Maincenter Belajar Ekologi Budidaya Tanaman
Bermula dari mengisi pelajaran ilmu pengetahuan siswa merambah menjadi mengisi wawasan Tanaman bagi orangtua yang beraktifitas di sawah (petani).
By.MukhosisAbdul.
Sejak masih usia anak-anak, secara pribadi saya berminat dengan
kegiatan bercocok tanam dan gemar membantu orangtua di sawah. Perilaku menjadi
petani kecil, nampaknya sudah tertanamkan oleh orangtua sejak sebelum duduk di
bangku sekolah dasar. Aktifitas setiap hari pun juga tidak bergeser dari
aktifitas di lingkungan persawahan, meski alakadar anak kecil di sawah sering
merepotkan orangtua.
Pada usia masih di bangku sekolah dasar, aktifitasku
secara berkala juga masih sering bersama orangtua untuk sedikit membantu
orangtua beraktifitas di sawah. Misal, mewadahi rumput dalam karung hasil
orangtua ngarit, panen jagung, daut (mengambil benih padi sebelum ditanam) dan
seterusnya. Meskipun hanya membantu alakadarnya anak-anak, setidaknya saya
dapat menikmati pengetahuan tentang aktifitas sawah, dan fasilitas banyak
bertanya nama-nama tumbuhan di sekeliling sawah dan rumah; mulai tingkat gulma
sampai tanaman yang biasa ditanam oleh lumrahnya para petani. Akhirnya satu
persatu tanaman terkantongi tentang cara perlakuan tanaman agar tumbuh secara
maksimal.
Namun pada usia SMP dan SMA aktifitas ikut orangtua di
sawah hanya tersisa setiap liburan sekolah saja, yakni setiap hari minggu. Hari-hari
biasa, waktu telah saya habiskan di sekolah serta di pesantren. Aktifitas
disekolah dan di pesantren telah banyak menyita hobiku dalam budidaya tanaman.
Sebagai pelampiasan pun juga nampak di pojok-pojok pesantren dan sekolah telah
muncul tanaman dalam polibag yang terisi tanah olehku untuk sebatas hiburan di
waktu istirahat selama di sekolah dan di pondok pesantren. Mulai tanaman bonsai
bunga sampai tanaman bumbu dapur. Buku-buku yang saya pinjam dan saya baca di
perpustakaan, juga tentang seputar tumbuhan.
Meskipun pribadi saya gemar dengan pengetahuan tentang
Biologi dan unsur kimia struktur tanah, program studi yang saya ambil ketika di
bangku SMA adalah program Bahasa. Saya mengambil program atas dasar ingin
berbeda dengan saudara kandungku yang mengambil program IPA. Karena sekolah
formal bagiku adalah hiburan dan aktifitasku di rumah juga hiburan. Jadi yang
saya pandang serius ketika itu adalah aktifitas yang berhubungan dengan
masyarakat sekitar, misalnya kelompok tani, jama’ah keagamaan, perkumpulan
sosial di kampung. Saya memandang prioritas dikarenakan berhubungan dengan
orang banyak serta bersikap disiplin kegiatan.
Pada usia mahasiswa aktifitasku tentang hobi bercocok
tanam sedikit terjeda. Dalam kuliah prinsipku terpancing dengan aktifitas
sosial sehingga memilih pengembangan diri yang berhubungan dengan masyarakat
dan jaringan komunitas. Selain itu, aktifitas bertanamku tergeser dengan
kebutuhan pembiayaan kuliyah yang harus mencari sendiri serta waktu yang sangat
terbatas akibat seringkali mengikuti kegiatan-kegiatan di luar kampus. Akan
tetapi di sela-sela larut malam juga masih menyisihkan waktu untuk sebatas hiburan
merawat tanaman.
Aktifitas tentang ilmu ekologi, terus berupaya saya
kembangkan dan saya padukan dengan aktifitas sosial masyarakat. Hasil
pengembangan tentang ekologi, nampaknya juga telah terbayarkan yakni membawaku
menjadi duta lingkungan. Ternyata diantara hasilnya adalah bertemu dengan para
Menteri sebagai finalis lomba tingkat Nasional tentang kepeloporan bidang
lingkungan hidup pada tahun 2015, 2017 dan tahun 2019. Saya pribadi juga tidak
menyangka jikalau aktifitasku terbaca sampai lingkup Nasional.
Pendamping belajar anak-anak di sekolah
Suatu ketika saya ikut mengajar di sekolah tingkat dasar,
yakni di Madrasah Ibtidaiyah yang bertempat di Desa Pakisaji Kecamatan
Kalidawir. Atas dasar ajakan oleh kepala sekolah tersebut, akhirnya saya masuk
bergabung menjadi salah satu tenaga pengajar dan bersenang-senang bersama
anak-anak sekolah pada tahun pelajaran 2014/2015. Nampaknya kehadiranku
ditunggu untuk memberikan warna di sekolah tersebut, sehingga saya pun juga menikmati
sampai 8 tahun menjadi tenaga honorer yang terasa begitu singkat. Sekarang, hobiku
bergeser menjadi kepala di lingkup pesantren dan SMK untuk memberikan warna
tentang pengetahuan pola perlakuan tanaman.
