Abaikan Leadership Terapkan Makmumship

 


semenjak penulis mengenal organisasi di bangku SMP (tahun 2000) sampai sekarang, dalam bahasan forum seringkali berbincang mengenai Leadership”. Seakan leadership adalah kunci dari semuanya dalam aspek kehidupan. Akan tetapi ketika semua menjadi sosok Leaders, lantas siapa yang menjadi makmum atau orang yang siap mengikuti intruksi atau arahan?

Seringkali teori-teori Leadership dari A sampai dengan Z, bahkan referensi Leadership juga berhamburan dimana-mana; misal di lingkungan kantor, keluarga, kelas, masyarakat, organisasi dan seterusnya. Seakan menguasai segala lini media dan membangun karakter. Sehinga chloe “Leadership” bukanlah bahasan yang baru tumbuh di kehidupan sosial pada umumnya.

Pada dasarnya leadership adalah keterampilan manajemen untuk memotivasi, mempengaruhi atau mengarahkan orang lain untuk melakukan maksud tertentu serta memiliki capaian atau tujuan tertentu. Seperti yang dijelaskan banyak orang di berbagai media bahkan sampai di forum training khusus leadership itu sendiri.

Penulis menangkap setidaknya ada tiga poin penting dalam pemaknaan leadership; diantaranya adalah keteguhan, keteladanan dan pengorbanan.

1.    Leadership adalah keteguhan.

Seorang leader berupaya mempertahankan sikap positif segala keadaan meskipun keadaan genting. Berupaya berempati dengan menjadikan keadaan menjadi stabil tanpa harus menambah suasana semakin tegang yang berujung kepada sikap saling menjatuhkan. Keteguhan pondasi awal seorang leader kepada teamnya agar bekerja secara maksimal meski hasilnya tidak sesuai dengan apa diaharapkan minimal sudah menampilkan karya yang terbaik.

2.    Leadership adalah keteladanan

Keteladanan juga merupakan poin penting dalam diri seorang leader, tanpa memberikan contoh action diri. Maka seorang leader akan minim atau krisis kepercayaan terhadap seorang pemimpin.

3.    Leadership adalah pengorbanan

Pengorbanan sebuah perilaku merelakan upaya menjalin demi kebersamaan kerja team. Sikap leader juga merupakan inspirasi bagi team untuk meksimalisasi kinerja.

Perihal di atas merupakan kemampuan dasar yang paling mendasar dalam leadership dari seorang pemimpin. Akan tetapi juga belum maksimal tanpa adanya menjalin komunikasi, sehingga komunikasi inilah yang akhirnya seorang leader akan mampu mewujudkan generasi pemimpin baru.

Kegagalan Leader

Seringkali seseorang menjadi leader dalam sebuah kinerja team, misalnya pemimpin rumah tangga, pimpinan lembaga ataupun perihal lain yang ada kaitannya menjadi pemegang palu kebijakan. Akan tetapi juga masih banyak ego pribadi yang dibawa-bawa agar menjadi keputusan secara organisasi tanpa melihat kapasitas orang-orang yang dipimpinnya. Pada akhirnya kelompoknya terjadi perpecahan serta enggan melakukan kinerja yang telah disepakati.

Kegagalan ini rata-rata disebabkan minimnya pemahaman sesorang tentang kesadaran diri dalam pemaknaan leadership itu sendiri. Meskipun berulangkali mengikuti pelatihan leadership, mereka tetap menilai bahwa leadership adalah pelatihan untuk menjadi Raja sehingga orang lain akan menjadi rakyat jelata tanpa diberikan kesempatan berpendapat atau usulan sebuah langkah kinerja. Padahal leadership adalah upaya menyatukan misi agar sebuah misi itu diwujudkan bersama dengan mudah dan dilakukan secara kerja team untuk mempermudah kinerja.

Makmumship Upaya Solusi Kegagalan Pemaknaan Leadership

Makmum secara bahasa berasal dari bahasa arab yakni berkedudukan menjadi isim fa’il (orang yang melakukan pekerjaan), yakni berasal dari kata “ma’muumun” ( مأموم ) yang berarti “yang diimami / yang dipimpin”. Berdasarkan makna dari kata tersebut maka makmum adalah orang yang mengikuti segala apa yang diinstruksikan oleh seorang imam.

Pelaksanaan aktifitas beribadah dalam agama islam, kata makmum dan imam ini dipakai dalam prosesi sholat berjamaah, yaitu sembahyang yang dilakukan sedikitnya dua orang, dimana seorang imam akan menjadi pemimpin prosesi ibadah dan makmum akan mengikuti segala aktifitas wajib dalam prosesi sembahyang.

Adapun filosofi dari aktifitas ini menggambarkan bahwa seorang imam (pemimpin) yang telah disepakati oleh para makmum, akan memimpin jalannya aktifitas secara bersama. Akan tetapi para makmum juga wajib mengingatkan ketika terjadi kesalahan dalam aktifitas tugas imam. Meski demikian apapun jabatan dari seorang makmum, ketika berposisi sebagai makmum wajib mengukuti instruksi dari seorang imam.

Dalam aktifitas organisasi, banyak permasalah-permasalan yang menyangkut tentang masalah internal maupun eksternal. Permasalahan ini pada dasarnya timbal balik nilai penting dari organisasi itu sendiri, sehingga solusi masalah akan semakin menambah dinamika kebesaran dari organisasi yang digeluti, jika hal ini dipikir kembali oleh pelaku organisasi. Akan tetapi jika kemudian terjadi perpecahan, maka langkah organisasi akan menemukan kebuntuhan dan terancam vakum bahkan bubar.

Segala permasalahan organisasi sudah seharusnya diselesaikan secara musyawarah dan pemikiran-pemikiran yang dingin. Karena semakin organisasi itu besar, maka semakin besar pula permasahan serta dinamika yang timbul juga semakin besar. Mengutip dari KH. Abdurrohman Wahid, Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.” Dalam istilah amatiran disini adalah sebagai tanda bahwa seseorang tersebut masih tergolong kanak-kanak karena masih mencari perhatian disekitarnya.

Alhasil, langkah mencari solusi dalam musyawarah organisasi, adalah sebagai wujud mematangkan nilai kearifan bahwa akan membawa para pelaku organisasi serta Lembaga organisasinya dalam ranah keluhuran bangsa yang madani. Sehingga sangat perlu seseorang mempelajari dan memposisikan diri menjadi makmum dalam Tindakan keorganisasian.

By.MukhosisAbdul.Kalidawir,14Oktober2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan