“Sahadat Panetep Panotogomo”; dan Huru-Hara Mega Proyek Penyalahgunaan Kunci Para Pemburu Harta Amanah Ir. Sukarno

 


Malam itu, hanya ada beberapa orang yang masih terjaga. Terdengar suara binatang malam yang membuat suasana malam terasa benar-benar larut. Mbah Harjo, sapaan akrab lelaki sepuh sembari menemui para tamunya dengan menyulut lentera minyak layaknya jaman tempo dulu, “monggo nak, pinarak”.Sambut mbah Harjo dalam suara khas sepuhnya.

Ikat kepala ala masyarakat jawa tempo dulu juga tak lupa selalu menghiasi mbah Harjo dalam menyambut siapapun yang datang di gubuk sederhananya. Di usia lebih dari satu abad, mbah Harjo tetap wigati setia mengabdi untuk Negeri tercinta. Mbah Harjo lah sebagai saksi hidup pada zamannya yang selalu mengdampingi presiden pertama Indonesia dalam hal spiritual.

 

Pertemuan Sakral dengan Mbah Harjo

Arjo Suwito (1825-2018 M) alias Mbah Harjo atau Harjo Gentelot yang tinggal di lereng gunung Kelud, tepatnya di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Suatu ketika pada malam jum’at tiba, ketika rombongan Mbah haji Malik melakukan silaturahim kepada Mbah Bambang atau akrab disapa Mbah Bambang Gentolet yang beralamatkan di gunung Gedang Kabupaten Blitar.

Malik dan kawannya telah bersama rombongan sowan kpd Mbah Bambang berniat tirakatan. Mereka dari rumah memang berniat untuk melakukan ritual mencari sesuatu rahasia di bumi Nusantara terutama sejarah Bung Karno alias Ir.Soekarno yang konon membawa ribuan rahasia tentang Indonesia terlebih tentang harta karun yang tersembunyi di bawah komando presiden pertama Indonesia.

Selanjutnya, Malik beserta rombongan memohon ijin kepada Mbah Harjo untuk memimpin do’a untuk para pejuang bangsa Indonesia beserta hajatnya untuk diberikan petunjuk tentang kejelasan harta Amanah Sukarno.

Selesai berdo’a dan lakukan prosesi ritual, malik beserta rombangan berpencar di sudut-sudut gubug mah Harjo. mereka menikmati suguhan dari Mbah Harjo, serta bercengkrama riang layaknya tradisi jawa setelah melakukan ritual, yakni menikmati kopi dan udud. Hal berbeda yang dialami oleh Malik, yang merasakan hawa gelisah setelah melakukan prosesi ritual. Malik merasakan ada sesuatu yang menyapa, tetapi bingung firasat serta sapaan apa yang membuat dirinya menjadi gelisah.

Tidak lama kemudian, jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Hawa dingin lereng gunung Gedang semakin menunjukkan jati dirinya, sehingga Malik dan rombongannya kedinginan dan berujung ngantuk. Luapan mulut teman-teman Malik terlihat dari remang sorot lentera mbah Harjo. Setengah jam berikutnya, teman-teman Malik sudah bergelimpang tertidur pulas bahkan diantara mereka sudah pada mendekur saking pulasnya tidur.

Hati malik tetap saja bingung, merasakan satu-persatu kejanggalan hawa sekitar padepokan Mbah Harjo. Seiring desiran angin menambah suasana padepokan menjadi sepi, tak terlewatkan suara jangkrik membunyikan music seruannya. Tiba-tiba, suara-suara itu hilang lenyap tak terdengar satu pun. Malik terus menikmati pergantian ritme malam, menganggap hal seperti itu sudah biasa dialami Malik di kampung halaman dan pondok pesantren. Malik teringat wejangan kakeknya, bahwa waktu malam yang sepi dengan suara hewan, menamakan waktu dengan “sidem Kayon”.

 

Sidem Kayon

Dalam sebuah cerita turun-temurun orang jawa, waktu sidem kayon adalah waktu dimana binatang berhenti dan suasana malam menjadi sepi, pertanda pergantian siklus dimensi alam gaib berpindah yang lebih bersih dan lebih halus tingkatnya.

Sidem kayon dijumpai setiap malam sekitar pukul 23.30 sampai dengan 00.30an dimana menurut orang-orang tua jawa, sidem kayon adalah pergantian alam dimensi makhluk astral seperti pocong, genderuwo, kuntil anak, dan seterusnya mulai bersembunyi di persembunyian semula dan berganti dari makhluk gaib (di luar manusia) yang berkasta rendah menuju kebangkitan siklus alam para Jin dan raja-raja Jin yang tingkat derajatnya lebih tinggi. Kemudian sekitar pukul 2.30, berganti lagi menuju perputaran siklus alam para arwah sampai terbitnya fajar sodiq (waktu subuh).

Pada pergantian malam setelah sidem kayon, ada perputaran waktu yang dinamakan “fajar kadzib” atau fajar yang terbit hanya sementara. Dalam pengetahuan Islam dinamakan fajar kadzib dikarenakan hanya tipuan belaka agar seakan waktu subuh, ada tanda sorot terang di bagian timur dan binatang termasuk ayam pun mulai berkokok pada siklus ini. Akan tetapi pada pukul 2.00 sorot terang itu beransur-ansur mulai meredup dan hilang.

Pada pukul 03.00 sorot itu mulai tampak dan suara ayam juga mulai berkokok kembali, menjemput munculnya fajar sodik. Pada siklus ini, jawa dan islam mengenal sepertelon wengi atau sepertiga malam. Dalam siklus inilah alam arwah dan malaikat akan lebih dekat dengan alam para manusia. Sehingga siklus malam dalam tatanan islam baik untuk bermunajat dan dianjurkan untuk melaksanakan “qiyamul lail” atau sholat malam. Wallahu a’lam

 

Wahyu Keprabon

Malik, masih juga duduk bersandar sambil menikmati hisapan rokok seraya berangan-ngan tentang sebuah perjalanan pelik falsafah pengetahuan Jawa. Diantara teman-temannya serombongan, Malik-lah yang masih terjaga dan duduk diantara tema-temannya yang sudah tertidur pulas. “Loh, Nak Kaji kok dereng tilem? (Loh, Nak Haji kok belum tidur? ;red.jawa), tanya mbah Harjo kepada Malik. “dereng mbah” timpal Malik kepada mbah Harjo. “Lha ten Nopo Nak, kok mboten sare?” tanya mbah Harjo kembali. “lha nggih ta mbah, kulo wau mriki gadah hajat tirakatan, lha kok rencang sak bolo kulo sami tilem niki pripun? Ature sami tirakatan” jawab Malik dengan nada gelisah atas perbuatan teman-teman malik yang sudah terkapar tidur pulas.

Mbah Harjo dari kejauhan duduk sendiri sambil menyulut lentera balenya yang terbuat dari kapuk dilumuri minyak biji jarak yang digerus. “Nak Kaji, kemarilah! Mendekatlah dan duduklah bersamaku” sapa mbah Harjo dengan nada pelan kepada Malik. “inggih Mbah”, sahut Malik.

Mendengar sapaan itu, kemudian Malik bergegas mendekat menuju dimana mbah Harjo duduk di balai gubuknya. Disinilah wejangan tentang rahasia Bung Karno diwedar satu-persatu kepada Malik dengan hati-hati dan khidmat. Malik pun terbuka pikirannya yang selama ini terhasut oleh perkataan orang-orang yang mengaku pembawa surat atau dokumen yang mengatas namakan “Harta Amanah Sukarno” (Presiden pertama Republik Indonesia). “Oh ya, sini nak haji, mendekatlah lagi kesini disampingku”. Kata mbah Harjo seakan ingin menyampaikan sesuatu yang bersifat rahasia.

Akhirnya percakapan dimulai antara Mbah Harjo alias mbah Bambang Gentolet dengan Malik tentang kunci pemegang harta Amanah Sukarno. Mbah Harjo memberikan password pembawa Amanah Sukarno itu, akan tetapi hanya sebatas “kata kunci” pembawa Amanah yang selama ini banyak orang tertipu sampai Milyaran rupiah demi sesuatu yang belum pasti dan bahkan sampai kehilangan keluarga demi mengejar harta tak jelas.

 

Sadat Panetep Panotogomo

Pemaknaan kehidupan ala Jawa yaitu tentang falsafah hidup yang tertuang dalam sahadat panetep panotogomo. Orang Jawa (wong kejawen) mengenal istilah sadat panetep panotogomo, adalah suatu ikrar atau janji diri sendiri akan sebuah prinsip dasar atau hukum dasar yang bersumber dari Jati diri Pribadi, yang merupakan ketekatan bahwa diri ini adalah sifatullah. Yakni sebagai bayang-bayang makhluk dari Dzat sifat kebesaran Allah SWT.

Sadat Panetep Panotogomo sendiri muncul pada masa Jawa Kuno dan kemudian disempurnakan melalui dakwah Sunan Kalijaga ketika memedar keilmuan tasawuf tingkat tinggi melalui media pewayangan dan kajian padepokan atau pesantren.

 

Adapun falsafahnya “Sadat (sahadat) panetep panotogomo” sebagai berikut;

 

Ratu Kesdik, Sidik panetep panotogomo, Niyatingsun angrawuhi sadat panetep panotogomo.

Roh ilapi (idhofi) kang dadi telenging ati, kang dadi telenging ati-kang dadi pancering urip, kang dadi lajering Allah. Kang madhep maring Allah,iya ingsun sejatining manungsa sampurno, slamet donyo slamet ngakherot.

Yen alum," siramono", Yen doyong;",jejegno",

Jeg jejeg saking kersaning Allah,"Laa ilaaha illallaahu Muhammadur Rasulullaah".

 

Dalam redaksi sadat panetep panotogomo dalam guru spiritual lain yang pernah dilalui Malik, seperti dibawah ini;

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Syahadat panetep panotogomo-kang jumeneng Roh Idhofi,kang ana telenging ati, kang dadi pancering urip, kang dadi lajering Allah.madhep marang Allah-iku wayanganku,"Roh Muhammad",iyaiku sejatining manungsa,iyaiku kang wujud sampurno,Allaahumma kun walikun,jukat astana Allah,pan kapatullaah,yaa Huu Allah,Muhammad-Rasullaah.

 

Hikmah Wedaran sadat panetep panotogomo

Esensi manusia adalah Ruh Idhofi atau Ilapi, disebut pula dengan sebutan Nur Muhammad, atau Muhammad Sejati (bukan Muhammad bin Abdullah). Dan Ruh Idhofi ini adalah wayangan/bayangan yang diciptakan oleh Allah SWT. Sehingga dengan adanya sadat panetep panotogomo, senantiasa mengingatkan kepada hamba-Nya, bahwa manusia ini adalah bayangan atas makhluk Allah.

  Dari sini dapat diambil hikmahnya bahwa;"Kesaksian pengokoh inti syahadat ini adalah sebagai Roh Idhofi (spirit yg menguatkan),yg ada di pusat bathin,yang tidak lain adalah sumber kehidupan,yang merupakan satu keadaan dengan Sang Ilahi,yang senantiasa menghadap Allah, itulah bayangan/percikan Allah,yang disebut Ruh Idhofi atau Muhammad Sejati dan itulah sejatinya manusia dan itulah wujud sempurna.

   Syahadat/persaksian “sadat panetep panotogomo” akan selalu mengikuti alam kesadaran masing masing, ketika;

 

-          Ketika alam kesadaran terendah atau alam nasut (alam kebendaan),maka persaksian yang benar adalah; "Aku menyaksikan bahwa aku adalah batang tubuh".

-          Dalam alam kesadaran alam akal,maka persaksian yg nenar adalah bahwa; "aku menyaksikan bahwa aku adalah akal".

-          Didalam alam sukmawi,maka kesaksian yang benar adalah "aku menyaksikan bahwa aku adalah suksma".

-          Di dalam alam kesadaran Alam Qolbu,maka kesaksian yg benar adalah; "aku menyaksikan bahwa aku adalah qolbu".

-          Dalam kesadaran alam malakut,kesaksian yg benar adalah; "Aku menyaksikan bahwa aku adalah Ruh".

-          Dalam kesadaran mulkiyah,kesaksian yg benar adalah; "aku menyaksikan bahwa aku adalah Ruh Suci/Ruh Quddus".

-          Didalam kesadaran Alam Nurani atau alam ilahiyah/alam lahut,maka kesaksian yg benar adalah; "Aku meyaksikan bahwa aku adalah nurani atau aku menyaksikan bahwa aku adalah Nur Muhammad".

-          Didalam Alam Robbaniyah atau alam ahadiyah,maka kesaksian yg benar adalah; "bahwa aku menyaksikan bahwa aku adalah dzatullah".

 

Rahasia Siapa yang dapat Mengeluarkan Harta Amanah Sukarno menurut Mbah Harjo

Mbah Harjo masih berlanjut Menceritakan bahwa yang bisa mengambil harta Sukarno atau bungkarno adalah satria piningit. Nah, Satriya piningit sendiri belum bisa dikatakan Satria jikalau tidak menemukan goro-goro atau huru-hara keributan Negara. Selain satria piningit, juga keturunan Sukarno dari darah karakter Ibu Kunti.

Dari percakapan ini berinti bahwa; Mbah Harjo mewanti-wanti kepada Malik untuk selalu tidak serta-merta percaya kepada orang-orang yang mengaku satria piningit dan bisa mengeluarkan harta amanah Sukarno.

Akhirnya Malik pun menerima pesan dari Mbah Harjo;

“Jikalau kamu Nak Kaji, bertemu dengan siapapun yang mengaku katanya memiliki darah ibu Kunti (istri Sukarno) dan bergelar Satria piningit maka tanyakan sandi Matra ini kepadanya. (.... Maaf untuk tidak bisa ditulis disini). Jikalau tidak sama, berarti mereka bukan pewaris atau orang yang salah dan tidak bisa mengeluarkan harta Sukarno. Dan kepada siapapun jikalau ia mengaku-ngaku bisa mewujudkan Harta Sukarno, klo tidak sama maka mereka adalah penipu”.

“Jagalah kunci ini, Agar orang-orang awam tidak tertipu dari orang yang tidak bertanggung jawab, melalui koreksimu ketika mereka (para penipu pengaku pembawa Amanah) atas sandi yang dibawanya”.

 

Sambungnya, mbah Harjo juga menjelaskan kepada Malik tentang cara mengambil harta Sukarno itu bisa wujud munculnya tidak dengan cara digali atau dicangkul. Karena dulu cara ketika Ir.Sukarno menyimpannya juga tidak dikubur layaknya mengubur peti dalam tanah. Akan tetapi menurut penuturan mbah Harjo; dengan menabur pasir di atasnya. Seketika itu perhiasan Emas berbagai cetakan termasuk emas lempeng dst ditaruh sebuah peti aman, selanjutnya cukup disawur (ditabur) dengan pasir kering, bersamaan pasir itu jatuh ke tanah, disitu juga peti itu hilang tersimpan aman di dimensi lain.

Wallahu a'lam.

 

Komentar

  1. Mas Khosis, saya menikmati sajian malam Jumat ini. Matur nuwun catatannya. Kesan wingit dan sakralnya kental sekali.

    BalasHapus
  2. Sami2 mbak ekka 🙏 matursuwuun sdh berkomentar dan diikutsertakan nimbrung di forum SPK.. mohon saran kritik terkait tulisan, menambah semangat literasi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan