Pengembangan Pesantren Daruttaibin dan Wadah Pendidikan Kewirausahaan di Kota Marmer
Sebuah Analisa penulis pemula sekaligus tergolong abal-abal, suatu
ketika merasakan ada suatu keunikan system yang berjalan di pesantren Daruttaibin
Campurdarat Tulungagung, demi mempertahankan marwah pesantren terhadap
tantangan perkembangan zaman. Tulisan ini bermula dari sebuah catatan kecil
pada tahun 2016.
(Kalidawir, 04 Oktober 2023)
A. PENDAHULUAN
Dunia semakin lama semakin penuh
dengan polusi dan sesak dengan aneka limbah tak terurai hasil ulah tangan manusia. Limbah-limbah tersebut semakin membanjiri
kawasan Negeri yang kaya sumberdaya ini. Sehingga berbagai limbah yang ada,
perlu sebuah terobosan untuk menyelesaikan semakin bertambahnya limbah.
Disisi lain,
Indonesia dihadapkan dengan kegiatan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang mana
masyarakat Indonesia harus siap bersaing dalam kancah Asean maupun
internasional terutama dalam hal kegiatan perekonomian. Hal ini Indonesia memilih
dengan mengembangkan ekonomi kreatif.
Pada dasarnya, ekonomi kreatif membicarakan spektrum yang sangat luas, yakni segala aspek yang bertujuan meningkatkan daya saing dengan menggunakan kreatifitas individu yang dilihat dengan kacamata ekonomi. Industri kreatif adalah bagian dari ekonomi kreatif dan berfokus pada industrinya masing-masing. Industri ekonomi
kreatif terdiri dari 15 kategori, namun
hanya terdapat tiga kategori yang menyumbang
signifikan kepada Produk Domestik
Bruto, yakni fashion , kerajinan, dan
periklanan.
Perkembangan
dan pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia secara kolektif perlu
diintegrasikan kedalam sistem perekonomian Indonesia secara utuh, sehingga
Indonesia memiliki ketahanan ekonomi sekaligus ketahanan budaya.
Namun
demikian, nasib wacana ekonomi kreatif jangan terulang seperti yang menimpa
ketika menggagas sistem ekonomi pancasila, sistem ekonomi koperasi dan bahkan
kerakyatan yang mengalami kemandekan. Yang jelas di era globalisasi (MEA),
suatu perubahan dalam tata-hubungan atau konektivitas telah mengubah cara kita
untuk bertukar informasi, berproduksi, berdagang, dan berkonsumsi dari
produk-produk budaya dan teknologi dari berbagai tempat di dunia. Dunia menjadi
tempat yang sangat dinamis dan kompleks, sehingga kreativitas dan pengetahuan
menjadi suatu aset yang tak ternilai dalam kompetisi dan pengembangan ekonomi.
Kemunculan konsep ekonomi kreatif di era globalisasi ini, telah menarik minat
berbagai negara untuk menggunakan konsep ini sebagai model pengembangan
ekonomi, termasuk di Indonesia.
Menyikapi wacana tersebut, kota Tulungagung yang sejak
dulu dikenal dengan kota marmer, yakni kota yang terkenal pengolah batu marmer
tentunya tidak serta-merta lepas ataupun bebas dari limbah pabrik marmer.
Banyak bebatuan ukuran kecil ampai ukuran bear yang berserakan sampai sulit
dalam menyelesaikannya. Sehingga hal ini menjadikan masalah bersama terkait
banyaknya limbah marmer di area Tulungagung selatan.
Pada tahun 1995an, banyak batuan marmer berkualitas
kelas A1 yang berukuran diameter 30 sentimeteran yang hanya terpakai sebagai
batu koral (campuran beton) serta hanya sebagai tambahan batu pondasi rumah.
Padahal kalaupun ejak dulu sudah menemukan solusi, kemungkinan masyarakat
Tulungagung selatan sudah berbenah tentang masalah limbah marmer.
Kemudian seiring perjalanan perintisan pondok
pesantren pada tahun 2000an, telah mengembangkan kegiatan keterampilan
disela-sela kesibukan belajar kitab-kitab keagamaan, para santri telah dibekali
dengan kegiatan kegiatan interpreneurhip oleh pengasuh pesantren, yakni K.
