasasmita.
2020. “Kitab Primbon Jawa Serbaguna; Tetap Relevan Sepanjang Masa”. Narasi;
Yogyakarta.
Kajian
Pertanian; “Istighosah &Ngopi Padhang Pikir” Malam Rabu Legi; 31
Oktober 2023 di Pon.Pes. Raden Abdul Halim Tulungagung.

Komentar
Posting Komentar