Pesantren ”Raden Abdul Halim”; Menjawab Kegersangan Re-Generasi Pendidikan Pesantren di Kalidawir


 

Awal perjalanan dengan membangun generasi dalam wadah pesantren, sekaligus menyongsong hari Santri 22 Oktober 2023

MukhosisAbdul_R.A.H. 

Pesantren Raden Abdul Halim adalah deretan pesantren yang tumbuh berkembang atas pesantren-pesantren yang telah vakum di sekitaran kecamatan kalidawir. Sehingga munculnya pesantren ini memberikan kontribusi serta inspirasi kepada pesantren yang selama ini dikatakan mati suri disekitaran kalidawir.

Awal mula pesantren di kecamatan kalidawir setidaknya ada sembilan pesantren diantaranya; 1) PP. Al Ma’arif Jabon, 2) PP. Darul Huda Betak, 3) PP. Darul Ulum Pakisaji, 4) PP. Darussalam Tanjung, 5) PP. Mahir Ar Riyadl Domasan, 6) PP. Tahfidz Putri “Nurul Fattah” Domasan, 7) PP. Raudlatul Muhsinin Karangtalun, 8) PP. Panca Hidayah Tunggangri , 9) Pondok pesulukan Sabilil Huda Karangtalun.

Sejak tahun 2000an pesantren-pesantren tersebut mengalami penurunan jumlah santri hingga menjadi vakum bertahun-tahun. Sehingga pada tahun 2017, tumbuhlah pesantren “Raden Abdul Halim” yang berdomisili di Salakkembang dan mengajak kembali pesantren-pesantren di sekitar  Kalidawir untuk bangkit kembali. Sampai sekarang jumlah pesantren di Kalidawir menjadi tiga yang masuk sebagai pesantren aktif, yaitu: PP. Raden Abdul Halim Salakkembang, PP. Putri Nurul Fattah Domasan dan PP. Panca Hidayah Tunggangri.

Pondok pesantren Raden Abdul Halim Salakkembang, berdiri bukan berdasar serta berazas kepada keluarga seperti pesantren pada umumnya, melainkan pesantren ini tumbuh semangat dari keinginan masyarakat untuk membangun bersama demi terwujudnya pondok pesantren. Sehingga mulai dari pendiri hingga struktur pengurus pesantren disini tidak ada kaitannya dengan keluarga kandung, melainkan keluarga besar yang tercipta karena ikatan satu misi yakni pesantren Raden Abdul Halim.

Pendiri pondok pesantren adalah sesepuh di lingkungan kecamatan kalidawir diantaranya; KH. Abdul Malik, KH. Muhtar Hadits, masyarakat sekitar; H. Khoiruddin, K. Saifuddin Zuhri beserta isterinya dan beberapa tokoh Nahdhiyin Kalidawir; H. Supri Karangtalun, H. Siyar Krandegan, H. Sumardji Karangtalun, KH. Museni Abdurrohman Domasan, KH. Tohir Mustajab (alm.), H. Nur Kholiq Tunggangri (alm.). Selain itu dari beberapa relawan muda; Deddy Irawan, Tiis Sudaryati, Fathul Muthohar, Zidni Fauzi, Fatkhurrohman Nur Awalin, Ahmad Shohibi, Adib Hasaani, Abdul Mukhosis, Tsalis Arisna Mustofa, Ahmad Mulyadi, Nur Mukhlison, Abah Kosim, H. Tamam, Khozin Asrori, Nur Khozin, Muh. Fahmi, Bibit, Adi Tjahjono, Purwanto, M. Syukron Makmun, M. Adhar, Ibnu Mundzir, dan masih banyak gabungan lainnya seperti GP.Ansor Kalidawir, Gusdurian Bonorowo Tulungagung, dst. Dari tataran relawan Guru; Dimyati, M. Irfan Mahroji, Makruf Khoiruddin, Imam Khoiruddin, Lu’lu’ul Makknun, Abdul Aziz, Sholikah, Yusuf Al-Amin, Amin Fuadi, Kang Alam, dan Denny Setiawan.