Ahmad Jazuli yang bertanggungjawab terhadap perkembangan belajar santri
sekaligus sebagai teladan dalam hal wirausaha mulai dari; bertani, berdagang,
beternak serta inovasi craft (sablon, cinderamata marmer maupun olahan makanan
lainnya).
Meskipun kegiatan tambahan pesantren ini tidak begitu
direspon dari kalangan santri-santri yang lain, tetapi angat berarti khususnya
pagi saya (penulis) dalam menghadapi maa yang akan datang.
B. Inisiasi Pendidikan Kewirausahaan
di Kota Marmer
Meskipun
pesantren bukanlah satu-satunya kelompok pengelola limbah marmer di daerah Tulungagung selatan, yakni di daerah sekitar
pesantren Daruttaibin Campurdarat-Tulungagung, tetapi kegiatan mengolah limbah
marmer merupakan kegiatan yang sangat menjadi inspirasi bagi kalangan santri
dan masyarakat sekitar pesantren.
Pada tahun
2000an, pengelolaan batu marmer mulai berkembang dan banyak diminati oleh
masyarakat baik di daerah Tulungagung maupun di daerah-daerah lain. Pemanfaatan
batu marmer ini semula hanya sebatas digunakan untuk lantai, dinding, dan
patung. Akan tetapi lambat laun, semakin banyak olahan yang dapat dibuat dari
batu marmer.
Melihat
perkembangan dari usaha marmer ini seperti tidak akan mengalami surut, pengelola
pesantren berinisiatif membuat lapangan pekerjaan bagi para santrinya. Pengasuh
pesantren mengadakan mesin pembelah batu besar untuk memulai ide wirausaha
santri ini. Pihak pengelola pesantren hanya mengadakan alat saja, sedangkan
pengelolaan mesin ini sepenuhnya diupayakan oleh para santri. Seperti promosi
menawarkan jasa belah batu kepada tengkulak batu, menerima pesanan, pembagian
upah/gaji, dan perawatan mesin. Selain para santri bisa mendapat uang saku
tanpa harus meminta dari keluarga, mereka juga belajar bagaimana mengelola
sebuah perusahaan.
Kegiatan ini
berlangsung selama bertahun-tahun. Akan tetapi tidak semudah yang dibayangkan.
Tentu saja para santri mengalami pasang surut yang disebabkan banyaknya
permintaan pesanan dan tingginya tingkat persaingan sesama pembelah batu di
kawasan sekitar pesantren. Apalagi ketika hasil tidak sesuai dengan keinginan
pemesan, hal ini berdampak buruk bagi kuota pemesanan yang akhirnya menjadi
semakin surut dan berhenti (mandek).
Pada akhir
2005, pesantren seperti mendapat angin segar karena menemukan kegiatan usaha
bagi santri selain membelah batu. Yakni merakit limbah marmer hingga layak
dijual kembali. Para santri pun rajin merakit serta menata bebatuan dari limbah
marmer untuk sebuah rakitan yang disebut “mozaik”. Rakitan tersebut terdiri
dari pecahan-pecahan marmer yang berbentuk pipih dan tidak beraturan yang
ditata dengan cetakan dari papan triplek. Kemudian hasilnya akan dikirim kepada
pengepul atau showroom yang menghendaki mozaik tersebut untuk dijadikan
asesoris ruangan atau taman sebagai lapisan dinding dan lantai.
Di
disela-sela mengaji, para santri selalu berkreasi dalam mengisi kekosongan
waktu untuk bereksperimen. Mereka berkreasi dalam berbagai bidang, baik bidang
senirupa, kerajinan tangan maupun aneka macam olahan makanan yang baru.
Misalnya; membuat kaligrafi, lukis, prasasti atau jenis olahan lain seperti
roti rasa-rasa, kripik jamur dan seterusnya.
Pada tahun
2007, pengasuh memberikan kesempatan kepada santrinya untuk olah kerajinan
tangan serta makanan olahan yang dilombakan antar santri yang jumlahnya sekitar
200 santri (putra dan putri). Tujuan dari perlombaan tersebut untuk menambah
kreatifitas santri dalam mengembangkan motivasi sebagai bekal pada masa
mendatang. Sehingga hal perlombaan ini menjadikan kegiatan rutin pesantren
disela-sela kekosongan waktu ketika selesai ujian semesteran atau munaqosah
pesantren.
Pada tahun
ini, merupakan tahun kebangkitan untuk santri dalam semangat berwirausaha.
karena salah satu santri menemukan terobosan baru dari gumpalan olahan limbah
marmer, kemudian dibelah tipis-tipis satu sentimeter dan dipotong sesuai bentuk
yang diinginkan. Potongan ini akan dijadikan sebagai cinderamata yang harganya
jauh lebih tinggi dibanding harga lembaran merakit mozaik yang selisihnya
mencapai 400%. Hal ini sebagai pembelajaran bagi santri-santri lainnya dalam
mencari terobosan baru dalam berwirausaha.
Meski
pemesanan tidak terlalu banyak, tetapi pesanan dari pelanggan tetap ada,
terutama lembaga-lembaga yang mempunyai acara atau kegiatan yang menginginkan
memberikan cinderamata kepada pemateria, peserta atau yang lainnya. Akhirnya
santri mengajak kerjasama dalam usaha memasarkan cinderamata ini kepada pemilik
showroom marmer untuk jasa pembuatan cinderamata marmer. Kerjasama ini
banyak diminati para pemilik gallery atau showroom yang kemudian para
santri kualahan melayani permintaan pelanggan.
Pada tahun
2009, kemudian pesantren menganjurkan untuk memberikan kegiatan rutin kepada
santri yakni mengadakan pelatihan-pelatihan wirausaha yang bertujuan untuk
memberikan stimulus agar para santri lebih semangat berwirausaha tanpa
mengandalkan meminta pekerjaan kepada orang lain. Adapun narasumber pada
pelatihan ini mengambil dari berbagai jenis usaha. Hal ini diharapkan para santri
agar memilih pekerjaan yang sesuai dengan bakat skill dalam melakukan
wirausaha, antara lain; pelatihan sablon manual, pelatihan vandel marmer,
membuat pernak-pernik gantungan kunci, berbagai roti kering, pelatihan
jurnalistik santri, desain grafis dan seterusnya.
Dari
berbagai pelatihan yang dilakukan santri diharapkan ketika mereka kembali
kepada masyarakat tidak gagap dalam bersosial, berwirausaha apalagi gagap
tekhnologi. Pengasuh pesantren sepenuhnya mendukung kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh santri asal itu bermanfaat.
C. Pesantren dan Potensi Sekitar
Pengembangan
pondok pesantren tidaklah terlepas dari berbagai komponen yang melekat pada
pondok pesantren itu sendiri atau perannya di masyarakat. Kyai, santri,
bangunan asrama, kitab-kitab kuning (al Kutub al Shafra) dan berbagai
metode pembelajaran baik halaqoh, sorogan, maupun bandongan yang merupakan
komponen dasar dalam pesantren tersebut.
Pada
mulanya, pondok pesantren bertujuan utama yakni menyiapkan santri mendalami dan
menguasai ilmu agama Islam atau lebih dikenal dengan tafaqquh fi al-diin
yang diharapkan dapat mencetak kader-kader ulama dan turut mencerdaskan
masyarakat Indonesia. Akan tetapi hal ini jikalau tidak diberikan sebuah
pendidikan tambahan etika serta bekal dimana santri ketika sudah kembali kepada
mayarakat, akan menimbulkan keresahan baru dalam masyarakat. Karena seringkali
terdapat santri yang mana setiap keputusannya memberatkan masyarakat serta
terkesan kaku dan tanpa tolerir.
Wacana di
atas perlu dijadikan sebuah bahasan pesantren dalam mengkaji sumber rujukan.
Kemudian pondok pesantren sangat perlu mengembangkan dalam bidang wirausaha
untuk membekali para santri agar lebih kreatif dan mampu menghadapi tantangan
zaman terutama dalam hal perekonomian. Karena selama ini para santri masih
jarang yang mampu mengendalikan roda perekomian dengan pesat. Rata-rata dari
mereka adalah sebagai sosok sederhana yang kesederhanaannya menjadi pelaku
usaha di kalangan ekonomi kelas bawah.
Dari
sinilah, pesantren menganjurkan untuk memberikan kegiatan rutin kepada santri
yakni mengadakan pelatihan-pelatihan wirausaha yang bertujuan untuk memberikan
stimulus agar para santri lebih semangat berwirausaha tanpa mengandalkan
pekerjaan dari orang lain. Apalagi hanya mengandalkan lembaran ijazah yang dipakai
untuk melamar pekerjaan.
a. Faktor pendukung
·
Area pondok pesantren Daruttaibin Campurdarat
bertepatan dengan area pengolah marmer terbesar di Asia Tenggara. Sehingga
sumber alam yang berupa marmer sangat melimpah serta mudah dalam pencariannya.
Kemudian ditambah dengan area pasar yang terjangkau sehingga memudahkan dalam
melakukan pemasaran dari olahan limbah marmer tersebut.
·
Para pelaku usaha yang skala besar biasanya
mendatangkan berbagai jenis batuan dari luar kota dari berbagai pulau seluruh
Indonesia untuk diolah menjadi barang kerajinan.
·
Berbagai mesin berat pengolah batu ada di wilayah ini,
mulai dari pemecah batu, alat pembuat patung, alat pembuat kerajinan
cinderamata, alat pembuat perabot rumah.
·
Banyaknya perusahaan pengolah marmer dan mereka
membutuhkan tenaga kerja (non full time) ketika ada pesanan besar mendadak.
b. Potensi SDM
Pondok
pesantren merupakan wadah pembelajaran alternative yang memiliki karakter khas
tersendiri dalam mengembangkan pola pikir santrinya untuk pembekalan menghadapi
masa mendatang.
Karakter
santri yang mondok seringkali mengalami kelemahan dalam hal perekonomian.
Mayoritas santri yang rajin dan tekun, mereka berangkat dari keluarga kurang
mampu. Hal ini menjadi motivasi khusus bagi santri itu sendiri dalam mengembangkan
potensi dirinya dan menggunakan keahliannya untuk memenuhi kebutuhan selama di
pesantren. Pihak pengasuh pesantren selaku pengganti orang tua sementara,
mereka juga mengupayakan berbagai hal agar para santri dapat belajar lebih
fokus tanpa terbebani masalah ekonomi.
Untuk itu
pengasuh pesantren berusaha membuatkan lapangan kerja di wilayah pesantren agar
mudah dikoordinasikan dengan jam belajar dan memberikan pelatihan-pelatihan
sebagai bekal kelak. Pengasuh pesantren bekerjasama dengan pihak yang lebih
dulu sukses dalam wirausaha. Dari sini diharapkan akan adanya output pesantren
yang memiliki keluesan dalam hal dakwah sekaligus berwirausaha.
Selama ini,
masih banyak yang menilai bahwa jebolan pesantren paling banter akan menjadi
guru ngaji atau pengelola masjid di masyarakatnya kelak. Santri akan menjadi
ahli agama dan tempat untuk ngaji agama. Akan tetapi, stigma ini menurut
penulis adalah kurang benar. Untuk itu, memang perlu adanya pengembangan pola
pendidikan atau pengembangan kurikulum dari
pesantren demi terciptanya output agamawan yang mandiri (berdikari).
c. Alternatif ekonomi kreatif
Dengan melihat potensi yang ada, pondok
pesantren Daruttaibin Campurdarat perlu mengembangkan ekonomi untuk mewujudkan
pesantren yang lebih mandiri serta terwujudnya generasi santri yang siap
bersaing dalam lingkup lokal maupun internasional. Sehingga pondok pesantren
memberikan ruang untuk berkreasi dalam hal wirausaha sesuai dengan minat
masing-masing santri.
Alternative yang diaplikasikan pondok
pesantren adalah dengan mengolah apa yang ada di sekitar pondok pesantren. Hal
ini menemukan olahan dari limbah marmer untuk dijadikan diantaranya;
- 1) Batu rakit (parkitan)
- 2) Mozaik
- 3) Vandel marmer
- 4) Gantungan kunci
Dari berbagai macam olahan ini, pesantren
hanya sebatas menjadi stimulus dan selanjutnya santrilah yang berperan lebih
kreatif dan mandiri. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Kyai Ahmad Jazuli
ketika membuka pelatihan sablon manual santri:
“Santri itu pada dasarnya harus berikap mandiri,
karena sebentar lagi kalian akan kembali kepada masyarakat dengan pengalaman
yang ada selama kalian di pesantren ini. Maka dari itu, belajarlah dengan
sungguh-sungguh. Karena kita tidak tahu besok kita akan jadi apa di masyarakat.
