Mengenal Sosok Mbah Malik; Penyusun kitab “Tarbiyatus Shibyan; fi Bayani syari’ah al-Islamiyah” dengan Syiir Jawa Tulungagungan
Sekitar tahun 1995an, masih usia di bangku TPQ, saya pertama
mengenal kitab “Tarbiyatus Sibyan”. Kitab fiqih dengan sajian nadhom ala
Tulungagungan yang membuat saya pribadi penasaran. Yakni ketika melalar Nadzom
sampai di halaman terakhir (bagian Khotimah) ada keterangan “Karangtalun,
Kalidawir dan Tulungagung”. Dalam pikiranku; dimanakah kalidawir itu, apalagi
kalidawir adalah nama salah satu kecamatan di Tulungagung.
Dalam Nadhoman, bernama “Haji Malik”, dimana pikiranku membayangkan
sosok Haji Malik adalah pengasuh pesantren besar yang memiliki ribuan santri
dan tinggal di sekitaran Kabupaten Tulungagung. Atau mungkin beliau tokoh ulama
besar dari Kabupaten Tulungagung yang hidup pada zaman pra-kemerdekaan di
pondok sepuh dan saya berfikir kemungkinan sosok mushonif (penyusun
kitab) ini sekarang sudah menjadi cerita anak cucu atau cicit yang menikmati
karya beliau.
Akhir cerita, ketika pada akhir tahun 2012, saya menikah dengan gadis
kalidawir, tepatnya di dusun Jigang Desa Pakisaji Kec. Kalidawir. Suatu ketika
saya penasaran ada orang separuh baya yang menjadi tamu dalam acara pernikahan
saya di kalidawir. Dalam hati saya, terbersit ada sesuatu yang dirahasiakan oleh
seseorang ini, minimal beliau banyak pengalaman dalam hal kehidupan. Ingin
sekali menyapa, akan tetapi posisi yang tidak memungkinkan karena saya berada
di depan para hadirin serta tamu undangan.
Suatu ketika ada acara selamatan “genduren” di tetangga lingkungan
mertua, tanpa kami bayangkan sebelumnya, kami duduk bersandingan dengan beliau
seraya malam itu juga saya berkenalan serta berbincang tipis layaknya orang
yang baru kenal. Kemudian di akhir perjumpaan saya menyampaikan ingin
berkunjung di kediaman beliau.
Keesokan harinya saya berkunjung kerumah beliau pada waktu ba’dha
ashar, dimana orang-orang kampung pada umumnya bersantai menunggu waktu
maghrib. Ternyata benar, bahwa beliau memiliki banyak pengalaman meskipun beliau
dalam menyampaikan sedikit dirahasiakan dan penuh hati-hati. Kemudian, tak lama
kami berbincang sudah terdengar adzan maghrib bertanda saya harus undur balik
yakni berpamitan.
Ketika perjalanan pulang, ada tetangga menanyai kepergianku, dan
saya menjawab jikalau saya baru saja pergi silaturrohim ke rumah H. Abdul
Malik. Kemudian tetangga itu berpesan: “kamu perlu berhati-hati dengan
beliau Abdul Malik. Karena beliau di dusun ini oleh masyarakat sekitar dijauhi
sebab aqidahnya tidak sama seperti lumrahnya”. Saya dengan santainya
menjawab, “nggih, siaap”. Sehingga dari sinilah saya semakin lebih
penasaran dengan asal usul sebenarnya sosok beliau H.Abdul Malik. Selain itu
juga penasaran; mulai perjalanan hidup, Riwayat pendidikan umum dan pesantren,
perjalanan spiritual hingga penasaran sampai kepada pola pengetahuan beliau
mengenai Aqidah dan tasawuf.
Hasil dari pengamatan berhari-hari kepada beliau, hasilnya adalah sama
persis suatu pengalaman yang saya peroleh ketika kuliyah serta
pengalaman-pengalaman selama menjalin komunikasi lintas agama di Tulungagung.
Sedikitpun tidak ada yang mbeleset tentang kebenarannya. Sehingga saya
beranggapan bahwa kemungkinan besar masyarakat belum se-level mbah malik dalam pengetahuannya
yang menjadikan beliau termarjinal di kampungnya.
Semenjak itulah, ketika berkumpul di masyarakat kemudian
menyinggung tentang pola pikir mbah Abdul Malik, saya mencoba berupaya menjelas
dengan pola referensi dari berbagai pelaku tasawuf muslim dan sosok H. Abdul
Malik masih cakupan bagian kecil dari pelaku tasawuf dunia. Kini, keberadaan sosok
H. Abdul Malik adalah tokoh sesepuh senter di Desa Pakisaji.
Biografi Mbah Malik
Beliau akrap disapa oleh Masyarakat dengan sebutan Mbah Malik atau
Kaji Malik. Sapaan haji ini muncul karena beliau di usia belasan tahun sudah
menunaikan ibadah haji tahun 1974 yakni masih memakai transportasi Kapal Pesiar
periode akhir, dan usia ini sangat jarang dilakukan bagi masyarakat di usia
muda terlebih pada tahun 1970an.
Mbah malik kecil dilahirkan di dusun Pojok Desa Karangtalun
Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung, tepatnya pada tanggal 1 Juli 1954
dengan nama lengkap “Abdul Malik”. Ayah beliau bernama Abdulloh Sholeh asal Dusun
Jigang Desa Pakisaji yakni putra mbah Ahmad Darum bin Hasan Ahmad (asal Pati) yang
kemudian pindah mendirikan Masjid di Purworejo Kecamatan Ngunut dan Ibundanya
bernama Siti Fatonah binti Mansur asal Dusun Pojok Desa Karangtalun Kecamatan
Kalidawir, yakni sosok Mbah Mansur adalah pendiri Masjid Sabilil Huda
Karangtalun sekaligus Mursyid Thoriqoh pada masa KH. Umar Subyan (mursyid Thoriqoh
pesantren Mbaran Kediri).
Pada usia Sekolah Dasar (SD) pada Tahun 1964, Malik kecil ikut
orangtuanya pindah rumah dan mendirikan Mushola di Desa Karangtalun dan sekarang
menjadi Masjid “Miftahul Huda Karangtalun” dekat dimana Malik bersekolah yakni
SDN Karangtalun. Disinilah ayahanda beliau berkiprah dalam Nahdlatul Ulama dan
mendirikan pusat perkumpulan Nahdliyin pada tahun 1965, bersamaan dengan
tragedi “Bledosan Kedung Dowo” era G30S-PKI.
Selesai sekolah dasar di karangtalun, Malik menempuh di pesantren “Al-Ishlahiyah”
Kemayan Mojo Kediri Jawa Timur. Konon menurut Gus Najib (pengasuh Pon.pes. “Al-Ishlahiyah”)
ketika memberikan tausiah di Pon.Pes. Raden Abdul Halim tahun 2022, bahwa
orangtuanya dulu adalah santri di Al-Islahiyah dan ketika menjadi pengantin
baru sempat mondok kembali sampai hamil tua. Karena hamil tua, beliau kembali
pulang di Dusun Pojok Karangtalun. Gus Najib menyebutnya Kaji Malik adalah “Haji
Malik itu Produk Pondok Mayan Nyel”.
Pada tahun 1976, H. Abdul Malik pulang dari pesantren Mayan
sekaligus syukuran khataman kitab “Al-Fiyah Ibn Malik” di rumah orangtua beliau
di Karangtalun. Kemudian pada tahun 1977 Abdul Malik mendirikan madrasah
Diniyah di Desa Karangtalun bertempat di masjid Ayahandanya yakni Masjid
“Miftahul Huda”. Pada tahun 1977 ini Abdul Malik juga didaulat menjadi Ketua
PG.Ansor PAC Kalidawir atas rekomendasi dari sesepuh Kalidawir yakni KH.
Burhanuddin Desa Tunggangri yang waktu itu sebagai Ketua Tanfidziah MWCNU
Kalidawir.
Dalam mendirikan madrasah, Abdul Malik memiliki santri Madrasah
Diniyyah Angkatan pertama diantaranya; Kang Rokim (alm,), Kang Gupuh (alm.)
langgar lor pasar, Kang Wuguk, Kang Keman, Kang Wito, dan beberapa santri
putri.
Dalam pengelolaan madrasah, Abdul Malik dibantu oleh H. Supri
Karangtalun ketika itu tamat mondok dari pesantren Tebuireng Jombang. Haji
Supri sebelum mondok di Tebuireng, juga nyantri di tempat Mbah Mansur (pojok
Karangtalun) kemudian diminta mbah Haji Abdulloh Soleh (ayahanda mbah haji
Abdul Malik) untuk membantu Pembangunan serta menata madrasah di masjid
“Miftahul Huda” Karangtalun bersama Abdul Malik.
Keberadaan Masjid “Miftahul Huda” Karangtalun dan madrasah yang
dirintis serta dikelola sebagai Masjid sekaligus area Gedung MWCNU Kalidawir.
Kemudian bekas kediaman KH. Abdullah Soleh menjadi bangunan madrasah Diniyyah
Ula “Miftahul Huda” yang dibangun susun dua lantai.
Ketika di usia 40an tahun, Abdul Malik sempat berguru Thoriqoh
Mu’tabaroh Naqsabandiyah di salah satu pondok sepuh di kota Madiun dan
Yogjakarta. Selanjutnya belajar kasepuhan spiritual Jawa-Islam di Kabupaten
Tulungagung hingga kasepuhan keraton Yogyakarta. Sekarang beliau genap berumur
67 tahun dengan aktifitas rutin mengisi kegiatan berbagai majlis ta’lim di
sekitar kecamatan Kalidawir, menjadi sesepuh desa dan pengasuh Pon.pes. Raden
Abdul Halim bersama KH. Muhtar Hadits.
Tentang Kitab “Tarbiyatus Shibyan”
Pada dasarnya kitab tarbiyatus sibyan, bukanlah satu-satunya kitab
hasil karya Abdul Malik. Akan tetapi masih ada kitab yang telah ditulis oleh
beliau; diantaranya kitab Fiqih, kitab Aqidah “Tanwirul Qulub” dan kitab
kitab Nahwu. Dan semuanya adalah bernadzom syiiran Jawa ala Tulungagungan.
Kitab Tarbiyatus Syibyan ditulis mulai tahun 1984, ketika
beliau sedang mengembangkan madrasah diniyah. Kemudian dicetak pertama kali diterbitkan
oleh “Toko Normal” Kalangbret, yang sekarang tokonya berganti nama menjadi Toko
Kitab “Al-Hidayah” Kalangbret Kauman Tulungagung pada tahun 1407 H / 1986 M.
Tarbiyatus shibyan membahas tentang Fiqih dasar, merupakan kitab
rujukan pesantren-pesantren di Kabupaten Tulungagung pada masa 1990an hingga
tahun 2000, juga sebagai rujukan madrasah diniyah ula sebelum mengenal mabadi
Fiqih karya Syeikh Umar Abdul Jabbar. Dalam penyusunannya beliau terisnpirasi
dari rangkuman “Mabadi Fiqih” Juz 1-4 yang berhasil beliau catat.
Selanjutnya dari catatan itu beliau kembangkan menjadi nadzom syiir jawa kemudian beliau namakan kitab “Tarbiyatus
Shibyan”. Sehingga isi kitab Mabadi Juz 1-4 beliau rangkum dengan nadzoman 160
bait isi bahasan, selain itu bait muqodimah 22 bait dan bagian penutup juga
terdiri dari 22 bait. Jadi total bait keseluruhan dalam kitab Tarbiyats Shibyan
adalah 204 bait.
Dalam pemaparannya, beliau susun seperti penyusunan kitab-kitab
fiqih pada umumnya, yakni dimulai bab thoharoh sampai bab haji. Adapun
klasifikasi pemaparan bab pada Kitab Tarbiyatus Syibyan dikelompokkan
menjadi 22 bab, diantaranya;
1. Pengertian Islam
2. Rukun Islam
3. Syarat Wudhu
4. Lat Bersuci
5. Macam-Macam Air
6. Rukun Wudhu
7. Sunahnya Wudhu
8. Batalnya Wudhu
9. Syarat Sholat
10. Aurat
11. Hadas
12. Najiz
13. Rukun Sholat
14. Batlnya Sholat
15. Baligh
16. Pengertian Zakat
17. Pengertian Puasa
18. Fardhunya Puasa
19. Batalnya Puasa
20. Pengertian Haji
21. Rukun Haji
22. Wajib Haji
Kitab Fiqih Tarbiyatus Shibyan dikemas sesingkat mungkin hanya
16 halaman dengan besar kitab seukuran buku tulis dan disajikan dengan lagu
syiir jawa, agar mudah diingat serta mudah dipelajari terutama usia anak-anak
sebagai landasan syari’ah dalam menjalankan rukun Islam.
Pada bagian khotimah (penutup) terdapat tiga baris yang
memperkenalkan nama beliau sebagai penyusun kitab nadzom jawa “Tarbiyatus
Shibyan” sekaligus pengenang kisah penyusunan kitab. Selain itu meriwayatkan
bahwa kitab tarbiyatus shibyan selesai ditulis pada Ahad Legi, 11 Muharam 1407
Hijriyah atau bertepatan pada tanggal 21
September 1986 Masehi pukul 21.00 WIB yang keterangan ini beliau sampaikan rapi
dalam sebuah nadzoman penutup.
Tentang angka 22
Saya ketika membaca serta mengkaji tentang isi Kitab Fiqih Tarbiyatus
Shibyan, ada beberapa keanehan yakni semakin muncul pertanyaan tentang
nominasi jumlah angka bait terutamanya. Adapun catatan penasaranya diantaranya;
1. Bait muqqadimah dan bait khotimah masing-masing berjumlah 22 bait.
Secara
filosofis dari sudut pandang Nomorologi, bahwa angka 22 membawa pesan penting
bagi banyak orang, yakni bermakna kesetaraan dalam kehidupan yakni mengarah
kepada jati diri atau hal sejati.
Beberapa pendapat lain
bahwa angka 22 berkaitan dengan konsepsi, biasanya memunculkan catatan yang
terkait dengan detail perilaku dan cara mereka berdampak pada kehidupan seseorang
untuk mengikuti kata hati secara seimbang.
Simbolisme angka 22 juga
dapat memunculkan fakta bahwa angka 22 adalah karakter orang yang idealis.
Dalam pengertian ini, selalu bersedia memperjuangkan tujuan dan gigih dengan
apa yang diyakini, karena mencerminkan secara aktif bekerja untuk mencapai
cita-citanya.
2. Memiliki 22 Bab bahasan
Konsepsi filosofis
angka 22 dapat dikaitkan dengan kedamaian, kemungkinan ketika penyusunan kitab
Tarbiyatus Shibyan adala upaya untuk menghindari situasi negatif dan getaran
buruk di lingkungan tempat tinggal. Hal ini dituangkan penulis dalam pembahasan
materi terdapat 22 bab bahasan.
By.MukhosisAbdul.8
Oktober 2023
____________________
Sumber:
- Wawancara Tokoh; KH. Abdul Malik
- Kitab Tarbiyatus Shibyan fi Bayan Syari’ah Islamiyah
- https://rvpapers.com/id/arti-angka-22-numerologi-cinta-spiritualitas-dan-lainnya, tentang filosofi angka 22
- Dokumentasi
Pon.Pes Raden Abdul Halim
- Sejarah NU Kalidawir, catatan sesepuh kalidawir


Komentar
Posting Komentar