Diklat ala Kenabian; Kisah Keteladanan Pendidikan Nabi Muhammad SAW dari Usia Anak-Anak Sampai Remaja

 



Abu Musa al Asyari, dari Nabi, beliau bersabda: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk laksana pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi bisa jadi akan memberimu wewangian atau kamu membeli wewangian darinya atau kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa jadi akan membakar bajumu atau kamu mendapatkan aroma tidak sedap darinya". (HR. Bukhari).


Dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H , bertepatan pada tanggal 28 September 2023 Masehi, izinkan penulis untuk menyampaikan sesuatu dengan itba' serta meneladani Nabi Muhammad SAW ketika beliau menata pengalaman beliau pada usia Anak sampai remaja


Latar Belakang Keluarga Nabi Muhammad SAW

Bulan Robiulawal merupakan bulan dimana umat muslim pada umumnya merayakan hari kelahiran kekasih sekaligus panutan yakni bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada tanggal 12 Robiul Awal dan bertepatan dengan peristiwa sekutu Abrahah yang berkeinginan akan menghancurkan Ka’bah, tepatnya pada angka tahun 570 Masehi.

Nabi Muhammad terlahir dari keluarga sederhana dengan aktifitas berdagang yakni ayahandanya Bernama Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim dan dari Ibundanya bernama Aminah binti wahb bin Abdu Manaf juga dari keluarga sederhana. Keduanya merupakan dari suku Quraiys yang menetap di daerah lembah Makkah serta terkenal dengan suku yang besar dan penuh wibawa di kalangan suku-suku yang lainnya.

Ayahanda Nabi Muhammad SAW terkenal orang yang jujur dan sederhana. Suatu ketika ayahanda Abdullah pergi pejalanan dagang pada usia 25 tahun. Beliau melakukan perjalanan dagang ke luar kota, beliau mengalami sakit-sakitan sehingga memutuskan tinggal sementara di Yatsrib yakni kota Madinah sekarang. Di kota ini, beliau istirahat sekitar satu bulan. Karena kondisi badan semakin memburuk sehingga Abdullah bin Abdul Mutholib meninggal dunia.

Ketika Abdullah bin Abdul Mutholib meninggal dunia, dalam beberapa para ahli sejarahbanyak menceritakan bahwa istri Abdullah bin Abdul Mutholib sedang hamil sekitar tujuh bulan dan selang beberapa bulan lahirlah bayi laki-laki yang diberi nama “Ahmad” atau Muhammad oleh kakeknya Abdul Mutholib.

Terlepas dari cerita tragedi penghancuran Ka’bah menjelang kelahiran Nabi Muhammad oleh pasukan Abrahah dengan mayoritas penunggang gajah, Nabi Muhammad kecil terlahir dengan keadaan yatim. Sehingga keberadaan ini membuat Nabi Muhammad harus tumbuh dengan mandiri dan kehilangan sosok ayahanda.

Dalam tradisi Masyarakat Arab pada umumnya termasuk suku Quraiys, terdapat kebiasaan memberikan anak kepada orangtua asuh untuk menyusui. Hal ini merupakan suatu kebiasaan yang terjadi ketika Masyarakat Arab melahirkan kemudian dititipkan kepada orang lain untuk disusuinya.

Pendidikan Etika dan Bahasa Pertama Nabi Muhammad SAW

Ketika siti Aminah mencari sosok pengasuh nabi Muhammad, belum juga mendapatkan sosok pengasuh tersebut. Suatu ketika Ibunda Nabi Muhammad SAW mendapat kabar dari para saudaranya suku Quraiys untuk di bawa ke bani As’ad, kampung arab Badwi yang jauh dari perkotaan dan terjaga dari kontaminasi Bahasa arab asing. Dari sinilah secara kebetulan Siti Aminah bertemu dengan Halimah binti Abu Dzuaib, yakni yang dikenal dalam sejarah Halimah Assa’diyah (keluarga marga Bani Sa’ad) dari kabilah Hawazin.

