Pesantren Sebagai Sumber Kekuatan Akar Rumput Peradaban Bangsa
Sekelumit ini
merupakan hasil catatan kecil ketika perjalanan pulang menghadiri Halaqoh
Nasional tentang Fiqih Peradaban; Fiqih Siyasah dan Tatanan Dunia Baru, Oleh Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama (PBNU) yang membahas bertema “Tradisi Santri dan Relevansi Turats dalam
peradaban dunia baru” yang diselenggarakan di pesantren Darul Hikam, Jorsan
Ponorogo.
Jauh sebelum negara Indonesia
merdeka, nama santri dan pesantren telah menggaung erat dalam proses belajar di
seluruh penjuru wilayah Indonesia. Bahkan kata santri banyak ahli yang
beranggapan diambil dari bahasa sanskerta “shastri” yang berarti mendalami ilmu
pengetahuan. Adapun tempatnya adalah “pesantren”, yakni suatu tempat berkumpul
dalam rangka mendalami ilmu pengetahuan.
Ada sebagian dari ilmu cucoklogi
seperti halnya yang disampaiakan KH. Abdullah Dimyathy Banten, beliau berpendapat bahwa kata santri merujuk pada huruf; sin berarti “satrul al
‘awroh” atau "menutup aurat"; huruf nun berasal dari istilah “na’ibul
ulama” yang berarti "wakil dari ulama"; huruf ta’ dari tarkul
al ma’ashi atau "meninggalkan kemaksiatan"; serta huruf ‘ro dari ra’isul
ummah yang berarti "pemimpin umat.
Selanjutnya
dalam perkembangannya di Indonesia, lebih
familier dikenal baik santri maupun pesantren atau sekarang lebih dikenal
dengan istilah “pondok pesantren”, yakni sebuah ruang asrama untuk tempat
tinggal sementara yang dipakai sebagai mendalami ilmu pengetahuan khususnya
agama Islam.
Di Indonesia terdapat ribuan pondok
pesantren, setidaknya Kementerian Agama mencatat sekitar 39.043 pesantren pada
tahun 2022/2023, belum lagi ditambah pesantren yang berada di pelosok daerah
dengan kemungkinan besar masih banyak pesantren-pesantren yang belum terdaftar
di kementerian agama. Mereka sengaja tidak mendaftarkan diri di kementerian
bukan berarti membangkang kepada negara, akan tetapi lebih kepada menjaga
tradisi dan kemurnian pesantren itu sendiri yakni berdiri secara mandiri tanpa
bantuan dari pemerintah.
Kemandirian pesantren sejak
pra-kemerdekaan baik dalam sektor ekonomi maupun kurikulum pembelajaran, sejak
dahulu tidak sepatutnya dipertanyakan ulang. Karena sudah pasti bahwa pesantren
tumbuh hidup dan berkembang secara mandiri. Bahkan industri-industri besar di
negeri ini muncul dari pesantren.
Pesantren Era Kurikulum Merdeka
Pendidikan
Indonesia baru-baru ini mulai tahun 2022 telah meluncurkan kurikulum Merdeka,
dimana para siswa diberikan keluasaan belajar di luar kelas dengan dilengkapi ruang
untuk praktek secara langsung. Hal ini bertujuan dengan adanya system kurikulum
Merdeka sekolah mampu menerapkan pembelajaran intrakulikuler dengan muatan yang
banyak dan beragam sehingga siswa dapat lebih optimal dalam mengembangkan pengetahuan.
Akan tetapi,
hal ini tampaknya sudah biasa diterapkan oleh pesantren dalam mengembangkan
minat, bakat serta pengetahuan santri. Dalam lingkup pesantren, santri sudah
terbiasa duduk dipojok-pojok, di Lorong, angkring ataupun tempat yang dianggap
nyaman dengan cara berkelompok sembari membawa buku pelajaran. Mereka membawa
secangkir kopi, persediaan udud bagi yang laki-laki, dan salah satu mengawali
pembahasan ilmu keagamaan tertentu. Selanjutnya, setiap diantara mereka bebas
menyanggah serta menambah seperti halnya diskusi pada system perkuliahan. Hal
tradisi ini di dalam pesantren dinamakan “syawir” atau diskusi
bermusyawarah masalah pelajaran keagamaan.
Dalam
pembelajaran di ruang kelas, santri juga sudah terbiasa diskusi di lingkup
kelas menyampaikan materi kepada temanya sekelas sambil menunggu kehadiran
ustadz atau guru pelajaran mereka.
Tidak hanya
urusan pelajaran, perihal lainnya seperti memperbaiki arus listrik kamar
masing-masing, servis kendaraan, membuat rak buku, meja belajar dan lain
sebagainya para santri sudah terbiasa melakukannya secara sendiri maupun
berkelompok. Selain itu, para santri yang sudah banyak pengalamannya, juga
memberikan pengetahuan yang dimiliki kepada generasi santri di bawahnya.
Pesantren dan Teknologi
Era Digital
Indonesia
banyak memiliki wacana program kemandirian teknologi yang akan dikembangkan
kepada masyarakat secara umum. Seperti halnya program “back to nature”,
wacana organik, serta program-program yang biasa disebut “Teknologi Tepat Guna
(TTG)” dan lain sebagainya. Hal ini sudah tidak asing lagi dalam dunia pesantren
dengan aktifitas-aktifitas diatas.
Meskipun dengan
peralatan seadanya ala santri dan buget semampunya, pesantren telah
mengembangkan alat manual ala pesantren untuk memenuhi serta meringankan
operasional kebutuhan pesantren. Misal, membuat alat penerangan sekala kecil
dengan tenaga angin, pepohonan dan tenaga kincir air. Merakit alat angkut cor
beton dengan mesin sepeda motor, pembuatan pupuk organic, pestisida organic dan
sebagainya.
Banyak alumni
pesantren yang menemukan teknologi baru serta teknologi tepat guna kemudian
dianggap sebagai perusak pasar perusahaan besar. Mereka kemudian berurusan
aparatur penegak hukum akibat tidak tahu-menahu tentang produk yang mereka
dikembangkan.
Pada era millennial
ini, pemerintah sudah banyak memberikan program kepada pesantren serta
memfasilitasi program pesantren terutama menjembatani kegiatan produksi dan
penjualan ke pasar ekspor. Alhasil, banyak pesantren yang telah berperan
sebagai eksportir, seperti halnya hasil peternakan, hasil pertanian, perikanan,
serta produk-produk olahan yang dikembangkan oleh pesantren.
Program
pemerintah yang masuk ke pesantren diantaranya; permodalan Koppontren, balai
latihan kerja komunitas, Kerjasama perijinan produk halal, Kerjasama
ekspor-impor dan sebagainya. Semua kegiatan program pemerintah, pada era
sekarang sekitar 75% masuk dan menjalin kerjasam di berbagai pesantren seluruh
Indonesia.
Imbas positif
dari Kerjasama pemerintah ini, banyak pesantren yang memiliki skill khusus
misal; pesantren yang memiliki label entrepreneur, pesantren multimedia,
pesantren teknologi perikanan dan pertanian, pesantren dakwah, dan seterusnya.
Maksud dari pelabelan ini tidak lain bertujuan bahwa pesantren tersebut lebih
terfokus pada label yang ditekuni disamping tugas pesantren memberikan
pelajaran pendalaman ilmu keagamaan.
Pesantren Sebagai
Pelestari Kearifan Lokal
Masyarakat Indonesia
lebih banyak mengenal kearifan lokal, bahkan tidak terhitung jumlahnya karena terlalu
banyak kearifan local yang tersimpan. Akan tetapi sebuah tradisi, adat serta
budaya berangsur-angsur mengalami kepunahan tergerus oleh perkembangan zaman.
Hal yang
disayangkan lagi bahwa kearifan lokal di masyarakat dipandang sebelah mata
serta suatu yang ketinggalan zaman. Akan tetapi tanpa berfikir ulang bahwa
kearifan lokal merupakan sebuah embrio penting berdirinya sebuah bangsa besar
seperti Indonesia.
Menurut
beberapa sesepuh, seperti KH. Abdul Malik, penyusun kitab fiqih dasar
Tulungagungan “tarbiyatussibyan”, beliau berpendapat bahwa semua unsur
aburampen (segala sesuatu untuk kebutuhan upacara adat) adalah bentuk do’a yang
diwujudkan barang. Sehingga setiap perlengkapan barang untuk berdo’a, seperti
tempat berdo’a juga menentukan atas heningnya prosesi berdo’a.
Dalam setiap
upacara adat memiliki uborampe yang berbeda-beda, sesuai kebutuhan upacara yang
dimaksud, seperti upacara pernikahan, syukur bumi, bersih desa, selamatan
kematian, selamatan pendirian rumah, lahiran bayi dan lain sebagainya. Selain
itu ditambah setiap daerah atau kesukuan juga berbeda uborampe serta prosesi
upacaranya. Upacara adat diyakini sebagai sumber petuah serta keselamatan
sekunder setelah keyakinan terhadap Tuhan YME, Adapun do’a ritual upacara
sebagai upaya penambah semangat atas segala aktifitas do’a.
Selanjutnya,
perkembangan adat, tradisi budaya masyarakat akan terjaga utuh serta epik di
pondok pesantren. Karena pondok pesantren menilai bahwa tujuan pondok pesantren
adalah menjaga kerarifan agar kearifan tetap berjalan sesuai rel ghirah
(semangat) serta tetap memiliki ruh ketuhanan secara sempurna. Sedangkan
kearifan lokal berjalan sempurna jika mewujudkan generasi yang sholih atau
berbudi luhur pada setiap generasi.
Proses
mewujudkan generasi sholih di masyarakat, tidak seindah drama korea yang
berujung selalu indah. Para santri lulusan pesantren akan kembali kemasyarakat
sehingga mereka berbaur kembali mengembangkan segala aspek di masyarakat untuk
mewujudkan masyarakat yang madani.
Perjalanan ini
membutuhkan waktu yang lama hingga puluhan tahun untuk melahirkan generasi
hybrid sholih oleh para santri yang telah dibekali banyak pengalaman serta
pengetahuan selama di pondok pesantren. Selain itu, masih ditambah gangguan
generasi dari masa-kemasa mulai gangguan teknologi, kenakalan remaja, dan
kasus-kasus kekerasan keluarga yang bermunculan di lingkungan masyarakat. Semua
gangguan ini, para alumni santri di masyarakat dianggap sebagai pemegang
kebijakan pada sektor paling poros.
Segala bentuk
budaya seperti budaya gotong-royong, bermusyawarah mufakat, bakti sosial bagi
masyarakat yang kurang mampu, bahkan pembelajaran keagamaan di masyarakat juga
dititikberatkan kepada santri sebagai generasi pesantren yang terjun
dilapangan. Hal ini yang mewujudkan pesantren akan tetap di hati masyarakatnya
dalam segala aspek kehidupan.
Pesantren
sumber peradaban
Mulai tahun
2022-2023 mulai gencar dengan brand pesantren seperti halnya iklan produk di
media sosial. seiring dengan munculnya pesantren yang memberikan diri sebagai label
pesantren, seperti pesantren teknologi, pesantren entrepreneur, pesantren
qur’ani dan seterusnya, maka akan berimbas positif di masyarakat. Karena para
santri pesantren akan kembali ke masysrakat dengan notabene membawa perbedaan
pengalaman skill dari almamater pesantren masing-masing. Latar belakang
pengalaman pesantren akan tumbuh berpadu diwujudkan sebagai program
pemberdayaan yang dituangkan di masyarakat.
Munculnya
pengetahuan baru di masyarakat, maka mayoritas masyarakat menerima serta
mengembangkan pengetahuan tersebut. Kemudian akan muncul program-program baru
seperti munculnya industri-industri kecil, program peternakan-pertanian serta lembaga
kecil berdiri dan dirintis seiring perkembangan zaman. Di masyarakat tentuya
juga tidak terlepas dari munculnya permasalahan baru di permukaan, akan tetapi
permasahan itu justru menambah pertumbuhan dinamis sosial-kemasyarakatan
tersendiri.
Dalam
pergulatan sosial-masyarakat, Pesantren akan tetap menjadi inspirasi bagi
alumni santri serta pergerakan-pergerakan kemasyarakatan. Para pelaku atau
tokoh masyarakat dari alumni pesantren akan tetap menjaga hubungan dengan
pesantren almamater dimana mereka dibesarkan serta berproses ilmu pengetahuan.
Mereka akan tetap berharap bimbingan, nasehat dari para guru atau kyai serta
menjalin kerjasama program kepada pesantren induk masing-masing.
Kerjasama antar
pesantren tidak hanya urusan pendalaman materi agama saja, akan tetapi urusan
bisnis juga tidak terlepas. misal kelompok atau asosiasi usaha dari pesantren dengan
program “One pesantren One Product” atau lebih dikenal istilah OPOP yang
selama ini bekerjasama dengan pemerintah. Yakni badan usaha yang bertujuan
peningkatan kesejahteraan berbasis pondok pesantren melalui pemberdayaan
santri, pesantren dan para alumni pondok pesantren. Setiap pesantren disarankan
memiliki badan usaha yang ditekuni; baik berupa barang maupun jasa.
Banyak
pesantren yang memiliki badan usaha yang bersifat lebih merakyat serta berbasis
ekonomi kreatif. Mulai dari usaha sambal ikan kemasan kaleng, pakan kosentrat
ikan, usaha nugget mulai jenis ikan patin sampai ayam, padi organik sekala
eksport dan lain sebagainya. Semua badan usaha dikelola tim pesantren secara
kemasyarakatan, yakni lebih mengutamakan pemberdayaan dan kemandirian operasional
pesantren.
Penulis
menilai, bahwa kedepan pemerintah akan mengikuti perkembangan kemandirian
pesantren baik secara ekonomi, sosial, pariwisata dan politik, serta menitik
kepada kebijakan pesantren. Karena banyak hal realitas program pemberdayaan masyarakat
dari pemerintah yang diberikan kepada pesantren untuk pengelolaannya.
Tampaknya perusahaan-perusahaan
besar juga mengambil posisi dalam kerjasama program produksinya dengan
melibatkan pesantren. Seperti halnya pembuatan benih tanaman pertanian, produksi
tanaman rempah-rempah, penjualan pakan ternak dan program Perusahaan lainnya.
Selain itu, banyak pejabat pemerintahan yang merapat atau menggandeng dengan
pesantren guna bertujuan tertentu; dukungan moril, penataan figure, Kerjasama
melancar program dan seterusnya.
By.MukhosisAbdul


Pesantren tak lekang dimakan zaman. Hidup santri...!!
BalasHapus