Camp Keberagaman Mewujudkan Persaudaraan Lintas Iman
Camp Keberagaman Lintas Iman di Desa Jajar Kecamatan Gandusari
Kabupaten Trenggalek dilaksanakan pada tanggal 29-30 September 2023.
Masyarakat di Indonesia pada umumnya, banyak yang beranggapan bahwa
perbedaan agama adalah sebuah perbedaan yang terpisah segalanya dan seakan
tidak ada lagi titik temu untuk saling berkomunikasi. Mereka banyak mengimani
bahwa ketika salah satu penganut agama tertentu melakukan hubungan pertemanan
akan menodai keyakinan agama yang ia yakini, sehingga tercipta hubungan sosial
terpisah oleh perbedaan secara menyeluruh seakan hidup beda ekosistem alam.
Perbedaan agama mengakibatkan terputusnya interaksi disebabkan
banyak hal. Mulai karena alasan tidak nyambung dalam interaksi, beda kehidupan,
fanatik keyakinan atau alasan-alasan lain yang merakhir pada perpisahan
hubungan sosial antar pemeluk agama. Di sisi lain, keyakinan-keyakinan serta penilaian
perilaku terhadap agama lain, sudah tertanam subur dari kehidupan keluarga,
lingkungan sekitar bahkan lingkungan pendidikan sejak kecil.
Di Indonesia akhir-akhir ini telah musim lagi terjadi kekerasan
kepada antar pemeluk agama dengan berdalih perbedaan agama. Hal ini seiring
dengan munculnya kasus-kasus bullying yang baru saja terjadi di sekitar
lingkungan sekolah, diantaranya kasus bullying oleh peserta didik di cilacap. Sedangkan
kasus kekerasan dalam beragama lebih masif terdapat di daerah-daerah perkotaan
dimana seseorang minim dengan pemahaman tentang keagamaan oleh oknum mayoritas.
Menjawab dari perbedaan tentang hidup berdampingan antar lintas
penganut agama, perlu sebuah wadah untuk mempertemukan dari berbagai elemen
keagamaan sehingga terwujud saling komunikasi serta terjalin kerukunan antar
umat beragama, seperti yang sedang terlaksana di Kabupaten Trenggalek.
Menggagas Mewujudkan Persaudaraan
Camp internasional dengan kegiatan camp bersama oleh pemuda lintas
iman bertempat Desa Jajar Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek dilaksanakan
pada tanggal 29-30 September 2023. Kegiatan diikuti oleh pemuda lintas agama;
Islam, Hindhu, Buddha, Penghayat, Kristen di sekitar kabupaten Trenggalek serta
beberapa undangan dari luar provinsi.
Kegiatan dimulai pada pagi hari, dibuka oleh Wakil Bupati
Trenggalek pada hari jum’at 29 September 2023 siang. Selanjutnya “diskusi
dan aksi ukumene lintas iman dan moderasi beragama dan eknologi dalam
mewujudkan persaudaraan sejati” dilaksanakan malam hari dimulai pukul 19.30
s/d 11.30 WIB yang dihadiri oleh; Gus Zakky (ketua GP.Ansor Kab. Trenggalek),
Pdt Gideon Hendro Buwono (Pendeta GKJW Trenggalek), dan Gus Aan Ansori
(pengurus komunitas Gusdurian Jawa Timur).
Dalam diskusi malam hari ini bertujuan untuk memberikan pengertian
kepada satu sama lain tentang mengenal isi pokok ajaran dari berbagai
agama-agama terlebih kepada penyampaian misi negara untuk hidup rukun antar
pemeluk agama.
Selanjutnya antar peserta camp diberikan sesi penyampaian anggapan
yang selama ini terjadi dalam agamanya sendiri tentang menilai agama lain.
Semisal dari Islam menilai Kristen dan Kristen menilai Islam dan seperti itu
kepada peserta yang lainya. Out-put yang dimaksud adalah bagaimana
anggapan-anggapan perbedaan itu dapat tuntas tidak terjadi kesenjangan sosial
antar pemeluk agama.
Disamping diskusi peserta yang terlibat, ternyata masyarakat luas
di sekitar kecamatan Gandusari Trenggalek, juga antusias menikmati tanya jawab
dari lintas agama. Mereka tertarik dengan sajian interaksi yang selama ini
dianggap aneh dan prasangka negatif oleh masyarakat ketika melakukan kunjungan
di rumah Ibadah di luar agamanya.
Menggagas Kelestarian Ekologi
Wacana Ekologi perlu banyak disosialisasikan kepada antar penganut
agama masing-masing. Karena dengan isu ekologi merupakan sebuah bahasan yang
adem atau dingin ketika diperbincangkan antar agama yang selama ini terdapat
tegangan sosial, sekaligus jawaban sebagian dari permasalahan tentang kerusakan
alam di negara Indonesia.
Dalam diskusi ini disampaikan pada hari sabtu, 30 September 2023
yang dihadiri oleh: Gus Aak Abdullah al-Qudus (Founder Laskar Hijau Lumajang
dan pengurus Gusdurian Jawa Timur), Pdt. Musa Wahyu Bimantoro (penggerak
lingkungan GKJW Jawa Timur) dan Erwin Ririh Budianto (pengurus Tanggul Bencana
GKJW Kediri Selatan).
Setelah bugar pagi dan melakukan penanaman pohon di lokasi camp,
mereka bersiap diri menyambut diskusi
yang berkaitan dengan Lingkungan. Dalam diskusi ini diawali dengan menyampaikan
pentingnya melakukan gerakan konservasi hutan dan lingkungan guna sebagai
penyeimbang kebutuhan kelangsungan makhluk hidup. Yakni menjelas bahwa peningkatan
penggunaan energi sumber alam ini akan meningkat sejalan dengan peningkatan
kerusakan lingkungan yang serius bila tekhnologi yang digunakan tidak
memasukkan nilai-nilai lingkungan hidup pada sistem tekhnologi tersebut yang
berdampak pencemaran air, udara dan tanah dijelaskan sebagai kesatuan sistem
yang akan mempengaruhi kesehatan dan lingkungan pada aktifitas dan
produktivitas manusia.
Sehingga sebenarnya bumi ini akan cepat rusak atau lestari, panas
atau sejuk, hancur atau fungsi dan sebagainya, penentu utama adalah manusia
yang terlepas agama. Alam ini memberikan segalanya untuk kelangsungan hidup
manusia untuk keabadian. Akan tetapi manusia yang mengingkari serta menghasut
hukum alam tersebut. Sehingga alam akan murka dengan memberikan berbagai
bencana manusia ketika lupa melakukan keseimbangan kelestarian.
Tampak para peserta camp menikmati kajian dimana mereka jarang
terhubung antar pemeluk agama dengan terfokus bahasan yang penting tanpa
memandang agama.




Luar biasa...
BalasHapus