Bani Sa’adiyah, merupakan keluarga sederhana dengan pola Masyarakat yang mayoritas sebagai buruh penggembala domba serta memiliki tutur bahasa yang ramah khas perkampungan serta senantiasa hidup rukun antar tetangga. Sehingga banyak masyarakat sekitar yang menitipkan hewan ternaknya kepada keluarga Bani Sa’adiyah.

Kampung Bani Sa’adiyah secara Geografis merupakan kampung yang tergolong daerah gersang. Akan tetapi ketika musim itu, menjadi kampung yang subur dan banyak hewan ternak yang digembala serta dititpkan di kampung tersebut terutama kawasan milik Halimah Sa’diyah.

Halimah Sa’diyah memiliki karakter rajin dan ramah seperti halnya suaminya bernama Harits bin Abdul Uzza atau masyrakat sekitar memberi julukan Abu Habysah. Kepandaian dalam hal merawat binatang ternak oleh Halimah Sa’diyah dan suaminya Abu Habysah sehingga banyak masyarakat yang kagum terhadap perilaku mereka.

Selang sekitar lima tahunan, Nabi Muhammad dibesarkan oleh Halimah Sa’diyah dan sedikit banyak Nabi Muhammad SAW mewarisi sikap rajin yang diberikan oleh Halimah Sa’diyah seperti halnya mendidik anak-anaknya sendiri. Selain itu Nabi Muhammad juga belajar bagaimana komunikasi antar teman-temanya dari anak-anak Halimah seperti komunikasi pada umumnya di kampung dari keluarga yang baik.

Belajar Mandiri Tanpa Kasih Sayang Ayah dan Ibu

Nabi Muhammad hidup layaknya anak-anak pada umunya, yakni membutuhkan kasih saying kedua orangtuanya, bermain bersama teman-temannya serta pendidikan yang membimbingnya. Akan tetapi Nasib lain harus dilalui oleh Nabi Muhammad harus berpisah dengan kedua orangtuanya untuk selamanya di dunia.

Ketika Nabi Muhammad berumur 5 tahun, Halimah Sa’diyah mengembalikannya Kembali kepada pangkuan Ibunda dan Kakeknya di kabilah Tho’if sampai Nabi Muhammad berumur 6 tahun. Karena rasa kasih sayang Ibu terhadap anaknya (Nabi Muhammad), Siti Aminah menginginkan untuk mengunjungi makam ayahnya yang berada di kota Yatsrib.

Suatu ketika, Nabi Muhammad beserta Ibundanya pergi ke kota Yatsrib untuk keperluan mengunjungi makam ayahanda Nabi Muhammad beserta pelayan beliau Bernama Ummu Aiman. Sesampai di kota Yatsrib dan mengunjungi makam ayahandanya, Siti Aminah jatuh sakit serta perlu perawatan sehingga istirahat beberapa waktu untuk pemulihan kesehatan.

Selama Ibunda nabi Muhammad sakit, beliau juga ikut merawat Ibunda serta merasakan betapa pentingnya sosok seorang Ibu dalam kehidupan anak-anak pada usia 6 tahunan. Selain itu, sejak kecil Nabi Muhammad jarang bertemu Ibundanya karena diasuh oleh Halimah Sa’diyah.

Beberapa hari kemudian, Siti Aminah meninggal dunia di kota Yatsrib serta dimakamkan di daerah Abwaa’. Selanjutnya, Nabi Muhammad kembali ke Makkah Bersama Ummu Aiman dan beliau diasuh oleh Kakeknya Bernama Abdul Mutholib.

Kehidupan Abdul Mutholib adalah sebagai sesepuh suku Quraiys serta memiliki kesibukan menjadi petugas pelayanan penyedia air bagi orang-orang yang berkunjung ke Ka’bah. Abdul Mutholib yang memiliki nama asli Syaibah bin Hasyim dibantu Istrinya bernama Fatimah binti Amr bin A’idh bin Imron yang lahir juga dari keluarga terhormat yakni dari Bani Makhzum.

Bersama dengan kakeknya, Nabi Muhammad belajar bagaimana menjadi pelayan menerima tamu-tamu yang berkunjung ke Ka’bah. Secara outomatis Nabi Muhammad belajar bagaimana bertutur kata yang baik serta memberikan pelayanan terbaik menyediakan hidangan serta tempat istirahat kepada orang-orang yang melaksanakan ibadah Haji.