Oleh karena itu, persiapkan diri kalian mulai dari sekarang”
Selain
alternative di atas, bagi para santri putri meskipun mendapat fasilitas yang
lebih dari keluarga mereka, bukan berarti santri putri tidak dapat berkiprah
dalam hal kewirausahaan. Untuk para santri putri diberikan pelatihan pembuatan
makanan mulai dari makanan ringan (seperti keripik, roti kering, roti basah
dll) hingga makanan berat (hidangan), pelatihan tata rias, pelatihan
menjahit/tata busana dan pelatihan lain yang mendukung ketrampilan santri
putri.
d. Sistem evaluasi kerja
Kegiatan
pondok pesantren Daruttaibin Campurdarat adalah serta merta hanya dipentingkan
untuk kemaslahatan santri. Sehingga, santri dipersilahkan untuk mengelola,
mengembangkan serta memanagemen sendiri dan pesantren hanya bersifat mendukung
kegitan kreatifitas para santri.
Hal ini
terbukti dengan diadakan Koperasi Santri sejak tahun 2008. Santri dipersilahkan
untuk meminjam dana koperasi sebesar Rp 600.000,- dan diangsur selama 6 kali
setiap bulan. Adapun untuk pengelolaannya santri yang meminjam dana diwajibkan
membayar uang khas sebesar Rp 20.000 per-bulan. Kemudian dana ini diperuntukkan
bagi santri lainnya yang menginginkan meminjam dana untuk pengembangan
usahanya. Dan pada akhir tahun 2008, dana tersebut dapat dikembangkan kepada
masyarakat sekitar pesantren yang menginginkan peminjaman uang untuk permodalan
usaha mereka.
Koperasi
Santri ini dapat menunjang kegiatan santri yang aktif menekuni usaha tertentu,
yang mana dari adanya tambahan modal tersebut sudah terbukti dapat membantu
usaha santri. Salah seorang santri
Daruttaibin yang pernah meminjam modal dari koperasi tersebut di tahun 2008,
kini telah menjadi wirausahawan mandiri di bidang pembuatan cinderamata
vandel/plakat marmer. Yang mana usahanya telah mencapai skala nasional, dan
pemasarannya melalui media online di website dan fanpage FB Vandel Piala Tropi
Tulungagung. Ini membuktikan, adanya kemanfaatan dalam sinkronisasi ide, modal
dan keuletan yang ditanam sejak dari pesantren.
Selain itu,
bagi santri yang belum memiliki usaha, dapat ikut menjadi pekerja di lingkungan
pesantren dengan diberikan lahan pertanian sebagai petani dan beternak sapi dan
kambing. Adapun sistemnya bagi hasil ketika tanaman itu panen atau ketika
ternak tersebut terjual. Meskipun hal bercocok tanam dan berternak ini terlihat
sepele, namun santri harus mengetahui pola bercocok tanam dengan system
organic. Santri mendapat pelatihan bagaimana cara membuat pakan fermentasi,
membuat pupuk organic, membuat pestisida organik dan bagaimana
pengaplikasiannya.
D.
Dampak
Substantif Pendidikan Kewirausahaan
Perkembangan masyarakat dewasa ini
menghendaki adanya pembinaan anak didik (santri) yang melaksakan secara
seimbang antara nilai, sikap, pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan, serta
kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat secara luas serta meningkatkan
kesadaran terhadap alam lingkungannya. Asas pendidikan pondok pesantren yang
demikian itu diharapkan dapat menjadi upaya pembudayaan untuk mempersiapkan
warga guna melakukan suatu pekerjaan yang menjadi mata pencahariannya dan
berguna bagi masyarakatnya serta mampu menyesuaikan diri secara konstruktif
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi sekitarnya.
Kini
masyarakat dan bangsa akan dihadapkan dengan berbagai masalah dan persoalan
yang mendesak. Masalah-masalah yang sering menonjol ialah tekanan masalah
penduduk, krisis ekonomi, pengangguran, arus urbanisasi dan lainnya. Sementara
krisis nilai, terancamnya kepribadian bangsa, dekadensi moral semakin sering
terdengar.
Pondok
pesantren memang pada mulanya bukan hanya kegiatan pendidikan sekolah atau
madrasah biasanya telah menunjukkan potensi yang dimilikinya. Seperti halnya
pondok pesantren dalam menghadapi masa persaingan ekonomi yang terus
berkembang. Sehingga mengembangan pondok pesantren dalam hal ekonomi merupakan
hal tuntutan yang secara automatis.