Pesantren tersebut dirintis pada tahun 2017, penataan madrasah Diniyah pada tanggal 1 Ramadhan 1443 H (2018 M), dan pesantren mendapat Ijin Operasional Pesantren pada 3 september 2021. Selanjutnya pesantren mengawali penataan Koppontren dalam bidang pertanian dan multimedia.

 

Dibalik Nama Raden Abdul Halim

Nama pondok pesantren Raden Abdul Halim adalah atas usulan KH. Abdul Malik. Karena mendapat isyarah ketika berziarah di makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama dengan sesepuh lainnya. Isi Isyarah adalah agar memberikan nama pesantren dengan mengambil nama dari keluarga Jaka Tingkir yang menanggalkan gelar Raja demi memilih memperdalam agama serta melanjutkan untuk singgah berziarah di makam Bedalem di Kecamatan Besuki Tulungagung.

Sehingga nama pondok pesantren Raden Abdul Halim adalah tafa’ulan dari nama kecil Pangeran Benawa, Kesultanan Pajang ke-2 yang memiliki nama kecil Raden Abdul Halim dikisahkan sebagai seorang yang lembut hati. Beliau meskipun pewaris sah dari Kesultanan Pajang akan tetapi tidak berambisi untuk meneruskan jabatan dari ayahandanya Sultan Hadiwijaya (Sayyid Abdur Rahman alias Jaka Tingkir atau Raden Karebet) untuk menjadi Sultan Pajang yang berikutnya. Sedari kecil sudah terlihat bahwa beliau sangat berminat untuk menekuni Ilmu agama yang diajarkan oleh kakeknya yaitu Sunan Kalijaga. Bahkan ketika ayahnya wafat dan kekuasaannya direbut oleh kakak iparnya beliau tidak mempermasalahkan demi menjaga keutuhan kekerabatan di Kesultanan Pajang.  Sehingga beliau tetap melanjutkan tugas sebelumnya menjadi Bupati Jipang dan sebagai ahli agama (mubaligh).

Selain itu, nama pesantren Raden Abdul Halim mengambil dari nama sesepuh desa Salakkembang yang bernama mbah Hadits. Beliau adalah ayahanda dari KH. Muhtar Hadits yaitu pengasuh panti Asuhan Assuyuti Salakkembang juga tokoh pendiri adanya pesantren Raden Abdul Halim Tulungagung.

Sosok mbah Hadis merupakan tokoh masyarakat yang ahli dalam bidang Agama serta pendiri Masjid Al-Hikmah di Dusun Salakan Desa Salakkembang. Kemudian ketika selesai menjalankan ibadah haji, mendapat Isyarah untuk mengganti nama menjadi H. Abdul Halim. Sehingga dari kisah ini pula, nama Raden Abdul Halim dipakai sebagai nama Pondok Pesantren.

 

Visi Pesantren Raden Abdul Halim

Tujuan dari berdirinya pesantren selain untuk memperdalam ilmu pengetahuan keagamaan juga sebagai wahana pengkaderan para generasi Nahdlatul Ulama. Sehingga memiliki Visi: “Terbentuknya generasi Qur’ani serta mampu menjadi penerus perjuangan dan cita-cita para Ulama ’ala thoriqoh ahlussunnah waljama’ah An-Nahdliyah”.

Perumusan tentang Visi ini adalah hasil musyawarah pada Dzulqo’dah 1443 H di Pondok pesantren Raden Abdul Halim melibatkan semua elemen masyarakat Salakkembang serta pengurus NU kecamatan Kalidawir. Yakni, tentang bagaimana kemunculan pesantren harus dapat menjawab tuntutan perkembangan zaman serta sebagai wadah candradimuka atas generasi-generasi Nahdliyin khususnya, selainnya agar mampu menjalankan pergerakan Nahdlatul Ulama dimanapun berada ketika santri pulang dari pondok pesantren Raden abdul Halim.

