Semangat Maulid Adat Suku Sasak; Tradisi Upacara Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Masyarakat Desa Gumantar Kabupaten Lombok Utara (KLU) Nusa Tenggara Barat.
Terhitung sudah lima kali saya berkunjung di daerah adat sekitar
Nusa Tenggara Barat (NTB). Pertama saya berkunjung di daerah Mataram dengan
nuansa bangunan megah pada tahun 2010, banyak Universitas dan pondok pesantren
dan tradisi adat ala perkotaan pada umumnya. Kedua kami berkunjung di kabupaten
Lombok Utara, daerah Gumantar sekitar 2 kali pada tahun 2020 ala nuansa kampung
asri di lereng kaki gunung Rinjani. Terakhir kunjungan 2 kali di daerah Lombok
Tengah sekitar sirkuit Mandalika pada tahun 2021 dan tahun 2022. Akan tetapi
kenangan masih melekat ketika berkunjung kampung adat di daerah kabupaten
Lombok utara (KLU).
Di lereng gunung Rinjani tepatnya di Dasan Beleq Desa Gumantar
Kecamatan Kayangan, banyak menyimpan kearifan yang luar biasa, baik Adat,
tradisi maupun budaya yang khas oleh masyarakat suku Sasak. Mereka beraktifitas
sebagai petani dan pekebun, memiliki perilaku rukun serta identik dengan
kearifan-kearifan lokal yang melekat sebagai jati diri suku sasak yang luhur.
Desa Gumantar memiliki 14 dusun, diantara dari keempat belas,
terdapat satu dusun yang memiliki khas dengan perilaku adat, pranata sosial
khas suku sasak dari para leluhur mereka yakni dusun Dasan Beleq.
Di Dusun Dasan Beleq ini juga memilki hutan adat seluas 9 hektar
dan dilengkapi dengan sumber mata air yang dijaga oleh peraturan adat secara ketat.
Baik dalam proses pengambilan air sumber, penanaman pohon, proses panen sampai
kepada penataan rumah huni masyarakat sekitar. Terlebih dalam prosesi Syukur
yakni dalam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.
Maulid Adat Adalah Bentuk Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Masyarakat Lombok mayoritas beragama Islam, dengan istilah lain
memiliki julukan kota seribu Masjid yang mencapa 9.996 bangunan masjid pada
data tahun 2022. Lain di daerah kampung adat, meskipun mayoritas beragama Islam
mereka tetap mempertahankan satu masjid yang terjaga keasriannya dan kesakralannya
secara adat.
Struktur bangunan Masjid terbuat dari bambu dan beratab dari daun
ilalang yang dirangkai teratur layaknya bangunan rumah kuno yang beratapkan
dari daun ilalang. Selain itu masjid adat didesain seperti bangunan masjid
Demak, yakni memilki struktur kubah limas susun perpaduan gaya rumah ibadah
agama Hindhu dan tidak kalah menarik lagi memiliki tradisi dalam memperingati
maulid Nabi Muhammad SAW yang dinamakan “Maulid Adat”.
Prosesi
ritual Maulid Adat di Desa Gumantar dilaksanakan sekali dalam setiap tahun, dan
berlangsung selama dua hari dua malam. Adapun prosesi-prosesi maulid adat
diantaranya;
1.
Pada hari pertama
Masyarakat
Gumantar menjelang pelaksanaan Maulis adat adalah “meleah” atau memperindah
tampilan di sekitar Bale gubug (bersih kampung), memperbaiki pembatas/pagar
(penyengker) Masjid Kuno Adat, bersama-sama membersihkan lokasi pelaksanaan
prosesi maulid adat dan membersihkan sungai (lokok bikuk). Masyarakat juga gotong-royong
mengumpulkan segala hasil bumi di Bale Beleq (rumah adat). Dalam
persiapannya, karena bahan makanan yang dimasak dalam jumlah besar serta muat
untuk satu kampung, maka perlu persiapan seminggu sebelumnya untuk proses
pengumpulan, mulai aneka sayur, bumbu masakan dan seterusnya hingga hari dimana
kapan pelaksaan berembun pada maulid adat.
Selain itu, masyarakat
bergotong-royong membuat “Jojor” (lampu untuk kebutuhan penerangan yang
terbuat dari kapas dan buah jarak pagar yang di racik jadi satu). Selanjutnya,
mengambil padi dari lumbung (sambi) untuk persiapan nasi untuk kebutuhan
prosesi maulid adat serta dan menentukan praja Mangku dan Praja Penghulu. Praja
ini terdiri dari 4 orang, yakni dua orang yang sudah tua dan dua orang lagi
yang masih usia anak-anak. Praja inilah yang bertugas menumbuk padi bulu untuk
dijadikan nasi ayat serta berada paling depan dalam bisok beras maupun ketika menailki
ke Masjid Kuno dalam puncak pelaksanaan Maulid Adat. Sedangkan Praja Maulidnya
yang terdiri dari 2 orang berada di belakang dari praja itu
2. Pada
hari kedua
Kegiatan maulid adat
pada hari kedua adalah mempersiapkan kayu bakar, menurunkan gong dua kemudian
mencucinya di Lokok Bikuk (sungai/belik). Setelah selesai mencuci, gong dua itu
dikembalikan ke Bale Beleq untuk dilakukan ritual tabuh selama tiga kali,
kemudian diletakkan di depan Mesjid Kuno untuk ditabuh selama berlangsungnya
prosesi Maulid Adat. Adapun sebelum mulai ditabuh, ada prosesi penyembelihan
ayam terlebih dahulu kemudian dimulai penabuhan gong dengan irama khas
masyarakat adat Gumantar.
Pada prosesi penabuhan
gong serta kelentangnya berlangsung oleh para laki-laki, sedangkan perempuan
masyarakat adat berjejer membentuk barisan banjar ke belakang, mereka menari
bersama dengan tarian khas masyarakat suku sasak yang dikenal dengan istilah
Migel.
Selain itu dilakukan
kegiatan “Merembun” (mengumpulkan) segala hasil bumi yang telah
disiapkan sebelumnya; seperti beras, bumbu rempah dan sebagainya di Bale Beleq
(rumah adat) untuk persiapan memasak nasi. Dalam acara merembun ini dilakukan
oleh perempuan dengan menggunakan wadah Praras (bakul kecil) dan berpakaian
adat. Pada sore harinya bisok (mencuci) beras di Lokok Bikuk oleh praja Mangku
dan Praja Penghulu bersama dengan inan pawon dan diiringi oleh sedikitnya 10
hingga 12 orang perempuan dengan menggunakan pakaian adat khas Gumantar.
Selama prosesi puncak Maulid
Adat belum dimulai, tarian Migel oleh masyarakat adat Gumanatar masih tetap
berlangsung di alun-alun Mesjid Kuno Gumantar dan mempersiapkan Ancak untuk
wadah membawa nasi ke Mesjid Kuno Adat.
Selanjutnya para
sesepuh adat (taulokak) beserta jajarannya bersiap di gazebo adat (berugak)
dengan khas pakaian adat. Sehingga Puncak acara Maulid Adat masyarakat Gumantar
paripurna dengan ditandai oleh para pembawa sesaji maulid masuk kedalam masjid
adat dan pemimpin adat memimpin pelaksanaan prosesi do’a bersama.
Maulid Adat sebagai Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW
Peringatan tentang
sejarah tentang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pertama kali
muncul pada masa Islam dibawah kepemimpinan Sholahuddin al Ayyubi pada tahun
580 H (1184 Masehi), dimana raja haromain ini menyerukan kepada masyarakat
muslim untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai wujud kecintaan
kepada Rosulullah SAW serta sebagai dakwah Islamiyah.
Sehingga pada
praktiknya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan dengan gaya peringatan
ala masyarakat Muslim dengan berbagai kultur budayanya masing-masing. Seperti
halnya di negara Indonesia memilki berbagai suku serta budaya dengan ciri khas
shodaqohan atau sedekah dengan makan bersama hasil bumi.
Selanjutnya,
masyarakat adat suku sasak dalam memperingati maulid Nabi juga dengan ala
kesukuan dengan mengolah hasil bumi serta makan bersama. Dari satu sisi, perayaan maulid
adat oleh masyarakat adat Gumantar adalah terlihat sebagai kegiatan pemborosan
yang tidak perlu, tetapi dari sisi lainnya perayaan maulid adat merupakan wujud
kecintaan masyarakatnya terhadap utusan teristimewa yang diciptakan oleh Allah
SWT, yakni Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Karena Nabi Muhammad SAW merupakan sebagai
suri tauladan untuk seluruh alam dan masyarakat adat sasak mayoritas menganut
agama Islam.
Sebuah
pengorbanan serta pengabdian panjang yang dilakukan masyarakat suku sasak
sebagai rasa kecintaan serta Syukur yang mendalam atas keberkahan munculnya
rosul sebagai lentera kehidupan baik di dunia dan akhirat.




Wah keren sekali
BalasHapus