Suatu ketika, saya mengajar di kelas 5 (MI) sekaligus sebagai
guru kelas, memberikan materi dasar tentang perkembangbiakan tumbuhan secara vegetative
dan generative. Karena mengambil jalan menyederhanakan pemahaman materi, saya
mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di area persawahan untuk melakukan
penelitian ala anak-anak sekolah dasar dan hasilnya saya upload di media
sosial. Sehingga dari kegiatan ini banyak respon dari teman media sosial,
termasuk dari orangtua siswa yang beraktifitas sebagai petani.
Saya mengira respon itu sebagai suatu hal biasa oleh para
walisiswa, nampaknya mereka merespon serius dalam bertanya dan penasaran sampai
berkunjung ke rumah untuk berbincang tentang tanaman. Saya hanya dapat
menyampaikan tentang pengalaman dengan contoh beberapa tanaman yang saya
budidaya di teras rumah sebagai laboratorium selama mengamati perlakuan tumbuh
tanaman dan kendala struktur tanah dikarenakan saya tidak memiliki lahan untuk
melakukan cocok tanam di lahan yang lebih luas.
Dari hasil percakapan, saya menyimpulkan bahwa tidak
setiap petani mengetahui kebutuhan tanaman yang akan ditanamnya. Sehingga
selama menanam adalah secara kebiasaan serta mengacu kepada obat-obatan yang
diambilkan dari toko pertanian. Padahal pada dasarnya kebutuhan pupuk dan
obat-obatan tanaman dapat diracik sendiri dari bahan dasar di sekeliling rumah.
Mengenal Kebutuhan Dasar Tanaman Alakadar Saya
Perlakuan tanaman tidak terlepas dari kebutuan tanaman
serta kandungan unsur hara tanah yang ditumbuhi tanaman itu sendiri. Setiap
tanaman juga memiliki kebutuhan berbeda-beda, misalnya kebutuhan tanaman sayur
daun akan berbeda dengan kebutuhan unsur hara tanaman sayur yang diambil
buahnya. Sehingga sederhanannya perlu penataan media tumbuh terlebih dahulu
sebelum melakukan penanaman agar dapat tumbuh sesuai kebutuhan tanaman.
Setiap tanaman memerlukan unsur hara untuk memaksimalkan
pertumbuhan dengan baik dan menghasilkan panen yang maksimal juga. Kebutuhan
unsur hara merupakan hal yang mutlak dibutuhkan, karena ketersediaan unsur hara
di media tumbuh sangat terbatas, dan semakin berkurang karena diserap untuk
kebutuhan tumbuh tanaman.
Dalam pengelompokkaannya, menurut para pakar unsur hara
dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar diantaranya; Pertama adalah
unsur hara Makro, yaitu kebutuhan tanaman yang banyak dubutuhkan untuk memenuhi
pertumbuhan tanaman secara maksimal diantaranya: Nitrogen (N), Phosfor (P),
Kalium (K), Sulfur/belerang (S), Calsium (Ca), dan Magnesium (Mg). Adapun yang Kedua
unsur hara secara Mikro, yakni kebutuhan tanaman tetapi hanya terpakai sedikit
diantaranya adalah: Zat Besi (Fe),
Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Boron (B), Klor (Cl), dan Molibdenum (Mo).
Nah, untuk menemukan unsur hara baik Mikro maupun Makro
terdapat pada lapukan-lapukan tumbuhan atau dari lapukan kotoran hewan
herbivora, secara automatis lapukan daun dan kotoran hewan herbivora (pemakan
dedaunan) sudah membawa paket komplit unsur hara tersendiri. Sehingga pada
praktiknya, untuk mempercepat terjadinya pelapukan dibutuhkan bakteri
perangsang dari sisa-sisa tumbuhan yang dibusukkan agar membantu pelapukan.
Adapun daun yang masih baru masih terdapat banyak
kandungan zat tanin atau terdapat kandungan minyak atsiri yang belum tentu
berefek posisif pada tanaman. Salah satu untuk menetralkannya dengan cara
dibusukkan terlebih dahulu agar senyawanya sesuai dengan yang dibutuhkan oleh
tanaman. Dalam proses pembusukan daun dapat dibantu oleh bakteri probiotik dari
hasil racikan sendiri atau bakteri yang dibudidaya agar meringankan cara kerja
penanam.
Cara pembuatan pupuk sendiri
Proses pembuatan pupuk dapat dilakukan secara mandiri
dengan meracik bahan-bahan dari tumbuhan disekitar rumah serta melakukan
pembusukan agar lebih cepat diserap oleh tanaman. Hal terpenting dalam proses
pembuatan pupuk adalah menjaga unsur hara agar kandungan media tanam tercukupi
dari pupuk yang disediakan. Adapun Industri pupuk sekala besar menyederhanakan
agar terpecah-pecah dari masing-masing unsur hara dengan harapan kebutuhan
siasat pasar.
