Stadium Berkah dari Menulis Menjadi Miliarder; Kisah Motivasi Ning Khilma Anis dari menulis Novel “Hati Suhita” *

Seorang penulis memiliki motivasi latar belakang serta pengalaman yang berbeda-beda, mulai dari karena alasan kebiasaan menulis atau memiliki hobi menulis diary, keterpakasaan menulis tugas sekolah, bahkan tuntutan profesi akademik sehingga memaksa keadaan untuk menulis, serta latar belakang penulis yang lainnya.
Begitu juga dengan penulis Novel “Hati Suhita” yang memiliki
latar belakang tuntutan menulis cerpen hingga karena permintaan pembaca untuk
dibuatkan novel ketika masih di bangku kuliah. Para pembaca menilai dalam
tulisan Ning Khilma sedikit berbeda dari kebiasaan penulis pada umumnya. Beliau
seringkali menampilkan alasan karakter tokoh yang selama ini dianggap tabu oleh
Masyarakat. Selain itu, beliau seringkali menampilkan kearifan pelajaran Jawa
yang sering terlupakan.
Selama perjalanan beliau ketika menjadi mahasiswa, Ning Khilma juga
mengikuti unit kegiatan mahasiswa penulisan di salah satu kampus besar di
Jogjakarta. Ning Khilma yang awalnya hanya gemar membaca tentang ke-Jawaan yang
identik dengan Keris, ritual dan wayang. Sehingga dari sinilah kajian sosial
budaya Ning Khilma tumbuh berkembang.
Ning Khilma Anis dibesarkan
dari keluarga pesantren yakni pesantren “An-Nur” yang terletak di desa Kesilir, kecamatan
Wuluhan, kabupaten Jember, Jawa Timur. Secara kebiasaan, jarang
ditemukan sosok perempuan yang lahir menjadi penulis di lingkungan pesantren.
Terlebih lagi perempuan, karena dalam dunia pesantren seorang santri putri
lebih padat kegiatannya apabila dibanding dengan santri putra.
Ning khilma, meluangkan waktu sekitar 1 sampai 2 jam setiap harinya
bahkan istirahat pun terkurangi serta tidur larut malam untuk menulis cerpen
demi dapat dibaca oleh orang banyak melalui fanpage facebook beliau. Akan
tetapi perjuangan ikhlas beliau tidak pernah surut demi permintaan pembaca
fanpage beliau. Meskipun beliau sempat terkena terpaan bahwasannya karya
cerpennya adalah hasil plagiat, Ning Khilma tidak pernah surut semangatnya
dalam menulis demi pembaca.
Beberapa motifasi yang menjadikan beliau rajin menulis adalah
beberapa pelajaran ke-Jawaan diantaranya;
1. Ojo Mati Tanpo Aran, Mikul Duwur Mendhem Jero
Istilah “Ojo Mati Tanpo Aran” dan “Mikul Duwur Mendhem
Jero” adalah ajaran Jawa bersamaan dengan perjalanan dakwah Walisongo pada
masa Sunan Kalijaga dalam pagelaran wayang kulit. Istilah “Ojo Mati Tanpo
Aran” dan “Mikul Duwur Mendhem Jero”, juga sering kali
mengilhami Ning Khilma dalam penulisan cerpen beliau yang berjidul “Hati
Suhita”.
Menurut beliau, “Ojo Mati Tanpa Aran”, berarti “jangan mati
tanpa meninggalkan nama” yaitu seseorang harus memiliki karya positif yang dapat
dinikmati serta dikenang oleh orang-orang sekitarnya. Sedangkan “Mikul Duwur
Mendhem Jero” yaitu kebaikan orangtua atau leluhur hendaknya ditonjolkan
atau dilestarikan sebagai pedoman dalam kehidupan. Dari sinilah Ning
khilma mengawali karya dengan menulis.
2. Gusjigang
Istilah Gusjigang merupakan kearifan ajaran Jawa yang dilestarikan
oleh Sunan Kudus dalam dakwahnya. Pengertian gus jigang sendiri terdiri dari tiga
kata “Gus, Ji, dan Gang”. “Gus” yang berarti bagus, yakni
seseorang harus berperilaku bagus atau beretika luhur. “Ji” yakni pandai
ngaji atau berpengetahuan luas. Sedangkan “Gang” berarti pandai
berdagang, dalam artian seseorang harus mampu manajemen keuangan dan perputaran
bisnis untuk kebutuhan sehari-hari.
3. Teken, Tekun, Tekan.
Teken berasal Bahasa jawa yang berarti tongkat atau alat untuk
pegangan berjalan, yakni berarti pedoman hidup. Tekun berarti ulet atau
istiqomah dalam melaksanakan misi kehidupan. Sedangkan tekan adalah sampai atau
buah hasil dari teken (arahan atau pedoman) dan tekun (istiqomah). Sehingga
seseorang setelah melalui masa berjuang dari apa yang dicita-citakan maka
seseorang dipastikan mendapat hasil dari jerih payah usahanya.
4. Seneng, Kenceng, Kapareng, Wilujeng.
Seneng artinya senang menjalankan aktifitas yang diharapkan, kenceng berarti memiliki prinsip serta pemikiran yang matang, kapareng berarti sesuatu yang dikerjakan bernilai positif dan siap melaksanakannya. Sedangkan wilujeng artinya selamat, yakni terhindar dari sesuatu yang tidak dinginkan.
Khilma Anis dan Karyanya
Novel “Hati Suhita” bukanlah novel pertama kali yang beliau tulis,
melainkan novel ke-3 setelah novel yang berjudul “Jadilah Punamaku Ning”
dan Novel “Wigati”. Novel “Hati Suhita”, beliau tulis karena intensitas
menulis cerpen di halaman facebook. Selanjutnya, beliau sempurnakan dengan
menerbitkan dalam bentuk cetak.
Meskipun pemutaran film yang diadop dari cerita novel Hati Suhita telah
tampil di layar kaca pada bulan Mei 2023, akan tetapi masih terasa hangat oleh
para pecinta novel dan menjadi berbincangan di kalangan generasi muda terlebih
pada kalangan mahasiswa dengan mayoritas usia belum menikah.
Berawal dari Menulis cerita bersambung “Hati Suhita”, Ning Khilma Mengembangkan Imajinasi Literasi yang seakan-akan kisah kehidupan nyata, sehingga seorang pembaca selalu penasaran dengan kelanjutan kisah tersebut.
Ning Khilma Anis Membaca Peluang Bisnis
Sedikit Kembali kepada istilah “Gus Jigang”, telah melekat mendalam
memupuk semangat Ning Khilma dalam menjalankan harapanya, yakni seseorang dalam
kehidupan harus berprinsip “Gus Jigang”, bagus etikanya, berpengetahuan luas
serta pandai manajemen usahanya.
Ning Khilma dari karyanya mampu mencetak kepada penerbit Indie dan
menjual buku karyanya hanya dari agen beliau, yakni dari kalangan alumni
santri, Ibu rumah tangga dan komunitas buruh migrant dan lainnya. Hasil
penjualan Novel “Hati Suhita” mencapai 90.000 eksemplar lebih pada akhir Mei
2023.
Setelah novel dijadikan Film, rating “Hati Suhita” semakin melekat
pada Masyarakat Indonesia secara luas. Sehingga banyak bermunculan produk usaha
yang menfaatkan nama “Suhita”, seperti Bakso “suhita”, salon Suhita, Café
Suhita dan seterusnya.
Melihat peluang tersebut, Ning Khilma berupaya mematenkan karya
“Suhita” agar tidak terjadi akuisisi produk dan berfikir Inovasi untuk membuat
produk baru berupa usaha lain dengan memanfaatkan nama “suhita”. Alhasil, semua
jerih payah beliau dalam mematenkan produk, tercapai dengan baik.
Produk Usaha Turunan dari “Hati Suhita”
Dalam dunia bisnis, seseorang pasti membutuhkan brand produk usaha.
Nama “Hati Suhita” merupakan Brand kunci dalam produk turunan. Seseorang
tidak perlu lagi mencerikan tentang “suhita”, setidaknya mereka membaca kata
“suhita” sudah mengenalnya dan dekat di hati mereka. Karena dalam dunia usaha
perlu memiliki branding dan marketing professional. Selain itu pelaku usaha
juga membutuhkan brand management untuk mewujudkan keunikan produk serta
meminimalisir munculnya competitor usaha.
Saya (penulis) menilai bahwa Ning Khilma sudah mencapai level
branding yang luar biasa. Karena level ini rawan sekali terjadi sleding produk
ketika produk telah mencapai masa booming, seringkali terjadi akuisisi oleh
competitor pelaku usaha lainnya. Sehingga, keseriusan pelaku usaha harus memperhatikan
legal paten nama produk masing-masing usahanya.
Pada hari Sabtu, 9 September 2023 Program Studi PGSD FIP UNESA
Surabaya telah mengadakan dialog penulisan kreatif, Ning Khilma adalah salah
satu narasumber dialog tersebut. Beliau menyampaikan pengalamannya dalam upaya
mempertahankan produk agar tidak terjadi sleding produk. Beliau memaparkan
bahwa sudah terjadi banyak produk yang memakai nama “suhita” sebagai nama
usaha.
Beberapa produk turunan karya brand Ning Khilma diantaranya;
kerudung suhita dengan motif pemandangan jadul serta lukisan wayang. Selain itu
produk kain tenun ikat “suhita” yang sekarang laris digemari
Melihat beberapa postingan media sosial, mulai FB, Twitter, TikTok, dan media sosial yang lainnya.Tampaknya kerudung ala “hati Suhita” laris dipasaran dengan harga mulai 200.000an. Hal ini menjadi suatu usaha yang fantastis ketika brand sudah tertata dengan baik. Selanjutnya, pelaku usaha hanya menjaga inovasi produk dan kebutuhan pasar.
Sekian terimakasih.
By.MukhosisAbdul
Kalidawir, 27 September 2023
Komentar
Posting Komentar