Tidak lama kemudian, kakeknya menemani serta mengasuh Nabi Muhammad hanya sekitar dua tahun. Ketika Nabi Muhammad pada usia 8 tahun, kakeknya meninggal dunia di umur 82 tahunan dan dimakamkan di gunung Hujun, kota Makkah.

Betapa kesedihan Nabi Muhammad yang berlarut-larut tidak memiliki figure orangtua yang tetap, sehingga Nabi Muhammad harus berpindah-pindah asuhan serta berganti-ganti karakter serta menyesuikan spikologis pengasuhnya.

Belajar menggembala ketangkasan serta berdagang

Sepeninggal kakeknya Nabi Muhammad, beliau diasuh oleh pamannya bernama Abu Tholib bersama istrinya Fatimah binti Asad bin Hasyim. Mereka berdua berprofesi sebagai layknya masyarakat Arab pada umumnya, yakni seorang laki-laki pedagang yang nomaden dan istrinya sebagai Ibu rumah tangga serta mengurusi hewan ternak seperti layaknya Ibu rumah tangga masyarakat Makkah sekitarnya. Akan tetapi karakter masyakat di daerah sekitar pamannya lebih keras apabila disbanding dengan kehidupan masyarakat dimana nabi Bersama Halimah Sa’diyah serta Abdul Mutholib.

Pada usia 8 tahun, kegiatan sehari-hari Nabi Muhammad adalah ikut membantu perekonomian keluarga pamannya dengan mengembala hewan ternak milik pamannya Abu Thalib. Selain itu, Nabi Muhammad membantu menyiapkan dagangan yang akan dibawa oleh pamannya berdagang. Karena kehidupan sekitar pamannya lebih keras, Nabi Muhammad belajar keahlian seperti menunggang kuda, menunggang onta serta menjaga barang dagangan yang dititipkan kepada pamannya, sehingga beliau dijuluki oleh masyarakat sekitar dengan sebutan “al-Amin”. Pada usia ini, Nabi Muhammad lebih melakukan menggembala di tanah lapang. Selain memiliki pengalaman ketika ikut Halimah Sa’diyah, Nabi Muhammad juga senang dengan alasan dapat duduk merenung melihat pemandangan hamparan padang pasir.

Kegemaran Nabi Muhammad di lapangan gembala membuat beliau senang melakukan duduk merenung sambil menjaga hewan gembalaannya. Hal ini menjadi salah satu kegiatan berfikir, merenung sampai beliau dewasa.

Pada usia 12 tahun, Nabi Muhammad sering diajak kegiatan berdagang oleh pamannya. Dimanapun pamannya aktifitas dagang, disitu juga Nabi Muhammad mengambil bagian dalam kegiatan berdagang. Kejujuran Nabi Muhammad ternyata membuat pelanggan (pembeli) mejadi senang untuk berbelanja membeli dagangannya. Abu Tholib juga heran melihat kecerdasan Nabi Muhammad dalam menawarkan dagannya, dimana kejujuran adalah kunci dalam berdagang.

Suatu ketika Abu Tholib hendak mengajak Nabi Muhammad untuk melakukan perjalanan dagang jauh, yakni ke Negeri Syam yang membutuhkan berbekalan banyak. Akan tetapi perjalanan ini dibatalkan di tengah-tengah perjalanan karena suatu hal, yakni tentang cerita seorang pendeta Nasrani ketika Nabi Muhammad dan pamannya singgah di rumahnya.

Belajar Strategi Berperang

Disamping kegiatan dagang bersama pamannya, Nabi Muhammad juga ikut membantu pamannya dalam urusan perdamaian masyarakat sekitar Makkah. Setelah kakeknya meninggal, banyak beranggapan tidak ada lagi sosok yang ditakuti, serta disepuhkan disekitar Makkah. Hal ini terjadi banyak perebutan kekuasaan serta bertindak semena-mena.