Kebutuhan bakteri pengurai dapat didapatkan dari; air
leri (air cucian beras), molase (tetes tebu), air gedebok pisang, air rendaman
sabut kelapa, air perasan rebung bambu, air rendaman bawang dan sebagainya.
Agar bakteri tetap terjaga dan terus berkembang biak, perlu diikat dengan air
gula atau molase yang dilarutkan dalam rendaman.
Agar penampilan tanaman sesuai harapan kemungkinan karena
kandungan unsur Nitrogen terlalu banyak, maka daun tumbuhan akan berwarna hijau
muda dan untuk membuat daun agar berwarna hijau tua perlu penambahan unsur
kalium yakni dapat ditambah ekstrak daun tumbuhan yang memiliki warna daun
hijau tua seperti ekstrak rumput “sambiloto” atau tumbuhan lain yang direndam
dengan air leri sampai busuk. Selanjutnya air rendaman tersebut dicampur dengan
pupuk rakitan.
Dalam pemakaiannya dapat berupa pupuk kering atau diambil
ektraknya yang berikan pada tanaman dengan cara disemprot melalui mulut daun
(stomata). Ketika pemupukan memakai cara penyemprotan, maka menunggu kapan daun
membuka stomatanya, yakni pada waktu sore sekitar pukul 16-an sampai pukul 9-an
pagi hari. Sehingga dalam penyemprotan tanaman sebaiknya dilakukan ketika
stomata tumbuhan terbuka agar hasil maksimal.
Meracik Anti Organisme Hama Virus atau bakteri jahat yang
menyerang tanaman
Banyak tumbuhan sekitar rumah yang memiliki fungsi racun atau
pengusir hama tanaman ketika termakan oleh hama tanaman, diantaranya ekstrak
daun tembakau, ekstrak ubi gadung, ekstrak buah bintaro, bawang putih, ektrak
kunyit dan seterusnya. Selanjutnya air ekstrakan tersebut dicampur dengan air
pupuk tanaman dan diberikan tanaman dengan cara penyemprotan. Selain itu pola
pemberian dapat diberikan dengan cara “ngocor” atau penyiraman.
Racikan ekstrak berbagai bahan sebaiknya juga dibusukkan
terlebih dahulu (proses fermentasi) agar zat tanin pada bahan tumbuhan dapat
berkurang. Sehingga hanya tertinggal cairan bakteri pro-biotik yang bermanfaat
bagi pertumbuhan tanaman.
Ketika penyemprotan sebaiknya merata terutama bagian
bawah daun. Karena dibagian bawah daun seringkali untuk tempat persembunyian
hama kutu yang mengakibatkan salah satu penyebab daun tanaman menjadi keriting.
Adapun waktu penyemprotan juga bersamaan waktu dalam pemupukan. Hal ini
memiliki alasan bahwa selain terbukanya stomata, tanaman juga mengalami siklus
pertumbuhan pada malam hari.
Manfaat mengenali pola perlakuan tanaman
Pola mengenali cara perlakuan terhadap tanaman adalah
sebagai modal dasar untuk dapat mengembangbiakkan tanaman baik secara
generative maupun secara vegetative. Sehingga akan mempermudah dalam
pengembangbiakkan, diantara menyemai tanaman tomat atau yang lainnya tanpa
harus menyemai dari biji. Tomat akan tinggal potong bagian cabang dan
selanjutnya bagian pangkal direndam dengan air pupuk sampai sekitar seminggu,
maka bagian pangkal tomat akan tumbuh akar dan siap disemai dalam media. Hal
ini dapat menghemat waktu serta mempercepat waktu berbuah tanaman minimal
sekitar sebulan bahkan jikalau yang ditanam pohon buah seperti mangga,
kelengkeng dst dapat menghemat waktu tahunan jika disbanding memulainya dari
semai biji.
Selanjutnya penanam dapat menyiasati media tumbuh tanaman
misalnya memakai media hidroponik, aquaponik, pola sambung tunas, sambung akar
dan sebagainya agar menyingkat waktu panen tanaman, selain itu juga tidak
mengurangi hasil panen.
Pengenalan tanaman dan media tanam, kedua poin itu
bermanfaat untuk mewujudkan pola pertanian organik serta mandiri dalam hal
pupuk subsidi pemerintah serta mengurangi konsumsi obat-obatan yang akan
menjadikan banyak pengeluaran keuangan, bahkan perlakuan pupuk (kimia) juga
berefek pada media tanam menjadi semakin gersang. Sehingga pola organik dapat
mewujudkan organisme menyubur tanah pulih kembali, semakin sering melakukan
pemupukan secara organik maka semakin unsur hara dalam tanah tumbuh dengan
baik.

Komentar
Posting Komentar