Santri dan Aplikasi Agensia Hayati Lokal
Peran Aktif Santri dalam Mengembangkan Ketahanan Pangan Menjadi Ajang Bergengsi Era Millenial
Sejak sebelum
kemerdekaan, peran santri dalam membangun ketahanan pangan merupakan sebuah
langkah gerakan konkrit dalam melestarikan kearifan lokal bidang pertanian.
Agencia hayati diaplikasikan bertujuan untuk mempertahankan pangan masyarakat
sekitar pesantren serta internal pesantren guna menghidupi para santri.
Setiap santri
pada era sebelum tahun 1990an sampai pra kemerdekaan, dituntut untuk
mengembakan lahan pertanian sebagai pembelajaran serta kebutuhan pangan selama
di pesantren. Tidak jarang pasca menjadi santri (alumni) santri dapat mandiri
bekal pembelajaran selama mengembangkan pertanian di pesantren. Teori
pengendalian hama tanaman, pola pengembangan bakteri pengurai kompos, telah
dikembangkan melalui pesantren dengan nama-nama yang lokal yang diidentifikasi
oleh para santri selama Bertani.
Selain itu,
efek turunan dari pengembangan pertanian, santri juga mengembangkan peternakan
sebagai imbal balik dari sisa-sisa pertanian kemudian dimanfaatkan untuk
kebutuhan peternakan. Sehingga dua pilar ini, yakni pertanian-peternakan tumbuh
sempurna dalam menemani ketahanan ekonomi di pesantren.
Semenjak kemunculan
tentang adanya penjajahan, pesantrenlah yang menjaga diri dari serangan kaum
penjajah mulai portugis hingga penjajahan jepang. Pesantren dapat
mempertahankan diri dari bahaya penjajahan yang mengambil paksa hasil panen dan
memperkerjakan orang pribumi dengan tanpa manusiawi. Selain lokasinya yang jauh
di pelosok desa, kemungkinan lain dari aksesnya yang sulit dijangkau sehingga
para penjajah tak mampu menjangkau pergerakan pesantren.
Peran Agensia
Hayati dalam Ketahanan Pangan
Agensia hayati
pada dasarnya adalah segala perlakuan organisme, baik species tanaman, sub-species,
varietas, bakteri, cendawan, virus, serangga, protozoa dan sebagainya yang
dalam tahap perkembangan bisa dipergunakan untuk pengendalian hama atau
organisme agar dapat menghasilkan panenan yang maksimal.
Dalam
praktiknya, perlakuan perawatan tanaman dimulai dari tahap pembibitan tanaman,
kebutuhan tumbuh tanaman sampai kepada kebutuhan ketika tanaman mulai berbuah
juga perlu perawatan gerakan dan perhatian khusus. Adapun agensia hayati ini
lebih menitiktekankan kepada pola kebutuhan natural sebagai pengendalian
permasalahan selama proses pemeliharaan.
Ekosistem tumbuh
tanaman sebenarnya sudah disiapkan alam untuk keperluan tumbuh kembangnya
tanaman. Akan tetapi keberadaan tanaman mengalami sulit berkembang dikarenakan
komponen kebutuhan tumbuh hilang dari unsur hara tanah. Akibatnya tanaman
mengalami berbagai masalah dalam proses tumbuhnya. Baik terkena virus daun,
bakteri busuk akar, tanaman kerdil dan seterusnya. Belum lagi ditambah kendala
tumbuh yang disebabkan dari serangan hama lainnya.
Seringkali
permasalahan-permasalahan tumbuh tanaman muncul di berbagai media tanam. Hal
ini merupakan akibat dari perlakuan obat kimia yang dapat merusak unsur hara
yang dibutuhkan oleh tanaman. Baik herbisida, fungisida, insektisida, pestisida
maupun perobatan lainnya dengan harapan tanaman agar mampu panen dengan
maksimal. Akan tetapi perlakuan kimia justru merusak kandungan unsur hara yang
berakibat tanaman sulit tumbuh.
Sehingga dari
temuan permasalahan dalam pertanian, bahwa agensia hayati menjadi solusi para
petani agar mengetahui lebih mendalam tentang kebutuhan tumbuh tanaman dan
hasil panen juga maksimal.
Santri Tani Ajang Bergengsi Era Mendatang
Pertumbuhan
sektor pertanian di Negara Indonesia keterpurukan melawan wabah Corona, dari
tahun 2021 sampai tahun 2023 sektor pertanian Indonesia mengalami pertumbuhan
secara signifikan. Meskipun negara Indonesia terhitung negara yang terlambat
mengembangkan sektor pertanian, setidaknya Indonesia ada langkah pembaharuan
untuk mengelola lahan milik sendiri terutama regenerasi membentuk petani muda
melalui program YESS (Youth Entrepreneurship Employment Support Services), Desa
Desmigratif, Taruna Tani dan seterusnya. Berbagai program pemerintah diharapkan
mampu berkolaborasi antara akademisi pertanian dengan pelaku pertanian.
Dalam
menyiapkan pengembangan sektor pertanian Indonesia terbukti mampu mengembangkan
berbagai hasil pertanian, baik dari Holtikultura, tanaman pokok maupun
palawija. Dari holtikultura, Indonesia mampu mengekspor bawang merah, bawang
putih, sayuran ke negara-negara Asean. Selanjutnya Indonesia perlu menambah
kembali suplay kebutuhan pasar yang lebih memadai.
Disamping
pesatnya perkembangan sektor pertanian di Indonesia, dibaliknya juga tidak
terlepas peran pesantren dalam menata sektor pertanian. Pada tahun 2023 ini
banyak pesantren yang memaksimalkan sektor pertanian dan memaksimalkan hasil
olahan pertanian. Seperti halnya pesantren Al-Ittifaq Jawa Barat, Pesantren
Sidogiri, yang memiliki sektor pertanian sampai kepada kebutuhan pasar eksport.
Belum lagi pesantren-pesantren baru yang bermunculan mengembangkan sektor
pertanian seperti halnya pesantren Raden Abdul Halim Tulungagung Jawa Timur
yang memaksimalkan lahan hektaran menjadi pertanian organik.
Sektor
pertanian merupakan sektor kebutuhan primer untuk menjawab kebutuhan
perekonomian di negara Indonesia, sehingga perlu regenerasi terutama santri
untuk memaksimalkan pendidikan dalam bidang pertanian yang berbasis pondok pesantren.
Dari perlakuan
pengembangan kurikulum pesantren dengan melibatkan pendidikan pertanian kepada santri
akan mewujudkan pertanian modern serta ramah lingkungan dengan memanfaatkan
agensia hayati sekitarnya. sehingga kedepannya para petani tidak lagi kebingungan soal kebutuhan benih maupun perobatan pertanian dikarenakan generasi santri mampu melakukan pembuatan sendiri dengan memanfaatkan tanaman yang tumbuh disekitar.
penulis yakin, dalam kurun waktu sekitar lima tahun kedepan, santri akan banyak menghasilkan produk hasil pertanian juga olahan dari hasil pertanian yang berskala mandiri serta mampu meraih kontestasi pasar internasional. Hal ini sangat mungkin karena segala kebutuhan tani sudah dikembangkan secara mandiri mulai dari kebutuhan bibit tanaman serta kebutuhan perlakukan tanaman hingga panen dan dikemas melalui koordinasi pesantren. Dimana pesantren akan menjadi ruh semangat atau ghirah serta induk yang terus melaju mengembangkan pertanian secara mandiri.
Selanjutnya nasib santri akan tumbuh berkembang dengan memaksimalkan sektor pertanian serta produk-produk turunannnya guna sebagai bahan olahan industru. disamping itu, alumni pondok pesantren juga dibekali berbagai ilmumanagement perdagangan tentunya menjadi support system program-program pesantren dan pemerintahan.

Santri harus belajar mandiri.
BalasHapusMohon ijin pak,. belajar mandirinya sudah dimulai meski masih tingkat amatiranš¤ tp praktek ber-taninya kayaknya lebih ekstra lg. Krn asumsi petani terlanjur melekat dg sesuatu yg membosankan.
HapusPemberdayaan Santri dan Pesantren menjadi modal pembangunan nasional menuju kejayaan Indonesia Raya
BalasHapus