Nabi Muhammad juga ikut membantu para pamannya dalam memerangi kelompok-kelompok kecil yang menganggu aktifitas ibadah di Ka’bah pada musim Haji serta menganggu aktifitas perekonomian. Beliau juga seperti halnya anak muda kampung pada umumnya; belajar memanah, belajar pedang, mengumpulkan anak panah yang berserakan dari arah lawan serta menjadi pemimpin kelompok perang.

Dari sinilah Nabi Muhammad mengamati strategi perang, menjaring rekan tempur, serta melakukan negosiasi perdamaian layaknya yang dilakukan oleh paman-paman beliau yang lainnya dalam berbagai peperangan. Selain itu, Nabi Muhammad juga mengembang karena tuntutan keadaan sekitar sehingga Nabi Muhammad  memiliki baju Zirah (baju perang), belajar bergulat dan sebagainya.

Tentang Manajemen Berbisnis

Setelah banyak pelajaran yang dilalui oleh Nabi Muhammad tentang dunia peperangan dalam pengamanan Kawasan serta stabilitas keamanan perekonomian yang dilakukan oleh paman-paman beliau, hingga akhirnya perselisihan redam dan kembali normal, pada saat itu, banyak cerita yang menyampaikan bahwa Nabi Muhammad ikut membantu pamannya dalam peperangan sekitar 4 tahun dan Nabi Muhammad sampai genap 17 tahunan.

Pengalaman Nabi Muhammad semakin hari semakin bertambah, terlebih pada usia 20 tahunan. Suatu ketika paman beliau Abu Tholib hendak mencarikan pekerjaan dengan melamarkan pekerjaan Nabi Muhammad kepada saudagar terkaya di daerah Makkah dari bani Sa’adiyah yakni Khodijah binti Khuwailid. Karena Abu Tholib yakin jikalau Nabi Muhammad mampu mengurus perniagaan yang dilakukan oleh Sayyidah Khodijah binti Khuwailid.

Alhasil, pelamaran pekerjaan itu disetujui oleh Khodijah dan pada akhirnya perjalanan bisnis Khodijah binti Khuwailid berjalan lancar dan semakin berkembang pesat, terkenal ke berbagai penejuru Negeri, seperti; Syiria, Yaman, Yordania, basrah, Irak dan berbagai penjuru Negeri di sekitar jazirah Arab.

Stategi dagang yang dilakukan Nabi Muhammad adalah buah hasil dimana beliau belajar berdagang bersama para pengasuh-pengasuh beliau sebelumnya; belajar akhlak dari Halimah Sa’diyah, belajar kesabaran dan menghormati orang lain dari kakeknya Abdul Mutholib serta kepiawaian dagang dari paman beliau Abu Thalib.

Kisah perjalanan kesuksesan Nabi Muhammad dalam hal dunia manajemen usaha bukanlah semata karena kebetulan, akan tetapi karena hasil jerih payah yang berdarah-darah pendidikan karakter beliau dari usia anak-anak sampai dewasa yang tidak kenal mengeluh.

Hikmah Keteladanan Pendidikan Nabi Muhammad SAW

Setidaknya saya (penulis) secara pribadi terinspirasi dengan perjuangan pendidikan Nabi Muhammad yang tidak kenal mengeluh dalam setiap keadaan peskipun secara kebiasaan tidak manusiawi layaknya anak-anak kecil pada umumnya.

Keuletan, keluhuran budipekerti, kedisiplinan, kejujuran, yang beliau pegang dalam setiap langkah selalu membuat seseorang menjadi kagum, apalagi di zaman sekarang yang semakin sulit menemukan sosok generasi berbudipekerti luhur serta kesalihan yang lainnya.

Akhir kata, semoga kita beserta anak cucu kita dapat mencontoh beliau dalam meneruskan generasi bangsa yang solih.

By: MukhosisAbdul

Kalidawir, 28 Sep'2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengelolaan Perpustakaan; Frekuensi Harapan TBM Leshutama untuk Kelestarian Lingkungan

Penyamaran Profesi Petani; Antara Ilmuan Terpaksa dan Keterpaksaan Jadi Ilmuan

Kembali Trustusan di Instansi Pemerintahan