Untuk memenuhi tuntutan pembinaan
dan pengembangan bangsa yang demikian luas dan berat itu, kini pemerintah dan
masyarakat berusaha mengerahkan segala sumber dan kemungkinan yang ada agar
pendidikan secara keseluruhan mampu mengatasi berbagai problem yang dihadapi
masyarakat dan bangsa.
Pondok
pesantren sebagai wadah pendidikan yang terbilang tua (mengakar), tentunya
harus banyak berbenah diri dan melek akan perkembangan zaman. Pengelolaan
pondok pesantren tidak hanya sebatas mengaji akan tetapi juga pendidikan lain
yang dapat menjadi bekal para santri kelak.
Dampak dari kegiatan pondok
pesantren dapat mengalami kemajuan dari tahun-tahun sebelumnya.
1) Dampak bagi pelaku usaha
- Dampak dari kegiatan kewirausahaan adalah, diantaranya;
- Sebagai media pembelajaran santri untuk berwirausaha
- Memotivasi santri bahwa ada berbagai bidang usaha yang
dapat digeluti. Ketika satu usaha gagal (belum mendapat hasil optimal) mereka
dapat menjalankan alternative usaha lain sehingga tidak terjadi pesimistik dan
nol pemasukan
- Mendapat ide-ide usaha serta cara pengelolaannya
- Belajar bernegosiasi dan mampu menerapkannya
- Belajar manajemen berwirausaha
·
Tertanamnya jiwa kerja keras, pantang menyerah,
optimis dalam diri santri. Hal ini penting, sebab ketika santri kembali kepada
masyarakat mereka telah memiliki bekal yang cukup untuk berdakwah dan tidak
kebingungan akan mengerjakan apa
2) Bagi pondok pesantren
- Dampak dari kegiatan kewirausahaan, diantaranya
- Penyalur bakat wirausaha santri
- Membatu lembaga pondok pesantren dalam pemberdayaan
ekonomi
- Meningkatkan kesejahteraan pondok pesantren dalam
memberikan lapangan pekerjaan
- Meningkatkan integritas pesantren di masyarakat
3) Bagi lingkungan pondok pesantren dalam
jangka panjang
- Dampak dari kegiatan kewirausahaan, diantaranya
- Memudahkan kerjasama khususnya dalam hal penambahan
tenaga kerja
- Kerjasama produksi cinderamata
E.
Institusionalisasi
dan Tantangan
Berdirinya pondok pesantren salafy Daruttaibin ini berawal dari
permintaan masyarakat untuk mendirikan pusat kajian keagamaan yang berada di
sekitar lokasi masjid Daruttaibin di bawah pengasuh KH Syamsudin yang kemudian
pesantren dilegalkan oleh putranya KH Daman Huri dengan nama Pondok Pesantren
Al Islami As Salafy Daruttaibin yang berkedudukan di Campurdarat.
Pada awalnya pesantren ini sebagai pusat
kajian keagamaan masyarakat terutama yang mendalami keagamaan melalui jama’ah
Thoriqah. Kemudian berkembang dengan menambah kurikulum program Tahfidzul
Qur’an dan Kitab Kuning. Santri yang mondok di pesantren awalnya berjumlah 30
orang, sedangkan santri madin mencapai 300 santri, dan jama’ah Thariqah
terdapat 100 orang lebih. Lambat laun santri terus bertambah hingga 100 orang
lebih.
Untuk mensikapi persoalan ini, pengelola
pesantren mendaftarkan lembaganya kepada institusi formal pada tahun 2002
sebagai prasyarat legal formal lembaga.
Tantangan yang dihadapi lembaga pondok
pesantren
Dengan
banyaknya santri yang belajar mengaji di pesantren Daruttaibin, hal ini
menimbulkan gesekan dan kecemburuan di kalangan Kyai kampong yang lain. Selain
itu, banyak dari santri yang sebelumnya mengaji di surau/madin lain berpindah
tempat mengaji ke pesantren Daruttaibin karena system pelajaran ilmu nahwu
(tata Bahasa Arab) yang mumpuni di bawah binaan Kyai Ahmad Jazuli.
Ini kemudian
terus berkembang dan memunculkan berbagai pondok pesantren yang mempunyai ciri
khas masing-masing di sekitar pesantren Daruttaibin (masih dalam kawasan satu
desa) seperti pondok khusus tahfidz, pondok khusus pertabiban, dan pondok
salafy yang kemudian turut memicu pasang surut perkembangan pesantren
Daruttaibin.
Dari
beberapa hal tersebut, tentu saja menjadikan suatu pekerjaan rumah bagi
pengasuh pesantren untuk mempertahankan eksistensi dan kualitas santri
tentunya. Untuk itu pengelola pesantren mengambil inisiatif dengan mengadakan
lapangan pekerjaan bagi santri-santrinya. Namun hal ini belum cukup untuk
menjawab tantangan zaman yang semakin berkembang. Pengasuh mempunyai harapan
bahwa santri yang pernah belajar di Daruttaibin memiliki keahlian khusus atau
skill yang dapat membantunya hidup bermasyarakat.
Dalam
mengimplementasikan gagasan ini, pengelola pesantren mencarikan sumber dana
untuk pengadaan alat guna menunjang skill yang diharapkan. Selain itu,
pesantren juga mendirikan Koperasi yang dimaksudkan untuk simpanan dana
pengembangan pelaku usaha di dalam kalangan santri.
Apa yang
diupayakan oleh pengasuh ini, mendapat tanggapan positif dari santri, wali
santri dan masyarakat sekitar pesantren.
F.
Lesson
Learned
Dari pengalaman ini sebagai bahan
pembelajaran bagi pondok pesantren yang lain dalam mengembangkan
potensi-potensi sekitar pesantren.
1. Memunculkan ide/gagasan berwirausaha
2. Mengimplementasikan ide/gagasan
3. Melakukan wirausaha mandiri (proses
produksi, pemasaran, penerimaan pesanan, negosiasi, manajemen pekerja,
manajemen keuangan)
4. Program ini dapat menjadi modal santri
untuk berwirausaha di wilayah masing-masing.
5. Santri diupayakan berperan aktif dalam
menyongsong kemajuan zaman dan persaingan asing dengan berbagai skill yang
mereka pelajari
6. Pentingnya pelegalan usaha sebagai syarat
perluasan usaha untuk dapat dipasarkan dalam skala nasional dan internasional.
Pemahaman tentang pelegalan usaha ini harus dipahami sejak dini agar kemajuan
usaha dapat segera tercapai (usaha tidak tersendat-sendat)
- Pengelola pesantren perlu mengadakan penelitian potensi daerah sekitar tentang wirausaha yang sekiranya dapat dilakukan oleh santri. Yang mana tidak mengganggu jadwal belajar santri dan tidak membuat mereka terlalu memforsir diri sehingga terkesan menyiksa diri
- Menumbuhkan sikap kerja keras, optimis, pantang
menyerah, sabar, ulet, mau terus belajar meskipun berulang kali mengalami
kegagalan
- Memotivasi santri untuk meraih hidup dengan
memaksimalkan waktu sebaik mungkin
- Memotivasi santri untuk tidak mengandalkan pekerjaan
milik orang lain yang mengakibatkan seseorang harus menjadi pelayan
- Memberi stimulus yang dapat merangsang ide-ide segar
dalam hal berwirausaha
- Mendukung kretifitas santri dengan materi maupun
immateri
Peluang direplikasikan di pesantren lain
Sebenarnya
ide/gagasan pesantren yang membina wirausaha bagi santri ini sangat mungkin
untuk diterapkan di pesantren lain dengan ciri khas pesantren masing-masing. Dalam
hal penerapan memerlukan tenaga yang berpengalaman serta pelaku usaha dalam
bidangnya, kemudian pesantren memfasilitasi dengan pemberian modal usaha
santri.
Sumber:
1.
K. Ahmad Jazuli, Pegasuh Madin
Pondok Pesantren Daruttaibin
Campurdarat.
2.
Pola Pengembangan Pondok Pesantren. Departemen Agama RI Direktorat Jenderal
Kelembagaan dan Pondok Pesantren Proyek Peningkatan Pendidikan Luar Sekolah
Pada Pondok Pesantren (Jakarta; 2003)
3.
Si Kecil Ramah Lingkungan; Kumpulan Liputan UMKM Ramah
Lingkungan (Jakarta: Aliansi Jurnalisme Independen
(AJI) Indonesia. 2010)
4.
Modul Pengembangan Pesantren untuk Pengasuh Pesantren. Kerjasama PPIM UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, PUSKADIABUMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan DANIDA (Yogyakarta;
2006)

Keren, lanjutkan pak...
BalasHapus