Para pendiri pesantren menemukan banyak kendala temuan dalam pembangunan organisasi di tingkat ranting NU, karena masyarakat Nahdliyin terjadi gesekan internal antar pengurus dengan ambisi agar sarannya diterima sebagai kebijakan secara umum. Kami menilai semua saran semuanya baik untuk diaplikasikan, akan tetapi juga melihat kahanan saran itu apabila diaplikasikan di masyarakat. Alhasil, saran yang dimaksud tidak tercapai, malah terjadi perpecahan pada internal pengurus dan ditambah mutungisasi (drama organisasi enggan aktif bekerja).

Sehingga perlu sebuah formula pendidikan keagamaan pesantren dilengkapi dengan belajar organisasi yang baik dan benar. Yakni menambah pendidikan Makmumship dari pada berlomba menampilkan pendidikan Leadership.

 

Program Pendidikan Pesantren

Melihat dari visi pesantren bahwa Pesantren Raden Abdul Halim memiliki tiga program unggulan; 1) Tahfidzul Qur’an, 2) Kajian Kitab kuning dan 3) Koppontren Raden Abdul Halim.

Selain itu ada lima fasilitas penunjang pembelajaran, diantaranya: a) SMK NU Raden Abdul Halim, b) BLK Komunitas (Multimedia) untuk melatih kemampuan santri dalam bidang desain-visual, c) Pusat Studi al-Qur’an dan Perpustakaan, d) Pertanian Perikanan Pesantren dan e) Event Organizer RAH (Raden Abdul Halim).

Adapun materi penunjang lainnya untuk memperkenalkan santri kepada system organisasi, setiap santri wajib ikut di dalam kegiatan Nahdlatul Ulama sesuai dengan proporsi masing-masing. Mulai dari IPNU/IPPNU, GP.Ansor, serta mengambil bagian dari struktur salah satu Lembaga Nahdlatul Ulama. Materi serta pengalaman organisasi bagi santri menurut kurikulum pesantren adalah bernilai penting,  karena pengalaman organisasilah yang menjadikan generasi bangsa tumbuh dewasa serta bijak dalam memecahkan masalah.

Dalam pesantren Raden Abdul Halim, Santri dididik untuk menjadi mandiri dalam hal pengetahuan yakni mewujudkan system agar santri menjadi semangat belajar meskipun tidak di ruang kelas, pengalaman kerja professional dan cerdas bersosial serta bijak dalam bersikap.

 

Santri dan Kebutuhan

Pesantren Raden Abdul Halim mewujudkan pesantren Geratis serta ramah untuk semua golongan. Hingga bagaimana santri mondok tanpa berfikir biaya yang harus dibayarkan kebutuhan operasional. Jikalau melihat perbandingan, bahwa biaya yang keluar dari orangtua untuk membiayai anaknya mondok (selevel fasilitas PP. Raden Abdul Halim), rata-rata 700rb s/d 2 juta per-bulan serta belum termasuk uang saku anak.

Formula yang dikembangkan adalah PP. Raden Abdul Halim, santri dapat belajar nyaman dan tuntas. Sedangkan pesantren mengambil berkahnya dari niatan baik Walisantri membangun lapangan pekerjaan dari masyarakat dan struktur walisantri. Kemudian hasil dari perputaran usaha dipakai untuk biaya operasional pesantren. Hal ini bertujuan untuk meyakinkan kepada walisantri untuk percayadiri bahwa generasi santri adalah dari hasil gemblengan produk pendidikan sendiri (pesantren dan walisantri). Karena kebanyakan para pelaku para pendidik maupun pesantren tidak yakin dengan kemampuan didikannya serta menyekolahkan anaknya ke lain sekolah atau pesantren, dengan alasan “bukan” karena menyambung tali shilaturrohim ataupun menyambung kekeluargaan antar pesantren. Akan tetapi karena alasan tidak ingin anak-anaknya ikut terjerembab seperti anak-anak yang mereka didik di lembaga dimana ia mengajar.

Santri Pesantren Raden Abdul Halim rata-rata masih diusia pelajar antara SLTP-SLTA yang mencapai 90% dari 60 santri. Meskipun pesantren seumuran mudabelia, pesantren ini dapat dikatakan mengalami perkembangan yang pesat serta mandiri. Hal ini dapat dibuktikan dengan fasilitas serta kegiatan yang tersedia di pesantren. Selebihnya santri akan berproses dalam pengembangan pengalaman melalui kegiatan Event Oganizer milik pesantren di Masyarakat.

Hal pengembangan ini, santri dapat mengambil berbagai beasiswa pesantren diantaranya; beasiswa karya, beasiswa prestasi, beasiswa kurang mampu, dan beasiswa yatim/piatu. Sehingga semua santri dapat fokus belajar di pesantren karena banyak pembiayaan gratis secara beasiswa, bahkan santri memiliki tabungan sendiri dari hasil karya program pesantren.

 

Pesantren dalam Kemasyarakatan

Tantangan santri masyarakat adalah dapat menyesuaikan serta menjadi “ashlah” dalam berbagai bidang keruwetan dalam kehidupan masyarakat. Sehingga perlu kesiapan sebelum terjun membaur dalam kehidupan masyarakat, Seperti halnya yang disampaikan KH. Hasyim Asy’ary:

“Menerima sandang pangan apa adanya sebab kesabaran akan ke-serba kekurangan hidup, akan mendatangkan ilmu yang luas, kefokusan hati dari angan-angan yang bermacam-macam dan hikmah hikmah yang terpancar dari sumbernya. Imam As-Syafi'i Ra berkata, tidak akan bahagia orang yang mencari ilmu disertai tinggi hati dan kemewahan hidup. Tetapi yang berbahagia adalah orang yang mencari ilmu disertai rendah hati, kesulitan hidup dan khidmah pada ulama”.

 

Selain itu tentang pesantren harus siap dalam menyiapkan kader para penerus Ulama dalam berbagai bidang, merupakan bagian tantangan pesantren sampai kapanpun.

Pesantren Raden Abdul Halim memiliki beberapa setrategi dalam menyiapkan amunisinya baik secara out-put maupun in-putnya. Diantaranya; pesantren menambah tingkat kerjasama semua bidang agar para santri mampu berproses sesuai peminatan: 1) Kerjasama pemasaran hasil pertanian dan perikanan serta memproduksi pakan ikan dan pertanian organik. 2) membuat terobosan kemandirian santri melalui Event Organizer, yaitu pengadaan serta penyedia segala kebutuhan hajatan masyarakat. 3) dan memfasilitasi ruang keilmuan santri melalui Pusat studi Al-Qur’an dan tafsir serta lembaga formal seperti halnya SMK, BLKK, Lembaga Tahfidz dan seterusnya. Sehingga pesantren diharapkan mampu menjawab berbagai bidang yang dibutuhkan oleh masyarakat secara luas.

Pesantren di Era Millenial ini, dihadapkan dengan generasi yang serba “Instan”, baik instan terhadap perilaku maupun instan dalam pola menerima ilmu pengetahuan. Selain itu, pesantren juga dituntut profesionalis di segala medan. Pesantren dalam hal menyesuaikan tuntutan perilaku instan dari masyarakat, pesantren harus berbenah membangun startegi formula untuk mendidik kepada santri agar lebih professional. Seperti halnya mengembangkan kurikulum dan fasilitas pendukung memadai. Untuk itu, pesantren berupaya menyiapkan membangun pola-pola digital serta melek terhadap perkembangan informasi dan produk-produk turunannya.

Menjawab tantangan perkembangan zaman, pesantren Raden Abdul Halim melengkapi wahana pembelajaran santri dengan memaksimalkan media informasi santri untuk berlatih dalam hal multimedia; fotografi, videografi, desain grafis, pertanian, peternakan, entrepreurship santri serta setting kegiatan korporasi, pertukangan, mekanik, sopir truk dan mobil, mejahit, MC, dan lain sebagainya di sela-sela pembelajaran keagamaan pesantren.

 

___________By.MukhosisAbdul. Kalidawir, 6 Oktober 2023__________

 

Sumber:

1)      AD-ART Musyawarah Keluarga Besar pondok pesantren Raden Abdul Halim Tahun 2020.

2)      SOP Pondok pesantren Raden Abdul Halim

3)      Catatan-catatan Musyawarah pengurus PP. Raden Abdul Halim


 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan