Progresifitas Kajian Ekologi Tingkat Pelajar



 Catatan Menjadi Pemantik dalam Materi Diklatama IPNU-IPPNU PAC Ngunut Tulungagung

By.MukhosisAbdul

Pada hari ini, Minggu 29 Oktober 2023 bertempat di Madrasah Diniyah “Miftahul ULum” Desa Sumberingin Kidul Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Penulis menyampaikan catatan hasil dalam kajian peserta tentang Ekologi dalam program CBP-KPP oleh IPNU-IPPNU PAC Ngunut Tulungagung.

Kajian Ekologi dalam ranah pelatihan tingkat pelajar, merupakan sebuah kajian yang masih awam tentang wacana Ekologi yang digarap panitia CBP-KPP. Akan tetapi nampaknya kajian ekologi merupakan kajian yang tidak kalah menarik dan perlu ditekankan dalam bentuk riel gerakan oleh generasi muda dalam menyiasati semakin parahnya kerusakan alam yang disebabkan tidak berimbangnya kebutuhan ekosistem.

Dalam kajian Ekologi ini, kami memfokuskan bagaimana pelajar lebih peka terhadap perkembangan masalah-masalah lingkungan sekitarnya dan bagaimana aplikasi kepedulian ekologi diterapkan dalam aktifitas kecil sekala rumah tangga. Sehingga setidaknya kami bersepakat bersama untuk mengawali dari diri pribadi dan memulai dari keluarga.

Kondisi Ekologi di Kabupaten Tulungagung

Pembahasan mengenai Ekologi merupakan sebuah bahasan krusial yang seharusnya sudah selesai dalam tataran pendidikan dasar. Akan tetapi aktifitas pola-pola perilaku masyarakat yang tidak memihak kepada keseimbangan ekosistem nampaknya sudah membudaya di dalam kehidupan masyarakat. Suatu misal diambil dari perilaku rumah tangga, mulai dari cara menata resapan air yang dekat dengan sumur konsumsi, pembuangan limbah dapur, letak sampah yang terbiarkan dibuang seenaknya dengan main lempar sambil duduk, menjadikan sungai dan selokan tempat sampah umum, dst. Sehingga aktifitas ini akan menimbulkan reaksi kerusakan lingkungan yang tidak dapat dibendung dan semakin parah.

Kerusakan ekologi seharusnya menjadi perhatian utama bagi kehidupan umat manusia. Akan tetapi tentang kerusakan ekologi kurang begitu diperhatikan dalam sektor apapun baik lingkup keluarga, lembaga pendidikan maupun instansi pemerintahan. Wacana tentang kepedulian lingkungan hampir saja menjadi soal lumrah, seakan hanya petugas kebersihan saja dan tukang pemulung sampah yang memiliki tanggung jawab kebersihan lingkungan.

Pada tahun 2023 wacana Ekologi di Kabupaten Tulungagung dapat dibilang miris dalam kerusakan ekologi, diantaranya;

1)    Kerusakan darat, yakni banyaknya hutan yang kehilangan pepohonan dan berakibat matinya sumber mata air. Tercatat beberapa kajian dasawarsa terakhir dengan pelaku aktifis lingkungan di Tulungagung, mengidentifikasi kematian sumber mata air di kabupaten mencapai 90% dari jumlah 2.000 lebih sumber mata air.

2)    Kerusakan Air, yakni sulitnya menemukan air bersih yang terhindar dari kontaminasi kerusakan alam sekitarnya yang diakibatkan dari tepi jalan dan selokan hampir seluruhnya terisi dengan banyaknya sampah domestik, pegunungan gundul berakibat kadar kapur dalam air meningkat dst.

3)    Kerusakan Udara, yakni mulai banyaknya bermunculan industri sekala menengah yang tidak memperhatikan efek AMDAL.

Selain itu, wacana sampah Tulungagung semakin memicu terjadinya ledakan sampah yang tidak terkendalikan. Dinas Lingkungan Hidup Kab. Tulungagung pada tahun 2023 mencatat bahwa sampah yang dihasilkan oleh masyrakat Tulungagung mencapai 500 Ton per-hari dengan kalkulasi sampah anorganik mencapai 60%. Adapun yang terkondisikan sekitar 120 Ton per-hari, sedangkan 350 Ton per-hari dalam tahap pembenahan dengan alasan kurangnya armada ataupun fasilitas tempat pembuangan sampah yang sudah tidak muat lagi menampung sampah.

Tulungagung perlu berfikir lebih keras dalam penanganan sampah yang semakin hari semakin tidak terkendalikan. Sehingga sebagai generasi muda sudah seharusnya mewujudkan terobosan-terobosan solusi dalam menyelesaikan permasalahan penanganan kerusakan ekologi serta penanganan kerusakan lingkungan akibat saking banyaknya sampah tak terkendalikan.

Ekologi dan Generasi Muda

Penyebab utama kerusakan ekologi pada dasarnya adalah hasil ulah tindakan manusia itu sendiri. Dalam pemenuhan kebutuhan hidup manusia, alam seringkali dipandang sebagai objek yang dapat diperlakukan semaunya. Prinsip ini nampaknya juga sudah membudaya di kultur masyarakat dan generasi muda, yakni memandang bahwa manusia menilai relasi kuasa dirinya dengan ciptaan yang lain. Pandangan ini disebut sebagai pandangan Antroposentris, dimana manusia menempatkan dirinya sebagai penentu serta pusat dari alam semesta.

Manusia menggambarkan dirinya sebagai penguasa sedangkan ciptaan yang lain sebagai pelengkap yang keberadaannya hanya untuk memenuhi segala kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam baru memiliki nilai ketika manusia menggunakannya. Manusia juga memandang dirinya terpisah atau bukan bagian dari alam itu sendiri. Sehingga perihal inilah yang menyebabkan alam dieksploitasi sedemikian rupa oleh manusia dalam ketamakannya untuk memenuhi keinginannya tanpa ada I’tikat untuk konservasi lingkungan.

Sebagai generasi muda, sudah saatnya menilai bahwa ekologi bagian dari kelangsungan dari kehidupannya. Tanpa keseimbangan ekologi, maka kehidupan manusia juga akan terganggu. Mulai bermunculan penyakit karena unsur Styrene plastik yang berbahaya bagi tubuh akan menyatu dalam air konsumsi manusia, meningkatnya populasi hama tanaman yang mengakibatkan gagal panen, kegersangan wahana hijau yang berakibat iklim serta suhu menjadi tidak teratur dst.

Langkah Progres Generasi Muda IPNU-IPPNU PAC Ngunut Tulungagung dalam Kepedulian Ekologi

Gerakan muda dalam kepedulian ekologi dipandang sebuah langkah konkrit sebagai sumbangsih terhadap keseimbangan alam. Terlebih dapat merubah kebijakan untuk penanganan persoalan sampah yang terjadi dimana-mana.

Generasi muda dapat menjadi aktor dan berperan aktif memberikan kontribusi positif dalam menekan aspek-aspek yang dapat merusak keseimbangan Ekologi. Melalui keterlibatan aktif pada agenda-agenda pengendalian sampah sekitar, pembersihan area sumber mata air dari sampah anorganik, program reboisasi, membentuk kawasan bebas sampah an-organik, serta program meminimalisir penggunaan energi dengan mewujudkan penggunaan sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan, membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, dan seterusnya. Sehingga generasi muda penentu peran aktif dalam aksi pioner menjadi salah satu penentu keberhasilan mencegah kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius.

Untuk itu, dalam langkah-langkah kesadaran lingkungan, IPNU-IPPNU PAC Ngunut memberikan materi pelengkap dalam Diklatama program CBP-KPP internal organisasi. Dengan harapan, dapat mewujudkan generasi muda yang peduli pada kelestarian ekologi, pengendalian perubahan iklim melalui aksi-aksi iklim dan energi bersih dst. Selain itu, sebagai generasi muda pelajar Nahdlatul Ulama, mampu mewujudkan gagasan baru solusi permasalahan 







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan