Dibalik Ngopi dan Liwetan Santri, Ada Sejuta Harapan Masa Depan yang Tertata
“Waktu adalah pengetahuan bagi santri, Istiqamah adalah pengikatnya. Sedikit waktu yang terbuang sia-sia adalah kerugian bagi santri yang telah merasakan nikmatnya di pesantren”.
By.MukhosisAbdul
Waktu di
sela-sela padatnya jam ngaji, ada moment aktifitas bercengkrama dengan sangat
terbatas dan penuh bermakna. Mulai cerita hiruk-pikuk kabar keluarga,
permasalahan belajar selama di pesantren, latar belakang sebelum di pesantren,
bahkan harapan panjang setelah menjadi alumni pesantren, mereka sebenarnya
proses menata rapi dengan semangat masing-masing sebuah kehidupan. Sehingga
banyak alumni pesantren yang menjadi serta mengisi segala aspek bidang, mulai
pengusaha, pejabat, guru, pengrajin dan seterusnya.
Pada era
sebelum tahun 2000an, aktivitas santri memasak adalah bagian dari rutinitas
sehari-hari yang tidak bisa terlewatkan. Moment ini yang selalu terkenang oleh
para santri selama mondok di pesantren. Kegiatan ngopi dan ngliwet merupakan
aktifitas yang lumrah dilakukan para santri pagi dan sore, dengan ditemani nadzoman
lalaran bak penyanyi papan atas.
Kebiasaan
santri menghafal bait nadzoman serta mengingat (lalaran), mereka menggunakan
alat seadanya. Misal menggunakan tutup panci, gelas dengan sendok, ember
sebagai suara bas, sapu lidi, gayung dan sebagainya. Dengan lantunan bersamaan
serta berkelompok membuat diri santri semakin kuat dan kerasan dalam menyelami
berbagai ilmu agama yang diberikan oleh pesantren.
Salah satu
waktu yang paling sering digunakan bagi para santri untuk menambah hafalan
lalaran nadzom adalah ketika memasak. Dengan berbagai ciri khas lagu, mereka
lantunkan sambil menunggu nasi lewetannya masak. Seringkali santri menemukan gaya
lagu nadzoman, baik hasil gubahan dari lirik lagu dangdut, pop, maupun lagu
kebaratan, mereka temukan pada moment ini.
Namun tampaknya
sekarang jarang sekali menemukan santri yang masih mempertahankan masak dengan bersamaan.
Santri memasak, terkesan menjenuhkan dan terlihat kampungan. Apalagi memasak
memakai kayu bakar jelas membuat polusi dimana-mana, ditambah mayoritas
pesantren sekarang tidak ada tempat masak ala tradisional.
Santri sekarang
lebih suka makan bersama sahabatnya di warung dan nyeruput kopi dengan menu
tidak repot memasak. Karena disamping perkembangan psikologi santri sekarang
lebih kepada sesuatu yang instan, juga karena latar belakang orangtua yang
telah memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas bekal yang cukup.
Ngeliwet
sebagai Tradisi Sejarah Leluhur
Asal muasal
kata ngeliwet merupakan istilah tua yang berkembang di daerah Jawa serta tidak
ada catatan sejarah kata ngeliwet atau liwet secara pasti angka tahunnya.
Kemungkinan sudah tradisi Nusantara liwet sudah ada sejak masa prasejarah.
Mengutip cerita
di Nusantara kata “liwet” muncul bermula dan dikenal pada berdirinya kerajaan
Mataram Islam, sekitar tahun 1800an. Akan tetapi pada dasarnya kebiasaan
menanak nasi dengan proses liwet, jelas peradaban kuno yang hanya saja tidak
menemukan bukti sejarah kepastiannya.
Liwet merupakan
salah satu cara memasak nasi dengan digodok seperti membuat bubur, akan tetapi
sedikit agak keras dari kelembekan bubur dan memilki ciri khas beupa “intip”
atau kerak nasi akibat terlalu lama di atas tungku masak. Adapun alat yang
digunakan untuk memasak dimulai terbuat dari bahan tanah liat sampai dengan
panci aluminium atau biasa dikenal dengan nama kenceng atau ompreng. Kini tradisi
ngliwet dilestarikan oleh kalangan santri ketika memasak.
Proses
prakteknya, beras dimasukkan kedalam panci dan diberi air sekitar 1:3, yakni 1
untuk beras dan 3 untuk ukuran airnya. Selanjutnya panci di taruh di tungku
yang terbuat dari batu bata atau dari tumpukan batu seadanya, sehingga nasi
melalui proses godok sampai air untuk menanak habis dan nasi sudah masak.
Selanjutnya nasi yang dipanci ditutup rapat memakai daun pisang atau
sejenisnya. Disamping nantinya aroma nasi menjadi lebih harum, juga menambah
ciri khas rasa serta penutupan rapat ini agar nasi lebih masak atau dalam
bahasa jawa, taneg.
Proses ngliwet
dinikmati oleh santri disamping cara kerjanya yang simple, juga memiliki rasa
serta aroma harum pada nasi. Kemudian ketika nasi sudah masak, nasi diangkat
serta dituang dalam wadah seadanya; mulai tutup panci yang lebar, beki bahkan
dituang di atas lantai agar cepat dingin.
Adapun lauk
yang dipakai juga beragam, sesuai kemampuan kelompok masak santri. Mereka lebih
terbiasa dengan menu sambal ikan asin, sambal terong, tomat, bahkan hanya yang
berlauk garam. Yang terpenting adalah bagaimana santri bisa kenyang serta kuat
menjalankan aktifitas ngaji tanpa lesu.
Ngopi Ala
Santri
Ketika selesai
memasak atau ngeliwet, kebiasaan santri selanjutnya adalah mengisi panci yang
baru saja dipakai untuk wadah ngliwet, diisi kembali dengan air secukupnya dan
diletakkan diatas tungku yang terdapat api sisa memasak. Air tersebut yang
nantinya dimanfaatkan untuk menyeduh kopi.
Sambil menunggu
air dalam panci mendidih, kelompok masak santri mencuci serta membereskan wadah
yang telah terpakai untuk ngeliwet. Selanjutnya salah satu bertanggung jawab
untuk menyeduh kopi dan yang lainya segera cuci tangan dan berkumpul kembali di
teras-teras pesantren. Mereka kembali lagi dengan sahabat-sahabatnya, berkumpul
sambil membawa buku atau kitab pelajaran yang akan dikaji keesokan harinya.
Mereka berdiskusi, satu-persatu secara bergantian membacakan makna dari
paragraf-perparagraf isi kitab untuk dikaji dengan nuansa santai serta riang
bercengkrama.
Adapun cara
penyajian kopi juga berbeda-beda, adakalanya diseduh dengan satu wadah kemudian
diminum bersama secara bergilir. Ada juga yang dibagi dengan satu gelas untuk
diminum dua santri dan seterusnya.
Santri Ngopi
dan Ngeliwet sebagai sarana wadah sejuta harapan
Pada masa
sebelum tahun 2014an, seringkali lembaga pemerintahan menganggap keberadaan
santri selalu menjadi kendala dalam kemajuan IPTEK. Lembaga-lembaga negeri
maupun swasta, menganggap santri identik dengan ketertinggalan informasi dan
kemajuan IPTEK. Akan tetapi setelah kesempatan fasilitas diberikan kepada
pesantren, justru santrilah yang tekun dalam latihan pengembangan diri sesuai
dengan fasilitas yang diberikan. Kemampuan para santri dalam kreatifitas pun
juga tidak kalah dengan lembaga-lembaga formal yang mengembangkan tentang
pengembangan skill serta keilmuan tertentu. Terlebih, santri telah dibekali
pendidikan karakteristik, etika, serta kejujuran. Dimana karakteristik
nilai-nilai keluhuran ini tidak didapatkan pada pendidikan formal lumrahnya.
Disamping
karakteristik keluhuran yang dimiliki oleh santri, terdapat banyak para santri
yang notabene anak-anak yang lahir dari keluarga broken, super nakal, kecanduan
narkoba akibat salah pergaulan dan seterusnya, dapat teratasi ketika mondok di
pesantren. Seperti halnya anak-anak yang super bandel dan dikeluarkan dari
lembaga sekolah manapun, justru pesantrenlah yang dapat menyelesaikannya.
Pesantren bersikap sabar serta disiplin dalam mendidik para santri dengan
berbagai karakter para santrinya. Sehingga kami (penulis) menganggap bahwa pesantren
juga memiliki andil dalam menyelesaikan program kenakalan remaja bangsa ini.
Kultur
pendidikan pesantren dapat dikatakan sebagai kultur pendidikan yang unik.
Dengan pola-pola yang dapat dikatakan pola amburadul, tidak ada pakem
administratifnya, tidak ada modul serta silabusnya, akan tetapi seringkali
mencetak output yang tepat sasaran sebagai pendidikan karakter. Sehingga kultur
pesantren inilah yang perlu dikaji lebih mendalam tentang pola penerapan pada
masing-masing pesantren. Pola keunikan kultur pesantren tersebut, terdapat pada
kebiasaan santri atau katifitas-aktifitas santri yang menjadikan santri
tumbuhberkembang dengan berbagai bidang yang diminati.
Diantara yang
menjadikan santri menjadi insan yang tangguh dan berkarakter terwujud ketika
moment-moment santai keakraban, yakni moment santri menjalankan aktifitas “ngeliwet”.
Ternyata saya (penulis) menilai bahwa poses ngeliwet santri adalah moment
dimana santri mengeksplorasi kemampuan diri.
Ngeliwet atau
liwetan merupakan hal teristimewa ketika masa-masa Tholabul ilmi di
pondok pesantren. Selain menambah jalinan kekerabatan dalam kebersamaan
aktifitas, juga memiliki nilai kepekaan psikologi terhadap orang lain, rasa
saling tolong-menolong, serta rasa saling memberikan semangat.
Ketika moment
menunggu masaknya nasi, santri terbiasa berbincang-bincang ringan. Mereka
saling tukar cerita nasib mereka masing-masing. Misalnya tentang masa lalu atau
latar belakang sebelum mondok, kehidupan di perkampungan mereka, cita-cita
setelah mondok dan lain sebagainya, cerita itu akan tertuang cair ketika
kesempatan ngeliwet.
Banyak
cita-cita yang diceritakan santri ketika memasak, tercapai seakan ceritanya
menjadi do’a setiap hari dari teman-temannya. Sehingga banyak sekali para ahli
keilmuan, politikus, pegiat sosial, pejabat pemerintahan, pengusaha dan
seterusnya berawal dari inspirasi-inspirasi ketika santri ngerumpi pada moment
masak. Adakala mereka yang baru pertama masuk pesantren, dapat kerasan karena
sering diajak memasak dan makan bersamaan. Selain itu banyak juga dari para
santri yang hanya memiliki cita-cita menjadi koki yang handal setelah pulang
dari mondok, sehingga mereka terlihat semangat ketika waktu memasak, bahkan masakannya
pun lebih enak disbanding dari santri-santri yang lainnya.
Sehingga proses
sekecil “ngeliwet” ini, dapat mewujudkan kreasi santri dalam dunia kerja
yang nantinya dilakukan dalam kehidupan rumah tangga dan sebagai modal utama
menjalin sosial kemasyarakatan.

Kelingan ngliwet, di bawahnya itu slalu ada intep nya
BalasHapusSepertinya sampean santri kawak mas Aziz 🤭 semangat santri kawak 💪
HapusMantabb Mas
BalasHapusIjin melaporkan kenakalan santri mbak ekka 🙏
HapusIndah sekali mas Khosis
BalasHapusNgapunten diksi dan penyusunan masih amburadul. Hanya semangat ikut nulis aja..
Hapus